Benar-benar Mencintainya

Ketika suara pintu kamar mandi terbuka, Alvaro segera menghampiri istrinya yang keluar dari sana dengan menggunakan baju handuk.

"Sayang, apa kamu tidak papa? Mana yang sakit?"

Melihat tatapan penuh kekhawatiran dari suaminya, jujur membuat hati Tami semakin tersentuh. "Tidak papa Sayang, paling perutku sedikit nyeri saja. Tapi kalau sudah minum obat, pasti akan lebih baik kok"

"Yaudah gak usah kuliah saja dulu, istirahat saja dulu"

Tami mengelus pipi suaminya, terkekeh saat tetesan air di tangannya menempel di pipi suaminya. "Tidak papa, kalau setiap datang bulan aku cuti kuliah. Berapa banyak izin aku setiap semesternya. Nanti di jalan mampir dulu ke apotek saja"

Alvaro mengelus rambut istrinya itu, dia masih menatap khawatir padanya. "Yaudah, tapi nanti gak usah kerja saja"

"Tidak ada bantahan Sayang!" Tegas Alvaro saat melihat istrinya siap membantah ucapannya.

Akhirnya Alvaro mengantar Tami untuk membeli obat nyeri datang bulan di apotek sebelum dia mengatarnya kuliah. Setelah mendapatkan apa yang di cari, Tami segera kembali ke mobil suaminya.

"Sudah?"

Tami mengangguk sambil menunjukan kantung plastik berwarna putih pada suaminya.

"Cepat minum, sebelum perutmu semakin sakit"

"Iya Sayang"

Entahlah, untuk pertama kalinya Tami merasa sangat spesial saat dia datang bulan. Merasa jika dirinya sangat di perhatikan hanya karena dirinya sedang datang bulan.

Tuhan, kenapa dia sebaik ini padaku? Padahal pernikahan ini hanya terjadi karena pinjaman uang.

Sekali lagi, Tami merasa heran sendiri dengan sikap suaminya yang menurutnya terlalu baik untuk sebatas suami yang menikahinya karena sebuah pinjaman uang. Bukan karena cinta.

Sampai di parkiran kampus, Alvaro mengelus kepala istrinya lalu menciumnya. "Hati-hati kuliahnya, jangan terlalu kelelahan. Apa perutnya sudah lebih baik?"

Tami tersenyum, dia meraih tangan suaminya dan menggenggamnya di atas pangkuannya. "Sudah lebih baik, kan barusan sudah minum obat. Jadi, sudah lebih baik"

"Kalau misalkan sakitnya semakin parah, kamu telepon aku ya. Biar aku jemput kamu kesini"

Tami mengangguk saja, agar suaminya tidak terlalu cemas dan mengkhawatirkan dirinya. Tami mencium telapak tangan suaminya, lalu menempelkannya di pipi sebelah kiri. "Terima kasih ya, karena sudah begitu perhatian padaku. Padahal aku hanya datang bulan biasa saja"

"Apaan si kamu ini, tentu aku akan memberikan perhatianku karena kamu adalah istriku"

Tapi entah sampai kapan aku akan menjadi istrimu? Mungkin sampai kau bosan denganku dan akan mencampakkan aku begitu saja suatu saat nanti.

"Yaudah, kalau gitu aku kuliah dulu ya. Kamu hati-hati di jalan"

"Iya Sayang" Alvaro mecium sekilas bibir istrinya sebelum dia membiarkan istrinya keluar dari dalam mobil.

Menatap punggung istrinya yang berjalan menjauh darinya. Alvaro tersenyum sendiri ketika dia mengingat pernikahannya dengan Tami yang membuatnya selalu bahagia setiap saat. Alvaro tidak bisa membohongi dirinya dan juga perasaannya. Jika semakin kesini, cintanya semakin besar untuk Tami. Dia akan menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya itu. Melihat bagaimana Tami masih menjaga jarak sampai saat ini.

