Langsung Menolak Begitu Saja

Tami kembali bekerja setelah semalam darinya hampir tidak bisa tidur karena perbuatan Alvaro. Tapi, meski begitu Tami tetap bangun pagi untuk kuliah dan bekerja di siang harinya.

"Iya, semalam aku lihat sendiri jika karyawan part time itu pergi bersama Tuan Alvaro. Mereka naik motor dan dengan tidak tahu malunya, dia memeluk pinggang Tuan Alvaro saat berada di motor"

"Aku rasa dia memang benar-benar menggoda Tuan Alvaro dengan tubuhnya. Karena jika melihat tampilannya, tidak mungkin jika Tuan Alvaro akan menyukai gadis sepertinya. Kau tahu sendiri, berapa banyak wanita cantik yang berpenampilan elegan datang mengincarnya, tapi Tuan Alvaro tetap tidak meliriknya sedikit pun"

Tami hanya memutar bola mata malas saat mendengar suara bisik-bisik yang tertuju padanya. Dia fikir tidak akan ada yang mengetahui tentang kejadian semalam. Tapi ternyata mata-mata ada dimana-mana.

"Tami.."

Panggilan Prita membuat Tami menoleh dan segera mendekat pada kepala pelayan di restaurant ini. "Iya Kak?"

"Tolong buatkan kopi untuk Tuan Alvaro. Dia ingin kamu yang membuatkannya dan mengantarkan ke ruangannya"

Sebenarnya Tami malas melakukan pekerjaan ini. Karena jika Alvaro terus seperti ini, maka gosip di antara para pekerja do restaurant ini akan semakin menjadi. Tapi, Tami hanya seorang pekerja part time, tidak mungkin baginya untuk menolak. Apalagi Tami masih sangat membutuhkan pekerjaan ini.

"Baik Kak"

Tami berjalan menuju dapur restaurant diiringi dengan tatapan tajam kedua teman kerjanya yang sejak tadi membicarakannya.

"Tuhkan lihat, bagaimana bisa Tuan Alvaro hanya menyuruh Tami setiap dia menginginkan kopi. Kita tidak pernah di suruh seperti itu tuh"

"Iya, semenjak ada gadis itu, Tuan Alvaro menjadi berubah. Dia tidak setegas dulu lagi pada pekerja. Yang telat satu jam saja, masih dia beri maaf. Dulu, kita telat 10 menit saja langsung kena tegur dan marah darinya"

Tami tidak peduli dengan pembicaraan kedua teman kerjanya yang masih terdengar jelas di telinganya. Disini dia hanya ingin bekerja. Tidak ada tujuan apapun lagi.

Selesai membuatkan secangkir kopi, Tami segera mengantarnya ke ruangan Alvaro. Mengetuk pintu ruangan sebelum dia masuk.

"Kopinya Tuan" Tami menaruh secangkir kopi itu di atas meja kerja Alvaro. Setelahnya dia segera berbalik dan ingin pergi dari ruangan atasannya ini. Namun panggilan Alvaro membuat langkah kakinya terhenti sebelum benar-benar sampai di pintu ruangan.

"Tami..."

"Iya Tuan" terpaksa Tami kembali membalikan badannya, menghadap Alvaro yang duduk di kursi kebesaraannya.

"Apa akhir pekan besok ada waktu?"

"Waktu untuk apa Tuan?"

"Aku ingin mengajakmu ke tempat temanku yang baru saja melahirkan. Ingin memberikan hadiah untuk bayi pertama mereka"

Tami menggeleng, dia tidak mau semakin membuat gosip tidak baik di tempat kerjanya. Menurut Tami, menolak adalah pilihan paling tepat untuk saat ini.

"Saya tidak bisa, Tuan. Saya harus menemani Ibu pergi"

Terlihat tatapan kecewa di balik mata coklat milik Alvaro. Dia sangat berharap jika Tami akan mau menemaninya. Tapi, ternyata gadis itu tetap menolak.

