Setelah insiden salah paham waktu itu. Aku harus menanggung Bullyan dari teman teman Farel, dan bahkan juga temanku sendiri, Ningrum. Untung saja Aku tidak satu ruangan sama mereka, dan hanya sekali seminggu satu kerjaan sama mereka.
Akan tetapi, tetap saja mereka seperti menjodohkan Aku dan juga Farel. Pupus sudah harapanku untuk bekerja tenang.
"Cieeee berangkatnya barengan ya sama Farel, uhuy." Aku sebenarnya mau tidak menggubris hal itu, tetapi semakin lama mereka malah semakin menjadi. Jujur, Aku semakin tidak nyaman. Dalam hati Aku berkata 'Ngga lihat rumah kita beda jauh, barengan gundulmu itu.' Sebenarnya Aku kesal tetapi kalau ku tanggapi semakin kesana kesini.
Sebenarnya, semakin kesini Aku tau jika Farel itu ada ketertarikan denganku, namun Aku tidak mau percaya diri dulu, karena bisa jadi itu salah kan? Farel itu sering mengajakku bermain. Atau sekedar main kerumah. Tapi Aku selalu menolak hal itu.
Disini, Aku niatnya hanya ingin bekerja. Bukan cari lelaki. Dan ada sifat yang ngga Aku suka juga dari Farel. Ketika Aku membalas pesannya lama, dirinya akan protes. Akan tetapi giliran dirinya yang seperti itu, Aku akan diam. Karena Aku tau dan juga sadar, itu hak nya dia dan Aku tidak memaksa apapun. Dan Aku juga tidak suka ketika dipaksa telepon.
Iyah, disini Aku yang belum bisa tegas terhadap apapun. Jika ketika ada yang membully sebelum Aku benar benar muak, tetap ku diamkan. Akan tetapi jika sudah terlalu muak, mau ngga mau harus tegas. Karena hal seperti itu jika tetap dibiarkan akan merusak.
Hari ini, Aku dan Hanifah ke pasar. Saat sedang berada di kedai soto, tiba tiba notifikasi dari aplikasi hijau membuatku mau tidak mau membuka itu.
Tertera nama Farel disitu,
Farel
- Dek, Aku udah sampai di daerah kamu lho -
Aku terperanjat kaget melihat pesan itu. Di satu sisi Aku malas, namun kalau tidak ditemui kok rasanya jahat sekali. Apalagi Aku bersama Hanifah,
"Fah, ini temenku masa tiba tiba udah ada didepan rumah."
"Temenmu siapa Yun? Kerjaan?"
"Iya Fah, lebih tepatnya temennya Ningrum sih."
"Terus gimana? mau disuruh nyusul kesini apa mau nunggu dulu?"
"Biarin nunggu aja deh. Oh iya, jangan bilang sama Ningrum ya kalau semisal dia kesini " Aku mewanti wanti Hanifah, karena Dia itu orangnya ember dan susah dipercaya. Maka dari itu, jika nantinya akan ada gosip di perusahaan. Sudah dipastikan jika itu dari Ningrum yang berasal dari Hanifah.
"Tumben banget ada yang main kerumah Yun?"
"Ih asem, ngeceeee yang udah sering ada yang dateng mah beda yaaa."
"Hehe"
"Ini tuh sebenarnya Aku udah menolak berkali kali. Tapi entah kenapa hari ini malah beneran sampai ke sini "
"Yaudah ngga papa. Udah gih, balesi itu nanti keburu nungguin." Aku mengiyakan sembari memakan soto yang tadi ku pesan.
Yuna
- Weh kenapa seriusan sih?-
Tak butuh waktu lama, Farel kembali membalas.
Farel
- Kapan coba Aku ngga serius?"-
Aku mengusap wajahku kasar, jujur saja Aku belum siap jika dirumah ada lelaki main.
Yuna
- Yaudah yaudah tapi Aku masih di pasar. Mau ditunggu apa nyusul kesini?" tanyaku
Farel
- Jauh ngga kira kira?-
Setelahnya ku share lokasiku saat ini.
Hanifah menatapku slalu bertanya,
"Gimana Yun?"
"Katanya mau kesini Fah kalau ngga nyasar." Hanifah mengangguk.
Tak lama ponselku bergetar lagi. Dari Farel lagi.
**Farel
- Dek, sampai mana? ini Aku ada dirumah makan dekat jembatan.-
Yuna
- Iya ini Aku udah selesai makan, Aku yang kesitu apa mau ditungguin?-
Farel
- Sebentar-
Yuna
- Yaudah Aku otewe ya. Tapi Aku lagi sama temenku juga. Aku tunggu di jembatan aja. Kamu kalau lagi makan habisin dulu aja, ngga usah buru buru. Kamu hafal motorku kan**?"
Setelah Farel membalas 'Ok' Aku segera mengajak Hanifah untuk jalan.
"Temenmu jadi nungguin dimana Yun?" tanya Hanif
"Dia lagi makan di rumah makan Deket jembatan Fah, tau kan?"
"Ohiyaiya tau kok,"
"Kita tungguin ada di jembatan gimana Fah menurutmu?"
"Aku sih ngga masalah ya."
Kami berdua akhirnya melakukan sepeda motor pelan pelan. Kulihat memang dir rumah makan itu ada Farel. 15 menit Aku menunggunya. Aku sebenarnya tidak suka menunggu, tapi gimana lagi hehe.
"Biasa aja kali mas lihatnya mas" ledekku pada Farel.
"Hehe beda sih kamu sama di kerjaan." Aku tertawa mendengar ucapannya, begitu pula dengan Hanifah.
"Mau ikut Aku pulang apa jalan jalan dulu?" tanyaku.
"Ajak jalan jalan aja duku deh Yun mendingan." kata Hanifah.
Aku menimbang saran Hanifah. Tapi Aku malas sekali jika harus jalan dulu
"Pulang aja deh,"
"Yaudah, Ayo Rel. Ikuti aku aja ya. Nanti kita akan lewat jalan berbeda biar ngga lewat rumah Ningrum."
"Aku manut aja." Jawab Farel.
Akhirnya setelah menimbang, Aku memilih untuk pulang. Aku lebih memilih ke jalan yang berbeda agar nantinya tidak lewat rumah Ningrum. Lagian, tetap saja Aku tidak percaya jika nantinya Hanifah tidak memberi tau Ningrum. Jadi untuk sementara menghindari itu dulu.
"Aku belum siap jika ada lelaki dirumahku, karena Aku belum bisa memberikan kebahagian orang tuaku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments