Malam hari, Sara datang ke rumahku untuk memasak makan malam. Kebetulan aku juga ingin menikmati masakannya. Sudah terlalu lama, aku memakan-makanan cepat saji yang ada di minimarket.
Di saat ia memasak, aku menyiapkan piring dan sendok. Setidaknya, itu yang bisa kulakukan untuk membantunya. Setelah cukup lama memasak, akhirnya makannya pun telah siap untuk dinikmati.
Di meja yang sama, kami berdua menikmati makanan yang ada di depan. Saat aku mencicipi makanannya, sungguh enak sekali. Sampai-sampai, air mataku keluar dengan sendirinya.
“Sampai segitunya kamu menikmatinya,” katanya sambil tersenyum.
“Habisnya, sudah lama aku tidak memakan masakanmu.”
“Jika memang begitu, aku akan memasakan untukmu setiap hari.”
“Eh, tidak. Maksudku … bukan begitu.”
“Jadi … bagaimana?”
“Ji-jika kamu tidak keberatan, yah … tidak masalah.”
Sara membalasnya dengan senyuman yang lembut dan tulus. Melihatnya tersenyum, membuatku salah tingkah dan malu.
Setelah selesai makan, kami bersantai sambil menikmati secangkir teh. Kebetulan hari ini kami diberikan liburan oleh Pak Bima Satria (Ketua Divisi III).
“Sara, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.”
“Apa itu?”
“Besok malam, aku akan memburu Iblis bersama dengan Sandy.”
Ekspresi tidak biasa muncul dari wajah Sara. Ia seperti merasa enggan dengan perkataanku. Kemudian, ia tiba-tiba memegang pipiku dengan kedua tangannya yang lembut.
“Tidak boleh.”
“Eh, kenapa tidak boleh?”
“Pokoknya, kalau aku bilang tidak boleh, yah tidak boleh.”
“Setidaknya, berikan aku alasan yang jelas.”
Sara terdiam sejenak sambil memandangiku. Ia kemudian melepaskan pegangannya dan berbalik. Dari tingkahnya, ia sepertinya marah kepadaku.
“Sara, tidak apa-apa, kan?”
“Lalu, dengan siapa aku akan memburu Iblis?”
“Tentu saja, ada salah satu pasukan divisi III yang akan menemanimu.”
“Baiklah, kalau begitu. Tapi, hanya kali ini saja kamu melakukannya.”
“Tenang saja, jangan khawatir.”
Sara mengambil kursi dan mendekatkannya ke kursi ku. Saat ini, ia duduk di sampingku. Dekat sekali, dan sepertinya … detak jantungku dapat terdengar olehnya. Lalu, ia bersandar pada pundakku.
“Kamu tahu, kenapa aku melakukan ini?” tanya Sara.
“Entahlah, aku tak tahu.”
“Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua karena misi. Setidaknya, untuk hari ini … aku ingin dimanjakan olehmu.”
Matanya yang berbinar-binar dan pipinya yang memerah, seketika membuatku malu dan luluh. Lelaki manapun pasti akan mengekspresikan hal yang sama sepertiku.
Melihatnya seperti ini, membuatku merasa bahagia. Benar, malam ini … aku perlu meluangkan waktu untuknya.
...***...
Malam yang dijanjikan telah tiba. Aku datang ke tempat sesuai alamat yang dikirim oleh Sandy. Sesampainya di tempat yang ditentukan, sudah terlihat Sandy yang menunggu kedatanganku.
“Akhirnya, kau sudah sampai.”
“Maaf, aku terlambat.”
“Tidak apa-apa. Lagipula, aku juga belum lama di sini.”
“Jadi, di mana kita akan melakukan perburuan?”
Sandy mengeluarkan tablet dan membuka sebuah peta. Dalam peta tersebut sudah ada tempat yang sudah diberikan tanda olehnya.
“Kita akan melakukan perburuan di sini, tepatnya di distrik Dewana,” katanya sambil menunjuk lokasi tersebut.
“Hmmm, begitu yah.”
Kemudian, Sandy mengeluarkan suatu benda dari dalam tasnya. Tidak disangka, ia membawa GA. Aku terkejut ketika melihatnya membawa benda tersebut.
“Anu, Sandy. Dari mana kau dapatkan itu?”
“Oh, ini peninggalan Ayahku. Kebetulan beliau memiliki dua di rumah. Makanya, aku membawa ini agar memperlancar perburuan kita.”
“O-oh, begitu yah.”
Sandy kemudian memberikan GA kepadaku. Sebenarnya, aku juga membawa GA untuk berjaga-jaga. Sebelumnya, aku pernah berbohong kepada Azazel tentang perbedaan GA milik pasukan militer dengan GA milik DHA.
Perbedaan mendasar dari keduanya adalah jumlah tombol. Jika GA milik pasukan militer memiliki tiga tombol, maka milik DHA hanya memiliki dua tombol saja. Pada tombol ketiga untuk milik pasukan militer, yaitu dapat memanggil senjata sesuai kemampuan penggunanya. Lain halnya dengan DHA yang langsung memanggil senjatanya tanpa perlu menekan tombol.
Perbedaan selanjutnya terletak pada pakaian tempur. Untuk pasukan militer sendiri menggunakan pakaian tempur berupa seragam lengkap dengan rompi. Pada bagian dada kiri, terdapat nama divisi sesuai wilayah masing-masing. Sementara untuk DHA menggunakan jubah, dengan warna yang sesuai untuk masing-masing anggota. Untuk menutupi identitas, DHA akan menggunakan masker atau topeng.
Perbedaan terakhir adalah medan tempur. Jika DHA mampu mengubah suasana tempat ketika menggunakan medan tempur, lain halnya dengan pasukan militer. Medan tempur mereka hanya membatasi tempat, sehingga orang luar maupun orang dalam tidak bisa masuk ataupun keluar, kecuali jika medan tempur tersebut dimatikan.
“Kalau begitu, ayo kita pergi ke distrik Dewana.”
Kemudian, kami berangkat menuju distrik Dewana dengan menggunakan motor yang telah disiapkan oleh Sandy.
Akhirnya, kami telah sampai di lokasi. Sandy mengaktifkan pakaian tempurnya, begitu juga denganku. Lokasi tersebut ternyata sebuah gang. Kami kemudian pergi ke dalam gang tersebut dengan hati-hati.
Saat berjalan, kami merasakan hawa yang mencekam dan menakutkan. Tak ada satu orang pun yang hadir di sekitar kami.
“Hei, Sandy. Dari mana kau tahu tempat seperti ini?”
“Tentu saja, dari teman Ayahku yang berada di divisi III militer.”
“Apakah kau sering melakukan perburuan?”
“Kadang-kadang saja. Bisa dibilang, ini mata pencaharian sampingan.”
Di depan kami, terlihat sebuah cahaya yang bersinar terang. Kami mengikuti arah cahaya tersebut. Dan tidak disangka, di dalam gang tersebut ternyata ada bangunan yang berdiri.
“Tempat apa ini?” tanyaku sambil terheran-heran.
“Sebenarnya … ini adalah tempat prostitusi.”
“Apa? Tempat prostitusi?”
“Benar. Tempat ini berdiri sekitar beberapa hari yang lalu.”
“Jadi, di tempat ini terdapat Iblis?”
“Ya, yang mendirikan bangunan ini adalah seorang Iblis dengan peringkat A. Dan di tempat ini, para Iblis berkumpul.”
“Ayo, kita masuk segera,” kataku sambil mengepal kedua tangan.
“Yosh, kita lakukan.”
Kami berdua masuk ke dalam tanpa menghiraukan penjaga yang berada di luar. Para penjaga melihat kami berdua dengan curiga. Mereka kemudian mengikuti kami dan mencoba menghentikan kami.
“Hei, kalian berdua. Sepertinya kalian masih belum cukup umur.”
Sandy berbalik lalu meninju penjaga tersebut hingga terpental. Sementara aku melakukan tendangan yang keras kepada penjaga satunya. Mereka yang berada di dalam pun panik dan hendak ingin keluar.
Dengan segera, Sandy mengaktifkan medan tempur untuk menghalau mereka keluar. Merasa terancam, mereka pun memperlihatkan wujud aslinya. Suara tepuk tangan terdengar dengan jelas. Seorang pria buncit dan berkumis tebal keluar menemui kami.
“Hohoho, luar biasa sekali.”
“Jadi, kau yang membuka tempat ini,” kataku.
“Benar, akulah yang membuka tempat ini. Perkenalkan, namaku adalah Ezard.”
“Kenapa bisa kau berhasil membuka tempat ini?”
“Kau bertanya padaku? Tentu saja, jawabannya adalah … karena aku memiliki orang dalam.”
“Orang dalam?”
“Ya, benar sekali.”
“Cukup pembicaraannya Kai. Ayo, kita habisi mereka,” kata Sandy dengan perasaan yang berapi-api.
Di hadapan kami, terdapat tiga puluh Iblis dengan peringkat yang berbeda-beda. Kali ini, aku tidak bisa menggunakan elemen ku. Jika aku menggunakannya, maka akan ketahuan oleh Sandy tentang identitas asliku.
Sandy memasang kuda-kuda untuk bersiap menyerang. Sementara aku memanggil senjata tempur, lalu memasang kuda-kuda juga. Perburuan kali ini … membuatku berdebar-debar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments