Tentang Rizal, Akan ku deskripsikan dirinya selama ku kenal. Untuk nama lengkapnya Aku tidak bertanya. Karena Aku cuek banget terkait hal gituan dan yang penting nyaman dalam berteman.
Dia salah satu dari beberapa pekerja freelance diperusahaan ini. Dan kebetulan sekali, dari Rizal masuk ke perusahaan ini dirinya membantu di devisiku. Hanya berbeda ruangan.
Aku yang terlalu cuek dengan keadaan sekitar, membuat Rizal kepo denganku. Dirinya bercerita jika berpapasan di jalan, dirinya seperti tidak asing denganku.
Dari situ, mengalirlah pertemanan kami. Begini ceritanya,
Saat itu, produktivitas produk di devisiku sedang melonjak tajam. Kami semua yang disini tentu saja kuwalahan dengan permintaan yang segitu banyaknya dan harus saat itu juga menjadi barang jual.
Mas Wahyu bertanya padaku,
"Ndro, freelance yang dulu pernah disini sekarang masih ada ngga?"
"Kayanya masih Mas, tapi cuma tinggal si Rizal aja kayanya."
"Rizal itu yang mana?"
"Itu lho Mas, yang orangnya kecil,"
"Tau ah, ngga tau. Kita ambil itu aja gimana menurut kamu?"
"Boleh Mas, lagian kalau mau minta orang baru sama aja harus ngajarin lagi. Mending yang udah tau kerjanya aja."
"Oke deh, satu apa dua kira kira?"
"Ya secukupnya to Mas. Kalau dari atasan targetnya harus selesai, berati kan mintanya ngga cuma satu. Ambil aja juga temannya Rizal itu."
"Ide bagus."
Akhirnya, Rizal menjadi bagian dari devisiku. Dengan salah seorang temannya juga.
Ku perhatikan, Rizal itu orangnya agak pendiam bagi Aku yang pecicilan. Ataukah hanya Aku yang belum mengenalnya saja? Sepertinya memang begitu.
"Ih Zal, ayo dong ngobrol. Masa dari tadi diem aja." Kataku padanya yang sedang anteng.
"Ha hoo tuh Zal, kamu disana aja banyak ngobrolnya masa disini diem." Celetuk Catur, salah satu freelance juga yang di pinjam.
"Ngomong apa sih Tur, Aku kan emang pendiam."
"Halah jangan malu malu, jangan terlalu serius gitu."
"Engga ah."
"Tuh Mbak Yun, minta digodain tuh." Kata Catur tertawa,
"Jangan mau Mas Rizal, nanti kamu ikutan binal kaya Indro lho " Mas Wahyu ikut mengompori.
"Heh asem, kan Aku kaya gini juga gara gara ajaran kamu mas. Ayo kamu ngga boleh menampik hal itu."
"Ha itu Mas, benar benar ajaran kamu itu." Pak Danang ikut tertawa. Ku lihat Rizal yang sedikit salah tingkah.
"Udah deh Mbak Yun, lagian Rizal itu kalau salah tingkah lucu. Godain aja deh." Seru Catur.
"Ya elah Tur, nanti kalau kamu disana kamu cerita sama orang orang sana lagi. Aku yang repot, ngga mau lah. Rugi di Aku sama Rizal."
Setelah sedikit lama kenal dengan Catur dan Juga Rizal. Aku semakin sering suka menggodanya. Bagiku, itu terlihat sangat lucu. Hingga, suatu hari Catur berceletuk kepadaku,
"Mbak Yunaaaaaa, ini katanya Rizal mau minta nomer hape kamu nih."
"Apa Tur? Coba orangnya suruh ngomong sendiri." Kataku.
"Itu Zal, minta sendiri boleh tuh." Dengan malu malu, Rizal bilang,
"Minta nomernya Mbak, sama sekalian Mas Wahyu juga ngga papa."
"Yakin sama Mas Wahyu juga?"
"Sebenarnya engga sih haha, cuma basa basi."
"IDIHH udah ketebak." Kataku
"Yaudah nih, boleh. Tulis aja." Lanjutku lalu ku sodorkan ponselku ke arahnya. Dan langsung segera di salin.
"Nih, makasih ya. Nanti kalau Aku inget Aku tc."
"Oke deh " Aku mengiyakan.
Setelah hampir satu bulan kenal. Ku perhatikan, Rizal itu benar benar masih polos jika dalam urusan hati atau sebagainya. Bisa di lihat juga sih dari sikapnya yang terkadang suka serius. Aku dan Rizal selisih dua tahun.
Dia itu lucu, menggemaskan. Kalau ku jahili sering marah marah. Mirip sekali dengan adik lelaki ku.
Aku suka mengacak rambutnya, suka juga godain dia. Seru aja gitu lihatnya. Tapi yang ku takutkan kalau suatu waktu akan baper hehe.
Seiring waktu berjalan. Tiba tiba Aku mendengar kabar burung, yang katanya Aku dan juga Rizal punya hubungan.
'Hah? Hubungan apaan? ' dalam hati Aku bertanya tanya. Semakin lama kabar itu semakin menyebar. Sebenarnya Aku sangat risih mendengar itu, namun yang menyebarkan berita hoaxs itu punya niat yang benar benar.
Aku sudah mengetahui siapa sebenarnya, namun ku tunggu orang itu datang dan bilang sendiri meski Aku tidak yakin.
Yang buatku kasihan itu Rizal sendiri. Dia baru di dunia kerja, sekalinya bekerja mendapat gosip yang tidak enak. Dan sampai di cegat dari devisi lain, hanya cuma ingin mengintrogasi antara Aku dan denganya.
Hal seperti itu benar benar tidak mutu sama sekali. Kenapa orang orang semakin dewasa seperti anak kecil? Apakah otaknya sudah geser?
Mereka seperti tidak punya pendirian. Dulu, sebelum ada gosip antara Aku dan Rizal beredar, dijodohin dengan Farel. Sebenarnya mau mereka itu apa? Manusia yang hanya bisa menghakimi tanpa mau mendengarkan dari yang bersangkutan.
Aku mencoba memberi pengertian Rizal.
"Zal, kalau disana nanti kamu digodain, biarin aja. Ngga usah ditanggepi. Mereka semakin ditanggapi semakin suka Menurut mereka emang bercanda, tapi bercandanya ngga lucu. Kesannya malah menjatuhkan."
"Tenang Mbak Yuna, Aku sudah mempersiapkan jawaban kalau ditanyain "
"Ya udah kalau gitu, Aku nurut jawaban kamu aja. tetapi jangan lupa cerita kalau ada apa apa, Aku ngga mau kamu nanggung sendirian." ucapku dengan pelan kepadanya
"Biar kamu tau gimana busuknya orang orang sini." lanjutku lagi. Dia hanya tertawa mendengar gurauanku.
Kurasa, cukup segini dulu deskripsi tentang Rizal. Jadi, sudah tau kan siapa itu Rizal?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments