SELINGAN

Hari ini hari Sabtu. Perusahaan di sini tidak memakai sistem kerja lima hari. Tetapi sebagai gantinya hari Sabtu pulang lebih awal. Yaitu jam tiga sore. Lumayan lah masih bisa menikmati senja. And then, kebetulan banget cuaca hari ini benar benar cerah.

Langit biru yang benar benar tanpa noda putih sedikitpun, membuatku selalu kagum akan ciptaan Tuhan yang sangat cantik itu. Apalagi jika sore menjelang Senja telah tiba. Aku akan sangat betah menikmati pemandangan itu.

Karena, cuma Senja yang memberikan warna bagi hatiku. Aku tau, meski Senja hanya datang sementara namun Aku tau dia pasti akan datang lagi dengan caranya sendiri.

Sore ini, Aku berjalan di sekitar sawah dekat rumah. Dengan gubuk ditengah rerumputan dan sebuah pohon yang cukup rindang menjadi pilihanku saat ini. Dengan duduk dibawahnya, dan sinar Senja itu akan tetap terlihat.

Aku terduduk, terdiam. Tertegun, ingatanku seketika melayang ketika Kakaku lebih menganggap Temanku, sedangkan Aku yang sebagai Adiknya tidak di hiraukan sama sekali.

"Fah, nanti ke pasar malam yuk. Ajak pacar kamu juga. Biar nanti Adekmu, si Ikhwan sama Si Budi." Kata kakakku. Fitri namanya.

"Iya nanti deh Mbak, Aku belum bilang sama Mas Riyan juga soalnya.",

"Halah paksa aja nanti mesti mau deh."

"Iya nanti gampang lah, btw Yuna ga diajak Mbak?"

"Ngga usah, dia mah susah kalau diajak main." Katanya lagi, bahkan Aku saja belum ditawari kenapa sudah diputuskan kalau Aku tidak mau?.

Jujur saja, ini bukan kali pertama Aku dibuat begini oleh Kaka Fitri. Bahkan dulu waktu Aku masih sekolah, pernah tidak dianggap sebagai Adiknya dan hanya Budi yang diperkenalkan.

Waktu itu Aku shock, namun Aku berusaha diam tak menggubris. Aku anggap itu hanya candaan juga. Akan tetapi, saat itu Aku hanyalah anak kecil yang masih labil, tentu saja hal kaya gitu akan tetap terngiang dan tersimpan di otak.

Apa salahku? Apakah Aku pernah meminta sepeserpun uang hasil kerjanya? Jawabannya tidsk pernah. Namun, kenapa sampai saat ini Dirinya berkali kali menamparku dengan kekecewaan? Sebenarnya Aku ini Adiknya atau bukan?

Aku bukan perhitungan dengannya. Namun dirinya sendiri yang membuatku harus seperti itu.

Apa Aku salah jika ingin di hargai? Disini posisiku seperti tidak ada harganya dimatanya, ingin di hargai namun tak pernah menghargai.

Aku tidak marah ketika ingin mengajak manusia lainnya, berusaha berfikir positif. Setidaknya juga hargai Aku sebagai Adik, masalah mau ikut apa tidak itu bukankah yang terpenting sudah ditawari,? Ah mana mungkin Kak Fitri berpikir sampai kesitu, hehe. Aku aja sangsi.

Hal seperti ini sudah berkali kali terjadi padaku.

Ketika sang suami tengah pulang dari kerja, pulang membawa makanan. Aku yang saat itu sedang bersama Budi, diluar rumah saling menatap.

"Dek, tebak itu si Mas bawa apa?"

"Bodo amat mbak, ga ngasih kok." Jleb, jawaban Adik lelaki ku itu sangat tepat sasaran.

Sebenarnya, dia juga mempunyai sifat pelit itu menurun dari siapa? Tolong Mbak, kalau tidak memberi Adekmu, setidaknya ingat Adekmu yang bungsu. Disitu Aku rasanya pengen nangis guling guling, pengen teriak seperti ini,

'DIMANA HATIMU MBAKKK DIMANAAAA'

Ah sialan, kenapa harus bercerita sampai sini sih. Kan Aku jadi flashback hehe.

