Hari ini hari Jumat. Sebenarnya hari paling malas buatku. Setiap seminggu sekali, Aku akan bekerja satu devisi sama Ningrum dan juga Farel. Padahal, sebenarnya hal itu yang paling ku hindari.
Namun, tentu saja Aku tidak bisa mengelak dari hal itu. Tidak mungkin Aku tidak profesional dalam bekerja kan? Alhasil, mau tidak mau Aku tetap menjalani. Daripada nanti urusanya kembali sama HRD maupun kepala produksi.
"Ndro, udah mau kesana belum?" Tanya Mas Wahyu kepadaku.
"Aaaaaaaa males Massssssss," rengekku padanya, yang malah dibalas dengan tatapan jijiknya padaku. Hal itu sukses membuatku tertawa. Sudah sangat hafal jika Aku dan Mas Wahyu kadang gelut seperti itu.
"Semangat Mbak Yunnnnnn, ketemu doi lho." Goda Mbak Rahmi.
"Ah itu membuatku semakin malas Mbak. Yang ada Aku dibully disana." Gerutuku.
"Halah yang mulai juga temen kamu sendiri to Ndro."
"Ya elah Massssssss, udah tau kenapa masih diperjelas."
"Kan biar semakin jelas. Bukankah begitu Mbak Rahmi xixixixixixi."
Mereka berdua tertawa melihat diriku yang tengah merajuk. Mereka memang suka jika menggodaku.
"Pak Danang belum berangkat ini?" Tnyaku mengalihkan pembicaraan.
"Belum, tadi katanya mau izin anter anaknya dulu ke sekolah." Aku ber oh ria.
"Kalau Mbak Ningsih?" Tanyaku lagi.
Ku lihat kedua temanku itu bertatapan,
"Ngga tau Ndro, tapi sejak insiden kemarin itu. Kayanya Aku ikut didiemin deh " jelas Mas Wahyu.
"Emang perkaranya apa sih mas?"
"Aku ngga terlalu paham Mbak Yun. Tapi dia kan abis ulang tahun kemarin? Kamu tau juga kan kalau dia ku beri buket?" Aku mengangguk,
"Abis itu, malamnya dia terus buat status wasap kaya nyindir Aku gitu." Jelas Mbak Rahmi.
"Emang statusnya bunyi gimana Mbak?" Tanya Mas Wahyu.
"Lho Nas, masa kamu ngga tau?" Mas Wahyu menggeleng tak tau.
"Intinya dia itu nyindir kalau mau memberi itu yang iklas gitu. Emang Mbak Ningsih ngga cerita ke kamu Mbak Yun? Sementara selama setaun ini dia disini yg kenal akrab kan cuma kamu."
"Cerita sih mbak sebenarnya. Iya kaya yang Mbak Rahmi tadi cerita, cuma bedanya, menurutku dianya yang ngga sadar akan kesalahan dan ngga mau di kritik. Gitu aja sih yang Aku tangkep dari cerita itu " jelasku panjang lebar.
"Terus kenapa Aku ikut didiemin?"
"Ya Aku mana tau mas. Emang aku adeknya yang tiap hari diceritain." Tambahku tertawa.
"Udah sana sana, bekerja. Nanti di cariin kamu kalau ngga cepet dateng kesana."
"Ih kamu mengusirku Massa? Jahatt."
"Lebay, dah sana." Mbak Rahmi tertawa mendengar kami berdua seperti itu.
Akhirnya Aku berjalan keluar ruangan, berjalan dengan cukup malas karena Aku tau nantinya bakal ada Bullyan.
Sesampainya di pintu ruangan, ku buka pintu itu. Terlihat sudah ramai beberapa orang yang juga dari devisi lain ikut disitu.
"Mbak Lina, ini mesinya masih rewel ngga?" Tanyaku.
"Oit Yun, coba dulu sana. Nanti panggil Aku kalau masih rewel. Atau kalau ngga panggil Mas Putra ya." Pesan Mbak Lina kepadaku. Aku mengiyakan saja permintaan itu.
Baru saja duduk, Aku melihat Farel tiba tiba masuk ke ruangan. Hal itu sontak membuat mereka menggodanya. Sementara Aku tampak diam tak memperdulikan.
"Eh Farel, tumben ke depan. Biasanya di belakang terus." Sindir Mbak Reni.
"Iya dong Mbak, kan Jumat berkah."
"Eleh Jumat berkah apa Jumat berkah." Cibir Ningrum.
"Ningrum mah apa apaan, ikut ikutan mulu. " Cibir Farel.
"Yunaaaaaaaaa, tolong ini Farel nakal." Adu Ningrum kepadaku. Sementara Aku hanya ter bengong melihat hal itu semua.
"Engga ah, Aku kan ngga tau apa apa." Jawabku santai membuat beberapa orang yang masih di dalam kembali menyoraki.
Aku masa bodo dengan itu semua, yang penting disini kerjaanku selesai langsung pulang ke devisiku.
"Mending bantuin deh Rel itu, mana banyak banget gitu. Daripada kamu disini cuma bisa cengengesan sama plonga plongo ngga jelas kaya gitu" suruh Mbak Reni kepada Farel.
"Nanti kamu cengcengi Mbak," cibir Farel.
"Halah padunya kamu juga suka kan?" Balas Mbak Reni lagi dengan keras.
"Biasa aja tuh."
"Tuh Yun, kalau ngga ada kamu, di belakang terus dianya. Giliran Jumat gini bilangnya Jumat berkah segala. Bilangin ke Tante nih," ancam Mbak Reni.
" Sana bilang aja, ku tunggu malahan."
"Astaghfirullah, mendingan kamu Balik ke tempat asal kamu aja deh Rel. Disini Aku yang pusing denger kalian semua adu bacot. Inget, ini itu tempat kerja. Di ruangan sebelah saja biar diliatin sama Bu Ratri." Ujarku yang sudah terlanjur kesal.
" Iya iya Aku balik ke belakang deh." farel sudah pasrah.
Akhirnya, dengan kepergian Farel kembali ke habitatnya Aku sedikit merasa nyaman. Daripada suara bertengkar.
Aku kembali di kagetkan dengan beberapa pertanyaaan yang jawabannya sendiri padahal mereka semua udah tau. Mungkin malas kali yah?
"Yun, sebenarnya kamu serius ngga sih sama Farel?" Tanya Mbak Reni.
"Serius apaan sih mbak maksutnya." Kataku, karena Aku memang ngga paham apa yang di bicarakan.
"Engga. Kan udah Aku bilang sejak awal, kalau mau denger berita mendingan tanyain dulu orang yang bersangkutan. Kalau udah gini Aku males jawabnya. Kesannya kalian semua malah membuliku. Coba deh Aku tanya, emang kamu nyaman Mbak kalau diginiin sama teman-teman disini,
? Emang enak digituin hampir dua tahun ? Bahkan selama ini Aku gabung sama kalian juga cuma sehari dalam seminggu. Coba mikir, punya otak kan? Dipake, jangan cuma jadi pajangan seperti itu." Ujarku dengan menggebu.
Mereka akhirnya terdiam setelah Aku berkata tegas dan terkesan kasar. Namun, Aku tidak mau jika nantinya ditindas terus. Bahwa ngga selamanya juga Aku akan bekerja disini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments