"Tumben kang kurirnya gak pernah lagi datang ya?" sindir Cindy dengan gayanya yang sangat menyebalkan di depan Najla dan Ralian siang itu.
Beberapa hari ini mereka jadi sering makan di Kantin karena tidak ada Irfin yang mengantar makanan pesanan mereka.
"Pacarmu yang sok ganteng dan kaya itu juga gak pernah lagi datang, kalian gak lagi jomblo 'kan ya?" ujar Cindy lagi berusaha memancing dua gadis yang sedang menikmati soto ayam mereka. Kali ini ia mengarahkan pertanyaannya pada Ralian.
"Kamu ngapain sih ngurusin urusan kita? makan tuh makanan kamu! entar dingin jadi gak enak lagi." jawab Ralian dengan wajah yang mulai emosi. Entah kenapa setiap Cindy muncul dihadapannya selalu saja bikin tekanan darahnya naik.
"Ih marah. Ngaku aja kalau pacar yang kalian bangga -banggain itu udah mutusin kalian hihihihi," timpal gadis itu dengan ekspresi yang semakin membuat dua orang itu jengkel.
"Udah, jangan diladeni Yan. Makan aja cepetan. Gak enak kalau soto ayamnya dingin gak seru," timpal Najla dengan senyum diwajahnya.
"Ah iya ya, Nanti kita lambat masuk lagi. Dan ada lagi yang julid terus bikin berita hoax!" balas Ralian dengan tatapan tajam ke arah Cindy yang sedang menyeruput teh manis yang ada di hadapannya.
"Eh, kamu kok lihat aku begitu? kamu mau nuduh Aku kalau kalian kena marah sama Pak Boy?" tantang gadis itu lagi dengan balas menatap Ralian. Najla yang melihat sahabatnya yang mulai ingin membalas langsung menyentuh tangan gadis itu.
"Sudah. Makan aja ya, gak enak nanti kalau kita ikut-ikutan kayak dia. Gak ada manfaatnya," ujar Najla dengan suara pelan.
Saat ini ia sedang tidak ada mood untuk meladeni Cindy. Hatinya sedang merasa kosong karena Irfin sudah sepekan ini tidak menghubunginya. Ada rasa rindu dan khawatir yang ia rasakan pada hubungan mereka yang memang sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan.
Ralian pun mengikuti saran dari Najla. Ia lantas melanjutkan makannya dan tidak lagi meladeni apa pun yang dikatakan oleh Cindy meskipun ia sangat ingin membalas gadis menyebalkan itu.
"Alhamdulillah. Makannya sudah selesai dan kita sudah bisa kembali ke ruangan," ujar Najla saat semangkuk soto ayam favoritnya sudah habis dan ludes.
"Iya, Na. Untungnya kita juga sudah sholat zhuhur tadi, jadi bisa langsung kembali tanpa terlambat." Ralian menjawab kemudian berdiri dari duduknya. Mereka pun meninggalkan Cindy di Meja itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka benar-benar malas berkomunikasi dengan teman yang sangat menyebalkan seperti itu.
"Eh, Na. Aku kok merasa kalau Irfin emang lagi menghilang ya?" Najla tersentak kaget dengan pertanyaan sahabatnya itu.
Ia juga merasakan hal yang sama sebenarnya akan tetapi ia berusaha untuk menutup-nutupinya. Tadinya gadis itu pikir ia yang ingin memutuskan hubungannya dengan pria itu tetapi malah ia yang sekarang merasa diputuskan terlebih dahulu.
"Iya Yan, gak tahu deh aku, pergi kemana anak itu. Gak ada kabarnya juga, bikin kesel tahu gak?" Najla menarik nafasnya dalam-dalam untuk melapangkan dadanya yang terasa sangat sesak.
"Udah ah, gak usah bahas ini lagi, bikin sakit hati saja." Najla mengibaskan tangannya di udara berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Ia pun melangkahkan kakinya mendahului Ralian karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan dari Bos Boy Syam.
"Hey buru-buru amat sih, waktu istirahat masih ada 15 menit lho Na. Kita bisa nyantai dulu dong." Ralian mengejar langkah sahabatnya itu yang sudah semakin jauh dan hampir sampai di ruang kerja mereka.
"Ada proposal yang harus Aku selesaikan secepatnya Yan. Katanya tuh mau diambil oleh perusahaan di pusat hari ini juga," jawab Najla tersenyum.
"Oh gitu ya? kalau gitu semangat deh. Kamu udah jadi orang kepercayaan Pak Bos. Bentar lagi karirmu pasti akan lebih baik kedepannya."
