Beberapa saat kemudian, Sagachi membuka matanya perlahan. Pada saat ia membuka matanya, matanya membulat dengan sempurna, karena ia telah berada di dunia lain.
Bisa ia lihat, kalau sekarang ia telah menggunakan baju semi jas berwarna hitam dengan kerah agak tinggi dan lengan yang panjangnya sampai siku serta celana panjang berwarna hitam. Padahal, tadinya ia tidak memakai baju itu.
Saat ini cuacanya sedang cerah, kira-kira seperti jam sebelas siang semisal ada jam di dunia ini.
"Apakah ini dunia lain yang di maksud sosok misterius itu?" tanyanya entah pada siapa. Karena Sagachi berada di sebuah padang rumput yang luas seorang diri.
Setelah itu, Sagachi berlari ke arah depan dari padang rumput tersebut, dan ia berinisiatif untuk mencari kota atau desa di dunia lain ini.
Langkah demi langkah, detik demi detik, menit demi menit dan bahkan hingga berjam-jam Sagachi berlari, hingga pada akhirnya pun, ia menemukan sebuah kota.
Sagachi memasuki kota tersebut, dan di kota itu terlihat begitu ramai orang berlalu lalang. Sagachi pun berjalan-jalan untuk mencari sebuah penginapan di kota tersebut.
Saat ia sedang mencari penginapan, ia bertemu seorang wanita berambut panjang berwarna biru tua, memakai baju berwarna merah muda dengan lengan pendek dan sedikit baju besi baja di dadanya, memakai celana ketat pendek dan stoking hitam panjang sampai paha, serta membawa sebuah busur yang dicangking di tangan kananya.
"Ka–kau Furu—" Belum sempat Sagachi menyelesaikan perkataannya, wanita itu langsung memeluk Sagachi karena wanita itu mengenal Sagachi.
"Iya, Nisan. Ini aku, Furuko," jawab wanita tersebut yang ternyata adalah Furuko—adiknya sendiri.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan Nisan di dunia ini," ucap Furuko sembari melepas pelukannya, akan tetapi ia masih memegangi pundak Sagachi. Hatinya sangat bahagia bisa bertemu dengan kakaknya.
"Ternyata sosok misterius itu menepati janjinya, ya." Sagachi teringat dengan kejadian saat bertemu dengan sosok misterius itu di penjara.
"Sosok misterius? Maksudnya apa, Nisan?" tanya Furuko, ia penasaran dengan yang diucapkan Sagachi barusan.
"Maksudnya sosok misterius yang meneleport nisan ke dunia ini," jawab Sagachi
"Jadi, Nisan bisa berada di sini karena diteleport oleh sosok misterius itu?" tanya Furuko sembari menurunkan tangannya yang tadi masih memegangi pundak Sagachi.
"Iya, karena sosok itu telah berkata, jika nisan menyetujui persyaratannya, nisan akan hidup bahagia dan dia akan meneleport nisan dan kamu di dunia ini, dan ternyata dia menepati janjinya, dan ternyata sekarang nisan bisa bertemu denganmu di dunia ini sekarang," jawab Sagachi menjelaskan.
"Tapi kok tampilan Nisan seperti baru saja datang ke dunia ini?" tanya Furuko sembari memandangi penampilan Sagachi yang masih terlihat sangat sederhana.
"Memang nisan baru saja datang di dunia ini. Memangnya, kamu udah lama di dunia ini?" tanya Sagachi.
"Iya, Nisan. Aku sudah empat puluh hari di dunia ini," jawab Furuko.
Mendengar jawaban Furuko Sagachi malah jadi tambah bingung dengan yang dialaminya. Padahal, rasanya baru kemarin dia bersama adiknya di dunia asalnya saat mereka melihat Menara Eiffel.
"Setahu nisan itu, kamu juga baru di sini Furuko. Pantesan aja penampilanmu udah seperti ini."
"Iya, Nisan. Berarti sosok itu lebih dulu menteleport aku sebelum menteleport Nisan."
"Berarti perbedaan waktu di dunia asli kita dengan dunia ini sangat jauh, ya."
"Mungkin seperti itu Nisan, karena kita di sini sudah berada di alam yang berbeda, dan waktu di sini berjalan lebih cepat daripada di dunia asal kita," ujar Furuko berpendapat.
"Emmm ... betul juga sih." Sagachi menatap busur yang dicangking Furuko. "Sebenarnya kamu mau ke mana sih, kok bawa busur?"
"Sebenarnya aku tadi mau ke hutan untuk berburu Nisan," jawab Furuko menjelaskan. "Tapi, karena aku bertemu Nisan di sini, aku tidak jadi deh," lanjutnya sembari tersenyum.
"Gak apa-apa kalau kamu ingin berburu, kalau perlu biar nisan bantu," tawar Sagachi.
"Emangnya Nisan mau bantu aku gimana? senjata aja belum punya," ujarnya menanggapi tawaran kakaknya. "lebih baik Nisan ikut aku aja yuk, ke penginapanku!" lanjutnya menawarkan, kemudian ia memutar tubuhnya dan hendak berjalan menuju ke penginapan tempat tinggalnya.
