"Temui orang tuamu dan bicarakan tentang pernikahan kita. Tiga hari lagi kita akan menikah"
Dan kalimat yang terucap dari Alvaro, benar-benar membuat Tami berada di jurang kehancuran. Hidupnya dan masa depannya akan hancur setelah dia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Dan sudah seperti dugaan Tami, jika kedua orang tuanya tentu akan terkejut saat mendengar apa yang dia bicarakan.
"Tami akan menikah tiga hari lagi"
"Kamu gak bercanda 'kan Mi? Ini terlalu mendadak. Lagian sejak kapan kamu mempunyai pacar? Ayah tidak pernah tahu jika kamu mempunyai pacar"
"Kami memang baru bertemu dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Entahlah.. Tapi memang itu yang Tami rasakan, Tami mencintainya dan dia pun mencintai Tami. Ayah, tolong izinkan Tami menikah"
Ayah benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh anaknya. Menikah? Bahkan dia belum pernah melihat atau mendengar Tami mempunyai teman dekat seorang pria. Lalu, kenapa tiba-tiba anaknya ini mau menikah?
"Dengan siapa? Ayah ingin bertemu dulu dengan calon suamimu. Lagian, menikah itu tidak gampang Tami. Apa kamu yakin?"
Tami mengangguk, namun wajahnya tetap tertunduk. Tidak berani menatap Ayahnya, karena Ayah pasti tahu jika saat ini Tami sedang dalam keadaan tertekan dan terpaksa. Tami tidak pernah menginginkan pernikahan ini, tapi semua ini demi adiknya dan juga orang tuanya. Setidaknya Tami bisa sedikit saja meringankan beban keluarganya ini.
"Selain karena Tami dan dia saling mencintai. Tapi, saat ini Tami juga ingin sedikit meringankan beban Ayah Ibu. Tami ingin terbebas dari segalanya"
Ayah menatap sendu anaknya itu, dia tahu jika Tami pasti sangat lelah dengan semua ini. Hidup yang selalu di penuhi dengan masalah, belum lagi keadaan adiknya yang sampai sekarang belum menemukan titik harapan untuk benar-benar sembuh dan bertahan hidup lebih lama lagi.
"Ayah tidak bisa menolaknya Tami, karena selama ini kamu tidak pernah mengambil keputusan jika kamu tidak yakin dengan keputusan kamu sendiri. Jadi, Ayah akan merestui pernikahan kamu. Yang harus kamu lakukan sekarang, adalah menemui Ibumu di rumah sakit dan bicarakan tentang ini semua"
Tami mengangguk, mungkin reaksi Ibu juga tidak akan jauh berbeda dari Ayah. Sama-sama terkejut mendengar anaknya yang tiba-tiba ingin menikah. Tapi semua ini harus Tami lakukan, hanya demi bisa melanjutkan kuliahnya dan merubah kehidupan keluarganya ke depannya nanti. Selain itu, dia juga bisa mengobati adiknya. Tian bisa melakukan operasi tanpalasi jantung dengan uang yang di berikan Alvaro padanya nanti.
Dan saat ini Tami sudah berada di rumah sakit, di dalam ruang perawatan Alvaro. Dia sudah memberi tahu Ibunya tentang rencana pernikahannya. Dan seperti dugannya, Ibu juga sama terkejutnya dengan Ayah.
"Kamu jangan bercanda Nak, menikah dengan siapa? Apa laki-laki itu adalah orang baik? Apa dia benar-benar mencintaimu? Jangan asal ambil keputusan Tami, karena pernikahan itu tidak mudah untuk di jalani"
Tami tahu itu, apalagi pernikahannya nanti entah akan seperti apa. Menikah demi uang, sebut saja begitu. Tami menikah dengan Alvaro hanya demi uang. Tidak ada alasan lain, apalagi cinta. Karena selama ini, Tami tidak pernah merasakan jatuh cinta. Dia sangat bodoh tentang cinta.
"Tami yakin Bu, percaya saja pada Tami. Lagian kami menikah juga karena saling mencintai" Meski nyatanya itu adalah sebuah kebohongan besar. Maafkan Tami, Bu.
Dan akhirnya Tami bisa meyakinkan Ayah dan Ibunya. Hingga pagi ini dia pergi ke kampus dengan perasaan yang tak menentu. Besok lusa dia akan menikah, dan semuanya terasa terlalu mendadak. Uang sudah berada di tangan Tami, dia sudah membayar uang semester yang tertinggal dan sisanya akan dia bayarkan ke rumah sakit untuk operasi adiknya.
Drett..
Ponsel yang berdering menyadarkan Tami dari segala pemikirannya. Dia merogoh tas ranselnya yang dia letakan di atas meja. Tami melihat layar ponselnya, nama sahabatnya yang tertera disana.
"Hallo Ay, bagaimana keadaanmu? Maaf ya aku belum bisa jenguk kamu dan bayi kamu"
"Tidak papa Mi, aku hanya merindukanmu saja. Kenapa kamu tidak menghubungiku? Apa kamu sibuk ya?"
"Iya Ay, aku kerja part time di sebuah restaurant sekarang. Jadi aku benar-benar sibuk, sepulang kuliah langsung bekerja"
"Bagaimana keadaan Tian, Mi?"
Tami terdiam, memang hanya Ayra yang mengetahui semua tentang kehidupannya. Termasuk tentang penyakit adiknya dan sulitnya ekonomi keluarganya.
"Sudah lebih baik Ay, kamu do'akan saja semoga Tian bisa segera sembuh dari sakit yang menyerangnya selama ini"
"Iya Mi, nanti kalau aku sudah benar-benar pulih. Aku akan menjenguk adikmu, kangen juga dengan Tian"
Dan begitulah persahabatan mereka. Selalu saling mengerti satu sama lain. Hanya saja, ada rahasia yang di sembunyikan keduanya saat ini. Tami tahu jika Ayra telah menikah, namun dengan siapa dia menikah dan bagaimana awal cerita tentang pernikahan itu, dia tidak tahu. Begitupun dengan Ayra saat ini, mungkin dia tidak tahu jika Tami akan segera menikah. Karena memang Tami tidak ingin membuat sahabatnya terbebani dengan ceritanya ini. Keduanya selalu saling menghargai perasaan masing-masing.
...💫💫💫💫💫💫💫...
Saat ini Tami sudah berada di ruangan Alvaro. Dia di panggil oleh pria itu, sudah tahu apa yang ingin di bicarakannya. Tami hanya menurut saja. Duduk berhadapan di meja kerja Alvaro. Sedari tadi Tami hanya menundukan wajahnya dengan tangan yang meremas apron hitam yang dia pakai.
"Apa kau sudah berbicara dengan orang tuamu?"
Tami mengangguk, entah kenapa tenggorokannya terasa kering dan sulit untuk mengeluarkan suara. Tami sedang dalam keadaan benar-benar gugup sekarang.
"Baiklah, aku akan menyiapkan segala persiapan pernikahan kita"
Tami mendongak ketika mendengar ucapan Alvaro barusan. Dia ingin meminta satu saja keinginan sebelum menikah dengan pria itu. "Tapi Tuan, apa saya boleh meminta satu syarat saja"
Alvaro sedikit mengerutkan keningnya, menatap Tami tidak suka. Syarat apa memangnya yang akan di berikan oleh gadis itu? Padahal Alvaro menikahnya murni karena menolongnya. Bukan sejenis pernikahan kontrak atau di atas perjanjian seperti yang di lakukan sahabatnya dulu.
"Syarat apa? Jika syaratnya merugikan ku, maka aku tidak akan menyetujuinya!"
Tami mengangguk mengerti. "Tidak Tuan, saya hanya minta acara pernikahan kita di adakan secara sederhana. Tidak terlalu banyak orang yang tahu"
Agar suatu saat nanti, ketika dia mencampakkan aku maka aku tidak akan terlalu malu dengan banyak orang.
"Dan saya ingin tetap bekerja disini setelah menikah dengan Tuan. Jadi, tolong jangan undang satu orang pun pekerja disini. Aku ingin bekerja dengan bebas"
"Baiklah, semua itu tidak masalah"
Menurut Alvaro permintaan Tami sangatlah sederhana jika dia sampai tidak menurutinya. Tetap bekerja disini juga tidak jadi masalah bagi Alvaro. Selama semuanya masih bisa teratasi dengan baik. Jika pernikahan itu terbongkar pun, Alvaro tidak masala. Untuk saat ini dia hanya ingin menolong gadis itu. Meski perasaannya tidak hanya sekedar rasa kasihan saja. Alvaro memang memiliki perasaan yang lebih pada Tami.
Tami keluar dari ruangan Alvaro setelah dia selesai mengungkapkan syaratnya itu. Dia mulai bekerja seperti biasa, seolah tidak ada beban dalam dirinya. Padahal hatinya sudah benar-benar tak karuan.
Menikah? Aku akan benar-benar menikah lusa.
Rasanya masih belum percaya dengan kenyataan yang ada.
Bersambung
Ada cerita temanku nih..yuk mampir.. ceritanya sangat bagus..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
uyhull01
smuanya akan baik baik aja ko Mi,
2023-01-12
0