''Diam! Gue lemparin lu sepatu gue, kalau lu nggak diam!'' jengkel Dyta, karna Farel belum meredahkan tawanya.
''Malulah, Citing! Itu Lion bukan Agrif!'' Farel menggeleng, seraya meredahkan tawanya.
Dyta melanjutkan langkah kakinya, melewati Farel yang masih menyisahkan tawanya. Farel mengikuti Dyta dari belakang.
Mereka berdua sudah sampai di parkiran sekolah, Dyta memakai helm yang di berikan Farel untuk dirinya.
Farel mulai menyalakan mesin motornya.
''Besok, lu nggak usah jemput gue lagi,'' jelas Dyta seraya naik keatas motor sport milik Farel.
''Lah, kenapa?'' tanya Farel bingung.
''Mamah gue udah ambil supir, dia yang bakalan antar jemput gue ke sekolah sama Dyra,'' jelasnya dan dibalas anggukan kepala oleh Farel.
Seperti biasa, Farel menurunkan stand kaki motornya untuk Dyta, hal yang dia lakukan setiap Dyta menaiki motornya. Hal itu sepertinya sudah menjadi kewajibanya, karna tak pernah Farel melupakan hal itu jika bepergian dengan Dyta.
Dyta memegang pundak Farel, lalu mulai naik keatas motor Farel.
''Pegangan,'' ujar Farel, Dyta langsung memegang kedua pundak Farel dengan kedua tanganya.
Farel mulai menjalankan motornya, meninggalkan parkiran sekolah, arah motornya menuju ke rumah Dyta.
Dia akan mengantar terlebih dahulu Dyta pulang, sore nanti dia akan menjemput gadis itu untuk latihan.
''Jadi, gue nggak perlu jemput lu besok?'' tanya Farel, dia tidak melajukan motornya kali ini.
Dia hanya membawa motor dengan kecepatan sedang saja.
''Nggak usah, karna mulai besok supir udah jalanin tugasnya,'' balasnya kepada Farel.
Kayla sudah memberitahukan kepada anak-anaknya, mereka akan di antar jemput oleh supir baru.
''Kalau gue nggak jemput lu lagi, gue nggak bawa motor lagi ke sekolah,'' balas Farel membuat Dyta mengangguk.
''Kecuali pergi di tempat lain, baru lu jemput gue pake motor. Kalau ke sekolah, nggak usah. Karna udah ada supir. Gue juga nggak enak sama lu. Udah jadi beban antar jemput ke sekolah,'' terangnya kepada Farel membuat Farel langsung mencubit pelan tangan Dyta.
''Apa sih, Rel!''
''Ngomong apa lu barusan?''
''Beban, emangnya kenapa?'' lanjut Dyta.
''Lu nggak beban dalam hidup gue, Citing. Kecuali satu....'' Farel menggantung ucapnya membuat Dyta penasaran dengan kelanjutan ucapan sahabatnya.
''Apa?'' tanya Dyta penasaran.
Farel memutar sedikit kepalanya, sehingga dia bisa melihat Dyta dengan jarak yang dekat.
''Beban pikiran,'' lanjut Farel dengan tawa kecilnya membuat Dyta langsung memutar kepala cowok itu, agar fokus kedepan membawa motor.
''Lihat kedepan!'' protes Dyta, Farel hanya tertawa kecil.
Dyta tidak mudah baper dengan tindakan yang dia berikan sejak mereka kecil, berbeda dengan Dyra, gadis itu selalu baper jika di manjakan dan diberikan ucapan manis oleh Farel.
Tidak butuh waktu lama, Farel sudah sampai di depan rumah Kayla.
Dyta langsung turun dari motor Farel, ''buat apa lo kasi tuh helm gue?'' Farel menaikkan alisnya sebelah, seraya menaikkan stand kaki motornya.
''Itu helm gue beli buat lu, ngapain malah mau di balikin. Mending lu simpan baik-baik tuh helm pemberian gue di kamar lu. Kalau perlu beliin kaca pelindung agar terhindar dari debu!'' oceh Farel membuat Dyta memutar bola matanya malas.
''Iyya-Iyya!'' balas Dyta dengan sekenanya.
''Gue duluan.'' Tangan Farel bergerak mengacak rambut Dyta, lalu melenggang pergi meninggalkan gadis itu.
Dyta menggeleng seraya masuk kedalam rumah, tindakan Farel dan perhatian cowok itu tidak pernah pilih-pilih sejak mereka kecil.
Farel menyamaratakan dirinya, Dyra dan Hasya keponakanya. Farel menyanyangi ketiganya, seperti adiknya sendiri.
