Tami kembali bekerja di hari ke empat, namun saat dia masuk ke dalam restaurant terdengar bisik-bisik yang mengarah pada dirinya. Tami bingung, karena dia tidak merasa telah melakukan kejahatan apapun sampai semua pekerja resto menatapnya dengan sinis seperti itu.
"Lihat dia, baru bekerja kurang dari seminggu saja sudah sok. Menggunakan guna-guna, aku juga bisa untuk mendapatkan perhatian Bos. Dasar wanita mura*han, penampilannya saja yang sok polos dan culun"
Tami mengerutkan keningnya dengan menatap pada dua orang yang dengan sengaja membicarakan dirinya dengan suara yang keras. Mungkin agar Tami mendengarnya. Tapi, Tami sungguh tidak mengerti. Jadi dia memilih mengacuhkan saja.
Aku datang kesini untuk bekerja, selama atasanku tidak ada masalah dengan kinerjaku. Maka aku tidak akan mendengar apa kata orang lain.
Ya, begitulah Tami. Dia terlalu malas memikirkan apa kata orang. Karena hidupnya saja sudah serumit ini, tidak ada waktu bagi Tami untuk memikirkan apa kata orang-orang yang tidak suka padanya.
Tami masuk ke ruang karyawan, mengambil kunci loker dari tasnya dan segera membuka pintu loker miliknya. Menyimpan tas ransel miliknya dan membuka jaket yang di pakainya. Tami mengikat tali apron di pinggangnya, lalu dia segera keluar dari sana setelah menguci kembali pintu loker. Tami sudah siap bekerja hari ini. Meski semalaman dia tidak tidur karena harus gantian menjaga adiknya yang masih di rawat di rumah sakit sejak kemarin malam. Belum lagi, paginya dia harus kuliah hingga siang dan berlanjut bekerja disini.
Bukannya dia tidak lelah, tapi keadaan memaksanya untuk menjalani hidup seperti ini.
"Selamat menikmati" Tami menaruh menu makanan pesanan pelanggan di atas meja. Selalu terpasang senyum ramah di wajahnya. Tami harus tetap profesional, meski hatinya dan tubuhnya sedang sangat lelah.
"Tami"
Tami berbalik saat ada yang memanggilnya, dia menunduk pada atasannya. Alvaro baru saja sampai di restaurant. "Tolong antarkan makan siang untuk saya"
"Baik Tuan"
Alvaro melangkah beberapa langkah sebelum dirinya kembali berhenti saat mengingat sesuatu. "Emm. Tolong buatkan aku kopi hitam juga"
"Baik Tuan"
Tami segera pergi dari sana dan berjalan menuju dapur resto. Tami menghampiri exsekutif chef di tempat ini. "Chef, tolong buatkan makan siang untuk Tuan"
"Baik"
Tami beralih ke arah meja disana, mengambil toples yang berisi kopi dan gula pasir. Tami membuatkan kopi yang di pesan oleh Tuannya. Tapi saat dia akan memasukan gula, dia sedikit bimbang. Karena Alvaro tidak memesan kopi seperti apa untuk selesainya itu. Apa kopi pahit atau kopi sedikit manis, atau mungkin sangat manis.
Duh, gimana ya. Kalau salah gimana? Yaudahlah, aku kasih takaran yang biasa aku buatkan untuk Ayah saja.
Akhirnya Tami selesai membuatkan kopi untuk Alvaro, tepat dengan Chef yang memanggilnya karena makan siang untuk Alvaro sudah selesai.
Tami membawa nampan itu menuju ruangan atasannya. Saat pintu lift terbuka, Tami langsung keluar dari dalam kotak besi itu. Berjalan menuju pintu ruang kerja atasannya itu.
Tok..tok..
"Masuk.." Alvaro yang sedang mengerjakan pekerjaan di laptopnya langsung mendongak saat mendengar pintu terbuka. Tami berjalan mendekati meja kerja Alvaro.
"Tuan, ini kopinya" Tami menaruh kopi di atas meja kerja Alvaro dengan tangan sedikit bergetar karena dka takut jika Alvaro tidak suka dengan kopi buatannya.
"Iya, terima kasih"
Tami mengangguk, dia menatap Alvaro dengan wajah was-was saat pria itu mulai meminum kopi buatannya. Sangat takut jika pria itu tidak menyukai kopi buatannya. Ekspresi Alvaro terlihat datar, semakin membuat Tami takut saja. Namun beberapa detik kemudian dia tersenyum pada Tami dan kembali meminum kopinya.
"Kopinya pas, apa kamu bisa membuatkan kopi untukku setiap aku datang ke Resto?"
Tami hampir saja kelepasan saat memegang nampan berisi makan siang untuk Alvaro. Mendengar ucapan pria itu membuatnya sangat terkejut, tidak menyangka jika Alvaro akan menyukai kopi buatannya. Bahkan dia meminta pada Tami untuk membuatkan kopi setiap dia datang le Resto.
Tidak mungkin menolaknya, Tami hanya mengangguk. "Baik Tuan"
Alvaro tersenyum mendengar jawaban Tami, dia lalu mengambil cangkir kopi itu dan kembali meminumnya. Rasanya dia tidak mau berhenti meminum kopi buatan Tami. Entahlah lidahnya terasa sangat cocok dengan kopi buatan Tami.
"Sampai kapan kau akan berdiri disitu? Cepat taruh makanannya di atas meja, aku sudah lapar"
Alvaro berdiri dan berjalan ke arah sofa. Duduk di sofa tunggal yang ada disana. Menatap Tami yang sepertinya terkejut dengan ucapannya barusan. Tami berjalan ke arahnya dengan wajah menunduk. Dia menata makanan yang di bawanya di atas meja.
"Silahkan Tuan, saya permisi dulu"
Alvaro menatap punggung Tami yang menjauh darinya dan hilang di balik pintu ruangan. Dia sedikit terkekeh melihat gadis itu yang mencoba menutupi kegugupannya dengan bersikap dingin pada Alvaro. Padahal Alvaro tahu jika dia sedang gugup.
"Dasar gadis itu" Alvaro terkekeh sambil menggelengkan kepala heran. Kok ada gadis seperti Tami? Yang bersikap dingin pada pria seperti Alvaro.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Tami memegang dadanya dengan menyandar di dinding dekat pintu ruangan Alvaro. Jantungnya berdebar sangat kencang. Kenapa ini? Ada apa dengan jantungku? Gumamnya.
Tami menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya. Begitu seterusnya sampai debaran di dadanya berhenti. Setelah di rasa semuanya normal kembali, barulah Tami melanjutkan langkahnya. Kembali bekerja.
Hari melelahkan ini telah selesai, Tami berjalan menuju parkiran Resto untuk mengambil motornya. Dan entah kebetulan seperti apalagi yang membuatnya harus bertemu dengan Alvaro. Entah kenapa waktu selalu mempertemukan mereka berdua.
"Tuan" Tami menganggukan kepalanya hormat saat melewati Alvaro yang sedang berdiri di depan mobilnya. Entah apa yang sedang dia lakukan.
"Eh.. Tami, baru mau pulang? Yang lain mana?"
Tami menoleh, dia baru saja akan mamakai helm di kepalanya. "Sudah pulang Tuan"
Tami menaiki sepeda motornya dan mulai men-staterr sepeda motornya itu. Namun saat dia akan menarik pedal gas, langsung terhenti saat Alvaro berdiri di depan motornya.
"Ada apa Tuan?"
"Emm..." Alvaro sedikit bingung dan gugup juga, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "...Emm, sebenarnya mobilku mogok. Apa bisa minta tolong untuk antarkan aku pulang? Aku akan bayar kok"
Tami berfikir sebentar, tapi dia tidak bisa menolak juga karena yang meminta bantuan adalah atasannya. "Tapi saya tidak bawa helm lagi Tuan"
"Tidak papa, aku bawa di bagasi mobil..." Alvaro langsung terdiam saat melihat tatapan curiga dari Tami. "..Emm. Gak, maksudnya ada helm teman aku yang waktu itu ketinggalan di rumah, mau aku kembalikan tapi belum ada waktu yang sempat"
Tami mengangguk, dia mencoba memahami. Meski sebenarnya masih sangat janggal. Merasa jika apa yang terjadi seolah bukan hanya sebuah kebetulan biasa saja.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
uyhull01
Tami mulai curiga tuu,
2023-01-05
0