Selesai dengan kelas hari ini, Tami keluar dari kelas. Berjalan menyusuri koridor kampus dengan langkah yang gontai. Tami sedang dalam mood buruk saat datang bulan begini. Mungkin bukan hanya Tami, tapi semua wanita di dunia ini pasti merasakan hal yang sama.

Tami tersenyum ketika melihat pria yang berjalan ke arahnya. Suaminya sudah menunggu di parkiran, dan langsung menghampirinya ketika dia melihat Tami sudah keluar dari kampus.

"Sayang, sudah menunggu lama ya" Tami meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan lembut.

Alvaro mencium keningnya dengan lembut, sambil mengelus  kepalanya. "Tidak juga, sekarang ayo pulang kamu terlihat lemah sekali"

Tami hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka pun segera pergi dari kampus untuk segera pulang. Sampai di rumah, Alvaro segera membawa istrinya ke kamar dan menyuruhnya untuk istirahat.

"Istirahatlah, wajahmu pucat begini" Alvaro terus mengelus kepala istrinya yang tertidur di sampingnya.

Tami berbalik, dia memeluk kaki suaminya yang sedang duduk menyandar di atas tempat tidur. Di saat seperti ini, Tami merasa jika hidupnya sudah benar-benar bahagia. Tapi, lagi-lagi dia mengerti jika pernikahan ini tidak tahu akan berlanjut sampai kapan? Mungkin sampai Alvaro bosan dengannya dan akan membuangnyz begitu saja.

"Sayang, apa kamu tidak akan tidur juga?"

Alvaro menggeleng pelan, dia tidak mengantuk saat ini. Lagian masih ada email yang harus dia cek saat ini. "Tidak Sayang, aku ada pekerjaan sebentar. Jadi kamu tidur saja, aku temani kamu kok disini"

"Emm. Yaudah deh, aku tidur ya"

"Iya Sayang"

Alvaro terus mengelus lembut kepala istrinya sampai istrinya itu benar-benar terlelap. Akvaro tersenyum melihat wajah teduh itu. Dia sedikit menundukkan tubuhnya dan memberikan kecupan hangat di keningnya. Setelahnya, dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Tami. Lalu dia turun dari atas tempat tidur dan berjalan menuju sofa. Duduk disana dengan iPad di tangannya. Mengecek email yang di kirimkan oleh manager restaurant cabang. Dan Alvaro terfokus dengan pekerjaannya.

...💫💫💫💫💫💫💫💫...

Entah pukul berapa sekarang, Tami baru membuka kedua matanya. Lama juga dia tertidur rasanya. Saat dia benar-benar membuka kedua matanya, pemandangan di depannya yang pertama kali dia lihat adalah sosok pria tampan yang sebenarnya menjadi sosok malaikat penolong bagi Tami. Di saat kesulitan dalam hidupnya, Alvaro datang memberikan bantuan. Meski dengan syarat harus menikahinya.

Tapi setidaknya, kehidupan Tami sedikit berubah sejak dia bersama Alvaro. Dia tetap harus bersyukur untuk itu. Tami menoleh ke arah nakas, lalu dia meraih ponselnya di atas nakas. Membuka aplikasi kamera dan memotret wajah suaminya yang sedang terlelap itu. Bagi Tami, Alvaro sangat sempurna ketika pria itu harus bersanding dengannya. Merasa jika sebenarnya dia dan suaminya tidak terlalu sebanding.

Suara jepretan kamera sepertinya telah mengusik tidur Alvaro. Pria itu mengerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea matanya.

Eh dia bangun.

Tami segera menghentikan aksinya, dia mematikan layar ponselnya dan kembali menaruhnya di atas nakas, ketika sebuah tangan melingkar erat di perutnya diiringi dengan kecupan-kecupan di bahu dan lehernya.

"Sayang sudah bangun ya, jam berapa ya sekarang? Sepertinya aku tidur terlalu lama" Tami melirik jam dinding disana, sudah menunjukan pukul 5 sore. Benar, jika Tami terlelap cukup lama barusan.

