Saat Furuko berhenti berjalan, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Dengan cepat, ia pun langsung membalikkan badannya ke arah seseorang yang menepuk pundaknya itu.
Setelah berbalik badan, yang ia lihat adalah yang ia harapkan, yaitu seorang remaja laki-laki berambut biru tua, memakai baju hitam dengan kerah pendek dan lengan sepanjang siku serta celana panjang berwarna hitam.
"Nisan!" ucap Furuko kepada pria tersebut yang ternyata adalah kakaknya sendiri—Sagachi, kemudian ia pun langsung memeluknya.
"Aku sangat merindukan Nisan," lanjutnya dengan air mata mengalir dari kelopak matanya.
Sagachi membalas pelukannya sembari mengelus-elus rambutnya dengan lembut seraya berkata. "Tunggulah Furuko! Aku akan segera menyusulmu."
Setelah mengucapkan itu, Sagchi tiba-tiba saja langsung menghilang dari pelukan Furuko.
"Nisan!" jerit Furuko dengan keras ketika ia terbangun dari mimpinya itu.
Setelah Furuko terbangun dari tidurnya, ia baru sadar bahwa itu semua hanyalah mimpi. Tapi ia berharap, bahwa yang diucapkan kakaknya di dalam mimpinya itu menjadi kenyataan, ia sangat berharap agar kakaknya benar-benar akan menyusulnya ke dunia ini.
Furuko tiba-tiba mendengar seperti ada seseorang yang sedang mengetuk pintu dari luar. Mendengar itu, ia pun menghapus air matanya, kemudian ia beranjak turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar untuk membukakan pintu. Setelah sampai di depan pintu di ruang utama, ia membukakan pintu.
"Iya, sebentar," ucapnya sembari membuka kunci pintu tersebut.
Pintu tersebut terbuka dan terlihat seseorang yang mengetuk pintu itu tadi, ternyata adalah Vitaloka.
"Selamat Pagi, Furuko," sapa Vitaloka.
"Selamat pagi juga, Vita-san,"jawab Furuko balik.
"Kenapa wajahmu terlihat sedih?" tanya Vitaloka sembari mengamati wajah Furuko.
"Nggak papa kok, aku baik-baik saja," jawab Furuko yang berusaha menutupi kesedihannya, walaupun sebenarnya tadi ia bermimpi bertemu dengan kakaknya.
"Aku tahu pasti kamu sedang ada masalah, ceritakan saja padaku, siapa tahu aku bisa membantu menyelesaikan masalahmu," ujarnya sambil meletakkan kedua tangannya di atas kedua pundak Furuko. Dilihat dari sikapnya yang seperti itu, pertanda bahwa Vitaloka sangatlah peduli pada Furuko, meskipun ia baru saja mengenal Furuko.
"Sebenarnya ... semalam aku bermimpi bertemu dengan kakakku," jawab Furuko jujur.
Setelah mengatakan itu, Furuko tak kuasa menahan air matanya, hingga deraian air matanya mengalir dengan sendirinya. Ia menangis tersedu-sedu karena mengingat kejadian perpisahannya dengan kakaknya.
Melihat Furuko menangis seperti itu, Vitaloka langsung memeluk Furuko dan mengelus-elus rambutnya dengan lembut. Ia berusaha menenangkan diri sembari berkata, "Sebenarnya apa yang terjadi? apakah kamu bisa menceritakan kejadian yang kamu alami hingga kamu bisa berada di dunia ini?" ujarnya sembari melepas pelukannya itu, tapi kedua tangannya masih memegangi kedua pundak Furuko.
"Baiklah, aku akan menceritakannya, sepertinya ini waktu yang tepat," jawab Furuko menyetujui permintaan Vitaloka.
___________________
FLASHBACK OFF
___________________
"Begitulah ceritanya, Nisan. Setelah itu aku menceritakan semua kejadian yang kualami dari awal saat aku berada di dunia asalku sampai aku berada di dunia ini pada Vita-san." Itulah yang dikatakan Furuko seusai menceritakan yang dialaminya pada Sagachi.
Setelah mendengar cerita dari Furuko, Sagachi merasa bersalah padanya. Ia mengahadapkan wajahnya ke arah Furuko yang duduk di sebelahnya. Alisnya turun, kemudian ia berkata, "Maafkan nisan, Furuko. Gara-gara nisan, kamu jadi menderita seperti ini."
"Itu bukanlah salah Nisan, tapi salahku karena waktu itu aku yang minta untuk pergi jalan-jalan ke Prancis. Padahal, harusnya kita tidak perlu jalan jauh-jauh. Justru keputusan Nisan terhadap sosok itu sangat bagus. Berkat keputusan Nisan, kita bisa bertemu lagi, walaupun aku baru bertemu dengan Nisan setelah empat puluh hari menunggu." Sembari berkata seperti itu, bibir Furuko bergetar menahan tangisan, napasnya menjadi tidak teratur, jantungnya berdetak sangat cepat dan bahkan deraian air mata menetes karena ia sudah tak kuasa lagi menyeka air matanya.
