SELINGAN ( MESIN WAKTU )

Warning !!!!!

Cerita di luar REMINDER [ CERITA HARIAN]

Ini kisah ku ketika bersama Ahmad dulu. Oh iya, sebelumnya perkenalkan Namaku Ria.

Ku putar satu lagu yang ku suka dan benar benar mengantarkan Aku kembali pada waktu itu, sebelum keadaan semuanya berubah.

Kita bertemu di persimpangan

Tanpa pernah kita rencanakan

Namanya Ahmad. Dia satu tahun diatasku. Aku kenal dirinya kala itu ketika Aku lagi aktif aktifnya bermain sosmed.

Ketika sedang men scroll status di aplikasi Facebook, tiba tiba sebuah pesan dari akun bernama Ahmad masuk ke dalam Akun ku.

Ahmad

Ping

Sebelumnya, ku klik Akun itu dan ku lihat profilnya. Hmm lumayan lah cuma selisih satu tahun denganku. Ku balas pesannya

Ria

Pong

Ahmad

Cewe mana neng? Tanya Akun itu.

Ria

**Cewe bumi bang, gimana? ada yang bisa kubantu?

Ahmad

Engga neng, cuma mau kenalan aja boleh kan?

Ria

Oh iya boleh,

Ahmad

Namanya siapa neng?

Ria

Kan disitu udah tertera nama Aku bang:)

Ahmad

Hehe, kukira itu bukan nama asli. banyak sih soalnya akun palsu gitu.

Ria

Asli lah, ya kali Aku pakai akun palsu.

Ahmad

Aku Ahmad, salam kenal ya neng**.

Akhirnya disitu kami berdua bertukar nomor ponsel. Dan yah, bukankah sudah bisa menebak sampai ke arah mana kita dekat?

Seperti lirik itu, akan tetapi bedanya kita bertemu bukan dipersimpangan namun di dunia maya.

Lalu jalan beriringan

Berjanji tak akan meninggalkan

Seiring waktu berjalan, Kami berdua semakin dekat. Namun tetap ada masalah disepanjang jalan. Tak mungkin lurus terus kan? Dan itu telah terjadi.

Waktu itu, sebelum Ahmad mengutarakan perasaannya, dan sebelum kenal dengan sahabatku di sekolah kejuruan, Ahmad berjanji jika apapun yang terjadi tak akan meninggalkanku.

Aku iya iya aja waktu itu. Waktu itu Aku belum sadar, jika setelah Ahmad sendiri mengutarakan perasaannya kepadaku dan ku tolak, Ahmad berbelok kearah sahabatku. Hal itu benar benar tak pernah ku duga sampai sekarang jika Aku teringat.

Aku tau hal ini darri salah satu teman baikku. Sebut saja namanya Clara. Dan sahabatku yang menikung itu bernama Yuli.

Clara di ajak Yuli buat menemani ketemuan. Saat itu Aku masih teringat dengan jelas ceritanya,

"Ri, kemarin Aku diajak sama Yuli buat menemani ketemuan sama pacarnya." ucap Clara.

"Bentar deh Ra, emang sebenarnya pacarnya itu namanya siapa sih? kontaknya cuma dinamai bawel tapi mau lihat foto profilnya ngga dibolehin."

"Pernah kepikiran ngga? kalau semisal pacarnya Yuli Ahmad punyamu?"

"Yeeee punyaku apaan. Orang kita cuma temen." bantahku.

"Yakin temen? Sebenarnya kemarin Aku curiga kalau pacarnya Yuli itu Ahmad. Soalnya Yuli itu ke arah kota M ajaknya. Apakah sebelumnya ada masalah antara Kamu dan Ahmad?" tanya Clara.

"Ngga ada masalah apapun sama Ahmad Aku. Cuma, kalau waktu itu Aku nolak ungkapan cintanya apa Aku salah?"

"Jadi ini masalahnya cuma pelampiasan kayanya."

"Eh tapi seriusan Ra, memang sih Ahmad sekarang cuek banget sama Aku. Aku sih ngga masalah, tapi kali sekiranya memang mereka ada hubungan, setidaknya jangan langsung pas Aku tolak. Kalau kaya gitu, kesannya malah benar benar seperti pelampiasan." Clara mengangguk membenarkan.

Hingga pada waktu yang cukup lama, Aku sudah melupakan hal itu. Lagian jika mereka saling suka ngga masalah. Tapi kenapa hatiku rasanya sedikit tak rela?

Baru setelah beberapa bulan kemudian, Yuli jujur padaku. Jika dirinya dan juga Ahmad kini sudah ber status mantan. Jujur Aku memang sedikit kaget atas pengakuannya, namun Perkataan Clara waktu itu memang benar benar iya.

Aku pun tak mempermasalahkan hal itu, toh sekarang kami juga lost contact. Dan Ahmad sendiri yang ingin seperti itu, Aku memaklumi hal itu dan Aku tidak menyalahkannya juga.

Kini mengapa

Menuju MU ku perlu peta

Dan seketika

Ku tak tau arah pulang

setelah sekitar hampir satu tahun lost contact, Aku melihat status Facebook Ahmad kembali online. Dia kembali memberi tanda suka pada beberapa statusku. Ku biarkan saja, karena Aku tak merasa terganggu hal itu.

Namun, semakin kesini dan kesana semakin sering mengomentari beberapa statusku di sosmed itu. Setelah sedikit ku respon, karena Aku dan dia memang saling kenal. Kulihat notifikasi di handphone bahwa Ahmad kembali mengirimiku pesan.

Disitu terlihat, jika ia ingin kembali meminta nomor handphoneku lagi. Ku berikan saja nomor ponselku.

