Drttttt
Drtttt
Drtttt
Drttt
Ponsel milik Farel sudah bergetar berulang kali, menandakan adanya seseorang yang menelfon dirinya.
Sudah jam 12 siang, Farel tak kunjung bangun dari tempat tidurnya, semalam dia pulang jam 3 dini hari.
Dia sangat mengantuk, sehingga deringan Telfon dari Dyta tidak dia dengarkan, membuat Dyta mengumpat di sana.
''Dasar Farel kebo!'' decak gadis itu, karna sedari tadi dia menelfon Farel, cowok itu tidak mengangkatnya.
Dyta sudah tau kebiasaan cowok itu, dia juga yakin jika saat imi Farel masih bergelenyut diatas tempat tidurnya, dengan selimut tebal.
Bisa-bisanya cowok itu tidur dari pagi sampai siang begini, dia belum bangun juga.
Jam dua nanti, Dyta akan menelfon Farel kembali, terlebih dahulu dia keluar kamar mencari Dyra.
''Ra!'' panggil Dyta menuruni anak tangga, mencari adiknya itu.
''Dyra di sini, kak!'' Itu bukan suara Dyra, melainkan suara Revan yang terdengar di ruangan tv.
''Kak Dyra lagi pake masker, jadi nggak bisa ngomong!'' lanjut Revan membuat Dyta menggeleng.
Adiknya itu memang full perawatan sejak mereka kelas 1 Smp, sementara dirinya? Sudah di katakan bukan, jika dia sangat bertolak belakang dengan Dyra.
Dyra mengacungkan jempolnya kepada Revan, karna sudah mengerti dengan kode yang dia berikan.
Dia sedang maskeran, sehingga dia menyuruh Revan untuk menyahut. Karna wajahnya kaku, jika dia mengeluarkan suara, maskernya akan gagal.
Revan sudah kelas 1 smp, tubuhnya yang kekar membuat dia seperti cowok remaja SMA.
Dyta ikut duduk di sofa bersama dengan Revan yang sedang bermain game di ponselnya.
Sementara Dyra membaringkan tubuhnya, dengan mata terpejam serta wajahnya di polesi masker untuk mencerahkan wajahnya.
Dyta tak habis pikir, Dyra selalu berusaha perawatan, padahal wajah dan tubuhnya memang sudah putih bersih sejak lahir. Tapi, dia tetap perawatan membuatnya semakin berserih-serih saja.
''Jangan main game terus, belajar sana,'' ucap Dyta kepada adiknya itu.
Mereka berdua saling bertatapan, Dyta menaikkan alisnya, Adiknya itu seperti seorang kakak saja untuk dirinya dan Dyra.
Bagaiamana tidak, jika tinggi Dyra dan Dyta di lampaui oleh Revan, sang adik.
''Revan nggak perlu belajar, udah rangking satu di kelas,'' jawab Revan.
Dyta diam-diam memotret wajah Dyra yang menggunakan masker wajah, serta mulutnya sedikit terbuka, mungkin saja gadis itu keterusan tidur, bisa-bisanya Dyra itu maskeran siang-siang bolong.
Dyta tertawa melihat hasil potretanya begitu luar biasa, tanganya bergerak membuka wa lalu mengirim foto itu kepada Farel.
Revan kembali memainkan game di ponselnya.
''Van...Mamah belum pulang?'' tanya Dyta kepada adiknya.
''Belum, katanya mau lanjut arisan sebentar sore sama tante Rara dan tante Valen,'' jawab Revan tanpa mengalihkan pandanganya dari ponselnya.
Dyta berdiri dari kursi sofa yang dia duduki, lalu melirik Dyra yang masih belum bergeming.
''Jangan lupa bangunin Dyra, entar itu maskernya tertempel terus di mukanya,'' kata Dyta membuat Revan melirik kakak keduanya itu.
Baru-baru saja Dyra bicara denganya tadi, namun gadis itu sudah tidur saja.
''Ok.''
Dyta berjalan meninggalkan kedua adiknya.
''Kalah,'' gumam Revan, dirinya telah kalah bermain game.
Dia berdiri dari kursi sofa, lalu menghampiri Dyra yang tidur sambil maskeran.
''Kak Dyra bangun!'' Revan mengguncang tubuh Dyra, membuat gadis itu bergumam kecil.
''Apasih, Van. Kamu nggak lihat kakak cantik mu ini sedang maskeran.''
''Itu masker kakak nanti tertempel terus,'' ucap Revan membuat Dyra langsung membuka matanya.
''Gue ketiduran?''
''Iya.''
Dyra memperbaiki duduknya, mengambil cermin diatas meja, lalu mulai membuka maskernya secara perlahan-lahan.
Dia harus perawatan, sebelum bertemu dengan pacar barunya, mereka berkenalan di Instagram, kenalan hanya satu minggu, lalu mereka pacaran. Begitu gercep Dyra jika soal ini.
''Dyta tadi ngapain cari gue?'' tanya Dyra tanpa mengalihkan pandanganya dari cermin, karna sibuk melihat wajahnya yang semakin berserih, habis pake masker.
''Cuman nyariin doang,'' jawab Revan.
''Van..'' panggil Dyra, sehingga adik kakak itu saling bertatapan.
''Muka gue udah glowing, kan? Berkilau gitu?'' tanya Dyra, dia tidak puas melihat wajahnya di cermin, tanpa di puji secara langsung.
Itulah Dyra.
Revan menatap waja kakaknya itu. ‘’Masih seperti Dyra,'' ucap Revan polos membuat Dyra menghentakkan kakinya kesal.
''Gue tau, gue masih tetap Dyra, maksud gue itu, wajah gue makin cantik, kan, pake masker ini,'' ucap Dyra lagi memperlihatkan masker itu kepada Revan.
Revan membuka mulutnya sedikit, ber 'oh' riah dengan ucapan Dyra.
''Jadi gimana? Gue tambah cantik, kan?'' tanya Dyra sekali lagi.
Revan mengangguk. ''Makin cantik,'' ucap Revan membuat Dyra mengulas senyuman. ''Karna semua perempuan itu emang cantik,'' lanjut Revan membuat Dyra langsung melemparkan bantal sofa ke adiknya itu.
''Kesal gue sama lo, Van.'' Dyra berdiri dari kursi sofa, untuk menuju lantai atas di kamarnya.
Dyra berjalan melewati kamar Dyta, langkah kakinya tehenti saat samar-samar dia mendengar suara isakan kecil dari dalam kamar Dyta.
Dyra mengintip di balik pintu yang sedikit terbuka, dia melihat Dyta sedang menagis memeluk bingkai foto.
Dyra yakin, jika bingkai foto yang di peluk oleh saudaranya itu, foto milik papahnya.
“Gue pikir, kak Dyta udah nggak terlalu memikirkan ini. Gue pikir kak Dyta udah terbiasa, karna kak Dyta udah nggak nangis kayak dulu, ternyata gue salah.”
Dyra mengusap air matanya yang jatuh di pipihnya, sejujurnya, dia juga merindukan Elga.
Dyra kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya, dia tidak mau jika Dyta melihat dirinya di sini.
Dyta melirik jam di dinding kamarnya, sudah menunjuk pukul dua siang, Farel belum juga bangun, jika cowok itu bangun, sudah pasti Farel akan menelfonya balik.
Dyta mengambil ponselnya, lalu mulai kembali menelfon Farel.
Dyta berdecak kesal, tidak ada respon di seberang sana. Berulang kali Dyta menelfon Farel namun tak kunjung di angkat.
Bisa-bisa cowok itu tidur sampai malam, dan mereka akan gagal pergi sore ini, jika Farel tidak bangun.
Dyta mengambil handuk, masuk kedalam kamar mandi untuk segera mandi dan bersiap-siap.
Dia akan ke apartemen milik Farel, membangunkan cowok itu. Bisa saja mereka pergi jam lima, tapi jika Farel terus-terusan tidur, mereka akan batal pergi.
Setelah mandi, Dyta langsung siap-siap. Memgambil baju kaos lengan pendek, memakai celana jeans, dengan kedua lututnya sedikit robek.
Dia mulai memesan taxi online, untuk mengantarnya menuju aparatemen Farel. Dia berjanji pada dirinya sendiri, dia akan menghar cowok itu.
Bisa-bisanya dia tidur sampai jam begini, padahal mereka punya janji sore ini.
Dyta menuruni anak tangga, untuk segera turun. Dia sudah tidak melihat kedua adiknya di ruangan tv.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
IK
seru deh kalo baca cerita tentang anak anak abg.. berasa muda😂
2023-01-05
1
Kyli
Lanjut thorrr
2023-01-04
0