"Kau turun"
Tami menatap bingung pada Alvaro yang masih berdiri diam tanpa berniat segera naik ke atas motor. Dia malah menyuruhnya turun dari atas motor.
"Ayo naik Tuan"
Alvaro berjalan mendekati Tami, bukannya naik di belakang Tami, dia malah menyalip di depan Tami. Membuat gadis itu sangat gugup dan terkejut. Dia otomatis memundurkan tubuhnya.
"Aku tidak biasa di bonceng oleh seorang wanita"
"Tap...tapi Tuan, apa Tuan bisa membawa motor?"
Alvaro tersenyum di balik helm yang dia pakai. "Tentu saja, sudah kau tenang saja aku tidak akan membuat kita masuk ke pintu surga. Kita akan selamat dan sehat sampai tujuan"
Plakk..
Tangan itu refleks saja memukul bahu Alvaro. Namun setelahnya dia terkejut sendiri dengan apa yang telah di lakukannya. Merasa sangat lancang pada atasannya.
"Maaf Tuan"
Alvaro tersenyum, merasa jika Tami telah mulai bisa membuka hatinya untuknya. Padahal Tami hanya refleks saja. "Tidak papa"
"Kamu pegangan, takutnya nanti jatuh. Aku suka bawa motor dengan kencang"
Tami terdiam, dia tidak berniat berpegangan pada Alvaro. Dia tidak seberani itu pada atasannya ini. "Tidak perlu, Tuan. Saya berpegangan ke jok belakang"
Motor melaju, namun baru juga satu meter Alvaro langsung mengerem motornya hingga membuat Tami seketika memeluknya karena takut terjatuh. Namun, di balik keterkejutan Tami, ada seseorang yang tersenyum tipis. Sepertinya dia memang sengaja melakukan itu.
"Aku bilang juga apa? Pegangan agar kau tidak jatuh"
Tami sedikit mengendurkan tangannya, ingin melepaskan lingkaran tangan di perut Alvaro. Namun, tanga Alvaro langsung mengembalikan posisi tangannya di perut Alvaro.
Tami hanya diam, dan menurut. Motor mulai melaju. Alvaro tersenyum tipis saat tangan Tami masih memeluk perutnya. Meski dia melihat dari pantulan kaca spion motornya wajah Tami yang terlihat tegang.
Sepanjang perjalanan Tami merasa aneh, saat cara mengendarai motor Alvaro yang terasa sangat lambat. Bahkan dirinya saja yang seorang perempuan tidak pernah selambat ini saat menjalankan motor. Jadi, Tami mulai melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Alvaro.
Namun, baru beberapa saat dia melepaskan pelukannya di perut Alvaro, tiba-tiba saja laju motor berubah menjadi sangat kencang. Bahkan saking kencangnya membuat Tami takut dan akhirnya kembali memeluk pinggang Alvaro. Drama seperti ini terus terjadi sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah apartemen mewah.
Tami segera turun dari motor, berdiri di samping motornya dengan sedikit gugup. Setelah apa yang terjadi di perjalanan, dia merasa tidak percaya jika dia telah memeluk Alvaro sepanjang perjalanannya.
Alvaro turun dan menatap Tami di balik kaca hitam helm yang di pakainya. Entah kenapa bisa bersama gadis itu membuat Alvaro bahagia. Ada debaran senang dalam hatinya.
"Sudah ya Tuan, saya harus segera pulang. Ayah dan Ibuku pasti mencemaskan aku"
Alvaro membuka helmnya, lalu menentangnya di tangan kiri. Menatap Tami, lalu dia menengadahkan tangan kananya di depan Tami. "Mana ponselmu"
Tami malah mengerutkan keningnya bingung. Dia hanya ingin segera pergi karena hari yang sudah larut malam. Tapi kenapa Alvaro malah meminta ponselnya.
"Untuk apa Tuan? Saya ingin segera pulang, Tuan 'kan telah sampai dengan selamat sekarang. Jadi, saya harus segera pulang"
Alvaro tetap tidak menurunkan tangannya, dia tetap kekeuh untuk meminta ponsel Tami. Sampai akhirnya, Tami tidak mempunyai pilihan lain. Dia memberikan ponselnya pada Alvaro. Menunggu Alvaro yang mengutak ngatik ponselnya.
"Ini..." Alvaro menyerahkan ponselnya pada Tami. "...Tunggu sebentar"
Alvaro mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang membuat Tami semakin tidak sabar untuk segera pulang. "Tuan, saya harus segera pulang. Apalagi yang harus saya tunggu"
Alvaro mengangkat tangannya seolah menyuruh Tami untuk diam. Dia menempelkan ponselnya di telinga.
"Hallo Ayah, saya adalah atasan Tami. Hari ini Tami terpaksa harus menginap, karena ada jam lembur yang membuatnya harus pulang terlalu larut"
Tami langsung terbelalak kaget saat Alvaro menelepon yang Tami yakini jika itu adalah Ayahnya. Terdengar dari cara Alvaro berbicara saat itu. Tami benar-benar tidak menyangka jika Alvaro akan melakukan hal sampai sejauh ini. Tujuannya meminjam ponsel Tami, adalah untuk ini. Untuk memasukan nomor ponsel Ayah dan menghubunginya sekarang.
"Tuan.." Tami mencoba mengambil ponsel Alvaro yang masih menempel di telinga. "...Tuan, tolong jangan seperti itu. Aku benar-benar harus pulang"
Alvaro menutup teleponnya setelah mendapat jawaban yang cukup memuaskan. Dia lalu menatap Tami yang terlihat kaget dengan apa yang terjadi saat ini.
"Ayahmu sudah mengizinkannya, jadi malam ini kau menginap saja di apartemenku"
Tami langsung menggeleng cepat, dia tidak mungkin menginap di apartemen atasannya ini. Apalagi dia adalah seorang pria. "Tidak Tuan, saya lebih baik pulang saja."
"Kenapa? Apa kau takut aku akan melakukan hal yang macam-macam padamu?" Alvaro menatap Tami dengan tatapan menggoda. Membuat gadis itu menunduk untuk menghilangkan kegugupan di hatinya.
"Kau tenang saja, aku memiliki dua apartemen disini. Jadi kau tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak. Lagian aku bukan lelaki cabul"
Tetap saja Tami tidak bisa menyetujui begitu saja. Baginya tidur di tempat seorang pria apalagi ini adalah atasannya, adalah sumber masalah baru baginya. Meski dalam tidur dengan tempat berbeda, tapi tetap saja Tami merasa tidak bisa jika dirinya harus tinggal disana.
"Tidak bisa Tuan, saya harus tetap pulang"
Tami sedikit memaksa saat mengambil kunci motor yang berada di dalam helm yang di tenteng oleh Alvaro. Lalu dia naik ke atas motor dan mulai men-staterr motornya.
Alvaro menatap Tami dengan heran, gadis itu benar-benar berbeda. Dia bahkan menolak tawaran Alvaro untuk menginap di apartemennya, di saat banyak wanita yang siap menjatuhkan dirinya di atas ranjang Alvaro.
"Oke, kalau kau ingin pulang. Tunggu sebentar, aku akan mengambil mobil dan kau akan aku antar pulang"
"Tidak Tuan, saya 'kan membawa motor"
"Motormu biar di bawa oleh anak buahku"
Alvaro menelepon seseorang, hingga beberapa saat mobil keluar dari basement Apartemen itu. Seorang pria keluar dari dalam mobil, menyerahkan kunci mobil pada Alvaro.
"Tami, karena kau telah mengantarkan aku pulang. Jadi sekarang biarkan aku yang mengantarkan kamu pulang. Tidak baik jika seorang gadis berkendara di malam hari"
Tami terdiam, dia masih tidak turun dari motornya. Dia masih memikirkan nasib motornya ini. Ini adalah kendaraan satu-satunya yang di miliki oleh keluarganya. Jika motor ini hilang, maka Tami harus menggunakan apa untuk mengantar adiknya ke rumah sakit saat tiba-tiba penyakitnya kambuh.
Alvaro yang melihat Tami sedang mengkhawatirkan motornya, langsung mengambil kunci motor Tami dan memberikannya pada pria tadi. "Kau ikuti kami, pakai motor ini"
"Baik Tuan"
Akhirnya Tami benar-benar tidak bisa menolak lagi. Dia lebih memilih pulang dengan di antarkan oleh Akvaro daripada dirinya harus menginap di apartemen Alvaro.
Bersambung
Ada cerita temanku nih.. mampir yuk, ceritanya sangat bagus...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
uyhull01
agresif kali si varo ini nympe harus mnyuruh nginap🙈
2023-01-10
0