MASA LALU NAYA
Aku berjalan ke arah depan rumah. Dengan membawa secangkir coklat hangat kesukaanku, Aku duduk di bangku sebelah beteng.
Cuaca yang cerah, membuatku betah berlama lama disini. Dengan cahaya bulan purnama yang nampak penuh, dan banyak bintang yang mengelilinginya. Dan juga semilir angin menambah dinginyya malam ini benar benar terasa.
Aku berbaring di bangku panjang ini. Lengan ku lipat guna ku jadikan bantal. Netraku menatap langit yang bersih dari awan itu, tak henti hentinya Aku menatap kagum akan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.
"Cantik" bisikku lirih. Kupejamkan mataku, menikmati sensasi dingin yang begitu menusuk tulang.
Pikiranku berkelana, menyusuri cerita demi cerita yang telah ku lalui. Namun, otakku seakan tertuju pada satu nama yang dulu pernah mengajarkanku apa itu arti kenyamanan tanpa bisa memiliki.
Sebut saja dia Irawan. Dia adik kelasku sewaktu sekolah menengah atas. Aku mengenalnya secara tidak sengaja. Aku yang jahil, selalu ada saja cara untuk membuat orang kesal terhadapku. Namun Aku menyukai hal tersebut.
Sehingga tak sengaja, waktu itu Aku menabrak seorang lelaki. Aku terkesiap kaget,
"Duhh maaf maaf, Ngga sengaja." Aku mendongak melihat wajah itu, Aku melongo. Yang kutabrak adalah Irawan, manusia yang ramah dan juga mantan dari temanku satu kelas juga.
"Makanya, jalan itu pake mata." Ujarnya padaku.
"Idih, dimana mana mah jalan pakai kaki kale." Balasku julit.
Dia tak memperdulikan ucapanku,
"Namanya siapa? Kamu kayanya kakak kelas ya?"
"Cieee kepo cieeee." Cetusku dengan nada ngece.
Ku lihat matanya antara sebal dan juga gemas menatapku,
"Astaghfirullah ini anak julit banget sih." Desisnya padaku yang hanya ku balas dengan cekikikan.
"Aku Naya, kamu Irawan kan? Kelas 10 Akuntansi?"
"Kok kamu tau?" Tanyanya
"Tau lah, Kamu kan terkenal." Dia memicingkan matanya ke arahku dengan sebal.
"Ih Aku seriusan."
"Iya tau tau, Temenmu satu kelas ada yang tetanggaku, dan dia sering ceritain teman sekelasnya." Dia mengangguk paham.
"Yaudah ya, Aku mau balik ke kelas dulu ya. Keburu temenku marah marah nanti kalau Aku terlalu lama." Aku beranjak lalu berjalan.
"Eh eh eh bentar." Tanganya menarik pergelangan tanganku membuatku kaget.
"Astaghfirullah, ada apa lagi?" Tanyaku.
"Minta nomer hapenya dong?" Dengan senyumnya yang di manis manisan seraya menyodorkan ponselnya kepadaku.
Ku ambil ponselnya lalu ku ketik nomor hapeku. Setelahnya ku kembalikan kepadanya
"Makasih yaa." Teriaknya padaku yang sudah berjalan menjauh.
Jika diingat kembali, Aku merasa malu. Namun hal itu tak urung lucu juga, dengan Aku yang slengean seperti ini.
Ku seruput sedikit coklat yang kubawa tadi. Setelahnya ku ingat lagi apa yang ku perbuat di masa itu.
Setelah ku beri nomorku, malam harinya ada sebuah pesan dari nomor tak di kenal.
085xxxxxxxxx
Hai
Aku mengernyitkan kening ku melihat nomor itu. Segera kubalas,
Naya
Iya siapa?
Tak perlu lama menunggu nomor itu membalas lagi. Yah, dia Irawan. Yang tadi siang meminta nomorku.
Dari situlah, kami berdua terlihat sering berbincang. Dapur adalah tempat favorit buat kami berdua selain teman temanku.
Dari kedekatan kami, aku tidak pernah berharap akan menjadi orang yang spesial untuk dirinya. Karena aku sendiripun malas untuk berhubungan dengan hak seperti itu.
Akan tetapi, lama kelamaan Aku sering terlena akan perhatian kecil darinya. Hingga suatu waktu, kami harus berpisah selama tiga bulan. Karena Aku yang akan melakukan praktek kerja lapangan.
