Terlihat di teras rumah, ada Ayah, Ibu dan juga Kakakku. Ku ajak Farel agar tak berada diluar.
"Ayo, sini aja ngga papa."
"Bentar, tak naruh motor dulu." Balas Farel.
"Kamu kalau mau masuk nonton tv sana dek Nisa boleh Fah."
"Emang Nisa ga tidur?" Tanya Hanifah.
"Itu kata Mbak Fitri lagi nonton Doraemon."
"Yaudah Aku masuk ya. Pakde, bude, Aku ijin masuk ya." Kata Hanifah lagi.
"Iya Nif, masuk aja. Kaya sama siapa aja padahal." Balas Ibu dibalas Hanifah dengan tertawa kecil lalu berjalan masuk ke rumah.
Kembali ke Farel,
"Hallo Bu, Pak. Saya Farel, temanya Yuna."
"Oh iya ya mas, saya Ayah Yuna. Rumahnya dimana mas?" Tanya Ayah.
"Saya dari kota C,"
"Kota C? Sama pasar? Atau terminalnya?"
"Wah kalau sama itu, Deket banget. Lebih ke pabriknya."
"Jauh jauh sampai kesini. Udah di niati ya?" Tanya Ayah lagi, membuatku tersenyum kecil mendengar ucapannya. Kulihat Farel salah tingkah mendengar itu.
"Hehe iya Pak,"
Sebelumnya, ku tinggal mandi sebentar. Ku biarkan Farel duduk atau sekedar mengobrol dengan Hanifah atau Ibu.
Sekitar pukul 11.00, Kembali ku hampiri Farel yang ternyata sudah duduk di ruang tamu.
"Rel, emang kamu mau ajak Aku kemana sih?"
"Maunya kemana? Pantai?"
"Pantai? Heh ini tuh udah hampir tengah hari. Yang ada Aku jadi kerupuk di jalan." Aku menggerutu kesal.
"Ya salahnya tadi kenapa ngga sekalian pagi aja."
"Mas Farellllll, ayolah. Kan dari awal juga sebelumnya Aku udah bilang kalau belum siap menerima tamu lelaki. Apalagi itu satu kerjaan, sama sebelah rumah itu rumah Mas Putra sama Ningrum juga."
"Iya iya maaf, jadi gimana ini?"
"Aku ajak Hanifah juga tapi? Aku ngga kebiasa main sama lelaki berduaan."
"Hmmm, coba aja dulu tanya orangnya mau ngga."
"Tenang saja, kalau dia mau biar sama pacarnya lah."
"Iya iya sana coba dulu tanya, atau panggil orangnya kesini." Aku mengangguk setuju.
Ku coba bertanya kepada Hanifah,
"Fah, mau main ngga?"
"Main? Kemana Yun?"
"Tuh, tanya aja orangnya mau kemana." Jawabku melongokkan kepala ke arah Farel.
"Mau kemana Mas?" Tanya Hanifah.
"La Aku manut kalian kalau pun jadi."
"Coba deh tanya temenmu yang laki, ada yang mau di ajak main ngga." Balasku.
"Bentar ya, coba tak chat dulu." Aku mengiyakan, lalu setelahnya Hanifah mulai sibuk dengan ponsel ditangannya.
Aku bimbang, disisi lain Aku malas bermain. Apalagi ini teman satu kerjaan, jika ada yang tau bisa bisa gosip akan tetap menyebar. Mengingat di desaku yang satu kerjaan banyak banget.
Tapi Aku juga tak tega jika harus menolak, Dia sudah datang jauh jauh ditolak begitu saja.
"Gimana Fah,?" Tanyaku
"Ini semuanya pada ngga bisa. Ada satu, tapi ngga ada duit katanya." Jawab Hanifah tertawa.
"Duh, gimana ya. Masa ngga ada sih Fah?" Kataku memastikan lagi.
"Seriusan, kalian berdua aja deh. Kalau sama kitanya kan bisa direncanain lagi besok." Aku mengangguk dengan rasa kecewa.
"Yaudah ayo berangkat Rel, mau kemana sih emang?" Moodku sedikit turun karena hanya berdua.
"La kamu maunya tadi kemana? Pantai? Atau hutan pinus?"
"Sshh Aku mah manut aja " jawabku singkat.
Akhirnya jadinya cuma berdua, ku lihat Ayah dan juga Ibu di depan rumah. Aku berpamitan pada mereka.