"Ish ngaco. Aku cuma karyawan biasa Yan. Kebetulan aja diminta sama Pak Bos padahal kan ada kamu hahaha," Najla tertawa kemudian mulai menghidupkan komputernya.
"Gak mungkinlah Aku dipromosikan hanya karena ngetik proposal," lanjutnya lagi seraya mulai mencari file dokumen yang sudah ia ketik sebagian. Ralian hanya tersenyum, tetapi ia memang sangat mengakui kalau Najla adalah karyawan yang rajin.
Suasana ruangan itu pun berubah sepi. Ralian tidak lagi ingin menggangu Najla yang sedang sibuk mengetik. Mereka berdua mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Najla, kamu dipanggil Pak Bos ke ruangannya tuh," panggil Dewi sang manajer dari arah pintu ruangan itu.
"Ah iya Bu. Terimakasih," jawab Najla cepat. Gadis itu menarik nafasnya lega karena pekerjaannya juga sudah selesai.
"Yan. Aku ke ruangan Pak Bos dulu ya," ujarnya pada sahabatnya yang sedang membantunya menyusun kertas-kertas yang baru keluar dari mesin printer itu.
"Aku iya. Cepetan. Semoga lancar urusannya," jawab Ralian memberi semangat. Najla pun tersenyum kemudian meraih hasil print out proposal itu dan memasukkannya ke dalam sebuah map.
Gadis itu langsung pergi dari hadapan sahabatnya dan menuju ruangan Boy Syam, sang Bos.
Tok
Tok
Tok
"Bisa saya masuk Pak?" tanyanya setelah ia melongokkan kepalanya ke dalam ruangan itu. Boy Syam yang sedang berada di dalam bersama dengan seorang tamu itu segera mempersilahkan nya masuk.
"Ah ya, silahkan masuk." Pria itu mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Ia sudah lama menunggu Najla membawa proposal yang ia minta.
"Nah, ini dia proposal yang sudah lama kita tunggu-tunggu. Silahkan Najla kamu duduk di sini."
"Iya Pak," jawab Najla kemudian duduk di sebuah sofa single di hadapan Boy Syam dan tamunya itu.
"Kenalkan ini Pak Amar Furqon Nugraha dari Perusahaan pusat. Saya dan Pak Amar akan memeriksa proposal yang telah kamu buat," ujar Boy Syam dengan senyum diwajahnya.
Deg
Kedua orang itu saling memandang dengan pikiran masing-masing. Najla tersenyum tipis dengan hati mencebik kesal. Ternyata pria ini adalah mantan pacar Ralian.
Sedangkan Amar Furqan Nugraha begitu terpesona dengan kecantikan Najla. Ia baru menyadari kalau teman dari Ralian ini ternyata sangat cantik.
"Ekhem Pak Amar, silahkan diperiksa proposalnya supaya Najla bisa segera kembali ke tempatnya bekerja." ujar Boy Syam yang merasa ada yang tidak beres dengan tatapan pria itu pada Najla.
Ia khawatir kalau pria itu akan kepincut pada gadis milik Irfin sang CEO. Bisa-bisa ia akan mendapatkan surat peringatan dari Pusat kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Ah iya Pak Boy, senang bertemu dengan kamu Najla," ujar Amar Furqan tersenyum. Pria itu langsung tersentak. Nama Najla tiba-tiba ia hubungkan dengan Irfin sang sepupu.
Ah apa mungkin?
Atau ada banyak nama Najla di dunia ini.
Tapi bisa saja Najla ini ada hubungannya dengan Irfin.
Kalau ia, awas kamu Irfin.
Pria itu terus bermonolog dengan hatinya sendiri. Tak sadar bibirnya menyeringai. Ia berharap bisa mendayung perahu dan melampaui 2 sampai 3 tujuan.
🌺🌺🌺
*Tobe Continued.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
@MeG4 ⍣⃝క🎸N⃟ʲᵃᵃ𝓐𝔂⃝❥
Sudah pasti amar akan tertarik sama najla, jangan2 dia punya rencana jahat buat ngehancurin hubungan irfin dan najla,awas aja kamu amar 😠
2023-01-10
0
@MeG4 ⍣⃝క🎸N⃟ʲᵃᵃ𝓐𝔂⃝❥
typo Thor harusnya makan😀
2023-01-10
3
@MeG4 ⍣⃝క🎸N⃟ʲᵃᵃ𝓐𝔂⃝❥
ih eta si cindy julid pisan, syirik tanda tak mampu heyy🤨
2023-01-10
3