REMINDER [ CERITA HARIAN ]

Kembali ke cerita Farel.

Setelah Aku dan Farel pernah jalan satu kali. Entah kenapa semakin kesini semakin kesana. Jadi maksutnya, biasanya Farel akan tidak masalah ketika Aku membalas pesannya tidak tepat waktu. Sebelumnya, juga ngga pernah menuntutku seperti itu.

Jika dia seperti itu, pikiranku mulai kemana mana. Karena Aku tau, mesti ada orang yang mempengaruhinya kan? Tentu saja Aku tau tanpa menyebutkan. Meski kesannya seperti menuduh, tetapi Aku tetap memastikan pada Farel juga. Yuk diintip,

Farel

- Dek, kamu kenapa sekarang jarang on? -

Yuna

- Males bawa hape-

Farel

- Kenapa coba? Aku ada salah?-

Aku kian bingung kala Farel bilang seperti itu. Namun tak lama Aku baru paham apa yang di maksut.

Yuna

- Kenapa? Ningrum bilang apa sama kamu?-

Farel

- Kok Ningrum sih?-

Yuna

- To the point aja Rel, Aku ngga bisa berbasis basi. Aku kenal kamu, dan Aku lebih kenal Ningrum. Apa yang dia bilang padamu sampai kamu kaya ketakutan gitu? -

Farel

- Engga kok ngga bilang apa apa -

Yuna

- Baiklah, Aku ngga maksa. Tapi jangan harap Aku bakal ngga tau.-

Farel

- Ya udah iya, jadi Ningrum bilang kalau kamu pulangnya sering bareng sama Rizal. Emang benar? Apa hubungannya kamu sama Rizal?-

Sudah kuduga ini akan terjadi. Ah mulut mulut lemes memang berbeda, tapi Aku sangat suka ketika jadi bahan gosip, mengurangi dosa hahah. Apalagi yang ngga tau apa apa tapi memaksa tau apa apa.

Yuna

- Kamu kenal Aku berapa lama?-

Farel

- Setahun lebih -

Yuna

- Terus apa yang kamu tau tentangku selama kenal Aku? -

Farel

- Banyak sih, susah diajak main terus ngga pernah mau kalau dimintain pap, ngga mau mengumbar hal pribadi dan masih banyak lagi -

Yuna

- Lha itu tau kenapa masih nanya? Terkait Rizal, dari pertama dia pindah ke devisi sini yang ngajarin itu Aku. Disini juga laki semua, dan hanya aku yang perempuan, kamu tau hal itu kan? Ngga lupa juga kan? Rumah dia juga se arah sama Aku, kita juga pakai motor sendiri, terus Aku sama Ningrum juga. Dimana letak barenganya? Kali pun dia ada dibelakang mengawalku itu ya terserah dia, dia juga punya tujuan pulang kok. Kenapa kamu yang repot repot ngurusin dia? Gini nih kalau manusia suka dengerin dari satu orang terus percaya gitu aja.-

Aku sudah terlanjur sebal.membaca pesannya yang semakin melantur kemana mana.

Farel

- Ya udah maaf ya, Aku salah.- Aku mendengkus, rasanya jadi malas. Harusnya Ningrum jangan membuat beria hoaks seperti itu kepada Farel, jatuhnya malah memfitnah diriku. Apalagi hal ini terjadi tidak cuma sekali dua kali, namun berkali kali.

Yuna

- Iya, lain kali tolong tanya padaku langsung, jangan pakai perantara. Karena jika pakai perantara sama saja sudah dikasih bumbu, tentu saja kamu menikmatinya yang malah menjadikan kamu sendiri gelisah.-

Farel

- Iya paham-

Setelah itu, Aku menutup ponselku. Rasa kesal belum hilang seiring beberapa menit kedepan. Aku yang jarang marah, ataupun tersinggung yang benar benar tersinggung, jika sudah seperti ini akan kebawa sampai keadaan hatiku normal.

Memang kesannya seperti anak kecil. Namun Aku juga butuh seseorang yang bisa mendengar keluh kesah ku jika keadaan seperti ini. Biasanya Aku akan membaca novel guna menaikkan moodku kembali. Namun Aku tidak bisa berjanji akan mood baik kepada orang yang sama jika sudah membuatku seperti ini.

*****

Sehari berikutnya, Aku menceritakan Farel yang seperti itu kepada Mas Wahyu. Baru kali ini, Aku menemukan sosok teman yang benar benar teman.

Bukan teman yang saling menjatuhkan tentunya. Tapi dalam pertemananku kali ini dengan Mas Wahyu kali ini, meskipun dia sering menjatuhkan tetapi jika sedang mode serius, sarannya benar benar masuk.

