"Aku pergi dulu ya, nanti aku jemput lagi. Sekarang mau chek restaurant dulu" Alvaro mengelus kepala istrinya lalu mencium keningnya dengan lembut.
Meski sangat tegang dan kaget dengan apa yang di lakukan Alvaro, tapi Tami mencoba untuk bersikap biasa saja. "Iya, hati-hati ya di jalan"
Tami meraih tangan Alvaro dan menciumnya. Hal itu membuat Alvaro tersenyum, setidaknya istrinya itu masih memiliki rasa hormat pada dirinya sebagai suaminya. Meski hati Tami saat ini masih tertutup untuk Alvaro. Tapi, Alvaro yakin jika dia terus berusaha menunjukkan cinta dan kasih sayangnya yang tulus akan membuat hati Tami luluh. Cepat atau lambat, Alvaro akan tetap berusaha.
"Aku pergi ya, kalau nanti sibuk gak usah di jemput saja. Aku bisa pulang naik taxi"
Alvaro menggeleng pelan, tentu dia tidak akan terkalahkan dengan pekerjaan saat harus menjemput istri tercintanya. "Aku akan datang, istriku lebih penting"
Ucapan itu seolah dia benar-benar mencintaiku. Tapi, apa dia lupa jika pernikahan ini hanya atas dasar pinjaman atau hutang.
Tami tidak menjawab apapun, dia turun dari mobil dan berdiri di pinggir jalan menunggu sampai mobil suaminya pergi. Setelah mobil suaminya tak lagi terlihat, Tami berbalik dan berjalan ke halaman rumahnya. Di teras sana sudah ada sahabatnya yang berdiri.
Kemarin Ayra tidak bisa datang saat Tian meninggal, alasannya karena dia baru saja habis melahirkan dan suaminya yang overprotektive itu tidak mengizinkannya pergi tanpa di dampingi supir. Sementara hari kemarin supir keluarga sedang cuti.
Saat Tami sudah sampai di depan sahabatnya, dia langsung memeluknya dengan erat. Tangisnya pecah, Ayra adalah satu-satunya sahabat Tami yang mengerti keadaan Tami.
"Maaf Sayang, aku tidak bisa datang kemarin. Kamu kuat ya, kamu pasti bisa mengikhlaskan kepergian Tian"
Tangisan Tami yang sudah reda kemarin, namun hari ini kembali pecah. Mengingat tentang adiknya, maka dia juga selalu teringat tentang pernikahannya. Awal mulai pernikahan ini terjadi juga karena Tami sangat membutuhkan uang untuk adiknya.
"Ayra, semua pengorbanan dan perjuanganku selama ini berakhir sia-sia"
Ayra menggeleng, membantah ucapan Tami. Dia tahu bagaimana perjuangan dan pengorbanan Tami demi kesembuhan adiknya. "Kamu tidak melakukan hal yang sia-sia, semuanya memang sudah takdir Tuhan. Setidaknya kamu sudah melakukan segala cara untuk kesembuhan Tian, adikmu juga pasti sangat bangga padamu"
Ayra membawa Tami untuk duduk di sebuah kursi kayu yang ada di teras depan rumahnya ini. "Oh ya, aku dengar dari Ibu katanya kamu sudah menikah. Tega sekali sampai tidak memberi tahuku"
Tami tersenyum, dia menatap sahabatnya itu. "Hanya pernikahan sederhana. Sama sepertimu, pernikahan yang sederhana agar tidak banyak orang yang tahu"
Ayra hanya tersenyum, memang seperti itu pernikahannya dulu. Ayra memegang tangan Tami yang berada di atas meja diantara kursi kayu yang mereka duduki itu. "Aku ikut bahagia mendengar kamu sudah menikah. Semoga pernikahanmu bahagia ya, Tami"
"Iya Ay, terima kasih. Semoga pernikahan kamu juga semakin bahagia. Oh ya, dimana anakmu? Maaf ya karena aku belum sempat menjenguk kamu dan bayimu, belum sempat memberkati hadiah juga atas kelahiran anak pertamamu"
"Tidak papa Mi, kamu kayak sama siapa aja. Aku melihat kamu bahagia saja sudah sangat bersyukur. Sekarang kamu hanya perlu mengikhlaskan kepergian Tian, jangan membuat diri kamu sendiri terus berlarut dalam kesedihan. Tian pasti sudah bahagia di surga"
Tami mengangguk, dia memang sudah seharusnya mulai mengikhlaskan kepergian Tian. "Oh ya Ay, kamu kesini di antar siapa?"
"Suamiku, nanti siang dia akan menjemput lagi. Soalnya anakku aku titipkan pada Mami"
Tami mengangguk mengerti, kedua sahabatnya mengobrol banyak hal. Saling menyemangati dan menguatkan dalam kondisi seperti ini. Hingga hari menjelang siang, suami Ayra menjemputnya.
