Hari pertama masuk bekerja lagi, Tami merasa ada banyak hal yang dis rindukan saat berada di tempat kerjanya ini. Rutinitas setiap dia bekerja disini, membuatnya rindu kesibukannya saat banyak pengunjung yang datang.
Tami tidak jika setiap gerak-geriknya di awasi seseorang lewat cctv restaurant. Suaminya seolah tidak mau jauh darinya hingga dia terus mengawasi gerak gerik istrinya. Satu hal yang Alvaro takutkan saat ini, Tami bisa saja menjadi korban penindasan lagi di tempat kerjanya seperti waktu itu.
Namun sejauh ini, dia melihat jika istrinya masih aman-aman saja saat bekerja. Bahkan dia bekerja dengan giat. Alvaro meraih telepon di atas mejanya, lalu menekan beberapa nomor untuk menghubungkan ke telepon di lantai bawah.
Dering kedua sambungan telepon langsung terangkat. "Hallo Tuan"
"Hallo, Prita tolong buatkan kopi dan antarkan makan siang ke ruanganku. Kau suruh Tami saja"
"Baik Tuan"
Akvaro kembali menyimpan telepon. Dia tersenyum setelah selesai memberikan tugas pada bawahannya. Setidaknya dengan seperti ini, dia bisa bertemu dengan istrinya di restaurant. Meski hanya sebentar.
Beberapa saat kemudian, suara pintu ruangan yang di ketuk terdengar. Alvaro langsung menyuruh orang yang mengetuk pintu itu masuk, dia yakin jika itu adalah istrinya. Namun saat seseorang masuk ke dalam ruangannya, itu bukan istrinya. Tapi wanita yang tadi pagi datang kesini.
"Kau"
"Hai Al, maaf ya ganggu. Tadi aku lupa meninggalkan lipstik ku disini"
"Lipstik?" Alvaro melirik lipstik yang berada di ujung meja, dia tidak tahu jika ada lipstik yang tertinggal disana.
"Nah ini lipstik punyaku, maaf ya Al, tadi aku tidak sengaja meletakannya disini"
"Yasudah, sebaiknya kau segera pergi dari sini"
Suara pintu yang di ketuk lalu terbuka membuat Alvaro terkejut. Dia Tami, istrinya berdiri di ambang pintu dengan nampan di tangannya. Wanita yang menjadi tamu tidak di undang itu, menoleh ke arah Tami.
"Maaf Tuan, saya mau mengantarkan kopi dan makan siang untuk Tuan" Tami menunduk, lalu dia berjalan ke arah sofa. Menata makanan yang di bawanya ke atas meja di depan sofa.
Tami kembali berdiri, dia mendekap nampan kosong di dadanya. Menatap suaminya dan seorang wanita disana. Entahlah.. Apa yang sedang Tami rasakan saat ini, tapi dia tidak suka melihat ada wanita bersama suaminya. Apalagi di ruangan ini hanya ada mereka berdua tadi.
Alvaro gelagapan melihat tatapan istrinya. Dia ingin menghampiri Tami, namun tiba-tiba tangannya ada yang menahan.
"Al, apa kau ingin mengajakku makan siang bersama? Kok bisa pas sekali ya, aku juga belum makan siang. Hey kau pelayan..."
Tami berjalan mendekat saat tangan wanita itu melambai padanya, memintanya untuk mendekat padanya.
"Aku pesan makan deh, bisa di antarkan kesini 'kan? Aku mau makan berdua dengan Alvaro"
"Weny! Bisa diam tidak, kau tidak bisa seenaknya menyuruh pekerjaku. Lagian aku tidak mau makan denganmu, aku hanya ingin makan seorang diri. Aku sedang ingin sendiri. Jadi, lebih baik kau pergi saja dari sini!"
Wanita bernama Weny itu langsung terdiam mendengar suara penuh penekanan dari Alvaro. Dia kesal karena pria itu telah menolaknya secara terang-terangan di depan pekerjanya. Membuat dia pergi dari ruangan itu dengan sedikit menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.
Suara pintu yang di tutup dengan kasar menandakan jika Weny memang sudah benar-benar keluar dari ruangannya ini. Alvaro segera mendekati Tami yang masih berdiri di tempatnya, memeluknya dan mencium puncak kepalanya dengan lembut.
"Dia hanya teman kuliahku dulu, kamu jangan salah faham ya"
Tami tidak menjawab, tapi dia cemberut dengan menatap Alvaro. Entahlah, tapi saat ini dia benar-benar kesal melihat suaminya sedang berduaan dengan wanita cantik seperti Weny. Mungkinkah dia cemburu?
"Aku gak peduli kok siapa dia, lagian dia jelas lebih cantik daripada aku. Jadi, kalaupun kamu berpaling padanya itu wajar" Tapi, aku tidak rela kalau sampai kamu berpaling padanya.