Dan juga meski terkesan kasar, Aku paham memang itu sifatnya karena Aku dan juga dia memiliki kesamaan entah dalam masalah keluarga, dll.

"Mas, tau ngga?" Tanyaku membuka obrolan sembari tangan tak lupa bekerja. Ohiya, disini kerjaanya sambil ngobrol atau salto sih boleh saja asal kerjaan beres. Begitu kata Mas Wahyu dari ketika Aku masuk sampai sekarang.

"Ya engga to Ndro, kan kamu belom bilang."

"Pas Minggu kapan itu si Farel tiba tiba ke rumahku." Kataku lirih, agar tak ada yang mendengar selain kami berdua.

"Hah? Seriusan?" Refleks Aku menabok.

"Iyaa Massssssss, tapi ngga usah teriak juga kali. Itu si Rizal sama Pak Danang jadi ngeliain kan." Aku misuh misuh yang hanya dibalas tertawaan oleh Mas Wahyu.

"Ngapain dia kerumahmu?"

"Dia ngajak main,"

"Terus Kamu mau?"

"Ya gimana lagi Mas, dia aja tiba tiba chat kalau udah di depan rumah. Mana waktu itu posisinya Aku lagi di pasar bersama temanku. Terus masa Aku ngga menemuinya? Kasian jauh jauh dari kota ke desa."

"Lah, sama aja berati kalau gitu. Kamu bilang ngga suka sama dia tapi kamu mengiyakan ajakan doi."

"Soalnya dia udah pamit sama Ayah dan Ibu mas huwaaaaaa. Alhasil, aku jadi keluar sama dia."

"Gini deh, dia berapa kali ke rumahmu?"

"Dua kali, dan itu semua juga tiba tiba. Aku ngga tau itu emang disengaja atau memang beneran mampir."

"Dia itu masih bocil, terus kenapa dulu kamu respon?"

"Kan Aku ngga enak, apalagi satu kerjaan gini. Nanti dikira sombong."

"Lah, kalau Aku jadi kamu sih, bodo amat mau dikira sombong apa sombong beneran. Lagian, selagi itu ngga menguntungkan kenapa harus direspon?" Aku terdiam mendengar petuah petuah dari yang lebih suhu disini.

"Iya sih mas,"

"Terus kamu apain lagi?" Tanya Mas Wahyu lagi.

"Kemarin Aku marah marah hehe. Abis Aku sebel banget Mas, Aku ngga suka kalau ada gosip tentangku mending tanyakan langsung padaku, daripada dari sumber yang ngga valid. Paham ngga Mas siapa yang Aku maksut?"

"Haha, palingan ya si Ono noh. Tetanggamu kan?"

"Cakep," Aku tersenyum puas karena tebakannya selalu benar. Aku suka sekali punya teman se frekuensi seperti ini. Real dan apa adanya tanpa cari muka pada siapapun. Jika iya ya iya, tidak ya tidak.

"Teman kaya gitu, harusnya dijauhi Ndro. Tapi Aku paham posisi kamu disini, selain orangtuanya itu teman dekat keluarga kamu, jadi mau ngga mau kamu harus bertahan jika ingin bebas. Lingkungan toxic kaya gitu harus dijauhi, kita masih muda Ndro, kita juga harus melihat ke luar. Teman itu ngga harus dari sini semua. Sampai sini paham?"

"Paham mas, terus itu masalah Farel gimana?" Tanyaku lagi dengan polos, ku lihat Mas Wahyu greget sendiri melihatku. Aku tertawa melihatnya, sungguh melihat dirinya marah marah itu lucu banget, bahkan sering banget Aku digodain Pak Danang gini,

'Si Indro kesayangan Mas Wahyu sukanya buat marah Mulu. Masalah rumah tangga nanti bahas dirumah' biasanya seperti itu.

"Buang rasa ngga enak, itu hak kamu sendiri, jangan lembek jadi wanita, nanti dimanfaatin baru tau kamu. Itu aja saranku." Aku membenarkan ucapannya.

"Kok kamu paham Mas ginian?" Tanyaku iseng.

"Lho, kamu ngga tau kalau Aku ini aslinya GM" ujarnya bangga.

"GM? Germo maksutnya kan?" Dia tertawa ngakak mendengar ucapanku.

"Weh, bener banget. Titisanku ini mah, kamu jangan lupa berguru padaku, suatu saat kalau Aku resign ada yang meneruskan bakatku." Astaghfirullah, pembiacaraan macam apa ini, namun Aku tetap menikmati. Sistem bercanda kami memang berbeda. Mungkin yang baru akan tetap menganggap serius.

'Terimakasih sudah mengajarkan Aku cara berfikir yang benar, jangan menyesal mengenalku :)"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!