Kembali ke cerita.

Senja pergi, Aku pulang. Ku tanya Ibu yang kebetulan sendirian diluar.

"Bu, Yuna mau nanya."

"Apa Yun?"

"Mbak Fitri bilang mau ke pasar malam ngga? Atau mengajak Budi gitu ngga?"

"Kalau Ibu kurang tau sih Yun, tapi kata keponakan kamu tadi sih iya."

"Hmm gitu ya Bu." Ibu hanya mengangguk, lalu setelahnya kembali bertanya lagi.

"Kamu diajak ngga?", Aku terkekeh geli mendengarnya

"Sejak kapan Yuna pernah diajakin Mbak main Bu? Bahkan dia lebih memilih sama temenku ketimbang Adiknya sendiri "

"Yaudah ga papa, sama temenmu yang mana? Ningrum apa Hanifah?"

"Itu, si Hanifah sana pacarnya. Ngga tau kalau Ningrum."

"Yun, Ibu harap kamu jangan seperti kakakmu yang ngga perduli sama Ayah dan juga Ibu. Perkara ngga diajak main itu bukan masalah, yang terpenting rasa peduli kamu." Oh sialan, rasanya air mata ini ingin menetes saat ini juga, namun sebisa mungkin Aku tahan. Aku tidak mau terlihat lemah di mata Ibu.

"Insha Allah Bu, doakan Yuna agar selalu bisa memberi Ibu meski sedikit."

"Aamiin nak, doa Ibu selalu menyertaimu."

"Tapi Bu, apakah Yuna pernah meminta sesuatu pada Kakak? Bahkan jika anaknya meminta yang tidak dikasih aja Yuna selalu berikan, kenapa cuma hal sekecil ini Kakak ngga pernah mau mengajak Bu? Jujur Yuna sudah terlalu sering dibuat kecewa sama kakak. Tapi.....

Ucapanku terputus, suaraku sedikit bergetar menahan gejolak kecewa yang teramat sangat.

"Tapi kakak dengan teganya bahkan seperti tidak menggapku. Apakah Aku ini terlihat memalukan kalau diajak Bu? Atau kakak yang malu denganku karena Aku lebih bisa menyenangkan daripada dirinya?" Kulihat Ibu terdiam, mencerna kalimatku.

Jujur, Aku sudah sangat muak. Apalagi jika menyangkut hal makanan, Kakak lebih memilih makan ditempat terbuka, seperti tepat di depan tv. Meski ada Adik bungsunya, apakah pernah ditawari? Tentu saja tidak.

"Tolong Bu, bilangin ke Kakak. Kalau tidak ada rasa peduli, tolong hargai saja Yuna sebagai Adiknya. Atau buat Kakak, Yuna itu orang lain? Itu lebih menyakitkan daripada tidak dipercaya apalagi keluarga sendiri."

"Maaf ya Yun, Ibu kurang tegas dalam mendidik anak anak Ibu " kata ibu pelan.

"Ini bukan perkara salah Bu. Yuna benar benar sudah muak. Dan Yuna sebenarnya ngga mau cerita hal ini, tapi Yuna terlanjur kecewa yang kesekian kali. Maaf jika Yuna terkesan marah marah."

Aku berlalu meninggalkan Ibu guna masuk kamar. Aku berjalan menunduk, takut ada yang menyadari jika saat ini muka ku pasti memerah.

Aku berusaha tak peduli dan mencoba tidur. Dan hal itu akhirnya berhasil.

Namun ketika esok kembali menyapa, mood kembali hancur. Ketika Ningrum bertanya hal semalam, dari story mereka semua.

"Yun, kamu tadi malam ga ikut sama Mbak Fitri? Sama Hanif juga?"

"Hehe engga Ning, Aku mengantuk soalnya." Ningrum hanya ber oh ria. Sedangkan aku kembali kesal.

"Bagaimana jika itu terjadi pada kalian? Ada namun tidak dihargai? Terlihat nyata namun seperti tak nampak?"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!