Bulan ke-I di tahun MMXX, sebuah insiden mengerikan terjadi di distrik Ancala. Pada pagi hari, ditemukan seseorang mati secara mengenaskan. Kedua tangannya telah tiada, dan ada luka tebasan tepat di dadanya. Mengetahui kejadian tersebut, Divisi III militer dengan cepat mengambil mayat tersebut dan menanyakan kepada beberapa saksi yang berada di lokasi. Menurut mereka, korban awalnya tengah berjalan bersama seorang wanita di malam hari dalam keadaan mabuk.
Divisi III militer dengan cepat menyelidiki insiden tersebut. Mereka mencari wanita yang bersama korban untuk di interogasi. Penyelidikan tersebut dilakukan berlangsung selama seminggu. Namun hasilnya gagal, karena wanita tersebut tidak bisa mereka temukan. Hal ini membuat penyelidikan berakhir dengan buntu.
Tiga hari kemudian, insiden itu kembali terjadi. Kali ini, insiden tersebut terjadi di distrik Mordred. Dua mayat ditemukan dalam keadaan yang mengenaskan. Insiden ini terus berulang kali terjadi di tiap distrik. Sudah ratusan nyawa yang terenggut dalam satu bulan. Insiden ini selalu terjadi pada malam hari. Hal itu membuat masyarakat merasa khawatir dan takut untuk keluar rumah ketika menjelang malam.
Presiden Avalon, Arthur Erickson melakukan pertemuan dengan ketua-ketua divisi militer. Sir Tristan, Karaja, Bima Satria, dan Azai Shinkai, mereka hadir dalam pertemuan tersebut.
“Mari kita mulai rapatnya.” Merlin membuka pertemuan hari ini.
“Aku ingin mendengar laporan dari kalian mengenai insiden ini,” kata Presiden Arthur.
Keempat ketua divisi masing-masing mengeluarkan catatan yang akan dijadikan laporan.
“Di Camelot, korban mencapai dua puluh orang,” kata Ketua Tristan.
“Di Elghazi, korban mencapai dua puluh lima orang,” kata Ketua Karaja.
“Sama seperti di Elghazi, korban di Sumarah adalah dua puluh lima orang,” kata Ketua Bima.
“Kalau di Tsukuyomi sendiri sudah mencapai tiga puluh orang,” kata Ketua Shinkai.
“Sangat buruk sekali. Kita sudah kehilangan ratusan nyawa dalam waktu sebulan.” Presiden Arthur mengeluarkan ekspresi gelisah dan sedih.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” tanya Ketua Tristan.
Semua yang berada di ruangan hanya bisa terdiam setelah mendengar pertanyaan Ketua Tristan. Mereka bingung apa yang harus dilakukan agar masalah ini bisa selesai. Di tengah kebingungan, pintu terbuka dan masuklah seseorang.
“Hai hai, kalian semua!” Wanita itu menyapa semua orang yang berada di ruangan.
Wanita itu adalah Profesor Adalia, seorang peneliti di negara Avalon. Ia memiliki pengetahuan yang luar biasa. Selain itu, ia juga terkenal di kalangan masyarakat berkat penemuan-penemuannya.
“Ada perlu apa kau kemari?” tanya Presiden Arthur.
“Aku harap kalian semua terkejut dengan penemuanku,” jawabnya dengan penuh percaya diri.
“Penemuan apakah itu?”
Profesor Adalia menyalakan monitor dan memperlihatkan sebuah foto hasil rontgen dari salah satu korban pembunuhan.
“Aku sudah memeriksa dan melakukan otopsi terhadap salah satu mayat korban. Dan hasilnya, luka tersebut bukan diakibatkan oleh senjata.”
“Apa maksudnya itu?” Ketua Shinkai terlihat kebingungan.
“Maksudnya adalah ... luka yang korban dapatkan bukan berasal dari senjata buatan Avalon,” kata Profesor Adalia.
“Kenapa kau bisa berasumsi seperti itu?” tanya Ketua Bima.
“Karena semua senjata yang dibuat berada dalam pengawasanku. Sebelum diedarkan, terlebih dahulu melakukan pengecekan dariku. Dan juga, senjata buatan Avalon hanya bisa digunakan oleh pasukan militer.”
“Jadi, dari mana luka tersebut berasal?” tanya Ketua Karaja.
“Beberapa hari yang lalu, aku mengunjungi perpustakaan untuk mencari referensi. Dan kemudian...”
Profesor Adalia mengeluarkan sebuah manuskrip dari tasnya.
“...Aku menemukan manuskrip ini di sana.”
Semua orang yang ada di ruangan terkejut melihat manuskrip tersebut. Mungkin, ini pertama kalinya mereka melihat kertas yang sudah tua dan usang.
“Tulisannya ... sulit dibaca.” Ketua Tristan kebingungan ketika mencoba membacanya.
“Itu adalah tulisan kuno. Aku juga sudah menerjemahkannya bersama dengan teman-teman peneliti lainnya.”
“Apa isi tulisannya?” tanya Ketua Shinkai.
“Tulisannya ... berisi tentang Iblis.”
“I-iblis, katamu? Bukankah itu makhluk mitos?”
Profesor Adalia mengeluarkan manuskrip lain yang berupa sebuah gambar.
“Itu adalah wujud dari Iblis. Di situ tertera ciri-ciri, cara mereka membunuh, serta cara menghentikan mereka. Bisa dikatakan mereka mampu mengubah wujud menjadi manusia saat malam hari. Itulah alasan mengapa insiden tersebut selalu terjadi pada malam hari.”
“Begitu rupanya. Berarti ... pelaku pembunuhannya adalah Iblis, benar begitu?”
“Benar sekali. Terlihat dari cara mereka yang membunuh secara brutal, seperti menebas hingga menghilangkan anggota badan.”
Semua orang terdiam setelah mendengar pernyataan dari Profesor Adalia. Mereka tidak percaya dengan kenyataan tersebut.
“Jadi, bagaimana cara menghentikan mereka?” tanya Presiden Arthur.
“Bagus sekali Presiden menanyakan hal seperti itu.”
Kemudian ia mengganti slide dan menunjukkan sesuatu yang tidak terduga. Semua orang kembali dibuat terkejut.
“Dengan menggunakan material Plasma Stone. Material ini bisa kita temukan di bawah tanah. Lalu, kita akan membuat senjata untuk bisa menghentikan serta membasmi mereka.”
“Wow, luar biasa sekali.” Ketua Karaja merasa kagum setelah melihatnya.
“Kita akan membuat senjata dengan material ini,” kata Ketua Tristan.
“Secepat mungkin kita harus membuat senjatanya, agar kita bisa membasmi para Iblis,” kata Ketua Bima.
“Tunggu sebentar,” kata Ketua Shinkai.
Semuanya menatap ke arah Ketua Shinkai, setelah ia menyela pembicaraan mereka.
“Ada apa Ketua Shinkai?” tanya Presiden Arthur.
“Yah, ada yang ingin kutanyakan.”
“Apa itu?”
“Ketika senjata yang telah dibuat selesai, siapa yang akan menggunakannya?”
“Tentu saja, kita dan para pasukan yang akan menggunakannya,” jawab Ketua Karaja.
“Kenapa kita tidak membentuk organisasi khusus untuk memburu para Iblis?” Ketua Shinkai mencoba memberi usulan.
“Apakah kau mempunyai alasan dengan usulan itu?” Ketua Tristan memastikan usulan tersebut.
“Kau tahu kan akhir-akhir ini pasukan sibuk dalam menjaga perbatasan Avalon. Sementara untuk di tiap distrik, pasukannya hanya bisa dihitung dengan jari. Bisa dikatakan pasukan kita hanya sedikit.”
“Benar juga kata Ketua Shinkai. Pasukan kita bekerja cukup keras. Jika ditambah lagi pekerjaan mereka, maka akan membuat mereka pensiun dini,” kata Ketua Bima.
“Bagaimana pendapat Presiden mengenai usulan ini?” tanya Merlin.
“Hmmm, usulan itu ... cukup bagus,” jawab Presiden Arthur.
“Sangat kebetulan sekali,” kata Profesor Adalia.
Kemudian ia kembali mengeluarkan manuskrip lainnya.
“Selain memakai material Plasma Stone, untuk menghentikan dan membunuh Iblis adalah dengan menggunakan kekuatan elemen.”
Lagi-lagi, mereka semua terkejut dengan pernyataan dari Profesor Adalia. Pemikirannya selangkah lebih maju dari yang lainnya. Itulah yang membuatnya dikagumi oleh para petinggi Avalon beserta teman-temannya yang sesama peneliti.
“Eh, bagaimana cara mendapatkannya?” tanya Ketua Karaja.
Melalui monitor, Profesor Adalia memperlihatkan sebuah peta yang terlihat kuno kepada semua orang.
“Di distrik Pendragon, terdapat sebuah ruangan misterius dalam bawah tanah. Setidaknya, ada delapan ruangan seperti di dalam peta. Masing-masing di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah cawan, yang isinya berupa kekuatan elemen.”
"Berarti, kau akan melakukan seleksi. Dan delapan orang yang lolos akan melakukan perjalanan ke ruangan tersebut untuk mendapatkan cawan itu, benar begitu?"
"Tepat sekali pernyataan mu, Ketua Karaja."
“Lantas, bagaimana menyeleksinya hingga menyisakan delapan orang?” tanya Presiden Arthur.
“Tenang saja. Untuk masalah seleksinya, serahkan padaku,” jawab Profesor Adalia.
“Baiklah kalau begitu. Aku percayakan kepadamu untuk masalah ini.”
“Oh ya Profesor, jangan lupa juga untuk ide senjatamu itu. Aku berharap senjata tersebut bisa terselesaikan dan diberikan kepada pasukan militer, untuk berjaga-jaga,” kata Ketua Tristan.
“Siap, laksanakan!”
Setelah itu, Profesor Adalia pergi dari tempat pertemuan untuk mempersiapkan semua rencananya.
“Jadi, apakah ada lagi yang perlu dibahas?” tanya Presiden Arthur.
“Aku sudah tidak punya pertanyaan lagi,” jawab Ketua Bima.
“Sama, begitupun denganku,” jawab Ketua Shinkai.
Sementara Ketua Tristan dan Ketua Karaja sama-sama menggelengkan kepala sebagai pertanda tidak.
“Baiklah kalau begitu. Pertemuan hari ini kita tutup, dan silahkan kembali bertugas”
Keempat ketua divisi berdiri, lalu memberikan hormat kepada Presiden Arthur. Sementara Presiden Arthur berdiri lalu pergi dari tempat pertemuan bersama dengan Sekretarisnya.
Pertemuan hari ini telah selesai, sekaligus merupakan titik awal kebangkitan pemerintah Avalon dalam melindungi rakyatnya dari ancaman Iblis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments