REMINDER [ CERITA HARIAN ]

Point of Yuna

Setelah kejadian hari Jumat waktu itu, mereka sudah sedikit berkurang dalam membullyku. Akan tetapi, yang masih saja tetap semangat menjodohkan ku itu Ningrum.

Jujur, Aku muak. Bukankah dia temanku? Kenapa selalu mengumpankan Aku? Yang bahkan kalau dirinya dibalik gituin dia sendiri yang ngga mau.

Sementara, di perusahaan ini. Mbak Rahmi sepertinya akan resign. Dikarenakan Ia sedang hamil, meskipun dari awal dirinya ngga bilang kalau sedang hamil namun Aku sebagai sesama wanita pasti tau perubahan perubahan yang signifikan.

Sedangkan Mbak Ningsih? Dia sudah kembali ke devisi asalnya. Karena itu adalah salahnya sendiri. Jadi begini ceritanya,

Semenjak kejadian Mbak Rahmi memberi buket hijab pada Mbak Ningsih, dan diberi sedikit kritikan. Namun sepertinya Mbak Ningsih salah paham akan kritikan seperti itu.

Mbak Ningsih berfikir, kalau dia ngga mau menerima kritikan dan isi pikiranya itu dibuat di status watsap. Alhasil, Aku tau dan akhirnya paham.

Disini posisiku tidak membela Mbak Rahmi dan juga Mbak Ningsih. Karena Aku juga berfikiran seperti Mbak Rahmi, kalau jika di kritik seharusnya bisa di fikirkan kembali atau anggap saja itu sebuah motivasi.

Tetapi pikiran orang lain tetap berbeda kan dengan kita? Apalagi jika terkadang orang itu sering membuat bahan untuk Bullyan diri sendiri.

Dan ketika Aku juga diberi buket hijab oleh Mbak Rahmi juga, Mbak Ningsih bertanya kepadaku,

"Dek, kamu diberi tulisan juga ngga?" Tanyanya waktu itu

"Engga tuh Mbak, kenaoa emang?" Balasku.

"Kok beda ya? Apa mbak Rahmi ngga suka sama Aku disini ya." Katanya, membuatku langsung menabok lenganya.

"Duh, sakit dek astaga "katanya mengelus yang ku tabok tadi.

"Ya abis kamu suka aneh aneh. Coba di fikir aja, selama ini Mbak Rahmi aja ngga pernah tuh buat masalah, ini kamu malah berfikiran yang tidak tidak. Pikir yang positif aja." Kataku panjang lebar.

Mbak Ningsih terdiam, ku harap dia mau mempertimbangkan omonganku.

Aku tidak membela keduanya, karena mereka sama sama dewasa dari pada Aku. Jadi kupikir sudah bisa membedakan mana yang baik dan juga mana yang buruk.

Semakin hari, Mbak Ningsih malah semakin mendiamkan Mbak Rahmi. Setauku sih, Mbak Rahmi itu orangnya bodo amat sama yang gituan selagi itu tidak merugikan dirinya. Dan Aku perlu mencontoh sikap itu.

Sementara Mas Wahyu yang tidak tau apa apa, dia bertanya padaku karena heran.

"Ndro, sini deh." Saat itu cuma ada Aku dan Mas Wahyu, Pak Danang sedang ke masjid, Mbak Rahmi sedang cuti, dan Mbak Ningsih sedang ambil barang di kantor.

"Apa Mas?" Tanyaku

"Itu, si Ningsih kenapa sih? Ku perhatikan kok kaya ngediemin Mbak Rahmi, iya ngga sih?"

"Duh Mas, kamu ngga tau apa gimana?"

"Tau apa? Ayo lah cerita, soalnya ini Aku juga jadi sasaran ke diaman mereka. Ya kali Aku tau, mana tanya kamu. Mumpung cuma berdua disini." Mas Wahyu mendesakku agar bercerita.

"Tapi Mas, nanti kalau dikira mengadu domba gimana?"

"Siapa yang mau bilang gitu? Engga ah, kecuali kalau kamu cerita sama orang orang sana, nah sama mereka terus kembali di ceritain dengan bumbu yang berbeda." 

"Iya sih," pikirku.

" Yaudah Ayo cerita." Seru Mas Wahyu semangat.

"Yaudah deh, jadi gini Mas. Waktu Januari kemarin, kamu masih inget ngga? Pas Mbak Rahmi kasih buket hijab buat Mbak Ningsih?" Tanyaku.

"Heh emang dikasih?"

"Lho, emang ngga tau? Kan waktu itu di taruh di atas loker itu kan?"

"Seriusan ngga tau, terus abis dikasih itu diapain?"

"Jadi, kan sama dikasih kado. Terus pas malam harinya itu, dia nya tanya ke Aku. Apa kesalahanku? Ngga mau disalahin, terus sama kalau di kritik ngga mau. Gitu " jelasku singkat.

"Terus gimana lagi? Kami difotoin ngga suratnya kaya gimana?" Tanya Mas Wahyu.

"Di fotoin, tapi udah tak hapus hehe."

"Huuu gimana sih, terus apa hubungannya sama Aku coba ndro? Malah Aku juga ikutan kena. Jangan harap Aku bakal menyapa kalau dianya juga mencari masalah denganku "

"Duh Mas, ya jangan gitu dong." Jelasku khawatir.

"Biarin aja ndro, tapi kalau semisal ada perkembangan tentang apapun itu menyangkut halnitu. Tolong beritahu Aku juga ya? Aku kan ngga pernah ikut campur."

" Oke Mas, nanti Aku kasih tau. Tapi kalau kaya gini Aku kesannya Cepu banget yakan"

"Ngga masalah ndro,"

" Tapi kan Mas, nanti Aku dikiranya bakal gabung sana sini ngga?"

"Engga, selagi itu cuma sama Aku. Semua dijamin aman."

Jujur saja, hal seperti ini harusnya diselesaikan bersama. Apalagi kita semua masih ada dalam satu devisi. Kalau suasana masih dalam keadaan mencekam seperti ini terus yang mau mencairkan siapa coba?.

Aku malas jika berurusan dengan sindir sindiran juga. Lagian juga Mereka semua sudah dewasa, apalah Aku yang hanya masih bocil.

Dan mulai dari situlah hubungan antara Mbak Rahmi, dan Mbak Ningsih mulai memburuk. Dari mulai yang biasanya menyapa kini tidak ada sapaan.

Disini Aku yang serba salah, kalau dengan salah satu dari keduanya. Rasanya seperti membela meskipun tidak.

Justru Aku kasihan dengan Mas Wahyu, dia yang tidak tau apa apa ikut kena.

Apalagi hal ini terjadi dalam setengah taun sebelum Mbak Rahmi resign. Sungguh sangat disayangkan, namun Aku bisa apa? Aku juga hanya anak kecil yang masih butuh bimbingan dari mereka.

Sebenarnya Aku bersalah mengatakan hal ini, karena ketika Aku sedang bertukar pesan dengan Mbak Ningsih, bahasnya hanya itu dan Aku serba salah jika menjawab. Takut jika itu akan menyinggung keduanya, atau malah jatuhnya menjelek jelekkan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!