"Yasudah, tidak papa. Tapi lain waktu, kau tidak boleh menolak lagi ya"

Tami tersenyum tipis, dia mengerti arah pembicaraan Alvaro. Laki-laki itu menginginkan kedekatan yang lebih dari seorang pegawai dan atasannya.

"Tuan, hanya penasaran saja dengan kehidupan saya. Jadi, tolong hentikan semuanya Tuan, sebelum nanti Tuan benar-benar menyesali semuanya" Tami berbalik dan berjalan keluar ruangan setelah mengatakan itu.

Alvaro terdiam mendengar ucapan Tami barusan. Dia menatap punggung wanita itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Beberapa detik kemudian, ada senyuman terbit di wajahnya. "Aku tahu jika aku penasaran denganmu. Tapi dengan caramu yang seperti ini, sungguh malah membuatku semakin penasaran dan ingin mengetahui semuanya tentangmu"

...💫💫💫💫💫💫💫💫...

Jam kerja telah selesai, Tami memakai jaketnya di ruang karyawan. Lalu mengambil tasnya di dalam loker. Menggendongnya di punggung. Tami sudah siap pulang saat seseorang masuk ke dalam ruangan karyawan itu.

"Tami, tolong aku"

Tami menatap bingung pada senior di tempat kerjanya ini. Dia menatap Tami dengan tatapan memohon. "Tolong apa Kak?"

"Ban motorku kempes, apa kamu bisa mengantarkan aku ke bengkel untuk menyuruh montir membawa motorku disini. Ponselku lowbat, jadi aku tidak bisa menghubungi montir di bengkel langgananku"

Tami menatapnya dengan kasihan, dia memang terlihat cuek dan dingin. Tapi dia bukan orang jahat yang tega tidak menolong seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan. Apalagi ini adalah teman kerjanya sendiri.

"Yaudah Kak, ayo biar aku antar. Kasihan, ini sudah malam juga"

Akhirnya Tami keluar dari ruangan karyawan bersama pria itu. Berjalan beriringan menuju pintu keluar dari restaurant ini. Namun, tepat pada saat itu pintu lift terbuka. Alvaro menatap tidak suka pada dua orang yang baru saja keluar dari restaurant ini.

Dia berjalan keluar dari lift, dan berjalan cepat menuju parkiran resto. Benar saja, disana Tami sedang men-staterr motornya dengan pria tadi yang duduk di jok belakang.

Saat dia hampir sampai disana, tapi Tami sudah lebih dulu melajukan motornya. Sehingga Alvaro hanya bisa menatap motor yang melaju itu dengan tatapan tidak suka. Tanpa sadar tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.

"Ada hubungan apa mereka? Apa mungkin mereka pacaran?"

Mengingat itu semakin membuat dada Alvaro panas, nafasnya naik turun dengan tidak teratur. Alvaro benar-benar tidak bisa mengendalikan amarahnya saat ini. Meski dia tidak benar-benar tahu apa yang membuatnya semarah ini.

Tami melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Seseorang di belakangnya masih anteng saja, tanpa komen atau berbicara apapun. Hal itu membuat Tami yakin jika teman kerjanya ini memang membutuhkan bantuannya. Bukan hanya alasan semata saja.

"Nah itu bengkelnya Mi, berhenti disana saja"

Tami mengangguk, dia memarkirkan motornya di depan sebuah bengkel yang masih buka di jam segini. "Untung masih ada bengkel yang buka ya, Kak"

Ini sudah jam 10 malam, jarang sekali ada bengkel yang buka di jam segini. Biasanya sudah pada tutup di jam 8 malam.

"Iya Mi, ini memang bengkel langganan ku. Kalo kamu dalam keadaan darurat dan ada masalah dengan motormu, kamu bisa datang kesini. Bengkel ini buka sampai jam 12 malam"

Tami mengangguk, memang jarang sekali ada bengkel yang buka sampai semalam itu. Apalagi hanya bengkel kecil seperti ini.

"Yaudah kalau gitu aku pergi dulu ya Kak..." Tami sedikit ragu untuk mengatakan nama pria itu. Karena dia memang tidak pernah berkenalan dengan siapapun di tempat kerjanya, dia hanya mendengar beberapa orang memanggil mereka dan menjadi tahu siapa nama mereka. Ya, sedingin itu Tami. Sehingga dia tidak bisa mendekatkan diri dengan orang-orang baru di lingkungannya.