"Yah, Bu, Yuna mau main sebentar ya." Kataku sambil menyalami keduanya.
"Iya, pulangnya jangan malam ya." Pesan Ibu.
"Iya Bu " balasku lalu berlalu.
"Farel juga pamit ya Pak, Bu. Maaf Yuna saya pinjem duluan."
"Iya nak, ingat jangan malam pulangnya."
Aku, dan juga Farel kemudian berangkat. Ahhhh, ini sungguh tak pernah terpikirkan olehku. Jika ada teman satu kerjaan mengajak main. Tentu saja sejujurnya juga tak mau. Tapi demi menghargai ya sudah deh.
"Ini jadinya mau kemana ayo?" Tanya Farel tiba tiba membuyarkan lamunanku.
"Manut, kamu kan yang ngajak."
"Hutan pinus aja? Mau yang mana?"
"Manut, Aku ngga tau, ngga pernah main."
"Oke deh, bentar ya tak cari maps dulu. Soalnya Aku lupa jalan." Aku iyakan saja ucapan itu.
Akhirnya, Farel memutuskan ke hutan pinus yang ketiga. Karena ada tiga pilihan, sedangkan Aku hanya iya iya saja.
Kurang lebih, sekitar hampir satu jam perjalanan sampai juga di tempat. Karena mengingat jarak dari rumahku memang terlalu jauh ke tempat itu. Berbeda jika dari rumah Farel.
"Mau ngopi dulu atau jalan? Atau kamu mau foto foto? Biar nanti Aku yang fotoin kamu." Tanya Farel kepadaku.
"Engga, Aku ngga suka foto. Kamu aja?" Dia juga menggeleng tidak mau.
"Cari kopi dulu? Terus nanti cari tempat buat dudukan." Aku iyakan ajakanya.
Disana, ada satu kedai yang cukup ramai. Aku, dan Farel memilih menu guna menemani teman ngobrol.
"Cari dudukan yang situ yuk?" Ajak Farel.
"Yaudah Ayo, tapi disana itu lumayan sepi lho?" Tanyaku.
"Ngga papa, biar nanti ngga kejauhan kalau mau ngembaliin gelas ini." Baiklah,
Aku berjalan mendahului, membiarkan Farel mengikutiku di belakang. Setelah menemukan tempat duduk yang enak, langsung saja Aku duduk dengan nyamanya.
Ku lihat Farel menatapku,
"Kenapa?" Tanyaku.
"Ngga papa, kamu beda ya kalau dirumah sama dikerjaan." Ucapnya tersenyum.
"Iyaaa gitu lah," balasku sekenanya.
"Kamu yakin kalau temenmu itu bisa dipercaya?" Tanya Farel
"Siapa? Hanifah? Engga, lihat aja besok, kalau sampe Ningrum tau berati dia yang omong." Balasku santai.
"Toh sekalipun tau, belum tentu dia berani bertanya padaku. Palingan juga ke kamu, secara Aku sama dia berangkat barengan terus sama orang tua kami juga dekat. Beraninya kan kalau di belakang, Aku sudah paham itu. Jadi biarin aja."
Farel mengangguk. Di sini, Aku dan Farel hanya mengobrol seputar pekerjaan, keluarga dia dan juga tentang Ningrum. Dia bercerita, kalau kakaknya sudah bercerai dengan tetanggaku. Entah apa alasannya, tapi Aku kasian dengan anaknya yang masih bayi. Karena masih kecil sudah menjadi keegoisan orang tuanya.
Akan tetapi, Aku juga tidak bisa mendakwa jika itu keegoisan orang tuanya. Bisa jadi ada masalah internal, antara orang tuanya juga? Ah sungguh rumit, Aku cukup mendengarkan dan cukup tau saja. Lagian itu juga bukan urusanku.
Farel juga bercerita tentang Ningrum. Bahwa Ningrum selalu mendesak jika Aku dan Farel ada hubungan. Jujur, Aku sebal mendengar itu. Karena itu sama saja menebar fitnah kepadaku. Akan tetapi, selagi dia tidak bertanya kepadaku langsung, Aku membiarkannya. Karena kalau tiba tiba mempertegas hal itu tanpa dia bertanya, sama saja Aku masuk perangkap. Dan Aku tidak mau hal itu terjadi padaku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments