Tami masih memeluk suaminya, mengelus dada Alvaro yang masih naik turun menahan emosi dalam dirinya. Suaminya masih terlalu marah, sehingga dia tidak merespon pelukan istrinya. Alvaro tidak suka saat ada yang mengusuik miliknya.
Alvaro menatap dingin pada pria yang terkapar di atas tanah, lalu berarih menatap Dosen disana. "Keluarkan dia dan balckist dari setiap universitas mana pun. Jika tidak, aku akan tuntut universitas ini karena tidak bisa mendidik mahasiswa nya dengan baik. Bagaimana bisa ada sebuah pembullyan yang tidak kalian ketahui. Ini adalah universitas cukup terkenal. Tapi, ternyata pendidikannya sangat minim"
Sang Dosen langsung membungkukkan tubuhnya kepada Alvaro. Tentu ucapan Alvaro cukup membuatnya takut, meski Alvaro tidak terlalu terkenal seperti Aiden, sahabatnya. Tapi melihat dari apa yang di pakainya dan kendaraannya pun. Dosen sudah tahu jika pria di depannya ini bukanlah pria biasa yang bisa dia abaikan begitu saja.
"Baik Tuan, saya akan melakukan apa yang Tuan minta. Dan maafkan kami karena telah lalai dalam menyelidiki setiap perlakuan mahasiswa kami. Maafkan kami Tuan, kami pastikan untuk kedepannya kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi"
"Bagus! Dan untuk kalian semua...." Alvaro melihat orang-orang yang berkerumun di antara mereka. Tentu keributan ini akan menjadi pusat perhatian untuk banyak orang. Alvari mengangkat tangan kirinya dan menunjukan cicin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. "...Aku dan Tami telah resmi menikah, jadi kalian jangan pernah berani mengusik kehidupan istriku. Jika tidak ingin hidup kalian hancur seperti pria ini"
Pria yang terduduk di atas tanah hanya menunduk dengan malu. Selama ini dia sudah sering membully Tami, tapi tidak menyangka jika hari ini adalah hari sial baginya. Dia tidak tahu jika Tami sekarang sudah memiliki tameng yang kuat.
"Sayang, sudah ya.. Ayo kita pulang saja" Tami memegang tangan suaminya yang mengepal erat, terlihat urat-urat tangannya yang menonjol.
Alvaro menghela nafas, dia menatap istrinya dan mencium puncak kepalanya. Alvaro membalas pelukan istrinya dan mencium kening istrinya beberapa kali. Tami sedikit tenang setelah suaminya sudah mulai tenang. Tami segera membawa suaminya ke mobil. Meski Alvaro masih terlihat dingin, tapi setidaknya dia sudah terlihat lebih tenang.
Alvaro melajukan mobilnya meninggalkan kawasan kampus. Tami hanya diam dengan sesekali melirik ke arah suaminya yang sedang fokus mengemudi. Urat-urat tangan Alvaro masih terlihat saat dia memegang kemudi dengan erat. Jelas Alvaro masih sangat emosi dengan kejadian tadi.
"Kenapa kau tidak pernah bilang padaku, jika selama ini kau menjadi korban bully" Alvaro menoleh sekilas pada istrinya sebelum dia kembali fokus pada kemudinya saat lampu merah telah berubah menjadi hijau.
"Aku sudah biasa menghadapi mereka, lagian aku tidak pernah memperdulikan mereka selama ini. Biarlah mereka mau berkata apapun, yang penting aku tidak pernah membuat masalah apapun pada mereka"
"Gak bisa seperti itu, Sayang. Sekarang kamu sudah mempunyai aku sebagai pelindungmu. Kenapa kamu harus terus mengalah dari mereka"
Tami menghembuskan nafas pelan, tangannya terangkat untuk memegang lengan kekar Alvaro yang sedang memegang kemudi. "Yaudah, gak usah di bahas lagi. Lagian mulai sekarang tidak akan ada yang berani mengganggu aku lagi. Mereka pasti jera dengan ancaman kamu tadi"
"Itu bukan sebuah ancaman, aku pastikan akan membuat hidup siapapun hancur saat dia berani mengusik istriku"
"Iya, iya Sayang. Sudah ya, jangan marah lagi" Tami memberanikan diri untuk menyandarkan kepalanya di bahu Alvaro, hanya sekedar untuk menenangkan suaminya dari amarahnya itu.
Entahlah, Tami merasa seperti tokoh wanita yang sangat dicinta oleh suaminya. Padahal nyatanya dia dinikahi pria tampan ini hanya karena sebuah pinjaman uang. Bukan atas nama cinta.
Sampai di rumah, Alvaro masih terlihat dingin. Mungkin memang pria itu sangat marah saat melihat Istrinya di perlakukan seperti itu oleh orang lain. Jujur, hatinya terluka saat melihat wanita yang di cintainya tidak bisa membalas apa yang mereka katakan.
Selesai mandi, Alvaro keluar dari ruang ganti. Tami yang sedang duduk di pinggir tempat tidur langsung berdiri dan menghampirinya. "Sayang, bukannya seharusnya hari ini aku mulai bekerja lagi"
Tapi kenapa kamu malah membawaku kembali ke rumah.
"Sepertinya aku mencabut kembali izin kerjamu itu. Aku pecat kamu mulai hari ini"
Hah?!
Tami terkejut mendengarnya, tentu dia harus tetap bekerja untuk menghilangkan kecurigaan dari orang-orang di tempat kerjanya. "Tapi Sayang, kamu 'kan sudah janji untuk mengizinkan aku tetap bekerja. Kenapa sekarang kamu malah pecat aku"
Alvaro mencium kening Tami, tentu dia merasakan tubuh istrinya yang tegang saat dia melakukan itu. Mungkin karena Tami belum terbiasa. Dan Alvaro akan membuatnya terbiasa dengan ini.
"Aku tahu jika di tempat kerja pun kamu menjadi bahan bully setiap orang. Katakan padaku siapa saja yang pernah membully kamu? Apa Prita juga pernah melakukan itu?"
Tami menggeleng pelan, untuk sedikit merayu suaminya agar berhenti marah dan membatalkan pemecatannya. Tami memeluk suaminya dengan erat. Menyandarkan kepalanya di dada Alvaro. Sungguh memeluk Alvaro seperti ini, membuat Tami merasa nyaman.
"Tidak, Kak Prita baik sama aku. Kalau sikapnya yang tegas, memang pada semuanya dia seperti itu. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi soal itu. Aku pasti akan baik-baik saja, kan sekarang aku punya kamu yang akan melindungiku. Jadi, kalau sampai ada lagi yang menindasku, aku janji akan bicara padamu"
Alvaro membalas pelukan istrinya, dia mengecup beberapa kali puncak kepala istrinya itu. "Aku tahu jika kau sedang membujukku"
Tami tersenyum, dia mendongak menatap wajah suaminya dan langsung mendapat kecupan hangat di keningnya. "Boleh ya aku tetap bekerja di restoran kamu. Aku bosan jika hanya berdiam di rumah sepulang kuliah"
Bagaimana aku bisa mengumpulkan uang untuk membayar pinjaman padanya, jika dia memecatku.
Ya, Tami sudah memikirkan bagaimana caranya untuk segera lepas dari drama pernikahan di atas hutang ini. Dia harus rajin bekerja dan mengumpulkan uang untuk bisa segera membayar hutangnya pada Alvaro. Sebelum hatinya benar-benar luluh akan pesona pria itu.
"Boleh, asal malam ini kau berikan aku hak atas kamu sebagai istriku"
Deg..
Tami tentu tahu apa yang di maksud suaminya. Hak atas dirinya sebagai seorang istri, memang belum Tami berikan. Tapi apa ini sudah saatnya, Tami menjadi seorang istri yang sesungguhnya untuk Alvaro.
Melihat wajah terkejut istrinya membuat Alvaro mengerti, jika sampai saat ini Tami masih belum membuka hati untuknya. Alvaro akan merasa lebih senang jika Tami sendiri yang memberikan dirinya dan hatinya pada Alvaro, tanpa harus dia minta.
Alvaro melepaskan pelukannya dan mengelus puncak kepala Tami. "Tidak papa jika kau belum siap. Aku akan menunggu sampai kamu siap. Sekarang aku mau pergi dulu, ada urusan sebentar di Restaurant"
Setelah kepergian suaminya, Tami duduk di sofa dengan merenungi ucapan suaminya barusan. Memang seharusnya dia telah memberikan hak suaminya sejak awal menikah. Tapi, itu semua jika pernikahan yang terjadi atas cinta. Bukan karena sebuah pinjaman uang seperti pernikahannya dan Alvaro.
Tami berdiri dan berjalan masuk ke dalam ruang ganti. Dia membuka lemari dan mengeluarkan benda kecil di bawah tumpukan baju miliknya. Dia menatap benda itu beberapa saat.
"Mungkin sudah saatnya aku memberikan hak untuk suamiku"
Sepertinya Tami sudah mulai yakin dengan keputusannya kali ini. Dia akan memberikan apa yang memang seharusnya sudah dia berikan pada suaminya.
Kira-kira benda apa ya, yang membuat Tami yakin untuk segera memberikan hak pada suaminya?
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Suyudana Arta
baju dinas
2024-09-01
0
kagome
pil kb ???????
2023-04-02
0
uyhull01
bju special kah ?? atau apa ??
2023-01-19
0