Setelah itu, ada pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau itu. Disitu tertera nomor saja tanpa nama,

Setelah ku lihat, ternyata itu nomor Ahmad. Dari situ lagi, Aku dan Ahmad kembali seperti ke masa dimana Aku dan dirinya seperti pertama kenal.

Ku coba tanya tentang hal yang menyangkut Yuli waktu itu. Jujur, Aku sangat kepo dengan ceritanya versi dia sendiri.

Akhirnya Dia mau bercerita setelah ku paksa. Ahmad bilang, setelah Aku menolaknya waktu itu, Ahmad sedikit galau, dan waktu itu hanya Yuli yang peduli denganya.

Aku yang mendengar ceritanya, malah emosi sendiri.

"Kenapa pikiran kamu pendek sekali sih? harusnya Kamu Selami dulu perasaan kamu. Bukan langsung asal tembak saja, Aku ini perempuan. Jadi pelampiasan itu sakit banget." ujarku dengan bar bar.

"Terus ya, kan waktu itu kita belum pernah ketemu juga? Masa iya cuma dari tulisan bisa menimbulkan benih benih cinta?? Iihhh basi banget tau Mad." Ujarku menggebu.

Ahmad hanya terdiam mendengar ucapanku.

"Yaudah maafkan Aku ya Mad?," Ujarku yang akhirnya malah tidak tega sendiri melihatnya.

"Terus bagaimana rasanya setelah mengenal dua tahun dan baru ketemu sekali ini?" tanyaku ingin melihat responnya.

"Kamu cantik, beda sama Yuli juga. Kamu kalau di chat sama di dunia nyata sama cerewetnya. Beda sama Yuli yang kalau di dunia nyata dia pendiam kalau ketemu Aku." Aku sudah bisa menduga hal itu, terlihat dari sikap orangnya sih itu.

Setelah beberapa Bulan berlalu, Ahmad kembali mengajakku untuk berpacaran. Tetapi, Aku tetap menolak. Aku tidak mau pacaran,

"Ahmad, dari dulu Aku pernah bilang Aku ngga mau pacaran. Kalau kamu mau komitmen, yaudah ayo. Tapi ingat, Ada batasnya juga. Dan juga, kalau kamu percaya Aku, Aku ngga bakal aneh aneh. Ku harap kamu bisa kontrol emosi kamu." Dan sejak saat itu, kami membangun komitmen hampir satu tahun, dengan sedikit bumbu drama.

Ku ingin mesin waktu

Mengantarkan ku ke arah mu yang dulu

Tak ingin pergi dulu

Sekali saja jangan kau jauh

Ku rindu masa lalu

Malam ini hujan turun dengan lumayan deras. Ku buat secangkir coklat hangat kesukaanku. Aku terduduk di depan jendela kamarku.

Mataku menerawang jauh ke arah derasnya rintik hujan. Pikiranku melanglang buana ke masa lalu, lebih tepatnya satu tahun yang lalu.

Dimana pada saat itu sebelum ada sikap over protective, posesif, larangan, dan tuduhan yang tidak pernah Aku lakukan sekalipun. Rasa percayanya entah kemana waktu itu.

Sikapnya yang manis dan penuh perhatian, membuat Diriku kadang sering baper. Namun, Aku mulai kesal ketika dirinya sudah tak percaya lagi padaku. seringkali kami bertengkar.

Aku rindu momen manismu Mad, Andai saja kamu mau percaya kepadaku. Tentu saja kita tak akan terpisah, Namun dulu Aku pernah bilang jika sekali lagi kamu membuatku kecewa Aku tak akan menerima lagi untuk ke tiga kalinya.

Pernah cerita kita berarti

Dan kau ucap tak akan terganti

Semuanya telah kuberi

Berjanji tak saling menyakiti

Berjanji tak saling menyakiti? Hah mustahil sekali. Bahkan Aku sangat muak, ketika Aku online namun belum membalas. Karena hanya ketakutannya dikiranya Aku dengan lelaki lain.

Aku lelah jika harus dituduh, namun ku coba meredamnya sementara. Jika tak ada kemajuan, lebih baik Aku mundur. Aku tidak mau ada dalam lingkaran yang toxic. Sementara kemauanya selalu ku turuti namun selalu dimanfaatkan.

Melihat pesan di setiap waktu

Tak jua datang menyapaku

Ku rindu saat bersamamu

Akhir dari semuanya. Aku kembali tak tahan ketika benar benar sampai di luar batas. Aku marah, kecewa jadi satu. Tau ngga? Rasanya orang yang ngga pernah marah dan kecewa, sekalinya digituin akan tetap membekas dan sulit menghilangkan rasa itu.

Aku hanya butuh dipercaya, itu saja.

Aku rindu, namun dia membalas pesanku terkadang sampai beda hari. Basi sebenarnya, tapi mau gimana lagi,? Aku tidak akan menuntut apapun ketika semuanya sudah terserah.

Sampai Akhirnya benar benar lost contact lagi. Namun, Aku kembali curiga. Kala Aku dan saudaraku bermain ke pantai, tak sengaja Aku melihat pesannya.

Dalam hati Aku berkata,

'Hmm, dulu sama Yuli sekarang sama Sari,. Pura pura tidak tau saja lah.'

Hingga pada suatu hari, Sari jujur padaku dan meminta maaf jika selama ini dirinya dekat dengan Ahmad. Aku memaklumi hal itu. Toh Aku sudah ikhlas dan sudah menerima.

Namun, setelah jujur kepadaku. Semakin kesini m, Sari semakin tidak tau diri.

jadi.......

Ceritanya sambung kapan kapan lagi ya hehe:)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!