"Sayang ayo bangun, aku mau mandi" Pembalutku sudah penuh, sudah tidak nyaman ini. Harus segera di ganti.

"Sebentar lagi Sayang..." Alvaro malah semakin mengeratkan pelukannya. Mencium bahu istrinya dengan lembut. "...Kita makan malam di luar yuk"

Tami mengangguk "Iya terserah kamu saja, sekarang ayo bangun dulu Sayang. Aku mau mandi"

Akhirnya Alvaro melepaskan pelukannya dan membiarkan istrinya turun dari atas tempat tidur. Setelah Tami pergi ke ruang ganti, Alvaro masih tiduran di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamarnya dengan senyuman yang tidak pernah lepas di wajahnya itu.

Tuhan, aku benar-benar mencintainya.

Bersambung

Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5

Terpopuler

Comments

uyhull01

uyhull01

next kak

2023-01-23

0

n4th4n14e4

n4th4n14e4

❤️❤️❤️

2023-01-23

0

Juju Juhanah

Juju Juhanah

semoga tidak ada pelakor💪💪

2023-01-23

0

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan Yang Membuat Berdebar
2 Pelukan Mengejutkan
3 Membuat Tertarik?!
4 Hanya Ingin Melindunginya
5 Buatkan Aku Kopi?!
6 Menolak Untuk Menginap
7 Langsung Menolak Begitu Saja
8 Tawaran Mengejutkan
9 Meminta Restu Ayah Dan Ibu
10 Pernikahan Karena Uang
11 Perjuangan Tami Yang Sia-Sia
12 Ciuman Pertama
13 Ayo Mandi Bersama?!
14 Ketulusan Alvaro
15 Kemarahan Alvaro
16 Meminta Hak
17 Memberikan Hak?!
18 Apakah Cemburu?!
19 Menstruasi?!
20 Benar-benar Mencintainya
21 Masa Lalu Yang Tersembunyi
22 Hanya Istri Pembayaran Hutang?!
23 Marah
24 Coba Untuk Membuka Hatimu
25 Bisakah Membuka Hati?
26 Cemburu Hanya Untuk Orang Yang Mencintai?!
27 Sebuah Foto?!
28 Kesalah Fahaman Yang Belum Terselesaikan
29 Kecelakaan?!
30 Ternyata Bukan Alvaro
31 Benar Mencintaiku?
32 Aku Bahagia Menikah Denganmu!
33 Ternyata Teman
34 Kebaikan Alvaro
35 Mencintaimu Dan Menyerahkan Hatiku
36 Menerima Alvaro Dan Masa Lalunya
37 Belum Ada Kata Cinta Yang Terucap
38 Kebahagiaan Ayah
39 Pil Kontrasepsi?!
40 Aku Mencintaimu
41 Cerita Dibalik Ulang Tahun Alvaro
42 Memberikan Apa Yang Alvaro Inginkan
43 Menjadi Satu-satunya Untukku
44 Alergi?!
45 Selalu Bahagia Bersamamu
46 Keluar Kota?!
47 Hamil?!
48 Menemui Alvaro
49 Berbeda Dari Wanita Lain
50 Hormon Kehamilan
51 Kebahagiaan Ayah Dan Ibu
52 Konsultasi Tentang Kita?!
53 Menghadapi Ibu Hamil
54 Calon Bayi Kembar?!
55 Kekhawatiran Alvaro
56 Siapa Rendi Fahreza?!
57 Cinta Bukan Hanya Tentang Cantik
58 Preeklamsia?!
59 Tidak Bisa Memilih Diantara Kalian
60 Memilih Keputusan
61 Istriku Pasti Kuat
62 Pasti Kuat Melewati Semua ini
63 Alma Dan Alqi?
64 Sebuah Gerakan Tangan
65 Aku Tidak Akan Merebut Suamimu
66 Akhirnya Bangun