Aku berat meninggalkan, namun praktek itu lebih penting dari apapun.
Dalam hati Aku berteriak kesal,
"Oh hati, Ayolah jangan seperti ini. Ingat Naya, kamu masih kecil." Seruku menyemangati diriku sendiri.
Disaat teman temanku sibuk jalan dengan pacar pacarnya, Aku sendiei lebih suka membuat cerita atau cerita bersambung.
Tiba tiba ponsel di saku ku bergetar, ku ambil ponselku dan ku lihat sebuah pesan dari Irawan. Dia menggombaliku, tentu saja hatiku cenut cenut membacanya. Lebay kan Aku? Tentu saja, karena sebelumnya Aku bekum pernah merasakan hal seperti ini.
Naya
Lebay
Cetusku membalas pesan dari Irawan. Tulisan dan hati memang tak pernah sesuai. Aku takut jika nantinya Aku benar terbuai akan gombalanya itu.
Lagi lagi aku tertawa mengingat hal itu, kalau ada orang lain yang melihatku tiduran disini sambil tertawa sendiri, mungkin mereka akan mengira jika Aku adalah orang gila.
"Kalau di ingat ingat, ternyata Aku nakal banget sih ya Allah. Ada ada aja, tapi kayanya sampai sekarang masih deh, hehe.", Aku berkata sendiri dan ku jawab sendiri.
Kuingat ingat lagi hal yang terjadi waktu itu. Pernah sekali Irawan memberi kode padaku, yaitu 'You and Me'. Hal itu ku ingat sampai sekarang, karena itu benar benar romantis menurutku.
Setelah ku kembali dari masa praktek, Aku merasakan ada yang berbeda dari Irawan. Jika bertemu denganku, dia hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya kepadaku. Bukankah hal itu sangat formal sekali? Dan pula sejak kapan dia jadi seperti itu?
Semakin lama, Irawan tsemakin sering tak mengirimiku pesan. Aku sempat berfikir jika Aku punya salah dengannya atau gimana. Namun, Aku tak pernah mendapatkan jawaban.
Hingga kami benar benar lost contact meskipun masih berada dalam satu lingkungan sekolah yang sama. Dengan cara jika bertemu pun masih hanya menganggukkan kepalanya atau hanya dengan tersenyum.
Aku hampir melupakan jika dia ada seorang playboy, jadi Aku memaklumkan hal itu. Namun, Aku juga tak bisa memungkiri jika merasa nyaman dengannya.
"Ya Allah kenapa dulu Aku bucin sekali." Kataku sendiri lagi sambil tertawa mengingat.
Setelah cukup lama, Aku tau dari temanku yang satu kelas dengan Irawan. Katanya Irawan sudah berpacaran dengan salah satu perempuan di kelasnya.
"Sekarang Irawan udah pacaran sama Rahma Nay, makanya dia ngga pernah nge chatting kamu lagi." Kata temanku waktu itu.
"Oalah gitu, padahal dia bilang aja juga ga masalah sebenarnya." Balasku.
Aku baru tau, begini rasanya ketika sudah nyaman namun tak bisa memiliki. Entah orangnya yang menganggap hal ini adalah biasa, atau orang yang digituin terlalu bawa perasaan. Dan Aku adalah salah satunya orang itu.
Aku menghela nafas panjang, jika diingat ingat hal yang perlu ku jadikan pelajaran adalah, jangan pernah lagi gampang merasa nyaman dengan siapapun yang ada di dekatku. Kecuali jika sesama jenis.
"Duh Nah, kenapa Kamu bego banget sih bisa bisanya gampang nyaman gitu."gerutuku.
Aku terbangun dari baringanku, ku sandarkan tubuhku pada tembok beteng. Ku raih coklat tadi yang ternyata sudah mendingin.
"Kalau diingat kok semakin kangen. Dia aja udah jadi Suami orang, masa kamu masih kangen Nah, sadar Nay sadar." Gumamku sendirian.
Ku lihat jam di ponselku, sudah menunjukkan pukul 11.00 PM. Aku terbelalak melihat itu.
"Eh gila, perasaan Aku tadi keluar kesini jam sembilan deh. Udah jam sebelas aja sih. Pantesan aja minuman juga udah dingin gini." Ucapku berdecak.
Aku berdiri lagu masuk ke dalam rumah. Meninggalkan semua keindahan malam ini. Yang sebenarnya masih saja bisa ku lihat dari genteng kaca di kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments