"Kenapa aku harus ikut? Kamu saja yang datang ke acara itu" Tami tidak terbiasa untuk datang ke acara seperti itu. Apalagi Tami tidak tahu harus bersikap seperti apa saat berada di tempat acara orang-orang besar dan terpandang seperti itu.
Alvaro mengeratkan pelukannya pada istrinya. Memberi kehangatan dalam tubuh polos mereka saat ini. Di bawah selimut tebal. "Aku sudah punya istri, kenapa aku masih harus datang sendiri"
Tami mendongak, menatap suaminya yang juga sedang menundukkan pandangannya. Saling menatap dengan pancaran bahagia. Nyatanya Tami tidak bisa membohongi dirinya sendiri, jika dia bahagia bersama Alvaro. Meski dia tidak tahu bagaimana kedepannya. Tapi, saat ini dia merasa bahagia bersama suaminya ini.
"Tapi aku tidak mau ahh, nanti disana pasti banyak orang-orang yang gak sebanding dengan aku. Lagian, kita 'kan udah buat kesepakatan jika pernikahan ini tidak akan di sebar luaskan"
Cup..
Alvaro mengecup bibir Tami sekilas, dia gemas sekali melihat bibir istrinya yang terus berbicara seperti itu. "Aku hanya tidak akan memberi tahu karyawan Slick Grind agar kau nyaman saat masih ingin bekerja disana, selebihnya kenapa aku harus menyembunyikan semuanya?"
Tami terdiam, dia menatap manik coklat milik suaminya. Dia merasa jika ucapan Alvaro adalah kejujuran. Apa mungkin ada seorang pria yang menikahinya karena sebuah pinjaman uang, tapi dia berperilaku seperti Alvaro padanya. Ini tidak seperti dalam bayangan Tami. Dimana si tokoh wanita yang terikat hutang akan di perlakukan dengan kasar dan tidak baik oleh si tokoh pria yang menjadi suaminya. Nyatanya, Tami malah di perlakuan begitu lembut oleh suaminya.
"Tapi aku malu"
Alvaro tersenyum, dia kecup kembali bibir istrinya itu. "Kenapa harus malu? Kamu istriku, jadi tidak perlu malu karena kamu datang bersamaku, suamimu!"
Tami mengelus dada polos suaminya dengan jemarinya. Membentuk pola tidak jelas disana. "Tapi, aku takut membuatmu malu disana"
"Sayang.." Alvaro meraih tangan Tami yang berada di dadanya. Mengecupnya dengan lembut. "...Kamu hanya perlu jadi pendampingku disana, kenapa bisa membuatku malu. Memangnya kau mau melakukan apa disana? Joget-joget gitu?"
"Ishh..." Tami memukul dada suaminya yang tertawa dengan ucapannya sendiri. "...Bukan gitu ihh"
"Ya terus apa dong? Udah ahh.. Kamu jangan memikirkan yang aneh-aneh. Lagian kita kesana cuma jadi tamu undangan saja, tidak akan lama berada disana"
Akhirnya Tami tidak bisa menolak lagi, dia tetap harus menemani suaminya untuk datang ke acara pesta itu.
Setelah membicarakan tentang undangan pesta, kini keduanya terlelap dengan saling berpelukan. Tubuh polos mereka tertutup oleh selimut yang tebal.
Pagi ini keduanya terbangun saat cahaya matahari pagi sudah mulai menunjukan sinarnya dengan malu-malu. Tami menggeliat pelan dalam pelukan suaminya, hal itu membuat ikut Alvaro terbangun dari tidurnya.
"Sayang, aku..." Tami bangun seketika saat merasakan sesuatu yang mengalir di pangkal pahanya. Dia membuka selimut dan melihat bercak merah di seprei putih itu.
Alvaro ikut bangun karena terkejut dengan istrinya yang terburu-buru bangun seperti itu. Saat melihat suaminya yang ikut bangun, Tami segera menutup kembali tubuhnya dengan selimut. Menutupi bercak merah itu. Wajahnya sudah memanas, mungkin sudah sangat merah karena malu.
"Kenapa Sayang? Apa ada yang sakit?"
Tami menggeleng pelan, dia bingung harus bagaimana memberi tahu suaminya tentang keadaannya sekarang. "Tidak papa Sayang, kamu mandi duluan sana, nanti aku nyusul"
"Beneran gak papa? Sayang, jangan buat aku cemas deh" Alvaro memeriksa tubuh istrinya, namun Tami malah semakin erat menutupi tubuhnya agar Alvaro tidak bisa membukanya dan melihat darah menstruasinya yang memalukan itu.
