Pelukan Mengejutkan

Slick Grind Resto, buka setiap hari mulai dari pukul 8 pagi hingga pukul 10 malam. Alvaro selesai dengan beberapa laporan dari restaurant cabang. Slick Grind Resto, memiliki tiga lantai, lantai pertama untuk tempat terbuka dan bebas untuk mengobrol apapun. Lantai kedua di khususkan untuk pelanggan VVIP yang biasanya sering di gunakan untuk tempat meeting dan membahas hal-hal yang termasuk privasi. Dan lantai paling atas, adalah ruangan khusus untuk Alvaro saat dia harus datang ke restaurant untuk memeriksa beberapa laporan dari Slick Grind Resto, dan beberapa cabangnya.

Alvaro meregangkan tangannya yang terasa pegal, lalu dia berdiri dan menyambar kunci mpbil di atas meja kerjanya. Keluar dari ruangannya dan berjalan menuju lift. Alvaro sampai di lantai bawah Restaurant ini. Alvaro melangkah keluar Restaurant saat suasana benar-benar sudah sepi. Memang beginilah Alvaro jika dirinya sudah berkutat dengan pekerjaan, pasti selalu sampai lupa waktu. Bahkan dia sering pulang lebih terlambat dari pada para pekerjanya yang lain. Selalu saja pulang di saat restaurant sudah tutup.

"Tolong.. Tolong buka Kak.. Siapapun tolong bukakan pintunya"

Suara gedoran pintu dan teriakan itu berhasil membuat langkah Alvaro terhenti. Dia menoleh ke belakang, suasana restaurant yang sudah sepi. Bahkan lampunya pun sudah di matikan dan berganti dengan lampu teduh saja.

"Tolong..."

Lagi-lagi suara gedoran pintu, membuat Alvaro sedikit terlonjak karena terkejut. Tapi dia langsung tersadar ketika suara pintu yang di gedor itu berasal dari pintu ruangan karyawan. Alvaro melangkah cepat ke arah pintu itu dan membuka kuncinya, bodohnya yang mengunci pintu karena kuncinya yang menggantung di pintu.

Tami yang sudah sangat panik, dia hanya menangis dan terus berusaha menggedor pintu. Berharap ada yang membukakan pintunya. Dan akhirnya setelah satu jam menangis di dalam sana, ada juga yang mendengarnya. Padahal Tami sudah sangat putus asa saat menyadari jika hari sudah hampir larut. Namun, sepertinya Tuhan mendengar do'anya.

"Ya ampun, siapa yang menguci kamu disini?" Alvaro begitu terkejut saat melihat wajah Tami yang di penuhi oleh air mata.

Tami segera berdiri dengan air mata yang masih membasahi wajahnya. Tubuhnya mematung seketika saat dengan tiba-tiba Alvaro memeluknya dengan erat. Air mata yang mengalir itu, terhenti seketika, berubah dengan mata yang terbelalak karena terkejut.

"Tu-tuan..." lirih Tami setelah dia sadar dari keterkejutannya.

Alvaro juga seolah baru tersadar dengan apa yang dia lakukan pada gadis di depannya ini. Dia melerai pelukannya dan menatap Tami. "Maaf, aku hanya terkejut saja ketika melihatmu disini. Siapa yang telah menguncimu disini?"

Tami menggeleng, dia memang belum tahu siapa nama dua wanita yang tadi menguncinya. "Aku tidak tahu"

Alvaro menghela nafas, dia tidak bisa menanyakan pada Tami secara langsung. Jadi dia yang harus mencari tahu sendiri siapa yang telah melakukan hal ini pada Tami.

"Yasudah, sekarang ayo kita keluar"

Tami menoleh dan menatap tangan yang melingkari di bahunya. Alvaro merangkul bahu Tami dan memapahnya keluar dari restaurant ini. Tami sedikit mendongakkan wajahnya, dia menatap Alvaro yang memiliki garis wajah Alvaro yang hampir mendekati sempurna.

"Kau aku antar saja"

Tami menggeleng, dia melepaskan rangkulan tangan Alvaro di bahunya. Jujur saja dia merasa tidak nyaman saat Alvaro yang merangkulnya seperti ini.

"Saya bawa motor Tuan, jadi saya pulang sendiri saja"

Alvaro sebenarnya ingin memaksa Tami untuk ikut bersamanya. Tapi, dia tidak mau terlihat menjadi pria yang berniat tidak baik pada seorang gadis. Jadi Alvaro membiarkan saja Tami pergi dengan mengendarai motornya. Namun, masih terlalu merasa khawatir dengan keadaan gadis itu membuat Alvaro mengikutinya dengan jarak aman.

Motor Tami masuk ke dalam gang kecil, membuat Alvaro tidak bisa mengikutinya karena gang sempit itu hanya masuk untuk dua motor saja dan pelajan kaki. Mobilnya tidak bisa masuk ke dalam gang itu jika dia memaksa untuk mengikuti Tami. Jadi Alvaro memilih untuk pergi setelah memastikan Tami baik-baik saja, mungkin dia akan segera sampai di rumahnya yang mungkin memang rumahnya berada di dalam gang itu.

...💫💫💫💫💫💫💫💫...

Tami membuka pintu rumahnya dengan wajah lelah. Selain karena pekerjaan, di kurung satu jam juga membuat dirinya semakin lelah. Dia tersenyum saat Ibu sudah menyambutnya. Tami berjalan mendekati Ibu dan memeluknya.

Ibu mengelus punggung anaknya, hatinya berdenyut sakit saat melihat anak pertamanya yang harus bekerja keras untuk membantu perekonomian keluarganya.

"Bu, adek mana?"

"Di kamar bersama Ayah, untung saja dia tidak harus di rawat lagi Nak"

Tami mengengguk, tadi siang dia menggantikan Ayah untuk menunggu gerobak jualannya, sementara Ibu dan Ayah mengantar Adiknya ke rumah sakit. Adiknya baru berusia 7 tahun, dia mengalami kelainan jantung sejak lahir. Membuatnya harus terus menjalani pengobatan dan bergantung pada obat. Pengobatan dia tidak sedikit, membuat Ayah dan Ibu kewalahan untuk membiayainya. Belum lagi Tami yang kuliah, biayanya menajdi double.

Hal itu yang membuat Tami berusaha sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan pekerjaan paruh waktu. Dia tidak ingin berhenti kuliah, karena dia hanya ingin merubah nasib keluarganya. Berharap jika dia lulus kuliah, setidaknya dia akan mendapatkan gaji yang cukup untuk membiayai keluarganya.

"Yaudah, Tami mau mandi dulu ya Bu. Gerah"

"Mau Ibu siapkan air hangat Nak?"

Tami menggeleng, dia berjalan menuju kamarnya. "Tidak usah Bu, aku gerah. Mau mandi dengan air biasa saja"

"Yaudah, kalau gitu Ibu siapkan makan malam untuk kamu ya"

Tami yang sudah berada di ambang pintu dapur, kembali menoleh pada Ibunya. "Aku mau nasi goreng buatan Ibu"

"Iya Nak"

Tami berlalu ke kamar mandi, dan Ibu bersiap di dapur untuk memasak makanan kesukaan anaknya.

Dan setelah makan malam Tami kembali ke kamarnya. Duduk diam di atas tempat tidur lusuh miliknya. Tami menatap ke arah jendela kamar yang sengaja dia bukan tirainya. Malam ini cukup cerah dengan bertaburan bintang. Tami terdiam, rasanya dia sangat lelah dengan semua ini. Bukan dia mengeluh, tapi dia hanya sedang lelah saja. Tami hanya ingin adiknya sembuh dan keluarganya bahagia.

"Semoga aku bisa membahagiakan keluarga ku. Ayah, Ibu dan adikku"

Tami menutup tirai jendela dan mulai merebahkan tubuhnya. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Malam ini, Tami terlelap dengan tenang. Hingga besok hari, berbagai aktivitas harus dia jalani.

Pagi ini, Tami telah sampai di kampusnya. Sahabatnya yang sedang cuti melahirkan membuat Tami hanya seorang diri. Tidak ada lagi teman yang bisa menemaninya. Karena hanya Ayra yang menjadi teman satu-satunya untuk Tami. Entah kenapa memang Tami tidak memiliki teman lain selain dirinya. Selain karena status sosial, tapi juga karena Tami yang memang terlalu tertutup. Mungkin hanya pada Ayra dia berani berkeluh kesah.

Apa Ayra sudah kembali ke rumah ya? Aku belum menjenguknya.

Tami berjalan masuk ke dalam kelasnya langsung duduk di tempat duduknya tanpa melakukan papun sebelum Dosen masuk ke dalam kelas.

Bersambung

Terpopuler

Comments

uyhull01

uyhull01

wah Varo , main pluk pluk aja ya🤭

2023-01-04

0

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan Yang Membuat Berdebar
2 Pelukan Mengejutkan
3 Membuat Tertarik?!
4 Hanya Ingin Melindunginya
5 Buatkan Aku Kopi?!
6 Menolak Untuk Menginap
7 Langsung Menolak Begitu Saja
8 Tawaran Mengejutkan
9 Meminta Restu Ayah Dan Ibu
10 Pernikahan Karena Uang
11 Perjuangan Tami Yang Sia-Sia
12 Ciuman Pertama
13 Ayo Mandi Bersama?!
14 Ketulusan Alvaro
15 Kemarahan Alvaro
16 Meminta Hak
17 Memberikan Hak?!
18 Apakah Cemburu?!
19 Menstruasi?!
20 Benar-benar Mencintainya
21 Masa Lalu Yang Tersembunyi
22 Hanya Istri Pembayaran Hutang?!
23 Marah
24 Coba Untuk Membuka Hatimu
25 Bisakah Membuka Hati?
26 Cemburu Hanya Untuk Orang Yang Mencintai?!
27 Sebuah Foto?!
28 Kesalah Fahaman Yang Belum Terselesaikan
29 Kecelakaan?!
30 Ternyata Bukan Alvaro
31 Benar Mencintaiku?
32 Aku Bahagia Menikah Denganmu!
33 Ternyata Teman
34 Kebaikan Alvaro
35 Mencintaimu Dan Menyerahkan Hatiku
36 Menerima Alvaro Dan Masa Lalunya
37 Belum Ada Kata Cinta Yang Terucap
38 Kebahagiaan Ayah
39 Pil Kontrasepsi?!
40 Aku Mencintaimu
41 Cerita Dibalik Ulang Tahun Alvaro
42 Memberikan Apa Yang Alvaro Inginkan
43 Menjadi Satu-satunya Untukku
44 Alergi?!
45 Selalu Bahagia Bersamamu
46 Keluar Kota?!
47 Hamil?!
48 Menemui Alvaro
49 Berbeda Dari Wanita Lain
50 Hormon Kehamilan
51 Kebahagiaan Ayah Dan Ibu
52 Konsultasi Tentang Kita?!
53 Menghadapi Ibu Hamil
54 Calon Bayi Kembar?!
55 Kekhawatiran Alvaro
56 Siapa Rendi Fahreza?!
57 Cinta Bukan Hanya Tentang Cantik
58 Preeklamsia?!
59 Tidak Bisa Memilih Diantara Kalian
60 Memilih Keputusan
61 Istriku Pasti Kuat
62 Pasti Kuat Melewati Semua ini
63 Alma Dan Alqi?
64 Sebuah Gerakan Tangan
65 Aku Tidak Akan Merebut Suamimu
66 Akhirnya Bangun
67 Terima Kasih Karena Sudah Setia
68 Masih Pencemburu?!
69 Tidak Seburuk Yang Difikirkan
70 Kecemasan Alvaro
71 Apa Sudah Bisa Melakukannya?!
72 Beruntung Memiliki Alvaro
73 Lagi-lagi Tentang Kemal?!
74 Sudah Bisa Melakukannya
75 Tidak Ingin Mempunyai Anak Lagi
76 Trauma Alvaro
77 Kesempatan Hidup Kedua
78 Tami Si Korban Bully?!
79 Dua Anak Lebih Baik?!
80 Pemasangan Kontrasepsi?!
81 Menggodanya
82 My Sweet Girl
83 Terimakasih
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Pertemuan Yang Membuat Berdebar
2
Pelukan Mengejutkan
3
Membuat Tertarik?!
4
Hanya Ingin Melindunginya
5
Buatkan Aku Kopi?!
6
Menolak Untuk Menginap
7
Langsung Menolak Begitu Saja
8
Tawaran Mengejutkan
9
Meminta Restu Ayah Dan Ibu
10
Pernikahan Karena Uang
11
Perjuangan Tami Yang Sia-Sia
12
Ciuman Pertama
13
Ayo Mandi Bersama?!
14
Ketulusan Alvaro
15
Kemarahan Alvaro
16
Meminta Hak
17
Memberikan Hak?!
18
Apakah Cemburu?!
19
Menstruasi?!
20
Benar-benar Mencintainya
21
Masa Lalu Yang Tersembunyi
22
Hanya Istri Pembayaran Hutang?!
23
Marah
24
Coba Untuk Membuka Hatimu
25
Bisakah Membuka Hati?
26
Cemburu Hanya Untuk Orang Yang Mencintai?!
27
Sebuah Foto?!
28
Kesalah Fahaman Yang Belum Terselesaikan
29
Kecelakaan?!
30
Ternyata Bukan Alvaro
31
Benar Mencintaiku?
32
Aku Bahagia Menikah Denganmu!
33
Ternyata Teman
34
Kebaikan Alvaro
35
Mencintaimu Dan Menyerahkan Hatiku
36
Menerima Alvaro Dan Masa Lalunya
37
Belum Ada Kata Cinta Yang Terucap
38
Kebahagiaan Ayah
39
Pil Kontrasepsi?!
40
Aku Mencintaimu
41
Cerita Dibalik Ulang Tahun Alvaro
42
Memberikan Apa Yang Alvaro Inginkan
43
Menjadi Satu-satunya Untukku
44
Alergi?!
45
Selalu Bahagia Bersamamu
46
Keluar Kota?!
47
Hamil?!
48
Menemui Alvaro
49
Berbeda Dari Wanita Lain
50
Hormon Kehamilan
51
Kebahagiaan Ayah Dan Ibu
52
Konsultasi Tentang Kita?!
53
Menghadapi Ibu Hamil
54
Calon Bayi Kembar?!
55
Kekhawatiran Alvaro
56
Siapa Rendi Fahreza?!
57
Cinta Bukan Hanya Tentang Cantik
58
Preeklamsia?!
59
Tidak Bisa Memilih Diantara Kalian
60
Memilih Keputusan
61
Istriku Pasti Kuat
62
Pasti Kuat Melewati Semua ini
63
Alma Dan Alqi?
64
Sebuah Gerakan Tangan
65
Aku Tidak Akan Merebut Suamimu
66
Akhirnya Bangun
67
Terima Kasih Karena Sudah Setia
68
Masih Pencemburu?!
69
Tidak Seburuk Yang Difikirkan
70
Kecemasan Alvaro
71
Apa Sudah Bisa Melakukannya?!
72
Beruntung Memiliki Alvaro
73
Lagi-lagi Tentang Kemal?!
74
Sudah Bisa Melakukannya
75
Tidak Ingin Mempunyai Anak Lagi
76
Trauma Alvaro
77
Kesempatan Hidup Kedua
78
Tami Si Korban Bully?!
79
Dua Anak Lebih Baik?!
80
Pemasangan Kontrasepsi?!
81
Menggodanya
82
My Sweet Girl
83
Terimakasih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!