''Ishhhh! Jorok banget lo Citing! Ingus lo nempel di baju gue!'' Farel pura-pura jijik membuat Dyta semakin menempelkan hidungnya di baju Farel.
''Rasain....Rasain!''
''Jorok banget sih lo!''
Dyta tertawa melihat Farel berekspresi ingin muntah.
''Nggak usah jijik lo, Rel! Munafik tau nggak!'' ejek Dyta seraya mengusap ingusnya menggunakan bajunya. ''Biasanya lo, kan, pindahin ingus gue.''
''Itu beda cerita bego!'' cercah Farel. ''Lo udah gede, waktu itu gue pindahin ingus lo, karna lo masih bocil!''
''Ingat ya, Rel. Gue sama lo itu cuman beda 2 tahun!''
''Tetap aja lo adek,'' balas Farel dan hanya dibalas acuh oleh Dyta.
Dyta berjalan mengambil bola basketnya, sudah jam 4 sore, dia harus pulang.
''Rel, pulang yuk!'' ajak Dyta setelah mengambil bola basket kesayanganya.
''Gue ambil motor dulu.''
Farel mengambil kunci motornya didalam tas miliknya, yang dia simpan di tempatnya duduk tadi.
Farel menyalakan mesin motornya, lalu menjalankan motornya menghampiri Dyta yang menunggu dirinya, tidak jauh dari tempatnya mengambil motor.
''Kalau mau main basket, pake skateboard aja lo, Rel. Gue nggak apa-apa jalan kaki sampai kerumah gue,'' ujar Dyta.
Jarak dari rumahnya ke lapangan tempatnya sering bermain basket, tidak terlalu jauh.
''Lo nggak lihat ini bacanya apa?'' tunjuk Farel melihatkan di depan motornya, tertempel sticker bertuliskan “Buat jemput curiting.”
Dyta tersenyum mengejek. ''Gue kayak beban lo aja,'' ucap Dyta dengan tawa kecil membuat Farel hanya mengedikkan kedua bahunya.
''Beban pikiran maksud lo?''
''Ngaco!''
''Buruan naik.'' Farel menurunkan stand kaki motornya untuk Dyta. Hal kecil yang sering dia lakukan, jika menjemput Dyta.
Dyta langsung naik keatas motor sport milik Farel, lalu memegang pundak cowok itu, tanganya yang satu memegang erat bola basketnya.
''Pegangan,'' perintah Farel lalu mulai menjalankan motornya.
Farel fokus mengendarai motornya, sekali-kali melirik Dyta melalui kaca spion motornya. Senyuman terbit di wajah cowok itu.
Farel memutar sedikit kaca spion motornya, agar fokus kepada wajah Dyta.
''Citing...''
''Gue tau, lo lakuin hal bodoh lagi!'' tawa Dyta menutup wajahnya dengan bola basket.
Untung saja Farel tidak kencang membawa motor.
Farel ikutan tertawa, mereka berdua memang sering begini. Tawa Dyta merupakan melodi indah yang sangat senang dia dengarkan.
Sekitar lima menit mengendarai motor, Farel sudah sampai di depan pagar rumah Dyta.
Dyta turun dari motor Farel, lalu kemudian Farel menaikkan kembali stand motornya. Itu adalah Farel, setiap menjemput dan mengantar Dyta, dia selalu menurunkan stand motornya. Jika Dyta sudah turun, dia kembali menaikkanya.
Itu semua tidak luput dari penglihatan Dyta.
''Lo nggak lupa, kan, besok hari minggu.'' Dyta mengingatkan Farel.
''Tentu saja,'' jawab Farel. ‘’Seperti biasa, lo tinggal siap-siap gue jemput,'' lanjut Farel seraya menatap wajahnya di kaca spion, lalu menyugar rambutnya ke belakang.
''Mau gue jemput pake motor atau mobil?'' tanya Farel.
''Terserah lo aja.''
''Gue jemput pake motor aja, biar lebih sweet. Lumayan juga, ada yang nempel di belakang,'' ujar Farel seraya tertawa dan di hadiahi cubitan di perutanya.
''Nafsuan lo. Buruan lo balik sana. Gue masuk,'' usir Dyta.
''Lo masuk duluan, baru gue pulang,'' pintah Farel.
Dyta lalu pergi meninggalkan Farel, baru lima langkah suara Farel langsung menghentikan langkah kakinya.
''Citing,'' panggil Farel, lalu Dyta membalikkan tubuhnya, menatap cowok tampan itu.
''Stay with me,'' ujar Farel membuat Dyta tersenyum seraya teetawa kecil.
''Iyalah bego. Emangnya lo kira gue mau kemana?''
''Buruan lo masuk''
Dyta kembali melanjutkan langkah kakinya, Farel selalu mengucapkan kata stay with me kepada dirinya.
Farel menyalakan mesin motornya untuk segera ke aparatemen miliknya. Semenjak SMA, dia sudah pindah dan tinggal sendiri apartemen.
Dia sudah tidak tinggal di rumah kedua saudaranya, dia ingin sendiri, setelah dia beranjak dewasa.
Apartemen mewah miliknya, merupakan apartemen yang di berikan kakak tertuanya kepadanya.
Skateboard juga merupakan pemberian dari Kakak tertuanya, dia hanya menggunakan skateboard saat dia pergi sendirian saja.
Mobil dan motor di berikan kakak keduanya untuk dirinya.
Farel berjalan masuk untuk menuju apartemennya, berada di lantai tiga. Dia masuk kedalam lift seraya bersiul.
Ting
Lift terbuka, lalu Farel melangkah keluar. Dia sudah sampai di depan pintu aparatemen ya. Dia memasukkan pasword apartemennya. Pasword apartemen adalah tanggal lahir Dyta.
Farel merebahkan tubuhnya diatas sofa, seraya meregangkan otot-otot tubuhnya.
Tring
Farel bangun dari sofa yang dia duduki, lalu membuka pintu apartemennya. Rupanya GoFood yang mengantarkan makanan.
''Atas nama Farel?''
''Iya.''
Farel memgambil makanan itu, lalu kembali masuk kedalam. Hanya dua orang saja, yang selalu mengirimkan GoFood untuknya, siapa lagi kalau bukan kakak-kakaknya.
Farel menyimpan makanan diatas meja, dia belum terlalu lapar. Nanti dia akan makan, setelah dia sudah mandi.
Drt…
Ponsel Farel bergetar, dia melihat ponselnya melihat nama yang terterah di layar ponselnya, senyuman terbit di wajahnya.
Dengan cepat, dia menekan ikon hijau di ponselnya.
“Halo Citing, sayang!”
Farel duluan menyapa Dyta dengan senyuman mengambang di wajahnya, dia duduk kembali di sofa, menyandarkan tubuhnya di sofa, mendengar tawa Dyta.
Dari ujung Telfon Dyta tertawa kecil, lalu kemudian dia meredahkan tawanya.
“Ingat besok, Rel!”
''Iya, Citing sayang. Gue bakalan ingat.''
Sedari SMP, Dyta selalu ke suatu tempat dengan Farel, di sore hari melihat ciptaan Tuhan yang indah, meski hanya sesaat tapi dia berjanji akan selalu kembali.
Itulah kebiasaan Dyta, mengajak Farel menemaninya, sejak smp sampai sekarang.
‘“Yoi! Gue tutup telfonya dulu, lo jangan lupa mandi!”
Tut….
Dyta langsung menutup telfonya, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mandi.
Farel menyimpan ponselnya diatas meja, lalu berjalan seraya bersiul menuju kamarnya untuk segera mandi.
''Lalalalalalalalal.....lalalallalalala!''
Besok dia akan menemani Dyta di suatu tempat yang sering Dyta kunjungi, setiap hari minggu sore.
Sekitar dua puluh menit mandi, Farel keluar hanya menggunakan handuk saja. Dia berjalan menuju kursi sofa untuk mengambil ponselnya yang dia simpan diatas meja.
Ting
Bersamaan saat mengambil ponselnya, ada pesan masuk dari sahabtnnya, Irfan.
“ Entar malam ke Bar.”
Tangan Farel bergerak membalas pesan Irfan, yang merupakan sahabatnya semenjak mereka smp.
Setelah membalas pesan dari Irfan, Farel berjalan masuk kedalam kamarnya. Dia belum memakai baju.
Drt…
Senyuman terbit di wajah Farel, dia menggeleng melihat siapa yang melakukan video call padanya.
Dyra!
Gadis imut itu melakukan panggilan video call kepada Farel.
“Kak Farellll”
Suara cempreng Dyra membuat Farel menjauhkan ponselnya.
“Apa sih, Ra!''
Farel mulai menyalakan kameranya, melihat wajah cemberut Dyra di layar ponsel, lalu kemudian dia melototkan matanya karna melihat Farel tidak mengenakan baju.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
Tulip
😂😂😂😂😂
2023-03-06
0
IK
farel udh bucin sm Dyta😅
2023-01-03
1
IK
nah ini baru jauh umur nya... mungkin farel ngikutin k eza lama d sma yaa🤣
2023-01-03
0