Ketika jam pulang sudah waktunya. Aku berjalan sendirian ke arah parkiran. Dulu berdua sekarang sendirian. Dan yang paling malas, jika satu menggodaku, yang lain tentu saja ikutan.
"Sendirian jmaja Yun, Farel mana?" Tanya Mbak Risma ketika melihatku berjalan.
"La Mbak Risma lihat engga?" Tanyaku padanya.
"Engga,"
"Ya udah, kalau engga kenapa nanya." Balasku santai.
"Galak banget Yun, nanti Farel kabur lho."
"Bodo amat mbak." Aku kembali berjalan, ku lihat Farel keluar menenteng jaket di pundaknya. Aku yang akan masuk guna Absen tentu saja terhalang tubuhnya.
Tanpa bertanya, ku tarik tubuhnya agar sedikit bergeser dan ada celah untuk ku masuk.
"Rel, geser dikit ya. Aku mau masuk ini." Kataku padanya.
Farel langsung bergeser setelah mendengar ucapanku. Akan tetapi, tanpa di duga ternyata Mbak Lina, Mbak Reni, dan Mas Sugi melihatku. Terus saja mereka menggodaku. Itu sangat memuakkan.
Memang salah jika sekedar berinteraksi dengan lawan jenis? Memang harus banget seperti itu?
"Cieeee cieeeee" seru mereka. Kuangkat alisku tanda bertanya tanpa suara. Ku abaikan omongan tak berguna itu.
"Tuh Yun Farel tadi mau ngajakin kamu." Seru Ningrum setibanya di parkiran. Yang juga sudah kutunggu disitu.
"Ngajakin kemana?" Tanyaku cuek
"Tuh Rell, ditanyain."
"Apa sih Mbak Ningrum, jangan buat gara gara ayo. Bukankah kamu tadi juga bilang mau nanya?" Balas Farel.
"Kok Aku, bukanya kamu?" Aku semakin muak mendengar pembicaraan tak bermutu itu. Sebenarnya Aku paham apa yang dibicarakan mereka, tapi Aku berusaha untuk diam.
"Ning, ku tunggu di depan aja ya " kataku menyambar helm tanpa mau mendengar ucapan apapun dari kedua orang itu maupun dari orang lainya.
Sebenarnya Aku juga merasakan tatapan Farel padaku yang ketika berjalan tanpa memandang apapun.
Aku berpapasan dengan Mas Wahyu yang juga baru keluar dari gerbang sebelah.
"Lho Ndro, kamu belum pulang toh?" Tanyanya.
"Biasa Mas, temanku kan suka lama." Kataku berbisik.
"Oohh si Anu?",
"Bener banget, udah gitu ditambah ocehan ga bermutu dari mereka. Dan hal itu juga dimulai sendiri dari Ningrum dan juga Farel Mas. Daripada Aku denger ocehan ga bermutu mendingan tungguin disini lah.", Kulihat Mas Wahyu tertawa mendengar ucapanku.
"Yang sabar ya Ndro."
"Kamu ngga mau absen Mas? Itu udah sepi lho, tinggal yang biasanya aja plus Mas Putra."
"Ini mau jalan, sabar ya Ndro sama ujian ini." Ujar Mas Wahyu kembali lalu berjalan ke parkiran.
Setelah beberapa saat ku tunggu, akhirnya Ningrum datang dan kami berdua segera pulang. Suasana hatiku sebenarnya masih kurang bagus pasca tadi di parkiran.
Namun, Aku tidak boleh dengan begitu saja melampiaskan amarah. Lebih baik Aku diam.
Sesampainya dirumah, Aku segera masuk ke dalam kamar. Lalu keluar lagi, sebelum akhirnya Aku tau jika tak ada makanan di dalam, namun kakak Perempuanku itu dengan santainya makan Ayam goreng.
Bahkan ada adik lelakinya namun dibiarkan tau tanpa menawari. Jujur, Aku yang sudah kesal sedari tadi bertambah kesal lgi melihat pemandangan itu.
Ku tutup tudung saji dengan kasar. Ku biarkan saja Ibuku berteriak kaget padaku. Sebenarnya hal ini tidak boleh ku lakukan, tetapi aku terlanjur kesal yang se kesal kesalnya.
Ku panggil adeku, Aku berkata dengan keras.
"Bud, kamu udah makan belum?" Tanyaku. Ku lihat dengan jelas gelengan kepala itu. Aku sakit hati, kesal campur menjadi satu.
Aku tidak peduli jika itu Aku yang diabaikan. Tapi ini adik lelakinya yang masih kecil juga. Aku tau, pasti tidak menawarinya dan malah menceritakan gimana enaknya makanan itu. Padahal anaknya saja selalu diajak kemana mana, dibantuin momong. Tapi apa balasannya?
Hatiku berdebar kencang menahan gejolak amarah. Entah kenapa memang hari ini Aku sensitif sekali.
"Ayo jajan yang enak." Kataku menarik tangan Adikku keluar rumah. Saat itu yang memang ada Ayah dan juga Ibu, mereka diam melihatku membawa Adekku. Aku yakin mereka paham apa yang ku lakukan.
Setega teganya Aku, Aku tidak akan tega pada orang yang ku sayang.
"Kamu ditawari ngga sama Mbak?" Tanyaku.
"Engga Mbak, Aku ngga minta kok lagian."
"Dek, sesama saudara itu harus saling membantu apalagi saling memberi. Mbak mu itu kakak macam apa yang tega biarin adiknya yang belum makan dan dengan enaknya makan sendiri tanoa menawari?"
"Dimana otaknya coba? Kalau Aku yang ngga ditawari sih ngga masalah, setidaknya hargai adiknya yang masih kecil. Bisa aja sebenarnya ingin tapi ngga bilang. Kalau kaya gini Aku rasanya ingin menangis."
Ku ambil kunci sepeda motor. Ku ajak adikku cari makan, biarin aja Aku beli lebih banyak, tapi jangan harap Aku menawari. Dia saja bisa tidak menghargai, kenapa Aku ngga bisa juga?
Kali ini Aku kalap membeli makan, tidak tau apakah nanti kemakan atau engga. Yang penting amarahku tersalurkan. Daripada marah marah, Aku lebih memilih marah tapi melampiaskan dengan cara jajan seperti ini.
"Bud, panggil Ayah sama Ibu. Tawari makanan ini, Mbakmu ngga usah." Titahku pada Adikku yang langsung diiyakan olehnya.
"Yun, Kamu jajan sebanyak ini yang mau makan siapa?" Ucap Ibuku terkesiap.
"Yaampunn Yunnn, ih kamu mah buang buang uang aja." Ujar Ayah juga.
Aku menghela nafas panjang lalu berkata,
"Bu, Yah. Aku ngga bakal tega melihat adikku hanya melihat orang yang sedang makan. Sedangkan orang itu dengan enaknya makan tanpa bertanya apakah adek udah makan apa belum." Aku memalingkan muka agar mereka tak tau airmataku yang sudah sedikit menetes.
"Kamu memang berbeda dengan kakakmu. Semoga rejeki kamu lancar terus Yun.", Ujar Ibu pelan. Kulihat Ayah juga seperti itu.
"Kamu jangan ikut ikutan kaya gitu ya Yun, Ayah sudah tua. Meski masih bisa menghidupi, tapi setidaknya Ayah tenang jika salah satu Anak Ayah ada yang peduli."
"Sudah tugasku sebagai anak Yah. Yuna engga mencari perhatian Ayah ataupun Ibu, tapi ini murni Yuna yang memang tidak tegaan apalagi sama Saudara sendiri." Kataku lagi.
"Kamu tau Yun, kami juga bisa membedakan itu semua.",
Sedari tadi, Aku menahan gejolak ingin menangis dan sebisa mungkin ku tahan.
'Maafin Yuna Mbak. Bukan karena Yuna cari perhatian Ayah dan Ibu, tapi ini memang sifat kamu yang tega mbak.'
'Maafin Yuna juga Mbak, maafin Yuna sudah marah marah. Bukan karena Yuna cari perhatian. Tetapi karena emang Mbak keterlaluan terhadap saudara sendiri.' batinku berteriak.
Lebih baik setelah ini Aku diam, agar kesal ini berkurang. Dan ku harap Mbakku juga pikiranya lebih terbuka, dan juga lebih peduli. Terutama kepada orang tuanya sendiri.
Sekali lagi, Yuna minta maaf.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments