Ketulusan Alvaro

Ini baru dua hari Tami menikah dengan Alvaro. Tapi entah kenapa dia merasa sikap Alvaro yang sangat tulus. Tatapan matanya tidak bisa membohongi siapa pun. Tami jelas melihat ketulusan itu di balik tatapan mata Alvaro. Panggilan Sayang yang dia berikan pada Tami, juga terlihat tulus dan dia selalu santai saat memanggilnya dengan panggilan itu. Tidak seperti Tami yang bahkan gugup setengah mati saat harus memanggil Alvaro dengan panggilan Sayang.

"Mungkin semua ini hanya sebatas kesenangan saja baginya. Dia hanya ingin mengerjaiku dan menggodaku saja" gumam Tami yang sedang mengaduk masakannya di dalam wajan.

Entahlah, rasanya Tami tidak memiliki perasaan apa-apa pada suaminya. Cinta? Apa itu yang namanya cinta,Tami tidak mengetahuinya karena dia belum pernah merasakan perasaan itu.

Tami terlonjak kaget saat sepasang tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya. Saking terkejutnya sampai tangannya terkena dengan pinggir wajan yang panas. Tami menjerit kesakitan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

"Ya ampun Sayang, ish gak hati-hati si kamu ini" Alvaro langsung membalikan tubuh Tami dan mematikan kompor. Dia menggiring tubuh istrinya untuk duduk di kursi meja makan. Lalu dia berlari untuk mengambil kotak obat. Setelah mendapatkan apa yang dia butuhkan, Alvaro segera mengobati luka bakar di tangan istrinya itu.

"Kamu kenapa gak hati-hati, jadi kayak gini 'kan"

Tami hanya diam dengan sedikit meringis saat Alvaro mengoleskan salep luka bakar pada tangannya. Tami menatap wajah khawatir Alvaro dan ketulusan suaminya itu saat mengobati luka di tangannya, yang sebenarnya tidak seberapa itu.

Kenapa dia baik sekali?

Ada hati yang sedikit tersentuh dengan apa yang di lakukan oleh Alvaro. Tami merasa jika suaminya begitu tulus padanya. Tidak ada sikap dan perilakunya yang di buat-buat.

Apa aku harus memulai membuka hatiku untuknya? Ahh tidak-tidak. Aku tidak boleh sampai jatuh cinta padanya. Jika suatu saat nanti dia mencampakkan aku, pasti hatiku akan semakin terasa sakit.

Pernikahan yang terikat karena sebuah hutang, membuat Tami pesimis untuk sekedar membuka hatinya. Tami takut jika setelah dia membuka hatinya untuk suaminya, justru malah semakin membuatnya sakit jika suatu saat pernikahan ini akan berakhir.

Alvaro selesai mengobati tangan istrinya, dia mendongak menatap istrinya saat merasa Tami hanya diam saja sejak tadi. Dilihatnya istrinya sedang terdiam dengan tatapan menerawang. Entah apa yang dia fikirkan sampai tidak sadar jika Alvaro telah selesai mengobati luka di tangannya.

"Sayang.."

Tami mengerjap saat panggilan suaminya terdengar, dia menatap suaminya lalu beralih menatap tangannya yang masih berada di genggaman suaminya. Luka bakarnya sudah diolesi dengan salep.

"Ohh sudah ya, terima kasih ya"

Alvaro mengelus rambut Tami, dia tersenyum tulus padanya. "Lain kali lebih hati-hati ya"

Tami mengangguk, dia tersenyum pada suaminya sebagai ucapan terima kasih. "Yasudah, aku lanjutin masaknya ya"

Alvaro menggeleng, dia menahan tangan istrinya yang ingin beranjak dari duduknya. "Biar aku saja yang melanjutkan, kamu diam saja. Tangannya masih sakit begitu"

Tami menatap tangannya, sungguh itu hanya sebuah luka kecil. Tapi kenapa suaminya sampai secemas ini pada kedaannya. "Tidak papa kok, aku bisa melanjutkan masaknya. Lagian ini hanya luka kecil"

Alvaro menatap tidak suka pada Tami, dia paling tidak suka di bantah. Apalagi yang membantah adalah istrinya sendiri. "Sudah diamlah, aku saja yang lanjutkan. Kau lupa jika aku pemilik Slick Grind Resto. Jadi, jangan khawatir aku pasti menyelesaikan masakan ini dengan baik"

Akhirnya Tami hanya mengangguk saja, dia menatap punggung suaminya yang sedang mengaduk makanan di dalam wajan. Beberapa saat kemudian Alvaro berbalik dengan membawa hidangan yang telah Tami masak, namun belum sampai matang karena tragedi tangannya tadi.

