REMINDER [ CERITA HARIAN ]

Sekitar pukul 08.10 Aku sudah sampai di perusahaan. Aku berjalan pelan menuju ruangan dimana Aku bekerja. Sebelumnya Aku nongkrong dulu di dapur, biasanya Aku duduk sambil buat es disitu. Karena cocok banget buat nogkrong, maka dari itu Aku dan Mbak Rahmi betah banget, apalagi full WiFi juga.

Tiba tiba, aku terkaget ketika Farel menemuiku mengajak ngobrol sebentar.

"Mbak, temennya Ningrum ya?" Tanya Farel.

"Eh iya mas, kenapa?"

"Ngga papa sih, kemarin abis ulang taun ya?"

"Hehe iya mas, tau juga dari Ningrum ya?"

"Hooh, dari status watsap dia. Btw boleh minta nomernya ngga,? Biar Aku gampang berkomunikasi denganmu."

Aku melirik salah tingkah ke arah beberapa ruangan disebelah. Takut ada yang mendengar pembicaraan kami. Aku paham, kalau ada sesuatu hal kaya gini dan jika suatu saat semua orang tau itu akan menjadi bahan bulan bulanan.

"Boleh deh," Aku menyebut angka nomor hapeku. Lalu setelahnya dia berterimakasih dan berlalu, karena kita berbeda devisi.

Aku melangkah masuk keruangan, sebelum tadinya menaruh tasku ke dalam loker.

"Cieeee pagi pagi udah diapelin aja nih." Ujar Mas Wahyu.

"Siapa mas?" Tanya Mbak Rahmi.

"Itu, si Indro."

"Heh kok Aku sih Mas. Diapelin siapa coba Aku?" Balasku terkejut.

"Halah, Aku tau lho tadi si Farel itu kesini. Aku juga tau dia sering perhatiin kamu juga." Aku terkejut tidak percaya.

"Seriusan mas? Hati hati lho mbak Yun, kalau di dunia kerja kaya gini terus dapet pacar atau pasangan resikonya berat. Iya kalau bisa benar benar bersikap dewasa, kalau dua duanya masih terbawa perasaan anak anak?"

"Bener kata Mbak Rahmi ndro, hati hati. Apalagi si Farel itu kan adeknya istri tetanggamu."

"Tetanggaku siapa sih?" Tanyaku Tyang memang tak tau,

"Itu lho, Tino. Dulu dia juga pernah bekerja disini. Tapi karena mereka menikah dan Ibu dari si Farel itu tidak memperbolehkan mereka tetap satu kerjaan, jadi ya gitulah." Aku menyimak obrolan dan juga masihat dari mereka.

"Iya mas, Aku paham. Makasih ya atas saranya. Kalau semisal Aku ada salah yang disengaja atau ngga tolong tegur aja ya Mas, Mbak. Ini aku yang meminta juga soalnya, antisipasi kalau ada yang salah ngga cuma didiemin gitu." Balasku panjang.

"Weh tapi seriusan deh Mas, Aku baru tau kalau si Farel itu adeknya mas Tino."

"Emang pas nikahan itu ngga ikut rewang?"

"Engga lah,"

" Cuma, saran dari kami berdua buat kamu ya Ndro. Hati hati aja kalau ada yang tau atau kamu ketahuan ngobrol sama Farel dari devisi lain. Kamu akan di bully, Aku cukup paham orang orangan disana yang suka bercanda tapi giliran digituin balik ngga mau. Paham ngga sama apa yang Aku omongkan ini?" Tanya Mas Wahyu.

"Belum terlalu paham Mas, hehe. Coba jelasin intinya aja." Balasku cekikikan.

"Haduh, coba Mbak Rahmi jelasin."

Aku mendengar dengan seksama perkataan mereka, karena nantinya itu juga demi kenyamanan diriku dalam bekerja.

Bukan karena Aku ikut ikutan, tetapi karena memang dalam bekerja menurutku tanpa ada masalah itu lebih baik, daripada mencari muka dengan atasan. Apalagi Aku termasuk golongan yang seperti itu.

Sore hari, waktu pulang telah tiba. Aku bersama Mbak Rahmi biasanya selalu Absen barengan. Dan ternyata, disitu juga ada Farel yang sedang menunggu Absen juga dengan obrolan ringan bersama Admin CS disana.

"Nanti aja deh Mbak, lagian ini masih pas kok jamnya. Kalau udah lewat dua apa tiga gitu aja gimana? Biasanya kan rame."

"Boleh, ngga papa. Aku manut kamu aja."

Akhirnya kami berdua menunggu sebentar. Terlihat Mas Wahyu tiba tiba datang,

"Lho, kalian belum pada pulang to?"

"Ya belum to mas, itu masih lumayan rame."

"Ha bener banget, males kalau harus gerombolan gitu. Toh nanti juga pulang kok," Aku mengangguk mengiyakan.

"Itu volume kulkasnya dikecilin dalamnya. Biar ga cepet jadi batu dan besok ngga terlalu penuh batunya." Ujar Mas Wahyu lagi.

"Ohiya, Aku hampir saja lupa juga."

"Apa yang kamu ingat Ndro, biasa itu mah." Aku tertawa mendengar gerutuan Mas Wahyu itu karena memang benar.

"Yuk, udah lumayan sepi tuh." Ajak Mbak Rahmi. Aku mengikutinya berjalan.

Ku lihat didepan gerbang, Farel masih saja belum ke parkiran. Padahal Aku yakin, pasti dia sudah ditunggu Ibunya disana. Oh iya, Aku belum bilang kalau Ibunya juga bekerja disini. Dan satu devisi juga.

Aku bimbang, kalau ngga disapa kok kenal. Kalau disapa, di depan sana banyak orang yang satu devisi denganya.

"Sapa aja deh Mbak Yun," kata Mbak Rahmi yang tau. Aku mengangguk mengiyakan. Akhirnya Kami berdua berjalan. Baru saja mau menyapa, Farel juga ikut berjalan. Aku dan juga Mbak Rahmi berjalan di belakangnya. Bisa ku tebak, hak sepele kaya gini yakin banget mesti bakal jadi gosip.

Seperti dugaanku, Mbak Reni yang tau Aku berjalan di belakang Farel. Langsung saja menyoraki Aku dan juga Farel. Sontak saja itu membuat banyak orang langsung mengalihkan pandangannya kepadaku. Padahal disitu tidak cuma berdua, ada Mbak Rahmi juga.

"Diemin aja Mbak. Mereka bisanya emang cuma melihat dan langsung menjudge tanpa mempertanyakan. Tapi Aku yakin, sekalipun diberi penjelasan pun ngga bakal pada percaya." Ujar Mbak Rahmi kepadaku dengan keras. Mungkin tujuannya agar Aku tidak down menghadapi ini.

Dan mulai dari sini lah, terjadi sesuatu yang tidak kuinginkan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!