Gadis itu bernama, Najla Irham, seorang wanita karir yang cantik dan juga baik hatinya. Ia rela membayar orderan teman kantornya itu dengan menggunakan uang tabungannya yang sudah ia simpan untuk pulang kampung saat libur akhir tahun tiba.
"Ya ampun Najla, kamu ambil semua makanan ini pakai uang kamu?" tanya Ralian dengan tatapan tak percaya. Ia tahu kalau Najla hanya karyawan biasa dan juga tidak punya uang sebanyak itu.
"Tidak apa. Aku kasihan sama Kurirnya. Pasti dia rugi kalau gak kita ambil."
"Iya sih, tapi kan bukan kamu yang harus membayar tapi Cindy," ujar Ralian dengan wajah tidak rela. Ia tetap tidak setuju dengan cara Cindy berbuat sewenang-wenang begitu pada orang lain.
"Gak Apa-apa. Gak usah dibahas lagi. Nanti kita bagi ke orang-orang yang ada di depan jalanan sana. Mereka pasti senang."
"Najla, jangan bilang kalau itu adalah dari uang tabungan kamu ya," Ralian menatap sahabatnya dengan tatapan menyelidik.
Najla mengangguk kemudian tersenyum. Ia lalu berucap, " Insyaallah akan ada rezeki yang lebih banyak dari hari ini. Yang penting kita selalu semangat untuk bekerja."
"Duh, kamu kok baik sekali sih. Semoga saja Aku juga bisa membantumu saat tiba kamu pulang kampung." Najla menyentuh bahu sahabatnya itu kemudian membawa paket-paket makanan itu ke dalam ruang kantornya.
Setelah istirahat makan siang tiba ia akan membagikan makanan itu pada orang yang sedang membutuhkan.
Irfin tercekat. Ia yang kembali ke tempat itu karena lupa mengambil helmnya tak sengaja mendengar percakapan kedua gadis itu.
Pria itu merasa tidak enak hati karena pada akhirnya tahu bahwa gadis itu juga bukanlah seorang yang kaya. Ia terpaksa menerima bantuan gadis itu dengan harapan akan membayarnya suatu saat nanti.
Irfin melajukan motornya untuk kembali berkumpul bersama dengan teman-temannya sesama kurir makanan. Ia juga ingin mengembalikan uang Fauzan yang ia pinjam.
Sungguh ia tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Terlalu campur aduk. Mendapatkan orderan yang banyak dengan hati gembira dihari pertama bekerja tetapi ternyata berakhir kurang mengenakkan.
Bayangan gadis baik hati itu selalu mengganggu pikirannya. Ia merasa sangat kasihan pada gadis itu tetapi ia bisa apa, ia juga butuh belas kasihan. Andaikan ia kaya seperti dulu. Uang sejumlah ini hanya bisa ia jentikkan dengan jari dan langsung ada.
Dengan wajah tak bersemangat, ia menghampiri Fauzan yang sedang sibuk dengan handphonenya.
"Makasih ya Zan atas bantuan kamu. Nih uangnya," ujarnya seraya menyerahkan sejumlah uang yang ia dapatkan dari gadis baik hati itu.
Fauzan meraih uang itu dengan hati gembira. Ia lantas memandang wajah teman barunya itu dengan tanda tanya diwajahnya.
"Kok gak semangat? semuanya baik-baik saja 'kan?"
Irfin menarik nafas berat kemudian menjawab, "Costumernya membatalkan orderannya karena Aku telat sampainya."
"Lho? trus apa yang terjadi?" tanya Fauzan penasaran. Ia juga pernah dan sering mengalami kejadian buruk seperti ini. Dan ia sangat tahu rasanya.
"Ada seorang gadis yang membantu Aku. Ia yang membayar semua makanan ini. Dan apa kamu tahu? uang ini juga bukanlah uang yang longgar untuknya." Irfin menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia pun melanjutkan dengan wajah menunduk.
"Aku kasihan padanya Zan. Aku rasanya ingin mengembalikan uang itu padanya. Akan tetapi Aku juga tidak bisa karena itu kan uang kamu." Irfin berucap dengan wajah sedih. Pria itu menyesali dirinya yang sangat miskin seperti sekarang ini.
Akan tetapi jika ia teringat pada rencana perjodohan yang dibuat oleh sang kakek dengan Nana. Gadis culun dan juga sangat rese' serta sangat kampungan itu ia jadi merasa beruntung karena bisa keluar dari kemewahan sang Kakek.
Belum lagi cibiran dari para sepupu serta Om Tantenya. Ia lebih baik jadi pria miskin daripada merasa tertekan dengan tuntutan itu semua.
Fauzan hanya bisa terdiam. Ia juga tidak bisa membantu. Yang ia bisa hanya berdoa agar Irfin bisa betah menjadi seorang kurir.
"Aku ingin mencari pekerjaan tambahan agar bisa mengembalikan uang gadis itu, Zan," ujar Irfin setelah lama terdiam. Fauzan tampak berpikir. Ia ingat dengan toko yang ada di dekat perempatan jalan di sebelah Utara tempat mereka berada sekarang.
Sebuah Toko serba ada yang sedang membutuhkan seorang cleaning servis. Ia pernah mendengar hal itu ketika sedang berbelanja di sana.
"Ada sih lowongan kerja tapi jadi cleaning servis, apa kamu mau?" ujar Fauzan seraya menatap teman barunya itu dari atas ke bawah. Untuk pekerjaan seorang cleaning servis rasanya Irfin tidak akan cocok. Pria itu terlalu tampan untuk itu.
"Iya, tidak apa. Aku akan bekerja aia saja yang penting bisa mengembalikan uang gadis itu." Irfin menjawab dengan cepat. Ia tidak perlu berpikir panjang tentang hal tersebut.
"Waktunya kapan?"
"Sore sampai malam sih. Jadi kamu tetap bisa menjadi kurir."
"Oh iya. Aku setuju." Irfin tersenyum lebar. Meskipun ia tidak pernah ikut membersihkan di Rumah sang kakek tetapi kalau hanya memegang sapu dan alat kebersihan lainnya maka ia yakin pasti bisa.
"Baiklah. Kita berangkat sekarang. Mumpung belum ada orderan." ujar Fauzan dan langsung mengajak Irfin untuk mengunjungi Toko itu sebelum ada pelamar lain yang sudah mengisinya.
Tak butuh waktu lama. Mereka sampai di Toko itu dengan hanya memakan waktu 10 menit. Sebuah hal yang sangat mereka berdua syukuri adalah lowongan pekerjaan itu masih kosong.
Irfin pun langsung menyanggupi untuk bekerja sore itu juga. Pria itu terlalu senang dengan pekerjaan baru ini. Hingga setelah mengantarkan orderan yang masuk pada notifikasi di aplikasinya, ia pun segera menuju toko tersebut.
"Selamat datang ya Fin, semoga kamu betah," ujar seorang perempuan cantik yang merupakan pemilik Toko itu.
"Iya Bu," jawab Irfin dengan senyum diwajahnya yang sangat tampan. Rossy balas tersenyum dengan tatapan takjub pada pria itu. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dengan karyawan barunya itu.
"Saya mulai kerja ya Bu?" tanya Irfin berbasa-basi dengan perasaan sedikit gugup. Ia merasa seperti ditelanjangi oleh Rossy sang pemilik Toko.
Mata perempuan cantik itu memandangnya dengan tatapan lapar dan juga sangat genit.
"Ah iya, silahkan. Saya akan mengawasimu dari sini," ujar Rossy kemudian meraih kursi dan duduk untuk melihat Irfin bekerja. Perempuan itu merasakan pesona pria itu mulai membakar sesuatu yang ada dalam dirinya.
Gerakan otot tangan pria itu yang sedang mendorong kain pel di lantai toko itu membuat kepalanya membayangkan yang tidak-tidak.
Rossy merasa sangat ingin kedua tangan itu bekerja dengan baik pada tubuhnya yang sudah lama butuh sentuhan. Dalam hati ia pun ingin memiliki pria itu menjadi teman diatas ranjangnya yang selama ini sangat dingin dan kaku.
"Maaf ya Fin, kamu sepertinya belum bisa pulang cepat," ujar Rossy dengan suara tegasnya. Waktu itu penanda waktu sudah menunjukkan pukul 9 Malam. Semua karyawan toko sudah bersiap pulang tetapi Toko belum Tutup.
"Kenapa Bu?" tanya Irfin dengan wajah bingung. Ia merasa semua pekerjaannya sudah sangat beres. Rossy tersenyum miring kemudian menjawab, " Apa yang kamu sembunyikan di sadel motormu?"
"Hah? maksud ibu apa?"
Najla Irham yang sedang berada di depan kasir untuk membayar barang belanjaannya memasang kupingnya dengan sangat baik. Ia mengenal pria kurir itu. Dan juga sempat melihat kalau ada sesuatu yang tidak beres di depan matanya.
🌺
*Tobe Continued.
Vote, like, dan komentar ya sayang 😍🥰😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
WAHYUNI SAHMAR
bakalan seru nih
2023-02-21
0
@Risa Virgo Always Beautiful
ceritanya menarik semangat
2023-02-01
1
Jhuwee Bunda Na Alfaa
yg sabar ya....
2023-02-01
1