"Lesatkan sekarang, Furuko!" ucap Cika memberi perintah kepada Furuko untuk melesatkan anak panahnya di saat ia melihat Sagachi telah berhasil mengalihkan perhatian sang Naga Es itu ke arah mereka.
"Baiklah," kata Furuko merespon ucapan Cika.
"Discharge!"
Furuko melepaskan anak panah itu dari busurnya, dan anak panah itu pun melesat bagaikan seperti kilat yang menyambar.
Alhasil ....
Anak panah itu pun akhirnya mengenai tubuh sang Naga Es, dan naga itu pun langsung jatuh ke daratan dalam keadaan sekarat karena anak panah yang Furuko lesatkan itu bukanlah anak panah biasa, itu anak panah gabungan dari kekuatan panah dan sihir api dan es.
Jatuhnya Naga Es itu ke daratan menyebabkan gempa dalam waktu singkat, dan hal itu pun membuat Sagachi, Furuko, Cika dan Chizu sedikit terhuyung akibat getaran gempa yang singkat itu.
"Iyeaah! Berhasil! seru Sagachi sembari mengepalkan tangan kanannya.
"Sagachi-san! Cepat ambil kristal naga itu sebelum naga itu beregenerasi!" jerit Cika dari kejauhan.
"Ooh, baiklah!" sahut Sangachi. Pria berambut biru itu pun dengan segera bergegas berlari ke arah tubuh sang Naga Es yang tergeletak itu untuk mengambil kristal naganya untuk dipasangkan ke pedangnya.
Sesampainya di tubuh sang Naga Sagachi langsung mencongkel Kristal Naga itu dari tubuh Naga Es tersebut. Anehnya, kristal itu mudah sekali dicabut di saat naga itu dalam keadaan pingsan. Tentu saja Naga Es ini masih disebut dalam keadaan pingsan, karena seburuk apa pun lukanya, jikalau Kristal Naga itu masih menempel pada tubuhnya, maka kemungkinan besar naga itu akan bangkit lagi. Karena, Kristal Naga Es itu akan meregenerasi luka-lukanya.
Setelah berhasil mencongkel Kristal Naga Es itu, dengan segera Sagachi memasangkan Kristal Naga Es itu ke bongkahan bulat yang terdapat pada pedangnya. Namun, ia kebingungan saat memasangnya, karena Kristal Naga berwarna putih kebiru-biruan ini ukurannya terlalu besar, bahkan jauh lebih besar daripada bongkahan bulat yang terukir pada pedangnya.
"Bagaimana aku memasang Kristal sebesar ini? Sedangkan, bongkahan bulat di pedang-ku ini hanyalah sebesar kelereng," ujar Sagachi yang bingung dengan cara memasangkan Kristal Naga Es yang sedang dipegangnya itu.
"Sagachi-san, biarkan aku yang memasangkannya. Bawa sini!" ujar Cika yang baru saja sampai di dekat Sagachi beserta Furuko dan juga Chizu.
"Baiklah, terima kasih," kata Sagachi merapon ucapan Cika. Ia pun menyerahkan Kristal Naga Es itu beserta pedang birunya kepada Cika.
"Sama-sama," jawab Cika sembari menerima Kristal Naga Es dan juga pedang biru Sagachi. "Tunggu sebentar, ya!"
"Baiklah, akan aku tunggu," kata Sagachi merespon ucapan Cika.
Di tempat lain.
Kini Kenta Ken telah sampai di Kota Hikari. Ia pun mengelilingi kota ini dengan tujuan untuk mencari sosok yang dicarinya.
"Di mana anak berambut biru itu berada?" ucapnya sembari menyedekapkan tangannya di depan dadanya. Kini ia sedang berdiri di daerah tempat yang biasa Sagachi lewati di kota ini. "Dari tadi aku berkeliling, aku belum juga menemukannya. Padahal, kemarin ia sering lewat di tempat ini."
Ya. Tempat ini tak lain adalah halaman penginapan Vitaloka, dan tentu saja Sagachi dan Furuko sering terlihat di sini.
Tiba-tiba saja, sebuah syuriken besar melesat dengan cepat ke arah Kenta Ken.
Di tempat lain.
Cika dan juga Chizu sedang memasangkan Kristal Naga Es itu ke bongkahan bulat yang terukir di pedang Sagachi. Walaupun kristal itu terlihat besar, akan tetapi Cika dan Chizu bisa memasangnya dengan bantuan sihir mereka.
"By the power of light, we create miracles, and by magic, we are aligned with the place."
"Dengan kekuatan cahaya, kami ciptakan keajaiban, dan dengan keajaiban, kami selaras dengan tempatnya."
Setelah mantra itu terucap dari lisan Cika dan Chizu, sebuah cahaya putih memancar di Kristal Naga Es, dan pada saat itu juga, Kristal itu mengecil dan bergerak sendiri menempel ke pedang Sagachi yang berada di tangan Chizu.
Mata Sagachi dan Furuko tak berkedip ketika mereka melihat aksi Cika dan Chizu dalam memasang Kristal Naga Es itu. Itu dikarenakan, mereka sangat takjub melihat aksi mereka. Bagaimana mungkin, Kristal Naga Es sebesar itu mengecil hingga selaras dengan bongkahan bulat yang terdapat pada pedang Sagachi kalau bukan keajaiban dari sihir?
"Ini Sagachi-san." Cika yang memegang pedang Sagachi menyerahkan pedang itu pada sang pemilik, dan sang pemilik pun langsung memberinya.
"Waaah, kereeeen! Terima kasih banyak, Cika-san, Chizu-san," kata Sagachi setelah menerima pedang itu
"Pedangmu sekarang telah memiliki kekuatan seperti Naga Es itu. Dan bahkan, semisal Sagachi-san memiliki mana yang cukup, Sagachi-san bisa menciptakan Naga Es semu dengan kekuatan pedang Kristal Naga Es itu," ujar Cika menjelaskan.
"Baiklah, aku mengerti. Sekali lagi, terima kasih banyak ya, Cika-san Chizu-san." Sagachi mengucapkan berterima kasih yang kedua kalinya.
"Sagachi-san, sebaiknya Sagachi-san jangan panggil kami dengan sebutan 'san', ya! Kan kamu lebih tua dari kami," ucap Cika. Kemudian ia menoleh ke arah Chizu dengan berkata," Benar 'kan, Chizu?"
"Iya, Sagachi-san. Sebaiknya jangan panggil kami dengan sebutan 'san'. Kamu kan lebih tua," kata Chizu merespon ucapan Cika.
"Baiklah, kalau begitu aku panggil kalian dengan sebutan 'chan' aja bagaimana? Cika-chan, Chizu-chan," ujar Sagachi berpendapat.
"Hmmm ... baiklah, boleh-boleh," respon Cika.
^^^Chan: kata 'chan' digunakan untuk memanggil anak kecil, atau gadis-gadis remaja yang umumnya lebih muda dari si pemanggil.^^^
"Baiklah, terima kasih Cika-chan, Chizu-chan," ucap Sagachi yang lagi-lagi berterima kasih.
"Sama-sama," respon keduanya.
"Baiklah, karena Sagachi-san sudah mendapatkan pedangnya, mari kita kembali!" sambung Cika untuk mengajak balik lagi ke Kota Hikari, rumah mereka.
"Ayo! Aku juga udah kedinginan," kata Furuko merespon ucapan Cika.
"Aku pun," ucap Sagachi yang juga ikut-ikutan merespon, karena ia juga telah merasa kedinginan, sama seperti adiknya.
"Eh, iya. Sihir penghangat itu udah mulai redup dan melemah, itu hanya bertahan tiga jam saja, dan sekarang sudah hampir tiga jam kita di sini," kata Cika menyadari kalau sihir penghangat yang ia dan adiknya buat itu sudah mulai melemah seiring berjalannya waktu.
"Baiklah, ayo kita segera pulang saja!" sambung Cika. Kemudian, ia menoleh ke arah adiknya dengan berkata, "Ayo, kita buat mantra teleportasi!"
"Siap, Nesan!" kata Chizu merespon ucapan Cika.
Cika pun kemudian langsung membuat lingkaran sihir seperti di saat ia akan berteleport ke sini. Setelah itu, mereka pun langsung mengucapkan mantra untuk membuat portal.
"With the power of the sky, we create blue light, and with blue light, we create a miracle."
"Dengan kekuatan langit, kami ciptakan cahaya biru, dan dengan cahaya biru, kami ciptakan sebuah keajaiban."
Setelah mengucapkan mantra tersebut, muncullah cahaya biru dari ukiran-ukiran pinggiran lingkaran yang Cika ukir di tanah yang berlapis salju, dan seperti di saat sebelumnya, cahaya biru itu menjulang tinggi hingga menusuk langit malam.
Tidak seperti kemarin, kini Sagachi dan Furuko langsung masuk ke portal itu tanpa disuruh oleh Cika, mereka tampaknya sudah tidak sabar lagi ingin kembali karena sudah tidak kuat lagi dengan suhu dingin yang mencekam. Mereka juga telah mememjamkan kedua matanya.
Cika dan Chizu pun kemudian langsung masuk ke dalam portal yang telah dibuatnya, kemudian mereka mengucapkan mantra lagi untuk kembali.
"By the magic of blue light, teleport us to a town called 'Hikari City'!"
"Dengan keajaiban cahaya biru, pindahkan kami ke sebuah kota yang bernama 'Kota Hikari'!"
Setelah itu, mereka pun berpindah kembali ke Kota Hikari. Sagachi dan Furuko pun membuka matanya. Namun di saat mata mereka telah terbuka, mereka dikejutkan dengan kedua orang yang sedang bertarung di sekitar halaman penginapan Vitaloka.
"Siapa orang berjubah hitam yang sedang bertarung dengan Vita-san itu?" ucap Furuko ketika melihat pertarungan kedua orang itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Berlina Yu Lien
wiiih keren emang
2023-04-12
1
Berlina Yu Lien
ngopi dia kak ckckckc😁
2023-04-12
2
PINDAH PF
🤤🤤akhirnya bisa baca lagi
2023-04-12
1