"Silahkan Sayang, kamu coba masakan suamimu ini" Alvaro menaruh masakannya di atas meja makan, tepat di depan Tami.

Tami tertawa kecil mendengarnya, dia mulai mengambil satu sendok makanan itu dan menyuapkannya pada mulutnya. Mengunyahnya pelan, namun beberapa saat kemudian dia sedikit menahan diri agar tolak memuntahkan makanan di dalam mulutnya didepan suaminya ini.

Kenapa rasanya asin sekali.

Akhirnya Tami menelan makanan itu dengan susah payah. Dia tidak mau menyakiti perasaan suaminya dengan mengatakan jika masakannya tidak enak atau lebih tepatnya keasinan.

"Enak sekali Sayang, aku tidak menyangka kalau kamu bisa masak seenak ini"

"Iyalah, aku 'kan pemilik Slick Grind Resto"

Tami tersenyum mendengar nada sombong dari ucapan suaminya. Namun dia sedikit was-was saat Alvaro mengambil satu sendok masakannya itu dan memasukannya ke dalam mulut dan dia langsung memuntahkan kembali makanan yang ada di dalam mulutnya.

"Sayang, jangan dimakan! Gimana bisa kamu bilang ini enak, rasanya sangat asin"

"Enak kok, kan itu karena kamu makannya tanpa nasi. Tapi kalau sama nasi pasti akan terasa pas deh"

Alvaro menggeleng, membantah ucapan istrinya itu. Tangannya menarik piring di depan istrinya. "Gak, kamu gak boleh makan ini. Lagian kenapa rasanya bisa asin, padahal aku sudah memberikan takaran yang pas"

Tami terdiam mendengar ucapan Alvaro barusan. Tadi memang dia sudah memberikan garam, sebelum tangannya terluka. Jadi, pantas saja jika sekarang rasa masakannya asin di saat Alvaro sudaj memberikan takaran bumbu yang pas pada masakannya.

"Hehe. Sayang maaf, aku tadi sudah memberikan garam pada masakanku itu"

Alvaro menghela nafas dan tersenyum lebar. "Pantas saja rasanya asin. Yasudah sekarang kita pesan makanan saja, kamu mandi dulu saja sekarang"

Tami mengangguk, dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu dapur. Namun, langkahnya terhenti dengan panggilan Alvaro padanya.

"Sayang, mau pesan apa?"

"Terserah kamu saja, tapi jangan yang ada udangnya aku alergi"

Alvaro mengangguk, satu hal yang dia ketahu tentang istrinya itu. Dia akan terus mengingatnya agar dia bisa memastikan jika istrinya tidak akan memakan makanan yang membuatnya alergi dan pada akhirnya jatuh sakit. Alvaro tidak mau kesayangannya sakit dan terluka.

Beberapa saat kemudian, Tami telah selesai dengan mandinya dan berganti pakaian. Dia kembali ke ruang makan, melihat suaminya yang sedang memindahkan makanan yang di pesannya ke atas piring. Segera Tami menghampirinya.

"Sayang, biar aku saja" Tami mengambil kotak makanan di tangan Alvaro dan menggantikan posisi suaminya yang sedang memindah makanan ke atas piring.

Tami merasa tidak enak saat harus di layani oleh suaminya seperti ini. Padahal, ini adalah kewajibannya sebagai seorang istri. Tidak peduli pernikahan mereka terjadi atas dasar apa, tapi yang jelas Tami akan berusaha menjadi istri yang berbakti pada suaminya.

Alvaro duduk dan menatap wajah cantik istrinya yang sedang fokus menata makanan di atas meja. Tami yang tidak memakai kacamata terlihat semakin cantik. "Sayang, apa kamu memiliki minus yang parah?"

Tami menatap suaminya, dia menarik kursi di sebrang suaminya dan duduk disana. "Tidak juga, minus mataku hanya sekitar satu setengah saja"

"Lalu kenapa kau selalu memakai kacamata?"

Tami mengangkat kedua bahunya "Hanya kebiasaan saja"

"Mumpung minus matamu masih rendah, kita obati ya. Aku punya dokter terbaik untuk masalah mata. Saudaraku saja sudah mulai sembuh, meski belum sepenuhnya. Minusnya sudah besar, tapi karena rutin berobat pada dokter itu, sekarang sudah mulai sembuh"

Tami menatap suaminya, dia memang sangat ingin mengobati matanya agar dia tidak terus bergantung pada kacamata minusnya. Tapi, untuk membeli kacamata itu saja sudah membuat dompetnya terkuras, apalagi untuk mengobati matanya secara rutin.

"Terserah kamu saja, aku menurut saja padamu"

Alvaro mengangguk dan tersenyum puas mendengar jawaban istrinya itu.

Bersambung

Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5

Terpopuler

Comments

uyhull01

uyhull01

lambat laun Tami pasti mencintaimu ko Al,

2023-01-18

0

AlmiraAzniAdzkia🥰🌺

AlmiraAzniAdzkia🥰🌺

buka hatimu dong tami,,,alvaro beneran cinta loh sama kamu,,,,pengen liat kalian pada bucin gitu loh kaya ayra aiden,,,,,

2023-01-16

0

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan Yang Membuat Berdebar
2 Pelukan Mengejutkan
3 Membuat Tertarik?!
4 Hanya Ingin Melindunginya
5 Buatkan Aku Kopi?!
6 Menolak Untuk Menginap
7 Langsung Menolak Begitu Saja
8 Tawaran Mengejutkan
9 Meminta Restu Ayah Dan Ibu
10 Pernikahan Karena Uang
11 Perjuangan Tami Yang Sia-Sia
12 Ciuman Pertama
13 Ayo Mandi Bersama?!
14 Ketulusan Alvaro
15 Kemarahan Alvaro
16 Meminta Hak
17 Memberikan Hak?!
18 Apakah Cemburu?!
19 Menstruasi?!
20 Benar-benar Mencintainya
21 Masa Lalu Yang Tersembunyi
22 Hanya Istri Pembayaran Hutang?!
23 Marah
24 Coba Untuk Membuka Hatimu
25 Bisakah Membuka Hati?
26 Cemburu Hanya Untuk Orang Yang Mencintai?!
27 Sebuah Foto?!
28 Kesalah Fahaman Yang Belum Terselesaikan
29 Kecelakaan?!
30 Ternyata Bukan Alvaro
31 Benar Mencintaiku?
32 Aku Bahagia Menikah Denganmu!
33 Ternyata Teman
34 Kebaikan Alvaro
35 Mencintaimu Dan Menyerahkan Hatiku
36 Menerima Alvaro Dan Masa Lalunya
37 Belum Ada Kata Cinta Yang Terucap
38 Kebahagiaan Ayah
39 Pil Kontrasepsi?!
40 Aku Mencintaimu
41 Cerita Dibalik Ulang Tahun Alvaro
42 Memberikan Apa Yang Alvaro Inginkan
43 Menjadi Satu-satunya Untukku
44 Alergi?!
45 Selalu Bahagia Bersamamu
46 Keluar Kota?!
47 Hamil?!
48 Menemui Alvaro
49 Berbeda Dari Wanita Lain
50 Hormon Kehamilan
51 Kebahagiaan Ayah Dan Ibu
52 Konsultasi Tentang Kita?!
53 Menghadapi Ibu Hamil
54 Calon Bayi Kembar?!
55 Kekhawatiran Alvaro
56 Siapa Rendi Fahreza?!
57 Cinta Bukan Hanya Tentang Cantik
58 Preeklamsia?!
59 Tidak Bisa Memilih Diantara Kalian
60 Memilih Keputusan
61 Istriku Pasti Kuat
62 Pasti Kuat Melewati Semua ini
63 Alma Dan Alqi?
64 Sebuah Gerakan Tangan
65 Aku Tidak Akan Merebut Suamimu
66 Akhirnya Bangun
67 Terima Kasih Karena Sudah Setia
68 Masih Pencemburu?!
69 Tidak Seburuk Yang Difikirkan
70 Kecemasan Alvaro
71 Apa Sudah Bisa Melakukannya?!
72 Beruntung Memiliki Alvaro
73 Lagi-lagi Tentang Kemal?!
74 Sudah Bisa Melakukannya
75 Tidak Ingin Mempunyai Anak Lagi
76 Trauma Alvaro
77 Kesempatan Hidup Kedua
78 Tami Si Korban Bully?!
79 Dua Anak Lebih Baik?!
80 Pemasangan Kontrasepsi?!
81 Menggodanya
82 My Sweet Girl
83 Terimakasih
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Pertemuan Yang Membuat Berdebar
2
Pelukan Mengejutkan
3
Membuat Tertarik?!
4
Hanya Ingin Melindunginya
5
Buatkan Aku Kopi?!
6
Menolak Untuk Menginap
7
Langsung Menolak Begitu Saja
8
Tawaran Mengejutkan
9
Meminta Restu Ayah Dan Ibu
10
Pernikahan Karena Uang
11
Perjuangan Tami Yang Sia-Sia
12
Ciuman Pertama
13
Ayo Mandi Bersama?!
14
Ketulusan Alvaro
15
Kemarahan Alvaro
16
Meminta Hak
17
Memberikan Hak?!
18
Apakah Cemburu?!
19
Menstruasi?!
20
Benar-benar Mencintainya
21
Masa Lalu Yang Tersembunyi
22
Hanya Istri Pembayaran Hutang?!
23
Marah
24
Coba Untuk Membuka Hatimu
25
Bisakah Membuka Hati?
26
Cemburu Hanya Untuk Orang Yang Mencintai?!
27
Sebuah Foto?!
28
Kesalah Fahaman Yang Belum Terselesaikan
29
Kecelakaan?!
30
Ternyata Bukan Alvaro
31
Benar Mencintaiku?
32
Aku Bahagia Menikah Denganmu!
33
Ternyata Teman
34
Kebaikan Alvaro
35
Mencintaimu Dan Menyerahkan Hatiku
36
Menerima Alvaro Dan Masa Lalunya
37
Belum Ada Kata Cinta Yang Terucap
38
Kebahagiaan Ayah
39
Pil Kontrasepsi?!
40
Aku Mencintaimu
41
Cerita Dibalik Ulang Tahun Alvaro
42
Memberikan Apa Yang Alvaro Inginkan
43
Menjadi Satu-satunya Untukku
44
Alergi?!
45
Selalu Bahagia Bersamamu
46
Keluar Kota?!
47
Hamil?!
48
Menemui Alvaro
49
Berbeda Dari Wanita Lain
50
Hormon Kehamilan
51
Kebahagiaan Ayah Dan Ibu
52
Konsultasi Tentang Kita?!
53
Menghadapi Ibu Hamil
54
Calon Bayi Kembar?!
55
Kekhawatiran Alvaro
56
Siapa Rendi Fahreza?!
57
Cinta Bukan Hanya Tentang Cantik
58
Preeklamsia?!
59
Tidak Bisa Memilih Diantara Kalian
60
Memilih Keputusan
61
Istriku Pasti Kuat
62
Pasti Kuat Melewati Semua ini
63
Alma Dan Alqi?
64
Sebuah Gerakan Tangan
65
Aku Tidak Akan Merebut Suamimu
66
Akhirnya Bangun
67
Terima Kasih Karena Sudah Setia
68
Masih Pencemburu?!
69
Tidak Seburuk Yang Difikirkan
70
Kecemasan Alvaro
71
Apa Sudah Bisa Melakukannya?!
72
Beruntung Memiliki Alvaro
73
Lagi-lagi Tentang Kemal?!
74
Sudah Bisa Melakukannya
75
Tidak Ingin Mempunyai Anak Lagi
76
Trauma Alvaro
77
Kesempatan Hidup Kedua
78
Tami Si Korban Bully?!
79
Dua Anak Lebih Baik?!
80
Pemasangan Kontrasepsi?!
81
Menggodanya
82
My Sweet Girl
83
Terimakasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!