67 Terima Kasih Karena Sudah Setia
68 Masih Pencemburu?!
69 Tidak Seburuk Yang Difikirkan
70 Kecemasan Alvaro
71 Apa Sudah Bisa Melakukannya?!
72 Beruntung Memiliki Alvaro
73 Lagi-lagi Tentang Kemal?!
74 Sudah Bisa Melakukannya
75 Tidak Ingin Mempunyai Anak Lagi
76 Trauma Alvaro
77 Kesempatan Hidup Kedua
78 Tami Si Korban Bully?!
79 Dua Anak Lebih Baik?!
80 Pemasangan Kontrasepsi?!
81 Menggodanya
82 My Sweet Girl
83 Terimakasih
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Pertemuan Yang Membuat Berdebar
2
Pelukan Mengejutkan
3
Membuat Tertarik?!
4
Hanya Ingin Melindunginya
5
Buatkan Aku Kopi?!
6
Menolak Untuk Menginap
7
Langsung Menolak Begitu Saja
8
Tawaran Mengejutkan
9
Meminta Restu Ayah Dan Ibu
10
Pernikahan Karena Uang
11
Perjuangan Tami Yang Sia-Sia
12
Ciuman Pertama
13
Ayo Mandi Bersama?!
14
Ketulusan Alvaro
15
Kemarahan Alvaro
16
Meminta Hak
17
Memberikan Hak?!
18
Apakah Cemburu?!
19
Menstruasi?!
20
Benar-benar Mencintainya
21
Masa Lalu Yang Tersembunyi
22
Hanya Istri Pembayaran Hutang?!
23
Marah
24
Coba Untuk Membuka Hatimu
25
Bisakah Membuka Hati?
26
Cemburu Hanya Untuk Orang Yang Mencintai?!
27
Sebuah Foto?!
28
Kesalah Fahaman Yang Belum Terselesaikan
29
Kecelakaan?!
30
Ternyata Bukan Alvaro
31
Benar Mencintaiku?
32
Aku Bahagia Menikah Denganmu!
33
Ternyata Teman
34
Kebaikan Alvaro
35
Mencintaimu Dan Menyerahkan Hatiku
36
Menerima Alvaro Dan Masa Lalunya
37
Belum Ada Kata Cinta Yang Terucap
38
Kebahagiaan Ayah
39
Pil Kontrasepsi?!
40
Aku Mencintaimu
41
Cerita Dibalik Ulang Tahun Alvaro
42
Memberikan Apa Yang Alvaro Inginkan
43
Menjadi Satu-satunya Untukku
44
Alergi?!
45
Selalu Bahagia Bersamamu
46
Keluar Kota?!
47
Hamil?!
48
Menemui Alvaro
49
Berbeda Dari Wanita Lain
50
Hormon Kehamilan
51
Kebahagiaan Ayah Dan Ibu
52
Konsultasi Tentang Kita?!
53
Menghadapi Ibu Hamil
54
Calon Bayi Kembar?!
55
Kekhawatiran Alvaro
56
Siapa Rendi Fahreza?!
57
Cinta Bukan Hanya Tentang Cantik
58
Preeklamsia?!
59
Tidak Bisa Memilih Diantara Kalian
60
Memilih Keputusan
61
Istriku Pasti Kuat
62
Pasti Kuat Melewati Semua ini
63
Alma Dan Alqi?
64
Sebuah Gerakan Tangan
65
Aku Tidak Akan Merebut Suamimu
66
Akhirnya Bangun
67
Terima Kasih Karena Sudah Setia
68
Masih Pencemburu?!
69
Tidak Seburuk Yang Difikirkan
70
Kecemasan Alvaro
71
Apa Sudah Bisa Melakukannya?!
72
Beruntung Memiliki Alvaro
73
Lagi-lagi Tentang Kemal?!
74
Sudah Bisa Melakukannya
75
Tidak Ingin Mempunyai Anak Lagi
76
Trauma Alvaro
77
Kesempatan Hidup Kedua
78
Tami Si Korban Bully?!
79
Dua Anak Lebih Baik?!
80
Pemasangan Kontrasepsi?!
81
Menggodanya
82
My Sweet Girl
83
Terimakasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!