Di beberapa halaman sebelumnya sudah ku deskripsikan teman teman ku, lingkungan di sekitarku meski belum terlalu lengkap.
dan juga potongan potongan yang belum lengkap. Mari ku tulis cerita yang lebih lengkap dari beberapa halaman sebelumnya, dari setahun terakhir ini.
Apakah harus ku mulai dari bulan Januari? Dengan beberapa konflik yang harus di hadapi?
Baiklah, Mari Aku mulai saja.
Sudah terhitung dari Bulan Oktober tahun lalu, Mbak Rahmi resmi resign dari perusahaan. Dari dirinya, Aku belajar banyak hal.
Dari mulai tentang masa depan, hal sepele, sampai hal yang harus benar benar dipikirkan. Tentu saja dengan berbagai motivasi yang dibuatnya agar Aku paham. Jujur, Aku sedikit berat jika Mbak Rahmi resign. Namun Aku siapa? Yang sampai berani beraninya menahan dirinya? Sedangkan yang ada pada diri Mbak Rahmi benar benar mencerminkan sosok kakak buatku.
Meskipun Aku kembali menjadi perempuan sendiri, Namun Aku bersyukur, setidaknya yang satu devisi denganku itu orang yang lebih dewasa dan tidak suka keributan. Karena dengan begitu, Aku tetap bisa belajar apapun dari mereka.
Waktu itu, Aku sedang mengobrol dengan Mas Wahyu.
"Mas, ini seriusan? Udah ngisi lembar kerja ginian, masih juga lebar kerja bulanan? "
"Ya serius to Ndro, sebenarnya males. Tapi kalau Kamu sama Pak Danang ngerjain yang bulanan itu tinggal nurutin yang punyaku. Lah, Aku? Harus ngitung itu dulu."
"Kasian, tapi ngga papa Mas. Kan asah otak lagi. Hihi." Kataku tertawa.
"Untung Aku i pinter." Balasnya dengan sombong namun hal itu membuat kamu tertawa bersama.
"Iya iya yang pinter mah bebas." Cibirku.
"Kamu harus pinter pinter cari temen Ndro, kaya guehh gini misalnya haha engga engga. Jadi, maksutku itu kalau mau pilih temen yang berkualitas. Sedikit ngga papa, daripada punya temen banyak tapi bisanya hanya cari muka namun dibelakangnya busuk."
"Iya Mas, makasih sarannya."
"Contohnya saja orang orang sini. Kamu disini biasa aja, tapi ngga tau kan kalau di devisi lain ngga jadi bahan omongan? Contohnya aja kamu sama Farel itu."
"Biarin aja Mas, Aku udah muak. Aku paham kok, mereka itu bisanya cuma ikut ikutan tanpa tau yang sebenarnya. Maka dari itu Aku kan ngga punya teman di situ."
"Emang kamu mau punya temen disitu?" Kata Mas Wahyu dengan tertawa mencibir.
"Engga kalau orang orangnya kaya gitu. Sama aja Aku masuk kandang macan." Aku berdecak sebal,
"Aku itu sebenarnya juga introvert Mas. Susah kalau mau mendekati orang duluan. Tapi kalau sekalinya Aku punya teman yang benar benar peduli denganku, Aku akan sangat menjaga dirinya sebagai mana orang itu juga menghargai Aku. Daripada punya temen banyak namun bangsat semua? Mending punya satu tapi tetap setia."
"Cakepp, itu baru Si Indro titisanku. Salam kuda poni." Aku ngakak, kuda poni selalu menjadi klub kami berdua. Kita memang sudah menjadi manusia dewasa, namun terkadang pembahasan kami tak lebih dari kartun animasi yang menggemaskan itu.
Tetapi disaat serius, kita semua juga bisa serius. Bercanda kami memang berbeda, namun bukan bercandaan yang malah jatuhnya memalukan.
"Oh iya Mas, betewe poster poninya mana?" Tanyaku padanya,
"Wewe Aku lupa, bentar deh tak ke ruangannya Pak Purnama biar di print." Mas Wahyu berlari keluar bahkan sebelum Aku menjawab.
"Astaghfirullah manusia macam apa itu." Ucapku.
Akhirnya Aku diam, kembali melanjutkan pekerjaan yang ku santai kan sedari tadi.
Oh iya, kalau tanya Pak Danang kemana. Dia sedang keluar sebentar. Sepertinya izin sebentar guna menjemput Anaknya di sekolah.
Tak lama, ku lihat Mas Wahyu sudah kembali. Aku yang sangat kepo, bertanya padanya.
"Siapa mas yang kamu print?" Tanyaku
"Ini semuanya, perkumpulan poni untukmu dan Yayang Rihanna untuk cuci mata biar semangat." Ucapnya sembari tertawa dan menyerahkan sebuah kertas bergambar.
"Hahahaha, kenapa ngga satu macam aja sih Mas? Malah rame banget gini."
"Kan biar kamu halunya semakin semangat."
"Astaghfirullah Mas, kamu suka bener. Haha."
" Dimana lagi kamu bisa menemukan yang bekerja tapi bisa disambung halu kaya kamu gini yakan. Jadi nikmati saja bestiii."
"Ah kamu mah suka bener Mas."
Kami kembali tertawa bersama. Sederhana namun bisa membuat melupakan sedikit masalah yang ada.
Aku suka berteman dengan Mas Wahyu, karena terkadang ada Vibes yang mengarah ke hal positif dan juga ke negatif. Namun, selagi itu hal positif dan Aku menerima, itu bukan menjadi hal yang sulit buatku.
Sore hari, kulihat Farel berjalan ke arah ruanganku. Langsung saja ku lihat Mas Wahyu bicara, dan itu membuatku benar benar tertawa,
"Rel, kamu ngapain disini? udah selesai pekerjaan kamu? tak bilangin Bu Yani lho." ujar Mas Wahyu.
Dia tertawa,
"Udah bilang ya Mas aku".
"Halah biarin aja Mas, orang mau ngapeli cewenya kok disini." cetus pak Danang disambut cibiran dan juga gelak tawa.
"Idih, iya kalau cewenya mau. Kan disini laki semua Pak." Mas Wahyu tertawa ngakak dengan pak Danang.
"Kamu i darimana mau kemana?" tanyaku mengalihkan.
"Lho, kan udah ku bilan Yun, kalau Farel itu ngapelin kamu, iyakan Mas?" kata pak Danang mencari tanya.
"Cih, apel"
Aku tertawa mendengar pembicaraan macam ini,
"Heh belum jawab kamu." tanyaku lagi.
"Ini aku dari cari kardus, mampir kesini bentar."
"Idih, bilang aja modus." cibirku kesal
"Udah sana balik, nanti kamu dicariin orang orang sana. Nanti gosipnya malah nambah panas."
"Dih ngga papa kali." Aku memutar mata malas mendengar ucapan yang santai itu.
Untuk hari ini, hal yang kulalui cuma sedikit namun tetap saja berkesan dan akan ku ingat sampai kapan pun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments