Malam ini Alvaro pulang ke rumah setelah mengecek beberapa laporan di restaurant. Rasa lelah terlihat sekali dari wajahnya, dia mengusap wajah lelahnya saat dia membuka pintu kamar. Dan kejutan tidak terduga di dapatkan di depannya saat ini.
Tami masih belum menyadari kehadiran suaminya. Dia masih mematut dirinya di depan cermin meja rias. Sungguh dia sangat malu ketika harus memakai gaun tidur transparan ini di depan suaminya. Sebuah hadiah pernikahan yang di berikan Ayra padanya. Tami sangat malu melihat dirinya sendiri di balik pantulan cermin.
"Aduh aku malu sekali jika harus memakai ini di depan suamiku. Sudahlah, aku ganti pakai baju tidur biasa saja"
Tami berbalik dan seketika tubuhnya mematung saat melihat suaminya yang tersenyum penuh arti padanya. Tami mundur ketika Alvaro berjalan mendekat padanya, pria itu menutup pintu dengan kakinya. Lalu berjalan mendekati istrinya yang sepertinya sudah siap untuk dirinya sentuh.
Tami terduduk di kursi depan meja rias, dia semakin gugup saat suaminya terus berjalan mendekat padanya dengan tatapan yang tidak lepas darinya.
"Sa-sayang aku..."
Alvaro sudah berada tepat di depannya, kedua tangannya berada di sisi tubuh Tami. Mengukung gadis itu dengan tangannya yang tertumpu pada meja rias. Menatap wajah istrinya yang sudah memerah seperti tomat.
"Apa kau sudah siap memberikan hak aku?"
Tami terdiam beberapa saat, dirinya sudah melangkah sejauh ini. Jadi untuk apa juga dia membatalkan setiap rencana yang sudah dia susun sejak tadi sore. Memang sudah seharusnya dia memberikan hak suaminya.
"Lakukanlah, aku siap menerima semuanya. Pernikahan kita sudah sah dan resmi. Lalu apalagi yang aku takutkan"
Mendengar itu, Alvaro tersenyum senang. Tidak mau menunda-nunda kesempatan yang tidak akan datang dua kali ini. Dia langsung menggendong tubuh Tami dan membawanya ke tempat tidur. Menidurkan tubuh istrinya dengan perlahan.
Semuanya di mulai dari kecupan di keningnya, hingga kecupan-kecupan itu mulai turun ke seluruh tubuhnya. Malam ini, di bawah langit yang temaram dan bertabur bintang. Di sebuah kamar sepasang suami istri sedang saling memberikan kenikmatan. Meski Tami belum mempunyai perasaan apapun pada suaminya. Tapi, rasa nyaman sudah dia rasakan sejak awal menikah dengan suaminya. Ketika mereka tidur di atas tempat tidur yang sama dan saling berpelukan. Sejak saat itu, Tami mulai merasakan kenyamanan bersama suaminya.
Dan pagi ini saat dia terbangun, dia melihat banyaknya tanda kemerahan di tubuhnya. Tami menjerit tertahan di ruang ganti saat melihat tubuhnya yang di penuhi tanda kemerahan.
Kenapa banyak sekali.
Tami mengusap bagian leher dan dadanya yang di penuhi dengan beberapa bekas kemerahan disana. Sepertinya Alvaro sedang menunjukkan keperkasaan dirinya di atas ranjang. Hingga Tami hampir tidak bisa menandinginya tadi malam.
Mengingat kejadian itu, membuat semburat merah muncul di wajahnya. Tami sangat malu ketika semalam dia juga menikmatinya, sampai suara-suara kenikmatan keluar dari mulutnya berulang kali.
Tami menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Duh malu banget aku semalam, kenapa bis seperti itu si"
Selesai dia memakai baju, Tami segera keluar kamar untuk mulai aktifitas paginya. Menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga suaminya. Namun, saat dia sedang fokus dengan masakan di dalam wajan. Sepasang tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya. Ekspresi Tami saat ini tidak terlalu terkejut seperti waktu itu. Dia sudah tahu kebiasaan suaminya ini, yang selalu memeluknya tiba-tiba seperti ini.
"Sayang, sudah bangun ya. Mandi dulu sana, aku sedang menyiapkan sarapan untukmu"
Alvaro mencium bahu istrinya dengan lembut. Menghirup aroma tubuh istrinya yang memabukkan baginya. "Semalam, kau dapat darimana gaun tidur seperti itu? Bagaimana jika sekarang kita pergi jalan-jalan dan beli lagi yang banyak gaun seperti itu. Aku suka"
"Tidak.." Tami terkejut sendiri dengan suaranya yang keras. "Emm. Maksudnya, tidak perlu Sayang. Itu juga hanya sebuah hadiah dari temanku, jadi sayang saja jika aku tidak memakainya"
Tapi, aku benar-benar tidak mau membeli lagi gaun seperti itu.