"Kemal.. Mi, namaku Kemal"

Tami mengangguk dengan sedikit tersentum tipis. "Iya Kak Kemal"

"Kalau begitu aku pergi dulu ya, aku harus segera pulang. Takut Ayah dan Ibu khawatir"

Kemal mengangguk, dia tersenyum tulus pada Tami. Memang dia tidak pernah berniat apapun, Kemal memang sedang membutuhkan bantuan Tami saja. Tidak ada niat apapun pada gadis itu.

"Makasih ya Mi, kalau tidak ada kamu aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa"

Tami mengangguk "Tidak masalah Kak, 'kan sekalian aku pulang juga"

Tami kembali ke motornya dan segera pergi darisana. Dia harus segera sampai di rumah dan segera istirahat.

Bersambung

Mampir di cerita temanku yuk.. Ceritanya bagus..

Terpopuler

Comments

uyhull01

uyhull01

wehh bang Varo cemburu🤭

2023-01-10

0

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan Yang Membuat Berdebar
2 Pelukan Mengejutkan
3 Membuat Tertarik?!
4 Hanya Ingin Melindunginya
5 Buatkan Aku Kopi?!
6 Menolak Untuk Menginap
7 Langsung Menolak Begitu Saja
8 Tawaran Mengejutkan
9 Meminta Restu Ayah Dan Ibu
10 Pernikahan Karena Uang
11 Perjuangan Tami Yang Sia-Sia
12 Ciuman Pertama
13 Ayo Mandi Bersama?!
14 Ketulusan Alvaro
15 Kemarahan Alvaro
16 Meminta Hak
17 Memberikan Hak?!
18 Apakah Cemburu?!
19 Menstruasi?!
20 Benar-benar Mencintainya
21 Masa Lalu Yang Tersembunyi
22 Hanya Istri Pembayaran Hutang?!
23 Marah
24 Coba Untuk Membuka Hatimu
25 Bisakah Membuka Hati?
26 Cemburu Hanya Untuk Orang Yang Mencintai?!
27 Sebuah Foto?!
28 Kesalah Fahaman Yang Belum Terselesaikan
29 Kecelakaan?!
30 Ternyata Bukan Alvaro
31 Benar Mencintaiku?
32 Aku Bahagia Menikah Denganmu!
33 Ternyata Teman
34 Kebaikan Alvaro
35 Mencintaimu Dan Menyerahkan Hatiku
36 Menerima Alvaro Dan Masa Lalunya
37 Belum Ada Kata Cinta Yang Terucap
38 Kebahagiaan Ayah
39 Pil Kontrasepsi?!
40 Aku Mencintaimu
41 Cerita Dibalik Ulang Tahun Alvaro
42 Memberikan Apa Yang Alvaro Inginkan
43 Menjadi Satu-satunya Untukku
44 Alergi?!
45 Selalu Bahagia Bersamamu
46 Keluar Kota?!
47 Hamil?!
48 Menemui Alvaro
49 Berbeda Dari Wanita Lain
50 Hormon Kehamilan
51 Kebahagiaan Ayah Dan Ibu
52 Konsultasi Tentang Kita?!
53 Menghadapi Ibu Hamil
54 Calon Bayi Kembar?!
55 Kekhawatiran Alvaro
56 Siapa Rendi Fahreza?!
57 Cinta Bukan Hanya Tentang Cantik
58 Preeklamsia?!
59 Tidak Bisa Memilih Diantara Kalian
60 Memilih Keputusan
61 Istriku Pasti Kuat
62 Pasti Kuat Melewati Semua ini
63 Alma Dan Alqi?
64 Sebuah Gerakan Tangan
65 Aku Tidak Akan Merebut Suamimu
66 Akhirnya Bangun
67 Terima Kasih Karena Sudah Setia
68 Masih Pencemburu?!
