"Tami...Bangun Nak, tolong Ayah"
Suara gedoran pintu kamar membuat Tami terlonjak dan bangun seketika dari tidur nyenyaknya. Dia segera membuka pintu kamar dan melihat Ayah yang terlihat begitu panik.
"Ada apa Yah?"
"Adikmu kumat lagi, tolong antar ke rumah sakit"
"Baik Yah"
Tami mengambil jaket dan kunci motornya, segera menemui Ibu di kamar. Adiknya sudah kejang-kejang di pangkuan Ibu.
"Ayo Bu, kita bawa adik ke rumah sakit sekarang"
Ibu mengangguk, dia segera menggendong anaknya dan membawanya keluar dari rumah. Tami sudah siap di atas motor matiic miliknya. Ibu naik ke atas motor dengan adik yang berada di gendongannya. Tami segera melajukan mobilnya dengan cepat untuk segera sampai di rumah sakit.
Beginilah setiap saat adiknya kambuh, tidak ada uang untuk memanggil ambulance atau sekedar meminjam mobil pada tetangga. Karena memang tidak ada yang benar-benar tulus mau membantu mereka. Ketika ada yang meminjamkan mobil, maka saat kembali dari rumah sakit selalu saja meminta bayaran.
Sementara keluarga Tami hanya memiliki uang untuk biaya pengobatan saja sudah sangat bersyukur, apalagi jika harus menyewa mobil. Jadi, saat ini mereka memilih pergi dengan motor saja. Satu-satunya kendaraan yang keluarga mereka miliki.
Tami duduk di kursi tunggu dengan menyandar ke dinding rumah sakit. Kedua tangannya berada di dada, menarik jaket agar semakin rapat di tubuhnya. Tami memejamkan matanya untuk sedikit saja menghilangkan kantuk dalam dirinya.
Ibu keluar dari ruang perawatan untuk mengecek keadaan putrinya. Tapi pemandangan yang dia lihat benar-benar berhasil membuat hatinya berdenyut sakit. Ibu duduk di samping Tami dengan perlahan. Sedikit merapikan anak rambut yang menghalangi wajah anaknya ini.
"Maafkan Ibu Nak, Ibu benar-benar tidak pernah memikirkan kamu. Ibu hanya fokus pada Tian. Ibu mohon kamu akan mengerti posisi Ibu"
"Tami mengerti kok Bu..." Tami langsung membuka kedua matanya dan menatap Ibunya. "...Tami mengerti Bu, jadi Ibu dan Ayah tidak perlu merasa bersalah pada apapun yang telah terjadi. Tami mengerti Bu, dan Tami menerima semuanya dengan ikhlas"
Ibu memeluk Tami, hati Ibu mana yang bisa tahan melihat anak perempuannya yang rela berkorban begitu banyak hanya demi keluarganya. Semuanya hanya karena dia yang tidak bisa menjadi orang tua yang baik. Bahkan Tami sampai tidak lagi memikirkan kesehatannya. Dia sudah berteman dengan rasa lelah setiap harinya.
Ibu menangis di pelukan Tami, dia benar-benar bersykur mempunyai anak seperti Tami. Yang rela banyak berkorban demi keluarganya. "Maafkan Ibu Nak, maaf jika Ibu belum bisa menjadi Ibu yang baik untuk kamu. Maaf karena Ibu dan Ayah tidak bisa membahagiakan kamu"
Tami mengelus punggung Ibunya yang bergetar. "Tidak papa Bu, Tami ikhlas menjalani semua ini. Asalkan Ibu dan Ayah sehat, adik juga segera sembuh dari penyakitnya. Tami tidak papa jika harus bekerja lebih keras lagi"
Dan begitulah kehidupannya selama ini. Namun bagaimana pun kehidupannya di masa sekarang dan masa depan, Tami tetap akan bersyukur karena terlahir dari keluarga ini. Ayah dan Ibu selalu tulus menyayanginya.
Pagi ini terpaksa Tami harus izin tidak masuk kuliah. Dirinya tidak mungkin meninggalkan Ayah yang berjualan, dan Ibu yang menunggu keadaan Tian kembali membaik agar bisa segera di bawa pulang.
Tami kembali ke rumah untuk membantu Ayah menyiapkan segala bahan gorengan yang akan di jual nanti sore hingga malam. Biasanya Ayah sudah pergi ke gerobak dari siang agar dia tidak keteteran saat menyiapkan segala bahan dagangannya.
"Mi, gak kuliah?"
