"My mana is the arrows from my bow."
"Internal power transfer ... Fire!"
"Internal power transfer ... Ice!"
Mereka bertiga mengucapkan ketiga mantra itu dalam waktu yang hampir bersamaan. Furuko mengucapkan mantra saat ia menarik benang busurnya, dan seperti biasa, sebuah anak panah terbentuk dari partikel-partikel cahaya. Sementara, Cika dan Chizu mengucapkan mantra element transfer, dan hal itu mereka lakukan dengan tujuan untuk memperkuat anak panah Furuko.
Sekarang anak panah Furuko telah terselimuti oleh dua cahaya jingga dan biru. Cahaya jingga adalah tenaga sihir dari element api yang ditransfer oleh Cika, sedangkan cahaya biru adalah tenaga sihir element es yang ditransfer oleh Chizu.
"Ini akan menjadi kombinasi element api dan es yang sangat kuat dan mematikan," kata Cika yang kemudian menoleh ke arah Furuko sembari berkata, "Furuko."
Furuko yang disebut namanya oleh Cika pun langsung berkata, "Iya, Cika-san. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melesatkan anak panah ini sekarang?"
"Tunggu aba-aba dariku, ya! Kita tunggu saat yang tepat," kata Cika merespon ucapan Furuko.
Di sisi lain.
Kini Sagachi telah gagal mencongkel kristal biru yang menempel di dada naga itu. Ia terhempas, dan tubuhnya terpental akibat sang Naga Es mengguncangkan-guncangkan tubuhnya dengan grusah-grusuh, sehingga pedang yang tadinya menancap di dada naga itu telah tercopot. Itu dikarenakan, yang menjadi pegangan Sagachi saat menempel di dada Naga Es itu adalah pedangnya yang menancap, karena pedangnya sudah tidak menancap lagi, ia pun terpental dan jatuh karena sudah tidak ada pegangan lain selain itu.
Walaupun saat ini Sagachi sedang terpental dan jatuh ke bawah, akan tetapi ia tidak panik. Saat itu ia teringat teknik jatuh yang dipelajarinya saat berada di Akademi Barak Sihir. Dengan teknik itulah, ia tidak akan kesakitan saat jatuh walaupun jatuh dari ketinggian seperti saat ini.
Tekanan udara menyebabkan fungsi organ pendengaran Sagachi menurun. Rasanya seperti berada di dalam pesawat yang sedang melakukan take off.
Saat tubuhnya dan juga daratan salju hanya terpaut sekitar puluhan meter, ia langsung mempersiapkan teknik pendaratan, dan pendaratan pun berakhir dengan koprol yang Sagachi lakukan saat di tanah yang terselimuti salju.
Yang paling menguntungkan lagi bagi Sagachi adalah lapisan salju yang lumayan tebal, sehingga punggungnya tak merasakan rasa sakit yang amat dalam saat bertabrakan dengan daratan. Yang dirasakan oleh Sagachi hanya sedikit nyeri-nyeri pada punggungnya, karena yang pertama menyentuh daratan saat ia jatuh adalah punggungnya. Itulah teknik mendarat yang Sagachi lakukan. Tapi, ia juga melakukan teknik mendarat dengan koprol, sehingga membuatnya langsung menggelinding bagaikan trenggiling di atas tanah berlapis salju.
"Hufh ...." Sagachi menghembuskan lega. Namun, ia dikejutkan oleh sang Naga Es yang terbang dari atas dan akan menerjangnya.
Melihat itu, Sagachi menggenggam dengan erat pedangnya dan kemudian langsung melakukan dash ke kiri sembari bersalto-salto.
Naga itu pun hanya berakhir dengan menabrak tanah yang terselimuti oleh salju, dan hal ini membuatnya getaran tanah yang membuat Sagachi terhuyung namun masih bisa menahan tubuhnya agar tak ambruk.
"Sial! Apa yang harus aku lakukan, aku hanyalah seorang Swordman yang tak memiliki kekuatan besar, karena yang aku punya hanyalah teknik berpedang biasa," gerutu Sagachi dengan kesal. Ia tak memiliki kekuatan karena pedang biru yang ada digenggamannya itu hanyalah seperti pedang biasa yang belum terpasang kristal.
Sang Naga Es kini telah kembali meraung. Raungan naga itu diarahkan ke arah Sagachi yang berjarak sekitar tiga puluh meter dari naga itu, dan raungan itu membuat Sagachi hampir terpental. Akan tetapi, ia berusaha menahan tubuhnya dengan menancapkan pedangnya ke tanah dan pedang itu ia gunakan untuk berpegangan akar tidak terpental akibat raungan dahsyat dari sang Naga Es.