69 Tidak Seburuk Yang Difikirkan
70 Kecemasan Alvaro
71 Apa Sudah Bisa Melakukannya?!
72 Beruntung Memiliki Alvaro
73 Lagi-lagi Tentang Kemal?!
74 Sudah Bisa Melakukannya
75 Tidak Ingin Mempunyai Anak Lagi
76 Trauma Alvaro
77 Kesempatan Hidup Kedua
78 Tami Si Korban Bully?!
79 Dua Anak Lebih Baik?!
80 Pemasangan Kontrasepsi?!
81 Menggodanya
82 My Sweet Girl
83 Terimakasih
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Pertemuan Yang Membuat Berdebar
2
Pelukan Mengejutkan
3
Membuat Tertarik?!
4
Hanya Ingin Melindunginya
5
Buatkan Aku Kopi?!
6
Menolak Untuk Menginap
7
Langsung Menolak Begitu Saja
8
Tawaran Mengejutkan
9
Meminta Restu Ayah Dan Ibu
10
Pernikahan Karena Uang
11
Perjuangan Tami Yang Sia-Sia
12
Ciuman Pertama
13
Ayo Mandi Bersama?!
14
Ketulusan Alvaro
15
Kemarahan Alvaro
16
Meminta Hak
17
Memberikan Hak?!
18
Apakah Cemburu?!
19
Menstruasi?!
20
Benar-benar Mencintainya
21
Masa Lalu Yang Tersembunyi
22
Hanya Istri Pembayaran Hutang?!
23
Marah
24
Coba Untuk Membuka Hatimu
25
Bisakah Membuka Hati?
26
Cemburu Hanya Untuk Orang Yang Mencintai?!
27
Sebuah Foto?!
28
Kesalah Fahaman Yang Belum Terselesaikan
29
Kecelakaan?!
30
Ternyata Bukan Alvaro
31
Benar Mencintaiku?
32
Aku Bahagia Menikah Denganmu!
33
Ternyata Teman
34
Kebaikan Alvaro
35
Mencintaimu Dan Menyerahkan Hatiku
36
Menerima Alvaro Dan Masa Lalunya
37
Belum Ada Kata Cinta Yang Terucap
38
Kebahagiaan Ayah
39
Pil Kontrasepsi?!
40
Aku Mencintaimu
41
Cerita Dibalik Ulang Tahun Alvaro
42
Memberikan Apa Yang Alvaro Inginkan
43
Menjadi Satu-satunya Untukku
44
Alergi?!
45
Selalu Bahagia Bersamamu
46
Keluar Kota?!
47
Hamil?!
48
Menemui Alvaro
49
Berbeda Dari Wanita Lain
50
Hormon Kehamilan
51
Kebahagiaan Ayah Dan Ibu
52
Konsultasi Tentang Kita?!
53
Menghadapi Ibu Hamil
54
Calon Bayi Kembar?!
55
Kekhawatiran Alvaro
56
Siapa Rendi Fahreza?!
57
Cinta Bukan Hanya Tentang Cantik
58
Preeklamsia?!
59
Tidak Bisa Memilih Diantara Kalian
60
Memilih Keputusan
61
Istriku Pasti Kuat
62
Pasti Kuat Melewati Semua ini
63
Alma Dan Alqi?
64
Sebuah Gerakan Tangan
65
Aku Tidak Akan Merebut Suamimu
66
Akhirnya Bangun
67
Terima Kasih Karena Sudah Setia
68
Masih Pencemburu?!
69
Tidak Seburuk Yang Difikirkan
70
Kecemasan Alvaro
71
Apa Sudah Bisa Melakukannya?!
72
Beruntung Memiliki Alvaro
73
Lagi-lagi Tentang Kemal?!
74
Sudah Bisa Melakukannya
75
Tidak Ingin Mempunyai Anak Lagi
76
Trauma Alvaro
77
Kesempatan Hidup Kedua
78
Tami Si Korban Bully?!
79
Dua Anak Lebih Baik?!
80
Pemasangan Kontrasepsi?!
81
Menggodanya
82
My Sweet Girl
83
Terimakasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!