"Siapa temanmu? Baik sekali dia sampai seperhatian itu padamu, memberikan hadiah yang sangat pas"
Iya, sangat pas untuk menggodaku. Haha.
"Mungkin dia juga salah pilih kenapa malah memberikan hadiah itu padaku" Tami berjalan menuju meja makan dengan Alvaro yang masih memeluknya dari belakang. Pria itu benar-benar tidak berniat untuk melepaskan pelukannya saat Tami sudah selesai memasak sarapan pagi ini. Tinggal menatanya di atas meja makan.
"Sayang, mandi dulu sana. Setelah ini baru sarapan. Atau mau sarapan dulu?"
Alvaro menggeleng pelan, dia malah semakin mengeratkan pelukannya. "Temani aku mandi"
Mendengar itu, entah kenapa Tami malah merasa merinding. Menemani suaminya mandi adalah sinyal bahaya. Bisa-bisa dia benar-benar tidak masuk kuliah hari ini hanya karena menemani suaminya mandi.
"Aku 'kan sudah mandi, masa mau mandi lagi. Dingin ahh, kamu saja ya yang mandi. Biar aku siapkan airnya untuk kamu mandi"
Alvaro tersenyum tipis melihat wajah tegang istrinya. Dia tahu jika Tami sudah membaca fikiran kotornya saat dia mengajak mandi bersama. "Yaudah, tapi kapan-kapan aku ingin mandi bersama denganmu. Ingin merasakan suasana di kamar mandi bagaimana"
Tami tidak menjawab, dia berlalu pergi ke kamarnya. Hatinya sudah berdebar kencang, tidak tahu kenapa suaminya berubah menjadi pria mesum seperti sekarang. Apa memberikan haknya semalam telah membangkitkan sisi pria dalam diri Alvaro.
Saat Tami sedang mengisi bak mandi dengan air hangat. Alvaro masuk begitu saja ke dalam kamar mandi. Benar-benar dalam keadaan tubuh yang polos tanpa menggunakan sehelai benang pun.
Selalu saja seperti itu.
Tami segera berdiri dengan wajah menunduk, meski semalam dia sudah melihat tubuh suaminya yang polos. Tapi tetap saja membuatnya merasa sangat malu hari ini. Melihat lagi tubuh polos suaminya.
"Airnya sudah siap, kalau begitu aku keluar dulu"
Tami segera berlari keluar kamar mandi. Dia memegang dadanya yang berdetak kencang. "Kenapa jantungku? Selalu saja berdebar kencang seperti ini"
Selesai sarapan bersama, Alvaro mengantarkan Tami kuliah. Setelahnya dia segera kembali ke restaurant. Masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kebesaraannya dengan kedua tangan berada di belakang kepalanya. Menyandar pada sandaran kursi. Bibirnya tersenyum membayangkan kejadian semalam bersama istrinya.
Ternyata menikah sebahagia ini. Kenapa gak dari dulu saja aku bertemu dengan Tami dan menikahinya.
Saat dia masih dalam fikiran tentang kenikmatan yang dia rasakan semalam. Membuat Alvaro tidak sadar jika ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya. Seorang wanita yang menghampiri Alvaro, lalu duduk di kursi depan meja Alvaro. Kehadirannya baru saja membuat Alvaro tersadar dari segala lamunannya. Dia menatap wanita di depannya dengan wajah datar.
"Hai Al, aku kembali untuk memberikanmu ini. Tolong datang ya" Dia menyodorkan sebuah undangan di atas meja, mendorongnya ke dekat Alvaro.
Alvaro menatap sejenak surat undangan itu, lalu dia mengambilnya dan segera membukanya. Sebuah undangan pembukaan butik baru yang tertera disana.
"Aku harap kamu datang ya, melihat keberhasilanku selama ini"
"Baiklah, aku akan datang bersama istriku"
Wanita itu terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Alvaro.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
MJ
Bibit2 pelakor
2023-07-19
0
uyhull01
hahaha itu bju dinas bersama suami🤭
wehhh siapa itu ???
2023-01-19
0
AlmiraAzniAdzkia🥰🌺
mulai muncul orang ketiga kah,,,,
2023-01-19
0