Maghrib mulai datang. Sementara Aku dan juga Farel masih di perjalanan menuju pulang. Jujur, Aku takut jika kena marah. Karena pergi dari sebelum jam dua belas dan pulang malah tengah hari.
Sebenarnya dari jam empat, Adekku sudah memberi tahu kalau Aku dicariin, kenapa belum pulang. Tentu saja orang tuaku khawatir, apalagi selama ini Aku tidak pernah keluar atau main bersama lelaki. Dan baru kali ini.
Di perjalanan, hatiku benar benar gelisah. Jantungku berdegup kencang. Berkali kali Farel bilang bahwa dia juga takut.
"Ini seriusan ngga papa pulang jam segini?"
"Ngga papa, meski udah hampir setengah tujuh ini."
"Jajan dulu ya? Atau makan gitu?" Tawar Farel.
"Engga usah, ini udah hampir benar benar malam. Apalagi baru hujan gini. Nanti tambah lama." Aku berkata dengan keras sebelum Farel benar benar membelokkan motornya lagi guna lanjut jalan. Sebenarnya Aku merasa bersalah, namun ini benar benar lebih darurat daripada makan.
Tepat setengah tujuh, sampai juga di rumah. Terlihat di teras masih sepi. Aku lega melihat hal itu.
"Yun, ini orang tua kamu pada di dalam?"
"Palingan iya, belum keluar tuh. Mau pamit?" Tanyaku.
"Ngga usah ga papa kali ya? Kalau lagi istirahat nantinya Aku ndak malah ganggu."
"Ya udah ga papa. Sana pulang, mendungnya benar benar udah gelap banget itu. Jangan lupa kalau tiba tiba hujan, jas hujannya dipake. Jangan nunggu sakit." Kataku.
"Iya iya, kalau gitu Aku pamit ya. Sampai jumpa besok."
Farel akhirnya pulang. Bukan maksutku mengusir, namun disini Aku juga posiinya takut jika kena marah. Meski sebelumnya sudah bilang pada Adekku kalau terjebak hujan.
Aku masuk, kucari Adekku yang ternyata dia ada di kamar.
"Dek, tadi udah bilang Ayah sama Ibu kan? Kalau Mbak terjebak hujan?" Tanyaku.
"Iya Mbak, udah tak bilangin kok tadi."
"Seriusan?" Tanyaku khawatir.
"Terus Ayah sama Ibu gimana?"
"Ya ngga gimana gimana, kan udah tak bilang kan kalau kena jebak hujan."
"Syukurlah," Aku menghela nafas lega.
"Ya udah, Mbak ke kamar dulu ya. Mbak belum berani keluar ketemu Ayah sama Ibu soalnya."
Aku berjalan kembali ke kamar. Belum siap jika ketemu Ayah ataupun Ibu dulu. Mungkin besok Aku baru berani meminta maaf akan kesalahanku ini.
*****
Pagi datang menyapa. Aku terbangun dengan kepala sedikit berat, namun seperti biasa Aku selalu mengabaikan.
Ku lihat baru jam lima pagi. Aku turun dari ranjang dan bergegas ke dapur. Biasanya jam segini Ibu masih di dapur sendirian. Jadi kesempatan ini akan ku gunakan untuk meminta maaf kepada Ibu.
"Bu, Yuna minta maaf ya." Kataku pelan. Ibu menoleh kepadaku,
"Minta maaf kenapa Yun?" Tanya Ibu lagi,
"Kemarin pulangnya malam, apalagi Yuna ngabarinnya malah udah jam lima nan gitu."
"Iya nak ngga papa, asal lain kali kalu mau main lagi mending pagi ke siang. Jangan kaya kemarin, untung Ayah' kamu ngga marah. Ngga tau lagi kalau Ayah kamu marah."
"Iya Bu, Yuna ngerti. Sebenarnya Yuna itu ngga mau main kemarin. Tapi tiba tiba Farel kemarin kesini aja tanpa bilang dulu. Mau nolak, tapi kok kayanya ngga menghargai." Ujarku serba salah..
"Iya ngga papa, soalnya ini perdana kamu main juga kan?. Orang tua mana yang ngga khawatir kalau kaya gitu coba? Mana kamu pulangnya ngga ada yang tau."
"Iya Bu, sekali lagi maafin Yuna."
