Bab 11 Pesona KK

Najla Irham langsung berlari keluar dari rumahnya setelah mendapatkan telepon dari sahabatnya itu. Ia segera memanggil tukang ojek yang baru saja lewat untuk mengantarnya ke sebuah Cafe di daerah yang tidak jauh dari tempatnya sekarang.

"Cepetan Pak," ujar gadis itu tiada henti hingga membuat si tukang ojek merasa kesal dengan ucapannya yang berulang-ulang itu.

"Cepetan dong Pak. Kalau lambat takutnya sahabat Aku tidak bisa diselamatkan." seru Najla lagi dengan wajah yang dipenuhi rasa khawatir yang sangat tinggi.

"Iya, ini juga sudah sangat cepat mbak. Dan juga itu tangan baiknya diam dan tidak mukul seperti ini dong," gerutu tukang ojek yang merasakan bahunya sudah sakit karena dipukul terus oleh Penumpangnya.

"Iya maaf, maaf," ujar Najla seraya menyimpan tangannya di bagian bawah sadel motor sang ojek. Ia terlalu khawatir pada sahabatnya itu sampai tidak sadar memukul driver itu.

"Tempatnya di sini 'kan?" tanya pria itu setelah sampai di sebuah Cafetaria yang telah disebutkan oleh Najla sebelumnya. Yaitu Cafe Denja di daerah Kunjung.

"Ah iya ini tempatnya," jawab Najla dengan wajah tegang plus khawatir. Ia pun turun dari motor itu dan memberikan uang pembayarannya dan langsung kabur.

"Helmnya Mbak!" teriak Tukang ojeknya dengan suara meninggi karena Najla lupa mengembalikan helm yang sedang dipakainya. Terlalu panik membuatnya lupa banyak hal.

"Maaf Pak. Lupa. Kembaliannya diambil saja ya, " lanjutnya dengan niat ingin melanjutkan lagi langkanya ke dalam Cafe itu.

"Iya Mbak makasih banyak, tapi tadi itu uangnya sudah pas," jawab sang tukang ojek dengan wajah datar kemudian segera melajukan motornya dari hadapan gadis itu. Najla menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyum meringis.

"Makasih ya Pak," ujarnya dengan suara pelan. Ia pun melanjutkan kembali langkahnya ke dalam Cafetaria yang sempat tertunda tadi.

"Ralian!" panggilnya ketika ia sudah sampai di meja tempat sahabatku duduk dengan wajah sembab. Beberapa lembar tissue pun bertebaran di depannya bekas menyusut air mata dan mungkin juga ingusnya.

"Sedih sih sedih, tapi ini jorok banget tahu gak?" ujar Najla seraya membuang tissue bekas itu ke dalam tempat sampah.

"Ya Allah, Kak Amar tega banget Na," Ralian langsung memeluk tubuh sahabatnya itu dengan tangis sesenggukan.

"Masak ia bawa Aku kesini hanya untuk diputusin. Kejam benar Na, hiks," ujar gadis itu dengan tangis yang masih setia di pelupuk matanya. Najla menepuk punggung sahabatnya pelan. Ia berharap Ralian sabar menghadapi semua ini.

"Tapi kamu sudah makan 'kan?" tanyanya dengan perasaan khawatir. Ralian pun mengangguk seraya melepaskan pelukannya.

"Alhamdulillah. Itu artinya kamu udah kuat secara tenaga untuk menghadapi semua ini."

"Hatiku yang tidak kuat Na. Masak sih weekend yang seharusnya indah jadi berantakan seperti ini? gak asyik banget tahu gak?" Bibir Ralian mencebik kesal dengan keadaan yang sangat menyakitkan hatinya ini.

"Kalau gitu kita pulang. Kamu nginap di Rumahku aja, gimana?" usul Najla tersenyum.

"Boleh lah kalau gitu, Aku rasanya malas untuk pulang. Pasti kalau sendiri Aku jadi pengen nangis lagi," jawab Ralian seraya berdiri dari duduknya. Ia pun meraih tasnya dan bersiap untuk pulang.

Mereka berdua pun meninggalkan tempat itu dengan perasaan campur aduk. Sebuah angkot yang kebetulan lewat mereka tumpangi untuk pulang ke rumah kontrakan Najla.

🌺🌺🌺

Radiman Said Nugraha memandang beberapa foto yang berisi kegiatan Irfin selama seharian ini di luar sana. Tanpa sadar bibir pria tua itu tersenyum samar.