Kini, hanya ada Tami dan orang tuanya di rumah ini. Kesedihan masih terlihat di wajah Ibu dan Ayah. Bahkan Tami melihat mata Ibu yang sembab. Tidak heran, karena selama ini Ibu sudah memperjuangkan kesembuhan Tian dengan berbagai cara. Bahkan dia rela tidur di lantai rumah sakit berhari-hari hanya beralaskan tikar tipis. Tapi ternyata takdir berkata lain, Tian tetap harus pergi menghadap Tuhan di usianya yang masih belia.
"Bu..."Tami meletakan kepalanya di atas pangkuan Ibu yang tangannya langsung mengelus kepala putrinya ini. "...Kita ikhlaskan Tian ya, biarkan anak baik itu tenang di surga"
"Iya Mi, Ibu juga sudah mengikhlaskan adikmu. Tapi saat ini Ibu masih merasa sedih saja"
"Tidak papa untuk merasa sedih Bu, tapi jangan berlarut-larut"
Tami mulai tenang saat kedua orang tuanya sudah terlihat lebih tegar. Saat sore hari suaminya menjemput, Ibu dan Ayah terlihat tersenyum ramah pada Alvaro.
"Sayang, ayo pulang sekarang" Alvaro merangkul bahu Tami dan mencium kepalanya.
Ibu dan Ayah saling pandang lalu tersenyum saat melihat bagaimana Alvaro memperlakukan Tami. Melihat itu, mereka langsung percaya pada cerita Tami tentang jatuh cinta pada pandangan pertama pada suaminya ini. Melihat bagaimana Alvaro memperlakukan Tami, membuat Ayah dan Ibu merasa tenang karena putrinya telah berada di tangan pria yang tepat.
Setelah berpamitan pada Ayah dan Ibu, Tami pun pulang ke rumah suaminya. Setelah dia melihat Ayah dan Ibu lebih tegar dari sebelumnya. Tami menjadi lebih tenang sekarang, setidaknya mereka memang harus sudah mengikhlaskan kepergian Tian.
Sampai di rumah, Alvaro menggandeng tangan Tami menuju kamar. Saat masuk ke dalam kamar, Tami selalu merasa gugup. Dirinya selalu membayangkan malam pertama bersama Alvaro. Takut jika suaminya akan meminta haknya malam ini. Meski memang sudah seharusnya Tami memberikannya, tapi hatinya masih merasa takut. Takut jika suatu saat nanti Alvaro akan mencampakkannya setelah dia mendapatkan apa yang ingin dia dapatkan darinya.
"Siapkan air untuk aku mandi ya, aku ingin mandi gerah sekali" Alvaro menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, membuka dua kancing bagian atas kemejanya.
Tami mengangguk dan segera berlalu ke ruang ganti. Masuk ke dalam kamar mandi dan mulai menyiapkan perlengkapan mandi suaminya, dia mulai mengisi batthup dengan air hangat. Namun pada saat dia masih mengisi air di battup, pintu kamar mandi tiba-tiba saja terbuka. Tami menoleh dan melihat suaminya yang berjalan ke arahnya dengan memakai jubah mandi di tubuhnya.
"Sudah siap ya, ayo mandi bersama"
Deg..
Tami mendongak dan menatap suaminya yang berdiri di depannya sambil membuka jubah mandi yang menutupi tubuhnya. Menjatuhkan jubah mandi di atas lantai begitu saja. Tami segera menundukkan wajahnya ketika melihat tubuh polos suaminya.
Oh Tuhan, tadi apa?
Rasanya Tami ingin menangis saja saat ini. Matanya telah di nodai oleh Alvaro. Meski dia sudah menjadi suaminya, tapi tetap saja karena ini adalah pertama kalinya Tami melihat tubuh pria dewasa yang benar-benar polos tanpa menggunakan apapun.
Dengan begitu santai, Alvaro masuk ke dalam bak mandi. Dia menatap Tami yang masih berjongkok di dekat bak mandi dengan kepala yang menunduk dalam. Alvaro tahu jika istrinya sedang merasa malu dan gugup saat ini. Tapi, entah kenapa Alvaro malah senang melihat wajah tegang istrinya itu. Jadi, dia semakin senang menggodanya seperti ini.
"Ayo buka bajumu, kita mandi bersama"
Tami segera berdiri dengan terburu-buru, sampai dia hampir saja terpeleset di lantai kamar mandi yang basah. "Ak-aku belum mau mandi, Sa-sayang duluan saja. Aku mau masak dulu untuk makan malam"
Tami berlari keluar dari dalam kamar mandi dengan debaran jantungnya yang begitu kencang sampai Tami memegangi dadanya untuk sekedar menenangkan debaran jantungnya itu. Oh Tuhan, jantungku. Gumamnya.
Sementara di dalam kamar mandi, Alvaro tertawa-tawa sambil memainkan air dan busa di dalam bak mandi. Membayangkan wajah tegang istrinya selalu membuatnya bahagia.
Lucu sekali si dia ini.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
uyhull01
itu belalai suamimu Tam🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭
2023-01-18
0