Dyta membuka pintu utama, hal pertama yang dia lihat adalah Revan adiknya. Revan sedang tengkurap diatas sofa panjang, seraya bermain game.
Dyta membuka sepatunya, lalu menyimpannya ditempat sepatu.
''Kak Dyta pulang sendiri?'' tanya Revan membuat Dyta menaikkan alisnya sebelah.
''Kak Dyra mana?'' tanya Revan lagi.
''Dia belum pulang?'' tanya Dyta dan dibalas gelengan kepala oleh Revan.
''Itu anak kemana lagi sih,‘’gumam Dyta, seraya berjalan menuju sofa untuk mendudukkan tubuhnya di sana.
''Mungkin dia pergi sama pacar barunya,'' celetuk Revan. ''Kalau nggak salah, namanya Aldi. Kak Dyra bilang, nama pacar barunya itu Aldi.''
Dyta menekan nomor Dyra, namun saudaranya itu tak kunjung mengangkat telfonya.
''Mungkin dia kerumah tante, Rara,'' gumam Dyta.
***
Sigit melihat pintu kelas belum tertutup, membuat ketua kelas IPA itu langsung berjalan menuju kelasnya untuk mengunci pintu kelas.
Jendela di kelasnya sudah tertutup semua.
Sigit langsung menutup pintu kelas, tanpa melihat kedalam. Dia tidak tau, didalam kelas ada Dyra yang sedang tidur.
Gadis cantik itu ketiduran di dalam, padahal niatnya ingin membaringkan kepalanya diatas meja. Namun keterusan hingga sekarang.
Sigit berjalan meninggalkan kelasnya, berjalan menelusuri koridor untuk menuju parkiran dan selanjutnya dia akan pulang.
Raka sedang berada di parkiran sekolah, sudah satu jam lebih sekolah sudah bubar, namun cowok itu masih di parkiran menunggu seseorang.
''Maaf kak, lambat.'' Yoga, menyerahkan kunci ruangan olahraga kepada kakak kelasnya itu.
Yoga yang memegang kunci ruangan olahraga, karna cowok itu mempunyai tanggung jawab sebagai ketua osis.
Sudah ku katakan bukan, jika Dyra mempunyai beberapa mantan di sekolahnya. Termasuk Sigit ketua kelasnya dan Yoga sang Ketos.
''It’s oky,'' balas Raka dengan santai, Yoga pamit kepada Raka. Dia hanya datang membawakan kunci kepada Raka, lepas itu dia kembali.
Yoga sudah pergi meninggalkan Raka di parkiran.
'''Hey, kak Raka!'' sapa Sigit. Sigit ingin mengambil motornya di parkiran dan melihat ada Raka di sini.
''Cieeee, yang udah jadian sama sih Dyra!'' goda Sigit, dia masih berharap bisa balikan dengan Dyra.
Namun mengetahui Raka dana Dyra berpacaran, membuat Sigit harus mengubur keinginanya itu.
Lagian, Dyra juga bukan tipikal gadis yang ingin balikan dengan namanya mantan.
Raka hanya tersenyum, Sigit merupakan anggota tim basket mereka juga. Raka juga tau, kalau Sigit masih mengharapkan Dyra.
Sigit orangnya baik, humoris dan sopan.
‘’Langgeng ya, Kak. Kalau Dyra centil sama cowok lain, langsung jitak aja keningnya,'' canda Sigit, membuat Raka ikutan tertawa.
Mereka semua hampir sudah tau, bagaiamana sifat dari saudara kembarnya Dyta itu.
‘’Lo tenang aja, sekali dia lirik cowok lain, gue bakalan colok matanya,'' tawa Raka membuat Sigit juga ikutan tertawa.
Berpacaran dengan Dyra, harus ekstra hati-hati, gadis itu gampang memikat lawan jenisnya, dan selalu saja membuat mantan-mantanya gagal move on kepada gadis itu, termasuk Sigit dan Yoga.
''Kak gue duluan,'' pamit Sigit dan dibalas anggukan kepala oleh Raka.
''Hati-hati lo,'' ucap Raka.
''Iya, Kak. Jangan lupa traktirannya besok!'' ucap Sigit lagi lalu pergi meninggalkan Raka.
Raka hanya tersenyum, lalu melangkahkan kakinya untuk menuju ruangan olahraga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
Anisnikmah
anaknya Valen gak disini juga ya,, paling kecil itu mungkin anaknya Nathan ya paling akhir nikah. centilnya dyra kayak Valen dulu
2023-03-04
0
ibu nya aura
anak ny lea dan nathan blm nongol nich
2023-01-09
0
ibu nya aura
anak ny
2023-01-09
0