"Jangan tinggalkan aku Nisan!" sambungan sembari menempelkan kepalanya di dada kakaknya.
Dengan segera, Sagachi pun langsung merangkul adiknya itu dan mengelus lembut rambutnya. Furuko masih dengan menangis di pelukan kakaknya, sedangkan Sagachi berusaha untuk menenangkan adiknya itu dengan berkata, "Tenanglah, Imouto! Apa pun yang terjadi, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu."
^^^Imouto: adik perempuan.^^^
...----------------...
Keesokan harinya, Furuko mengajak kakaknya untuk pergi ke Barak Sihir—tempat untuk berlatih agar bisa menjadi petarung dengan berbagai pilihan job. Sesampainya di sana, terlihat sebuah bangunan besar dengan sebuah gambar pedang ganda yang menyilang ⚔️ di atas pintu bangunan tersebut.
"Nah, ini tempatnya, Nisan," ujar Furuko, setelah mereka sampai di depan pintu masuk Barak Sihir. "Yuk, kita masuk!"
"Baiklah, ayo!" respon Sagachi, kemudian mereka pun memasuki bangunan yang disebut Barak Sihir tersebut.
Ruangan pertama yang mereka lihat setelah masuk adalah ruang pendaftaran. Di sana terdapat seorang wanita yang sedang mengurusi pendaftaran orang-orang yang ingin mendaftar untuk menjadi petarung. Untungnya, antriannya hanya tujuh orang saja. Jadi, Sagachi dan Furuko tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendaftar.
"Di sini kita menunggu antrian dulu ya, Nisan!" ucap Furuko. "Setelah itu, Nisan bisa mendaftarkan diri untuk mengikuti pelatihannya."
"Jadi, harus mengantri juga, ya?" tanya Sagachi.
"Iya, tapi gak lama kok, ini keberuntungan Nisan. Kenapa aku bilang kalau ini adalah keberuntungan Nisan? Karena waktu aku mendaftar, aku mengantri hingga lima puluan orang, sedangkan Nisan hanya tujuh orang," ujar Furuko menjelaskan.
"Oh, jadi begitu, ya? Baiklah, aku akan menunggu," respon Sagachi.
...---...
Tak berselang lama setelah sekitar lima belas menit Sagachi mengantri, akhirnya pun sekarang adalah gilirannya untuk mendaftar. Wanita yang mengurus pendaftaran itu pun langsung menanyai Sagachi ketika ia maju ke tempat pendaftaran itu.
"Apakah Anda ingin mendaftar menjadi petarung?" tanya wanita itu.
"Ya!" jawab Sagachi dengan serius.
"Baiklah, job apa yang akan Anda ambil?" Wanita itu bertanya lagi.
"Job?" Sagachi bertanya karena ia baru kali ini mendengar kata 'job', dan ia tidak memahami maksudnya. "Apa itu job?"
Furuko yang di samping kanannya Sagachi pun langsung menjawab pertanyaan Sagachi sebelum wanita pengurus pendaftaran itu menjawab.
"Job itu kelas yang akan Nisan pilih, dan banyak macam-macam job," ujar Furuko menjelaskan.
"Apa saja pilihannya?" tanya Sagachi.
Furuko pun menjawab, "Knight, yaitu job yang menggunakan pedang sama perisai. Paladin juga job knight, tapi menggunakan atribut suci, dan yang lain seperti Healer, Buffer,Warrior, Theif, Warlock, Mage, Saint, Swordman dan Archer seperti job yang kupilih."
"Bagaimana, Nisan? Dari sekian banyak job yang sudah aku sebutkan tadi, Nisan tinggal pilih yang mana?" sambung Furuko dengan bertanya.
"Kalau job yang senjatanya pedang apa?" tanya Sagachi lagi, pandangannya masih mengarah ke Furuko. Sementara wanita pengurus pendaftaran itu hanya diam membiarkan mereka berdua berdiskusi, karena setelah mereka sudah tidak ada antrian lagi, jadinya santai.
"Untuk senjata pedang Nisan bisa pilih Swordman, tapi saranku Nisan mending ambil job Knight aja, soalnya nanti Nisan juga dibekali pedang dan perisai, kalau Swordman hanya pedang saja," ujar Furuko menjelaskan.
Mendengar penjelasan dari adiknya, Sagachi langsung menghadap ke arah wanita pengurus pendaftaran, kemudian ia berkata, "Baiklah, aku memutuskan untuk mengambil job ...."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments