REMINDER [ CERITA HARIAN ]

Suara adzan subuh berkumandang membuatku terbangun dari tidur nyenyak semalam. Jika Aku tidak ingat kalau ini hari pertama masuk kerja, mungkin Aku lebih memilih melanjutkan tidurku. Meski sambutanya adalah Omelan dari Ibu.

"Hoammm pagi dunia tipu tipu, semoga hari ini berjalan lancar."

Aku beranjak bangun dari tempat tidurku. Merapikan selimut dan juga bantal guling kesayanganku yang sudah tercecer kemana mana.

Ku lihat Ibu sudah ada di dapur. Kusapa Ibu,

"Pagi Yun, Sudah sholat?" Tanya Ibu.

"Pagi Bu, belum lah Bu. Ini aja Yuna baru aja bangun." Aku cemberut.

"Yaudah sana sholat dulu. Terus abis itu bantuin Ibu bentar siapin makan."

"Lho, Kakak belum bangun Bu?" Tanyaku.

"Kakakmu itu suaminya kalau masuk siang jam segini mana ada bangun."

"Yaudah Bu, biar Yuna aja yang bantu. Tapi Yuna mau sholat bentar ya." Ibu hanya berdehem mengiyakan.

Aku segera meluncur melaksanakan kewajibanku. Aku sadar, meskipun Aku bukan manusia baik, tetapi ku usahakan sholat tetap terjaga. Meski terkadang juga lupa sih hehe.

Kira kira setengah jam, Aku kembali ke dapur guna membantu sebentar sebelum Aku berkutat dengan cucian baju. Namun, baru saja Aku membantu. Suara tangisan keponakanku yang mencari neneknya membuat Ibu berdecak kesal.

"Ibunya ada kenapa harus neneknya, kalau belum siap punya anak kenapa ngga ditunda dulu. Emang ngurus bayi gampang," gerutu Ibu.

"Sabar Bu, udah sana Ibu tenangin dulu Dek Nisa. Ini biar Yuna, masalah kakak mau bantu apa engga biarin aja Bu."

"Ibu tinggal bentar ya Yun." Ku jawab sekilas.

Yahh, begitulah rutinitas Ibu. Sebenarnya Aku kasihan pada Ibu. Pagi pagi buta Ibu harus bangun membuat sarapan, sementara anak sulungnya masih asyik bergelung dengan selimut. Dan disaat anaknya terbangun dan menangis, biasanya ngomel ngomel. Ibu yang ngga tega, mau ngga mau harus turun tangan.

Kurang lebih pukul enam pagi, semua telah selesai. Tinggal Aku yang harus berkutat dengan cucian bajuku. Kulihat cuma ada beberapa sih, ngga terlalu banyak. Tapi kali dibiarkan jadinya malah menggunung. Dan Aku ngga mau hal itu terjadi. Dibawa simpel aja sih kalau Aku hehe.

Jam 07.00 Aku sudah bersiap untuk mandi. Tiba tiba kudengar Ibu berkata,

"Yun, mau sarapan dulu ngga?"

"Engga Bu, Yuna kan jarang sarapan. Mau bekal aja deh Bu, lagian ini hari pertama Yuna masuk, belum tau banget daerah sana. Lebih baik bekal."

"Baik lah, nanti Ibu siapin. Sana kami mandi aja, nanti keburu Ningrum jemput kamu." Kuacungkan jari jempol ku pada Ibu tanda mengiyakan.

Kalau disaat seperti ini, mandi ku lebih singkat dari biasanya. Aku takut terlena jika kelamaan.

Tak berselang lama, Aku sudah siap dan tinggal berangkat.

"Bu, masalah bensin buat Ningrum menurut Ibu gimana?" Tanyaku pada Ibu yang sedang menyiapkan kotak bekal untukku.

"Kemarin Ibu sudah bilang sama Bibi Cia terkait itu. Katanya lebih baik per bulan aja. Masalah nominal, itu tergantung sebulan beli berapa kali terus dibagi dua."

"Baik Bu kalau gitu, Yuna nurut aja enaknya dimana. Yaidah Bu, Yuna mau berangkat dulu ya, itu kayanya Ningrum udah didepan, kedengaran soalnya suara sepeda motornya."

"Yaudah sana, Ibu ga nganter ke depan ya. Hati hati di jalan."

"Iya Bu, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Kulihat memang Ningrum sudah didepan, tak lupa juga ku ambil helm.

"Pagi Yun, udah siap nih pertama kali masuk?"

"Pagi juga Ning, siap kok. Apapun keadaannya nanti, lihat saja lah."

"Haha bener tuh, yaudah yuk."

Aku segera naik keatas jok. Sebelum itu Aku bertanya lagi,

"Aku yang depan aja gimana Ning?"

"Besok aja Yun, kamu kan belum hafal jalanya. Nanti kalau udah Aku kasih tau buat patokanya, baru gantian ya."

"Siap Bosque."

Kami berdua akhirnya berangkat. Sebenarnya kukira dari awal perjalanan lebih dari satu jam. Karena mengingat pas interview kemarin nyasar hampir dua jam, dan juga hari ini berangkat lebih dari jam setengah delapan.

Ternyata, cukup waktu setengah jam saja sudah sampai, itu pun karena jalan lancar.

Tiba tiba jantungku berdegup kencang. Aku tidak tau, seperti apa keadaan di dalam sana, dan juga siapa saja yang harus ku hadapi. Tapi, Ningrum dengan santai mengerti kegundahan ku meski sudah ku tutupi.

"Santai aja Yun, Ini hari Senin kok. Nanti bakal ada briefing dulu biasanya "

"Hehe iya Ning."

Tak berselang lama, ku lihat seseorang yang ku kenali. Dia Mbak Tina. Segera ku hampiri dan kusapa.

"Hai Mbak Tina."

"Eh kamu Yun, pagi banget berangkatnya."

"Iya Mbak, bareng temen itu."

"Boleh dong, kenalin."

"Yuk Mbak," Aku mengajak Mbak Tina menuju ke Ningrum.

"Ning, kenalin. Ini Mbak Tina, kemarin pas interview bareng sama Aku."

"Hallo Ningrum, Saya Tina semoga bisa bekerja sama ya nantinya jika kita satu ruangan." Sapa Mbak Tina.

"Hallo Mbak, Iya Mbak makasih ya. Yuk masuk aja, udah pada kumpul tuh."

Tiba tiba jantungku kembali berdegup kencang, ku lihat tatapan mata karyawan disitu langsung mengarah pada kami. Aku sih sebenarnya bisa aja cuek akan hal ini, namun ini hari pertama dan Aku harus bisa memberikan kesan yang baik.

Ku edarkan pandanganku kearah semuanya, ku kira mayoritas perempuan yang disitu. Ternyata setelah ku lihat jumlah hampir sama antara perempuan dan laki-laki.

"Halloo, pagi teman teman. Wah ada wajah wajah baru nih."

"Pagi juga" setelah semua menjawab dibarengi juga nyanyian yel yel khas mereka, mereka kembali diam.

"Jadi ini ada dua anak baru, coba sini kenalan dulu sama teman temanya. Oh iya, nama saya Winda sebagai apoteker disini. Coba kalian berdua memperkenalkan." Aku dan juga Mbak Tina langsung berdiri.

"Hallo, pagi teman teman. Perkenalkan Nama Saya Yuna Indrayana, biasa dipanggil Yuna, terimakasih."

"Hallo, saya Tina Yuniarti, biasa dipanggil Tina. Terimakasih semuanya atas waktunya."

Setelahnya briefing kembali berjalan setelah membahas hal hal yang belum ku pahami.

Selesainya briefing, Aku dan juga Mbak Tina dipanggil Supervisor. Guna dikenalkan ruangan ruangan disini dan juga pembagian kerja kami berdua. Sebut saja supervisor itu namanya Maryani.

"Jadi Bu, nanti tempat kami berdua akan di bedakan apa jadi satu?" Tanya Mbak Tina.

"Kalian berdua ruangannya sendiri sendiri ya. Kamu di bagian produksi A dan Mbak Yuna di bagian C. Nanti Mbak Tina ikuti mbak yang ngga Pake jilbab itu ya. Terus Mbak Yuna ikut saya." Aku diam mendengarkan penjelasannya. Setelahnya kami berpisah.

Aku mengekori Ibu supervisor itu, sebelumnya berkata,

"Temannya Ningrum ya Mbak?" Tanyanya.

"Hehe, Iya Bu." Aku kembali diam, lalu setelah sedikit jauh berjalan, baru terlihat sebuah ruangan yang tersembunyi.

Terlihat lima orang disana, dua laki laki dan tiga perempuan. Satu perempuan yang sudah berusia, dua perempuan yang kutaksir mungkin hanya lebih tua dariku beberapa tahun, satu bapak bapak dan juga satu pria yang ku taksir sudah dewasa.

"Hallo Bang, nih tak bawain temen baru. Mbak Yuna, kenalin itu Abang Wahyu, dia sebagai penanggung jawab disini, terus itu juga ada Mbak Rahmi, Bu tari, Pak Danang, dan itu Mbak Risma."

"Hallo Mbak Yuna, saya Wahyu. Semoga kerasan ya disini bersama kita para lansia. Hehe. Semoga bisa bekerja sama untuk kedepanya."

"Hallo Mbak, Aku Risma cantik. Salam kenal ya, awas nanti digodain Bang Wahyu tuh." Ku lihat netra Mas Wahyu mendelik kearah Mbak Risma.

"Heh Ngadi ngadi, udah sana balik ke tempat kerja."

Aku tertawa melihat interaksi itu.

"Hallo semua, sebelumnya maaf ya mengganggu sebentar. perkenalkan, namaku Yuna, temenya Ningrum, tau kan? Biar nanti ngga tanya lagi hehe." Mereka tertawa dengan celotehanku.

"Kalau gitu, tak tinggal ya Bang, Ayo Mbak Risma, pulang ke asal kamu. Nanti dicariin kamu," ajak Bu Maryani.

"Yahh Buuuuu, yaudah Risma cantik pulang dulu ya Bang, dahh." Sementara Bu Maryani hanya menggelengkan kepalanya, mungkin sudah tau sifatnya memang seperti itu.

"Jangan ambil pusing orang itu ya Mbak, biasa lah dia kaya gitu. Iya kan Mbak Rahmi?"

"Hoo mas, sini Mbak duduk Deket Aku, nanti kalau belum tau atau ada yang mau ditanyain, tanya aja ya, ngga usah sungkan sungkan."

Aku tersenyum mendengar suara mbak Rahmi yang ramah. Dengan begitu, Aku tak akan kesulitan beradaptasi, jika manusia yang disini lebih dewasa dariku.

Skip sore hari

Untuk hari pertama bekerja, not bad lah. Baru sekedar perkenalan, dan juga perkenalan produk yang dibuat. Jadi, tidak buruk juga. Lihat saja ke depannya gimana.

Malam hari dirumah.

"Gimana Yun, hari pertama kerja?" Tanya Ayahku yang diangguki juga oleh Ibu.

"Lumayan sih Bu, Yah. Kayanya diruangan Yuna, Yuna paling kecil. Jadi Yuna pikir mereka masih bisa lah membimbing Yuna." Ayah dan Ibu mengangguk paham.

"Kalau Ningrum?"

"Yuna sama Ningrum beda devisi Bu," Ibu ber- oh ria lalu melanjutkan kegiatannya membuat besek.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!