"Gak papa, udah kamu mandi saja duluan. Aku masih mau tiduran, tadi aku terkejut karena aku kira kesiangan untuk kuliah"
Alvaro mengangguk mengerti, dia meraih kepala Tami dan mencium keningnya dan kedua pipinya sebelum turun dari atas tempat tidur. Setelah suaminya berlalu ke ruang ganti, Tami segera turun dengan menggulung tubuhnya menggunakan selimut.
Mencopot seprei dan menggulungnya, membawanya ke ruang ganti dan memasukkannya ke dalam keranjang cucian. Setelah itu Tami segera mengambil pembalut dan memakainya. Tami mengambil seprei yang baru di dalam lemari, berajalan keluar ruang ganti dengan sedikit kesusahan karena tubuhnya yang tergulung selimut.
Dengan cepat Tami memasangkan seprei baru di atas tempat tidur. Dia akan sangat malu jika ketahuan suaminya sedang menstruasi dan telah mengotori tempat tidurnya.
"Sayang.."
"Hah?!" Tami berbalik dengat terkejut saat mendengar suara suaminya itu. Dia menatap Alvaro yang menggunakan handuk di pinggangnya. Tetesan air dari rambutnya menambah kesan tampan di wajahnya itu.
Alvaro berjalan mendekati istrinya, menatap ke arah tempat tidur yang sepreinya di ganti dengan warna yang lain. "Kamu sedang apa? Mengganti seprei ya? Pantas saja tidak menyiapkan baju ganti untukku"
Mendengar itu Tami baru sadar jika dirinya belum menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Terlalu fokus dengan bekas menstruasinya, sampai Tami melupakan hal itu.
"Duh, Sayang maaf ya. Aku lupa, sebentar biar aku siapkan sekarang" Tami segera berlalu ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya.
Alvaro merasa heran dan bingung dengan sikap istrinya pagi ini. Dia menyusul Tami ke ruang ganti, dia melihat istrinya sudah mengambil pakaian untuk dirinya.
"Sayang, ini pakaiannya"
Alvaro tersenyum, dia mengambil baju di tangan Tami dan segera memakainya. Membuka handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya dengan santai. Dia tidak terlihat merasa malu saat memakai baju di depan istrinya. Melihat tubuh polos suaminya membuat Tami segera menundukan pandangannya.
"Aku mau mandi dulu ya, takut kesiangan kuliah"
Ketika istrinya telah masuk ke dalam kamar mandi. Alvaro tidak sengaja melihat seprei di dalam keranjang cucian. Bercak merah itu jelas terlihat oleh Alvaro. Dia sedikit terkejut melihatnya, memikirkan jika istrinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Mengingat perilakunya yang sedikit aneh tadi.
Alvaro langsung menggedor pintu kamar mandi sambil berteriak memanggil istrinya. "Sayang, kamu kenapa? Sayang, buka dulu pintunya"
Tami yang baru saja menyabuni seluruh tubuhnya terlonjak kaget saat mendengar gedoran pintu kamar mandi. "Sayang, aku tidak papa. Aku baik-baik saja"
Alvaro kembali melirik keranjang cucian, dimana seprei putih dengan bercak merah itu berada di dalamnya. "Buka pintunya, kenapa di seprei itu ada darah? Darah siapa itu?"
Tami memejamkan matanya malu mendengar teriakan suaminya. Tentu saat ini dia sudah tidak bisa mengelak lagi. "Aku sedang datang bulan, Sayang. Itu darah menstruasi ku"
Alvaro sedikit bernafas lega mendengar itu. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu kamar mandi. Menunggu istrinya selesai mandi dan segera keluar dari dalam kamar mandi. Alvaro tahu jika seorang wanita yang sedang datang bulan akan merasa sakit di bagian perutnya. Hal itu membuat dia khawatir dengan keadaan istrinya.
Ketika suara pintu kamar mandi terbuka, Alvaro segera menghampiri istrinya yang keluar dari sana dengan menggunakan baju handuk.
"Sayang, apa kamu tidak papa? Mana yang sakit?"
Melihat tatapan penuh kekhawatiran dari suaminya, jujur membuat hati Tami semakin tersentuh. "Tidak papa Sayang, paling perutku sedikit nyeri saja. Tapi kalau sudah minum obat, pasti akan lebih baik kok"
"Yaudah gak usah kuliah saja dulu, istirahat saja dulu"
Tami mengelus pipi suaminya, terkekeh saat tetesan air di tangannya menempel di pipi suaminya. "Tidak papa, kalau setiap datang bulan aku cuti kuliah. Berapa banyak izin aku setiap semesternya. Nanti di jalan mampir dulu ke apotek saja"
Alvaro mengelus rambut istrinya itu, dia masih menatap khawatir padanya. "Yaudah, tapi nanti gak usah kerja saja"
"Tidak ada bantahan Sayang!" Tegas Alvaro saat melihat istrinya siap membantah ucapannya.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
uyhull01
smgat kak💪
2023-01-21
0