Sagachi merasa sangat dingin ketika angin kencang yang asalnya dari ruangan sang Naga Es itu menerapa tubuhnya. Ketika sang Naga Es itu telah usai dengan raungannya, Sagachi langsung memeluk tubuhnya yang terasa sangat dingin, dan efek dari sihir penghat itu juga seperti telah sirna. Tubuhnya menggigil karena saking dinginnya, akan tetapi ia berusaha dengan segenap kekuatannya untuk melawan rasa dingin itu.
Ia pun langsung mencabut pedangnya yang tertancap itu, dan kemudian ia langsung melompat ke arah sang Naga dengan kecepatan tinggi bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.
Sagachi melompat ke arah sang Naga sembari mencengkram dengan erat gagang pedangnya. Di saat ia hampir sampai di dekat tubuh sang Naga, ia pun langsung memutar-mutarkan pedangnya disertai tubuhnya yang juga ikut berputar-putar.
Tebasan memutar yang ia lakukan untuk menyerang sang Naga Es itu bagaikan seperti gangsing yang berputar-putar. Tebasan yang seperti gangsing itu, ia gunakan untuk menggores tubuh sang Naga Es. Namun karena tubuh naga itu sangat keras, yang ia lakukan itu hanyalah sia-sia belaka.
Karena serangannya itu gagal dan hanya sedikit menggores luka di tubuh sang Naga, ia pun langsung menjaga jarak dengan memancal tubuh naga itu hingga ia terpental dengan cepat ke arah daratan yang kemudian diakhiri dengan mendarat bersalto-salto.
Sagachi saat ini seperti sedang bertarung sendiri, karena ia telah terpisah sangat jauh dengan Cika, Chizu dan juga Furuko.
"Di mana mereka? Apakah mereka telah selesai men-charge panah sihir kombinasi itu. Tapi, jika aku terpisah dari mereka terlalu jauh, itu berarti ...."
Ucapannya terhenti ketika ia melihat Naga Es itu tiba-tiba akan menerjangnya lagi. Hal itu membuatnya langsung melakukan dash ke sembari salto-salto ke arah kiri dengan cepat untuk menghindari serangannya.
"Naga Es ini sepertinya tidak seberbahaya Naga Api yang bisa menyemburkan api yang sangat panas. Akan tetapi, aku harus tetap waspada dengan naga ini, bisa jadi ia belum mengeluarkan semburan yang akan membuat siapa saja membeku," gumam Sagachi dalam hati sembari berloncatan di tubuh naga itu dengan lincahnya.
"Aku harus memancing naga ini ke tempat mereka bertiga, dan sepertinya juga mereka sudah selesai menyatukan charge kekuatan mereka," gumam Sagachi dalam hati sembari meloncat dari tubuh naga itu ke arah daratan tanah yang berlapis es.
"Ya. Sepertinya mereka bertiga ada di sebelah sana," gumam Sagachi sembari berlari ke arah utara. Yang dimaksud Sagachi dengan kata 'mereka bertiga' tak lain adalah Furuko, Cika dan Chizu. Ia beranggapan dengan sesuai rencana kalau mereka pastinya sudah selesai men-charge atau mengumpulkan kekuatan kombinasinya.
Di sisi lain.
Terlihat, Furuko masih dengan menahan anak panah yang telah diselimuti dengan kekuatan sihir Cika dan Chizu.
"Ke mana Sagachi-san dan naga itu, ya?" bertanya Cika. "Teruslah tahan anak panah itu, dan lepaskan jika Sagachi-san telah berhasil mengalihkan perhatiannya dan berhasil menggiringnya ke sini! Sepertinya, ia belum ...."
Perkataan Cika terhenti ketika melihat Sagachi dan juga Naga Es yang sedang terbang di udara sedang mengejarnya. "Itu Sagachi-san dan juga Naga Es!"
"Lesatkan anak panah itu sekarang, Furuko!" sambung Cika memerintah Furuko.
"Baiklah," jawab Furuko sembari mengangguk, kemudian ia mengarahkan anak panah itu ke arah sang Naga Es yang sedang terbang mengejar Sagachi.
"Discharge!"
Furuko melesatkan anak panah itu, dan anak panah itu pun melesat bagaikan seperti kilat yang menyambar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Xiaru See U
aku bisa langsung byngin kak gimana kjadiannya dan muter muter kyak balmon gitu ya kak 🤭 uuh seru ni bener kata sensei akina kalo alur crita kakak ini kece abiez pokoknya
2023-04-05
2
Nabila Isna
wiiiih kece banget ada naga es udah kyk film fantasy china aja nie kak
2023-04-05
1
Nabila Isna
pake build apaan tuh bang 🤭
2023-04-05
1