Melihat wajah cemberut istrinya, Alvaro malah tertawa senang. Dia melihat kecemburuan yang besar dari tatapan istrinya itu. Hal itu membuat Alvaro merasa senang, karena mungkin Tami sudah mulai membuka hati untuknya.
"Udah ahh, aku mau kembali bekerja lagi"
Tami semakin kesal saat Alvaro malah menertawakannya seperti itu. Saat dirinya berbalik dan siap melangkah menuju pintu keluar, namun Alvaro langsung memeluknya dari belakang. Tangannya melingkar sempurna di perutnya, dan dagunya berada di puncak kepala Tami. Menciumnya beberapa kali.
"Dengarkan aku, kamu sudah menjadi istriku dan itu artinya aku telah memilih kamu untuk menjadi istriku. Jadi, kamu tidak perlu berpikir yang tidak-tidak saat ada seorang wanita yang mendekatiku. Tapi, aku tetap senang saat kau menunjukan kecemburuanmu itu"
Mendengar itu, Tami langsung melepaskan lingkaran tangan suaminya di perutnya. Dia berbalik dan menatap Alvaro mata menyipit. "Siapa yang cemburu? Aku tidak cemburu, aku biasa saja kalau kamu ketemu dengan banyak wanita cantik"
Mendengar itu, Alvaro langsung mendekatkan wajahnya dengan Tami. Menatap istrinya dengan tajam, dia tidak suka saat istrinya malah membiarkan dirinya bersama wanita lain. Apa Tami benar-benar tidak mempunyai sedikit saja perasaan cinta padanya?
"Baiklah, jika itu kemauanmu, maka aku akan melakukan sesuai yang kau inginkan. Lagian istriku tidak akan pernah merasa cemburu padaku, jadi aku bebas bertemu dengan wanita mana pun"
Eh.. Kok..
Mendengar ucapan suaminya, hati Tami berubah menjadi was-was. Bodohnya dia malah menyuruh suaminya bertemu dengan banyak wanita. Apa Tami yakin akan benar-benar rela melihat suaminya bersama wanita lain. Rasanya tidak! Mau dia sudah cinta atau tidak pada Alvaro, tapi hatinya tetap tidak akan rela melihat suaminya bersama wanita lain.
Karena itu, Tami langsung memeluk suaminya dengan erat. Menyandarkan kepalanya di dada bidang itu. Nyatanya hati Tami tidak akan pernah rela membiarkan Alvaro bersama wanita lain.
"Janganlah seperti itu, selama aku masih menjadi istrimu jangan kamu dekat dengan wanita mana pun. Aku tidak rela"
Alvaro tersenyum mendengarnya, dia balas pelukan istrinya dan mencium puncak kepalanya dengan sedikit lama. Menghirup aroma shampo di rambut istrinya.
"Makanya jangan membuatku marah, karena kalau kau benar-benar membiarkan aku bersama wanita lain. Maka akan aku lakukan"
Tami menggeleng pelan, hatinya benar-benar tidak rela jika suaminya bersama wanita lain. "Tidak! Aku tidak akan mengizinkanmu bersama wanita lain"
"Asal kau memberikan hak ku setiap malam, aku akan menurutinya"
Tami langsung melepaskan pelukannya, wajahnya berubah gugup mendengar itu. Ternyata suaminya sangat pandai memanfaatkan keadaan pada urusan ranjang.
Alvaro tertawa melihat wajah tegang istrinya itu. Dia kembali menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Kenapan tubuhmu tegang sekali? Padahal apa yang aku katakan adalah kewajiban untukmu sebagai seorang istri"
Iya aku tahu, tapi 'kan kalau setiap malam apa dia tidak akan lelah. Sementara aku saja sangat kelelahan saat baru menjalaninya satu malam tadi saja.
"Sudahlah Sayang, tidak perlu memikirkannya. Sekarang kita makan siang bersama. Soal itu nanti kita bicarakan lagi"
Alvaro membawa Tami menuju sofa dan mendudukannya di atas sofa. Duduk berdampingan dengannya. Tami hanya menerima suapan makanan dari suaminya, pikirannya sedang melayang memikirkan ucapan suaminya barusan.
Setiap malam? Apa aku kuat ya?
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Magdalena Agustina
next
2023-01-20
0
@C͜͡R7🍾⃝ᴀͩnᷞnͧiᷠsͣa✰͜͡w⃠࿈⃟ࣧ
Alvaro bisa aja alesan nya
2023-01-20
0
Syirfa Ratih
jamu mi....jamu...minum jamu aja biar fit terus buat ngadepin pak su...🤣🤣
2023-01-20
0