CHAPTER 3.1 – Perjalanan Wisata yang Berujung Bahaya

Hari yang dinantikan pun telah tiba. Hari ini, dimulai lah perjalanan wisata kami ke kota Camelot. Semua murid telah berkumpul di tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya.

Tentunya, para murid merasa antusias dengan kegiatan ini. Pasalnya, kegiatan ini diadakan setelah selesai ujian tengah semester. Dengan adanya kegiatan ini, mereka akan merasakan relaksasi setelah menghadapi ujian tersebut.

Saat ini, kami menunggu bus yang akan datang dalam beberapa menit lagi. Sambil menunggu, aku duduk di bawah pohon. Tentu saja, aku ditemani oleh teman sekaligus sahabatku, yaitu Sandy.

“Huh, akhirnya ujian yang membuatku kerepotan itu telah berakhir.”

“Memang benar. Tapi, apakah nilai mu akan berakhir dengan baik?”

“Woi, pertanyaanmu seolah-olah nilai ujianku pasti buruk.”

Di tengah perbincangan, Sara dan Nasya datang menghampiri kami. Mereka berdua bergabung bersama kami.

“Sepertinya, pembahasan kalian menarik,” kata Nasya.

“Yah, nggak juga. Hanya bahas nilai ujian Kai, yang kemungkinan jelek.”

“Oi, kau ngajak gelut, yah?”

“Sudah-sudah, kalian berdua. Yang utama saat ini adalah kita harus menikmati perjalanan ini.” Sara mencoba mencairkan suasana di antara kami.

Akhirnya, kami berhenti bertengkar dan menunggu kedatangan bus. Dan, yang ditunggu pun telah tiba. Sebanyak empat bus datang dan bersiap untuk berangkat ke tempat tujuan.

Satu persatu murid masuk ke dalam bus sesuai dengan kelas mereka. Setelah semua sudah masuk, berangkatlah kami menuju ke kota Camelot.

Di tengah perjalanan, mereka terlihat bersenang-senang. Mulai dari bermain kartu, saling bercanda tawa, serta bernyanyi bersama. Sementara aku, mengabaikan kesenangan mereka dengan melihat bangunan-bangunan kota melalui jendela.

Saat tengah asyik melihat pemandangan kota, Sandy mencolek diriku. Awalnya, aku mengabaikan kelakuannya. Namun lama-kelamaan, ia melakukannya terus-menerus. Hal itu membuatku risih dan terpaksa meladeninya.

“Oi, tidak bisakah kau mengganggu kesenanganku?”

“Hehehe, maaf-maaf. Aku hanya ingin membahas sesuatu denganmu.”

“Apa itu? Jika hal sepele, aku nggak mau.”

Sandy diam sejenak, kemudian ia tersenyum kepadaku. “Ah, sepertinya tidak jadi.”

“Eh, apa maksudmu? Kau ingin aku memukul wajahmu?”

“Maaf-maaf. Aku tadi hanya ingin menjahilimu saja. Hahaha.”

Aku mengabaikannya dan lanjut melihat pemandangan lewat jendela. Sementara itu, Sandy membaca buku dan tidak menggangguku lagi.

Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya kami sampai di kota Camelot. Kemudian, kami berhenti di Distrik Pendragon, yang merupakan tempat perjalanan wisata kali ini.

Kami disambut oleh SMA II Distrik Pendragon, selaku tuan rumah. Tak hanya itu, SMA VIII Distrik Bagaskara juga ikut bergabung. Mereka sampai lebih dulu dari kami.

Dari kejauhan, aku melihat wanita yang tak asing bagiku. Ternyata, ia adalah Miya Lestari. Aku tak menyangka akan bertemu kembali dengannya lagi. Miya kemudian menoleh dan melihatku.

Kami saling memandang satu sama lain. Rasa canggung pun muncul di dalam diriku. Aku bingung harus menyapa, atau mengabaikan. Di tengah kebingungan, Sara menepuk bahuku dengan pelan.

“Ada apa? Apakah kamu ingin berbicara dengannya?”

Aku hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya. Kemudian, ia mencubit lenganku dengan keras. Aku pun merintih kesakitan, sementara Sara tidak peduli akan hal itu.

“Ke-kenapa kamu mencubitku?”

“Aku bertanya loh. Tapi, kamu sama sekali tidak menjawabnya.”

“Aduh, Sara. Hentikan, sakit. Lepaskan cubitanmu terlebih dahulu!”

Sara melepas cubitannya, sementara aku mengelus lengan yang terkena cubitan dengan harapan rasa sakitnya bisa reda.

“Aku tidak mau menyapanya. Alasannya, karena aku merasa canggung dan takut menyakitinya lagi.”

Sara menghela napasnya dengan perlahan. Kemudian, kedua tangannya memegang pipiku. Perlakuannya membuatku tersipu.

“Kai, semua manusia pernah melakukan kesalahan dan kadang menyakiti orang lain. Namun, bukan berarti kamu tidak bisa memperbaikinya. Tidak akan ada namanya terlambat, sebelum kamu atau ia sudah tiada.”

Aku kemudian tersadar dan tercerahkan dengan nasihat dari Sara. “Terima kasih, Sara. perkataanmu sangat membantu.”

Sara tersenyum dan mengangguk kepadaku. Kemudian, kami berdua pergi menghampiri Miya.

“Hai, Miya. Lama tidak bertemu,” sapa Sara.

“Hai, hari ini kita bertemu lagi,” balas Miya.

“Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja, Kai.”

“Syukurlah kalau begitu.”

Di tengah perbincangan, muncul seorang pria yang tidak asing bagiku dan Sara. Ia adalah Abyss Walker, salah satu anggota DHA pengguna elemen angin.

“Yo, lama tidak bertemu. Seperti biasanya, kalian berdua selalu lengket.”

“Rupanya kau … Abyss.”

“Lama tidak bertemu, Abyss.”

Miya terlihat kebingungan melihat kami. “Eng … kalian saling kenal, yah?”

“Perkenalkan, namanya Abyss Walker. Dia merupakan siswa di SMA II Distrik Pendragon.”

Abyss mendekati Miya, kemudian memegang lalu menciumnya tangannya. “Hai, nona cantik. Namaku adalah Abyss Walker. Nona bisa memanggilku … Abyss.”

Perlakuan Abyss membuat Miya terkejut dan pipinya memerah. Dengan segera ia menarik tangannya dan menampar Abyss. Tamparannya membuat Abyss tersungkur. Aku tertawa melihat kejadian tersebut. Sementara Sara kebingungan meminta pertolongan.

Abyss bangkit sambil memegang pipinya yang terkena tamparan. “Aduh, sakit. Tidak kusangka nona akan melakukan ini.”

“Jadi, ada keperluan apa kau kemari?”

“Keperluanku ke sini adalah sebagai pemandu kalian semua.”

“Pemandu? Kau?”

“Ya, benar sekali. Aku akan memandu perjalanan wisata kalian untuk besok.”

“Baiklah, mohon pandu kami dengan baik.”

Setelah berbincang, Abyss mengarahkan kami ke tempat penginapan yang telah disediakan. Kemudian, kami diberikan waktu istirahat dan melanjutkan kegiatan pada besok hari.

...~~~~~~~~...

Mentari pagi bersinar kembali, menandakan bahwa hari telah berganti. Alarm berbunyi dengan keras, membuat kami terbangun. Segera kami bersiap-siap untuk melanjutkan kegiatan yang akan dilaksanakan pada hari ini.

Sebelum itu, kami sarapan terlebih dahulu di ruang makan yang telah disediakan. Setelah sarapan, kami pergi keluar dan mendengarkan arahan dari guru sebelum berangkat.

Kemudian, dimulai lah perjalanan wisata kami. Ada beberapa tempat yang kami kunjungi di Distrik Mordred. Seperti salah satu bangunan bersejarah bernama Glastonbury, sebuah bangunan yang diyakini sebagai tempat peristirahatan orang-orang yang berpengaruh di Avalon pada masa lalu.

Dengan rasa penasaran, aku pun memasuki bangunan tersebut dan meninggalkan rombongan. Di dalam banyak gambar-gambar dan tulisan-tulisan yang sama sekali tidak ku ketahui.

Aku terus menjelajahi bangunan tersebut. Kemudian, aku melihat sebuah pintu yang membuatku tertarik. Di atasnya ada sebuah tulisan, namun aku tak dapat membacanya.

Aku membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam. Saat masuk ke dalam, aku cukup terkejut dibuatnya. Ternyata, dibalik pintu ini terdapat makam. Padahal saat di halaman, ada begitu banyak makam. Aku tidak mengira bahwa ada makam juga di dalam bangunan.

Aku melihat-lihat dan mencoba membaca tulisan yang terdapat pada nisan tersebut. Tiba-tiba, telepon genggam berbunyi di dalam saku celanaku. Aku pun mengambilnya dan mengangkat telepon.

Ternyata, yang menelepon ku adalah Dan. Ia menyuruhku untuk pergi ke kantor kepresidenan. Aku bertanya alasan menyuruhku pergi ke sana. Namun, ia tidak menjelaskannya. Ia hanya menyuruhku untuk segera ke sana.