Tami menggeleng, dia duduk di sofa yang sudah lapuk termakan usia. Menyandar pada sandaran sofa dengan mata yang terpejam. "Tami izin dulu Yah, sekarang mau bantuin Ayah saja. Sebelum nanti siang Tami harus berangkat bekerja"
Ayah menatap prihatin pada anak perempuannya ini. Di usianya seharusnya dia masih menjadi gadis yang suka main bersama teman-temannya. Tapi, Tami tidak bisa merasakan kebahagiaan itu. Dia hanya memikirkan tentang keluarganya dan segala kebutuhannya untuk kuliah. Hingga dalam fikirannya hanya ada kata bekerja dan bekerja.
"Tidak usah Mi, kamu tidur saja. Pasti dari semalam tidak tidur 'kan. Nanti kerja juga kamu harus fit. Sudah sana kamu tidur saja di kamar, istirahat"
Tami mengangguk, dia berjalan mendekati Ayah dan memeluknya sebentar. "Makasih sudah menjadi Ayah yang baik untuk Tami dan Tian"
Hati Ayah benar-benar sakit mendengarnya, bukan karena dia tidak bahagia dengan ucapan anaknya yang terdengar begitu tulus. Tapi, Ayah merasa jika dia belum menjadi Ayah yang baik. Bahkan dia masih saja menyusahkan Tami dan tidak membuatnya bahagia dan hidup tenang di usianya. Tami harus ikut kebingungan dengan masalah perekonomian keluarga, yang seharusnya hanya menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang Ayah.
Tapi, seorang Ayah tetap akan menjadi sosok pria terbaik dan terhebat di hati putrinya.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Alvaro melangkah masuk ke dalam Slick Grind Resto. Berjalan menuju lift, namun tatapannya tertuju pada gadis berkacamata yang sedang mengelap meja. Alvaro baru mengingat tentang kejadian Tami di kunci, karena sibuk bekerja sampai lupa untuk mengurus tentang masalah itu. Alvaro melanjutkan langkah kakinya menuju lift, masuk ke dalam lift.
Alvaro telah berada di ruangannya, dia melihat rekaman cctv di laptopnya. Dan dia melihat dua orang perempuan yang dengan sengaja mengunci pintu ruangan karyawan. Melihat itu, tangan Alvaro mengepal kuat. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Pria untuk menyuruh kedua wanita itu datang ke ruangannya.
Menunggu beberapa saat sampai suara pintu ruangan yang di ketuk, membuat Alvaro segera menyuruh masuk. Kedua karyawan restaurant ini menunduk takut di depan meja kerja Alvaro. Seolah mereka sudah tahu jika Alvaro memanggilnya bukan karena hal yang baik.
"Silahkan bereskan barang kalian, karena mulai hari ini kalian di pecat dengan tidak hormat oleh saya. Surat pemecatan akan saya titipkan pada Prita"
Keduanya langsung mendongak dan menatap Alvaro dengan wajah terkejut.
"Kenapa kami di pecat? Apa salah kami?"
"Iya Tuan, kenapa kami di pecat?"
Akvaro tidak menjawab, dia memutar laptop di atas meja menjadi menghadap ke arah mereka. "Lihat!"
Keduanya mematung saat melihat rekaman cctv. Sudah pasti tidak akan ada lagi kesempatan bagi mereka untuk bekerja disini. Padahal meski bekerja hanya menjadi seorang pelayan, tapi gaji mereka cukup untuk menutupi kebutuhan hidup.
Karena Slick Grind Resto adalah restaurant terkenal di tanah air dengan beberapa cabang. Pengunjungnya bukan hanya dari kalangan biasa saja. Membuat semua pekerja disini, mendapat gaji yang lebih tinggi dari restaurant lainnya.
"Keluar sekarang, dan cepat pergi dari Slick Grind Resto. Karena posisi kalian sudah banyak yang menginginkan"
Akhirnya kedua karyawan itu hanya bisa pergi dengan penyesalan dalam dirinya. Mencari kerja dengan pendidikan terbatas memang sangat sulit untuk sekarang. Tapi, dengan bodohnya mereka melakukan hal itu hingga membuatnya kehilangan pekerjaan.
Alvaro menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kebesaraannya. Kedua tangannya dia taruh di belakang kepala sebagai sandaran. Menatap langit-langit ruangannya dengan tatapan menerawang.
"Entah apa yang aku rasakan, tapi aku hanya ingin melindunginya"
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
uyhull01
klian juga malah cri gara" ,
bkan cuma melindunginya tp kmu mencintanya juga,
2023-01-04
0