"Penginapan? Jadi kamu tinggal di penginapan, ya?"
"Iya, Nisan. Ayo, ikut aku aja!" ajak Furuko sambil menggunakan isyarat tangannya untuk mengajak kakaknya.
"Baiklah." Sagachi menanggapi dan berjalan mengikuti Furuko.
Mereka berjalan tanpa mengobrol lagi. Terlihat suasana di kota tersebut ramai dan banyak orang berlalu-lalang. Sagachi melihat banyak orang yang membawa senjata untuk berburu di hutan. Di antara senjata-senjata yang mereka bawa berbeda-beda. Ada yang membawa pedang panjang(long sword), ada yang membawa kapak, ada yang membawa tombak, ada yang membawa tongkat(kelas penyihir) dan ada pula yang membawa busur seperti Furuko.
Tak lama kemudian, mereka sampai di tempat tujuan mereka, yaitu penginapan yang Furuko tinggali.
"Nah, ini penginapan yang aku tinggali Nisan. Walaupun kecil, tapi lumayan lah buat kita tinggali," ujarnya sambil berjalan ke arah pintu rumah tersebut. "Ayo Nisan, kita masuk!" tawar Furuko, ia membuka pintu itu dengan kunci yang ia ambil dari sakunya dan Sagachi hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu mengikuti Furuko masuk ke dalam penginapan tersebut.
Di dalam penginapan tersebut Sagachi melihat beberapa lukisan kuno. Sagachi terus menatap gambar seorang ksatria yang sedang melompat membawa tombak dan hendak menusukan tombak ke dada seekor naga yang di dada naga itu ada kristal berwarna hitam.
"Kenapa Nisan terus menatapi lukisan itu?" tanya Furuko yang melihat kakaknya yang terus menatap lukisan itu.
"Apakah, naga itu adalah salah satu raja iblis?" Bukannya menjawab ia malah bertanya sambil menunjuk ke arah lukisan tersebut.
"Maksudnya apa Nisan? Kok tiba-tiba Nisan membahas tentang raja iblis?" tanya Furuko heran, ia menatap wajah Sagachi.
"Sosok misterius yang meneleport nisan itu menyuruh nisan untuk membunuh tujuh raja iblis yang ada di dunia ini," jawab Sagachi menjelaskan.
"Raja iblis?"
"Iya, dan nisan harus membunuh mereka, karena itu adalah misi nisan di dunia ini," ucap Sagachi sambil berjalan ke arah kursi kayu yang ada di ruangan tersebut, kemudian ia mendudukinya.
"Berarti Nisan harus pergi ke barak sihir, di sana ada banyak senjata sihir yang beragam, dan di sana nanti Nisan akan diajari caranya bertarung menggunakan senjata-senjata tersebut. Jika Nisan berminat, besok Nisan akan aku antar ke sana," ucap Furuko menjelaskan, kemudian berjalan ke arah kursi kayu yang berada di sebelah Sagachi, dan kemudian ia mendudukinya.
"Tentu saja nisan berminat. Baiklah, besok antar nisan ke sana, ya!" ucap Sagachi. "Untuk sekarang nisan ingin mendengarkan kamu menceritakan kejadian saat di prancis itu hingga kamu bisa berada di dunia ini," lanjutnya dengan pandangan matanya yang menatap adiknya.
"Baiklah, tapi nanti ya setelah makan. Aku tahu kok, pasti sekarang lagi lapar, 'kan?"
"Iya sih, memang nisan sangat capek, haus dan juga lapar setelah perjalanan yang lama mencari kota di dunia ini dari luasnya padang rumput di hutan sana," curhatnya, kemudian ia berdiri di depan Furuko. "Akan tetapi rasa capek, haus dan lapar itu seolah hilang setelah nisan bertemu denganmu, Furuko. Oleh karena itulah, nisan ingin mengobrol denganmu lebih lama lagi. Sekarang ayolah, ceritakan! Nisan penasaran dengan kejadian yang kamu alami saat itu." Lanjutnya sambil jongkok di depan Furuko dengan tangannya yang mengisyaratkan permohonan.
"Baiklah, kalau Nisan maunya aku cerita sekarang," jawab Furuko menyanggupi.
Mendengar jawaban adiknya yang menyanggupi permintaannya itu, Sagachi langsung berdiri dari posisi jongkoknya, kemudian ia duduk di kursinya kembali dengan raut wajah yang terlihat senang.
"Ceritakan lah!" ucap Sagachi yang tidak sabar mendengar cerita Furuko.
"Pada saat itu ...."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Gembelnya NT
'ia' jg bnyk nih
2023-03-12
1
Gembelnya NT
Banyak amat kata 'matanya' 😅😅
2023-03-12
1
PINDAH PF
😁🙄 Ratu Iblis tuh Serpihan Salju bikin pembaca baper terus liat diksinya 😁
2023-02-23
3