Tanpa perlu berapa lama, aku pun berangkat menuju kantor kepresidenan. Dengan GA terbaru yang diberikan oleh Profesor Adalia, aku dapat memanggil sepeda motor sebagai kendaraan untuk bisa ke sana dengan mudah.

Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar sepuluh hingga lima belas menit. Aku tidak mengerti dengan perintah dari Dan. Meskipun begitu, aku harus ke sana untuk memastikannya.

Akhirnya, aku sampai di kantor kepresidenan. Saat turun dari motor, aku merasakan aura yang mencekam. Aura tersebut tidak asing bagiku. Aku pun masuk ke dalam untuk memeriksanya.

Saat berada di dalam, aku dikejutkan dengan para penjaga dan pekerja yang tergeletak pingsan. Aku pun mencoba menyadarkan mereka, namun itu sia-sia. Kemudian, aku pergi ke ruangan Presiden Arthur dengan berlari.

Aku akhirnya sampai di depan ruangan Presiden Arthur. Kemudian, aku menendang pintunya dengan kencang hingga terbuka. Saat masuk, aku melihat ada Presiden Arthur dan orang yang tidak asing bagiku. Ya, orang itu … adalah Azazel.

...***...

Di hadapanku saat ini, ada Presiden Arthur dan Azazel. Terlihat, Presiden Arthur memegang pedang yang siap dipakai untuk menyerang. Aku cukup terkejut dengan kehadiran Azazel di sini.

“Yo, pemburu Iblis kegelapan. Akhirnya, kita bertemu lagi.”

“Kau … apa yang kau lakukan di sini?”

“Yah, hanya menjalankan tugas dan bersenang-senang.”

Aku mengaktifkan pakaian tempur dan memanggil senjataku, yaitu Dark Sword. Di tengah ketegangan tersebut, Dan muncul dan masuk ke dalam.

“Sudah kuduga, sesuai perkiraan.”

“Dan, apa maksudmu?”

“Aku menggunakan jurus elemen cahaya, yaitu mata cahaya. Jurus itu dapat membuatku memperkirakan peristiwa yang akan terjadi di masa depan.”

“Aku baru tahu kau mempunyai jurus itu.”

“Syarat utama untuk mengeluarkannya adalah dengan memperban kedua mataku untuk menutupinya. Jika mataku tidak tertutup maka aku tidak akan bisa menggunakannya.”

Azazel melakukan tepuk tangan dengan keras. “Bagus sekali. Luar biasa untukmu, pengguna elemen cahaya. Namun, jurus itu pasti pasti hanya bisa dipakai sekali saja dalam sehari.”

“Eh, benarkah itu Dan?”

“Ya, benar sekali. Karena, menggunakannya cukup sulit dan bisa saja berakibat fatal.”

“Apapun itu, terserah lah. Hari ini, aku ingin bersenang-senang. Kebetulan, ada kalian berdua di sini. Jadi, mari kita mulai saja.”

Tiba-tiba, tanah bergetar dan dari luar, terlihat semacam medan tempur muncul di lokasi tujuan wisata kami di Distrik Mordred.

“Oi, apa yang kau lakukan?”

“Aku kan sudah bilang … hari ini, kita akan bersenang-senang. Aku beserta tiga jenderal lainnya mencoba mengaktifkan medan tempur di masing-masing distrik yang ada di kota Camelot.”

Dan mengaktifkan medan tempur sebagai tempat bertarung. Lalu, Dan mengaktifkan pakaian tempurnya.

“Avalon: Light Katana.”

“Wow, senjata yang bagus.” Azazel terpukau dengan senjata milik Dan.

Sementara itu, Presiden Arthur diam sambil memegang pedangnya. Ia merasa gugup dan keringat keluar dari dahinya.

“Presiden, apakah kau baik-baik saja?”

“Ya, aku baik-baik saja.”

“Sebaiknya Presiden menjauh dan mundur. Kami tidak ingin Presiden terluka.”

Presiden Arthur hanya tersenyum menanggapinya. “Jangan khawatir. Aku akan ikut bertarung dengan kalian.”

“Hahaha, menakjubkan. Tiga lawan satu, menarik sekali.”

Kali ini, aku tidak sendirian bertarung melawan Azazel. Meskipun tidak mudah, namun setidaknya kami masih memiliki peluang untuk mengalahkannya.

Bukan cuman kami yang bertarung, melainkan teman-teman yang berada di lokasi medan tempur di masing-masing distrik juga ikut bertarung.

Pertarungan besar pun terjadi di kota Camelot. Perjalanan wisata kami yang menyenangkan, harus berujung dengan bahaya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!