"Oh jadi karena ini, anak nakal itu menolak perjodohannya dengan cucu Irham Ibrahim sahabatku heh?!" tanyanya pada Yusril Surya, sang asisten kepercayaan.

Pria muda yang berdiri dengan posisi siap di hadapannya itu langsung menjawab dengan tegas, " Iya Pak!"

"Kamu tahu siapa gadis ini?" tanya pria tua itu lagi tanpa melepaskan pandangannya pada foto cucunya yang sedang membonceng gadis cantik berhijab di belakangnya.

"Namanya Najla Irham, Pak. Ia adalah seorang karyawan di Perusahaan yang dipimpin oleh Pak Boy Syam."

"Wow, sebuah kebetulan yang sangat bagus. Saya sangat suka ini, hehehe," kekeh Radiman Said Nugraha dengan wajah cerahnya. Sebuah ide pun muncul di dalam kepalanya untuk gadis cantik itu.

Pria tua itu ingin membuat penawaran pada pacar dari cucunya itu saat ini agar Irfin bisa kembali ke rumahnya dan memimpin kembali perusahaan. Sejak kepergian pria muda itu dari Rumah dan Perusahaan semua urusan jadi sangat kacau balau.

Amar Furqan Nugraha belum bisa ia harapkan untuk memimpin Perusahaan sebesar itu. Ia belum mempunyai pengalaman dan etos kerja yang baik seperti Irfin.

"Usahakan untuk membawa gadis itu kemari Ril, apapun caranya!"

"Saat ini juga!"

"Baik Pak!" jawab Yusril Surya seraya membungkukkan badannya hormat. Setelah itu ia pun keluar dari ruangan Radiman Said Nugraha untuk melaksanakan perintah orang tua itu.

Mobil yang dikendarainya segera ia bawa ke sebuah Rumah kontrakan sederhana untuk mencari gadis yang bernama Najla Irham itu. Lama ia duduk di dalam mobilnya memperhatikan keadaan rumah yang sederhana itu.

Rumah itu nampak sunyi dan sepi. Ia pun berniat untuk pulang saja dan mungkin akan kembali saat malam sudah tiba. Ia yakin pemiliknya pasti belum datang dari kantornya.

Tangannya sudah mulai menghidupkan mesin mobilnya tetapi ia batal melajukannya. Ia pun turun dari sana karena melihat gadis yang ia cari baru saja turun dari sebuah angkot.

Pria itu menghampiri dua gadis cantik yang sedang mengobrol di depan pintu pagar rumah sederhana itu.

"Maaf ini dengan mbak Najla ya?" tanyanya berbasa-basi. Najla dan Ralian saling berpandangan kemudian dengan serentak menjawab, " Iya Mas."

"Saya adalah seorang teman dari Pak Irfin Setyo Nugraha, bisa kita bicara sebentar Mbak?"

"Pak Irfin Setyo Nugraha?" tanya dua orang gadis itu lagi secara bersamaan. Yusril Surya mengangguk lantas tersenyum.

"Iya Mbak."

"Aku tidak punya urusan dengan orang yang anda maksud Pak. Jadi maafkan kami," ujar Najla seraya menarik tangan Ralian untuk segera masuk ke Rumahnya.

"Mbak. Kurir yang sering bersama dengan anda, apakah ini orangnya?" Yusril Surya melangkahkan kakinya dengan lebar dan mendahului dua gadis itu.

Langkah Najla dan Ralian terhenti saat mendengar kata Kurir. Ralian langsung menatap tajam pada pria muda yang lumayan tampan dan rapih itu.

"Hey jangan buat Aku marah ya sama kamu!"

"Kenapa harus marah. Lihat saja gambar ini, orang yang sama 'Kan?" Yusril Surya menunjukkan foto Irfin dalan balutan pakaian kerjanya yang sangat rapih dan cocok untuknya itu.

Ralian langsung terlongo tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya sendiri. Ia pun meraih dengan paksa handphone itu dari tangan Yusril Surya.

🌺🌺🌺

*Tobe Continued.

Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

Nikmati alurnya dan happy reading 😍

Terpopuler

Comments

💗 AR Althafunisa 💗

💗 AR Althafunisa 💗

Syukurlah kakeknya dah tau 😁

2024-12-13

0

Isss

Isss

hahahaa uang pas twwa Najla

2023-01-18

2

Uya Suriya

Uya Suriya

aduh...irfin terancam!!!!

2023-01-09

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 63 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!