"Ngga papa, udah sana kamu kalau mau nyuci. Atau mandi."
"Engga Bu, Yuna mau ngerjain kerjaan dulu bentar. Ingetin Yuna kalau udah jam setengah tujuh ya Bu."
"Yaudah sana,"
Aku kembali berjalan menuju kamar. Jujur, Aku sudah lega jika Ibu sudah berkata demikian. Mungkin karena tau Aku ngga pernah main.
Aku itu orangnya ngga suka main yang terlalu ramai, kurang minat. Tapi jika di kata kurang main? Jawabannya emang iya. Tetapi kalau disuruh keluar males kecuali jajan hehe.
Kulihat kerjaanku yang masih sedikit banyak. Uh terkadang malas menyerang gini kalau banyak, tetapi jika tidak dikerjain malah semakin menumpuk.
Dengan sedikit malas, akhirnya ku kerjakan sedikit sedikit yang penting sudah berkurang yakan? Hehe.
Setelah kurasakan sedikit lama mengerjakan, ku lihat jam di ponselku yang sedari tadi ku biarkan tergeletak.
"He udah jam tujuh aja. Cepet banget." Gumamku, lalu aku bergegas membereskan karena waktu ku cuma tinggal satu jam dari sekarang untuk kembali beraktifitas seperti biasa.
Ku ambil handuk yang tergantung. Ku lihat di dapur Ibu masih sibuk membuat sayur.
"Lho Bu, adwk udah berangkat?" Tanyaku.
"Udah palingan, kayanya udah siang. Emang jam berapa sih Yun?" Tanya Ibu lagi.
"Jam tujuh Bu, "
"Pantesan, Ibu ngga kerasa sih waktunya dari tadi."
"Kakak belum bangun Bu?" Tanyaku sambil mencomot tempe yang sudah digoreng.
"Ngga tau, Tapi itu motornya kakakmu masih dirumah. Masuk siang lagi palingan." Aku mengangguk paham.
"Terus Ayah?" Tanyaku lagi.
"Ayah ya di pasar to nduk. Kamu mau absen penghuni rumah ini apa gimana?"
"Hehe yakan daripada diem Bu."
"Udah sana mandi aja, nanti mau bawa bekal apa sarapan? Apa dua duanya?"
"Ummm Ibu masak sayur apa?"
"Itu Ibu goreng tempe sama sayur bening."
"Ah ngga mau bekal deh Bu, Yuna ngga suka sayurnya "
"Halah kapan kamu suka sayur? Ngga pernah kan?"
Aku tertawa mendengar ucapan Ibuku yang memang sangat benar itu.
"Atau mau Ibu gorengkan telur terus dikasih sambal?"
Aku menimbang tawaran Ibu, sepertinya enak nih pagi pagi makan pedes, pikirku.
"Boleh deh Bu, makasih ya."
"Iyaa, sama sama."
"Kalau gitu Yuna mandi dulu deh Bu,"
"Sana mandi, nanti keburu ditunggu Ningrum lho."
Aku berlari ke dalam kamar mandi. Takut terlalu siang, meski emang Aku aslinya suka mepet mepet juga sih hehe.
Mandi ketika hari kerja gini 10 menit cukup untukku. Setelah itu memakai serum, dan juga cream siang. Simpel banget kan? Benar sekali karena Aku suka simpel.
Ku lihat telur yang diatasnya bertabur sambal sudah tersaji. Langsung saja ku ambil nasi dan memakannya sembari rutinitas seperti biasa.
Aku itu jarang lapar, makanya jarang juga membawa bekal. Tetapi Aku sering kena marah temanku kalau Aku ngga bawa bekal.
"Sayang perutnya kalo ngga ke isi Ndro." Biasanya gitu kalau Mas Wahyu.
"Yaampun Mbak Yun, kenapa ngga bawa bekal? Emang ngga lapar?" Mbak Rahmi juga sering bertanya gitu.
"Hehe Aku jarang lapar, tapi kalau camilan Aku suka jajan sih."
"Weh sama Ndro, boleh deh besok atau kapan kapan kalau tau jajanan yang Deket Deket rumah bilang." Nah, dari situ pula Aku dan juga Mas Wahyu sering rekomendasi jajanan pasar. Ah Aku sangat suka itu ketika temanku termakan racun jajanku. Hehe.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments