"Maaf Mbak, ada lagi?" tanya seorang kasir di hadapannya yang langsung membuat Najla Irham tersentak kaget.
"Ah eh iya, kenapa?" gadis itu balik bertanya dengan ekspresi yang sangat lucu bagi Irfin yang berdiri tak jauh dari tempat itu.
"Totalnya 125 ribu ya Mbak. Maaf sekalian menawarkan, siapa tahu Mbak mau ambil minuman ini, beli satu gratis tiga, harganya diskon lho Mbak," ujar sang kasir dengan sangat ramah. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya yang cantik.
Najla balas tersenyum. Ia sudah tidak punya uang lagi untuk menambah stok belanjaannya. Hanya Mie instan, telur, dan satu toples sosis yang ia beli untuk menyambung hidupnya beberapa hari ke depan.
Gadis itu pun menyerahkan uang sejumlah yang diminta ke depan kasir itu.
"Uangnya 130 ya mbak. Terimakasih dan selamat berbelanja kembali," ujar sang kasir seraya menyerahkan uang kembalian 5000 rupiah pada gadis itu.
"Sama-sama Mbak," balas Najla Irham tersenyum. Ia pun membawa barang belanjaannya keluar dari toko itu dengan ekor mata melirik ke arah Irfin yang sedang disidang oleh pemilik Toko itu.
"Aku tidak mengerti Ibu. Akan tetapi, kalau ibu mau periksa motor saya, silahkan." Irfin dan beberapa karyawan toko mendatangi motor pria itu yang ia parkir di depan halaman Toserba itu. Rossy pun ikut untuk membuktikan tuduhannya.
Najla Irham yang masih berada di tempat itu ikut penasaran dengan apa yang terjadi. Ia pun ikut memasang telinganya dengan frekuensi tingkat tinggi.
"Nah ini apa Fin?" tanya Rossy seraya menunjuk beberapa barang yang terbilang cukup mahal ada di dalam sadel pria itu.
Irfin menatap tak percaya akan apa yang ia lihat di depan matanya. Lututnya tiba-tiba gemetar dan sangat lemas.
Seumur hidupnya ia tidak pernah mencuri meskipun itu benda seujung kuku sekalipun. Kakeknya selalu mengajarkan dirinya untuk jujur sejak ia masih kecil.
"Ini tidak benar Bu. Bukan saya yang mengambil barang semacam ini apalagi memasukkannya ke dalam sadel motor ini." Irfin menyangkal. Ia tentu tidak ingin mengakui apapun yang tidak dilakukannya.
"Buktinya ada di sini Fin. Dan kamu tidak bisa lagi mengelak. Bayar sekarang atau kamu saya laporkan ke kantor polisi!" ujar Rossy dengan tatapan tajam. Ia yakin pria muda dan tampan ini pastinya tidak mempunyai uang untuk membayar saat ini juga.
Irfin merogoh saku celananya. Meskipun ia tahu kalau tidak ada uang disana tetapi ia tetap berharap ada beberapa lembar pecahan seratus yang tiba-tiba ada di dalam sakunya. Ia berharap Tuhan mau menolongnya saat ini.
Sungguh ia tidak tahu siapa yang rela berbuat jahat seperti ini padanya. Padahal ini adalah hari pertamanya bekerja. Untuk membayar uang kontrakan di sebuah kamar kost saja ia harus menjual jam tangannya.
"Saya tidak punya uang Bu. Bagaimana kalau saya berutang dulu," ujar Irham pasrah. Karena tangannya hanya bisa mendapat uang 50 ribu dari dalam sakunya. Itu pun dari hasilnya menjadi kurir makanan seharian ini.
"Kalau begitu ikut saya ke dalam Toko. Dan kalian semua bisa pulang." Rossy meninggalkan tempat itu setelah memerintahkan semua karyawannya untuk pulang. Kebetulan jam kerja juga sudah selesai.
Semua karyawan yang ada ditempat itu menatap Irfin dengan tatapan kasihan. Mereka sungguh ingin membantu tetapi mereka takut pada Rossy, sang pemilik Toko.
Dengan langkah pelan, Irfin pun mengikuti langkah perempuan cantik yang sudah berusia sekitar lima puluh tahun itu.
Najla Irham ikut dibelakang Irfin karena ia tahu kalau pria itu sedang dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya.
Ia melihat sendiri salah satu karyawan membawa barang itu keluar dari Toko dan menyimpannya pada sebuah motor.
"Hey, siapa kamu?" tanya Rossy saat melihat seorang gadis ikut di belakang Irfin saat ia meminta pria itu menutup pintunya.
"Aku pelanggan di Toko ini Bu," jawab Najla seraya memperlihatkan sebuah kresek bertuliskan nama Toko itu. Irfin yang mendengar ada suara seseorang di belakangnya langsung berbalik dan melihat kalau gadis yang menolongnya tadi ternyata belum pulang.
"Lah, Toko kan sudah tutup. Jadi kamu bisa belanja di tempat yang lain. Maaf. Fin tutup Pintunya!" titah Rossy dengan tatapan tak suka.
"Eh, Ibu mau ngapain? Aku tahu ini hanya konspirasi yang sangat buruk. Jadi sebelum Aku melaporkan Ibu ke Polisi, biarkan pria ini pergi dari sini." Najla menatap Rossy dengan tatapan tajam.
"Apa? kamu mau mengancamku ya?" Rossy melotot tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia paling tidak suka kalau ada yang menggangu kesenangannya.
"Kalau ibu merasa Aku mengancam maka itu pasti benar. Aku melihat sendiri salah satu karyawan ibu yang melakukan hal ini." Irfin yang mendengar perkataan gadis itu tersenyum lega. Ia berharap ia bisa lolos dari tuduhan yang sangat tidak jelas ini.
"Kalau ibu tidak percaya, kita bisa memeriksa rekaman CCTV di toko ini," lanjut Najla semakin berani.
"Apa katamu?! beraninya kamu menuduh saya seperti itu?!" Rossy meradang. Wajah cantiknya kini tak tampak lagi.
Matanya merah karena marah. Ia lantas menghampiri Najla dan ingin menarik rambut gadis itu tetapi Irfin segera membawa gadis itu keluar dari Toko.
"Barang ini saya kembalikan!" teriak Irfin seraya menyimpan sebuah barang yang menjadi sumber tuduhan padanya yang tak beralasan itu di depan toko.
"Ayo Aku antar kamu pulang," lanjutnya lagi dan meminta Najla untuk naik ke boncengan motornya. Hari ini juga ia akan berhenti bekerja di sana. Ia akan tetap setia jadi kurir saja daripada mendapatkan hal yang seperti ini.
Mereka berdua pun pergi dari sana dengan teriakan kesal seorang Rossy, seorang janda yang ingin menjadikan Irfin sebagai penghangat ranjangnya.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Irfin pada Najla yang sedang berada dalam boncengan motor tuanya. Pria itu bertanya dengan intonasi suara yang agak besar karena angin kencang yang mengiringi perjalanan mereka.
"Aku tinggal di lorong depan," jawab Najla dengan nada suara yang sama. Mereka saling berteriak karena suara bising jalanan yang mereka lalui.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di tempat yang dimaksud. Najla turun dari motor itu dan mengucapkan terimakasih, begitupun Irfin.
Hari-hari berikutnya, mereka berdua semakin sering saling bertemu pada kesempatan yang tidak disangka-sangka.
Najla sudah mulai suka dan tertarik pada pria tampan dan sederhana itu, begitupun dengan Irfin. Benih-benih cinta mulai tumbuh didalam hati mereka. Komitmen untuk menjalin hubungan pun mereka ikrarkan.
Hingga suatu hari Irfin ke kantor Najla dengan membawa orderan makanan dari beberapa karyawan di sana. Pria yang menjadi pimpinan di kantor itu tak sengaja bertemu dengan Irfin di pintu masuk.
"Pak Irfin? anda disini?" tanya pria itu dengan membulat kaget. Ia memandang pria itu dari atas ke bawah dengan tatapan tak percaya.
"Anda sedang berakting 'kan dengan pakaian seperti ini?" sekali lagi pria itu berucap dengan alis terangkat.
"Bapak kenal sama dia?" tanya Najla seraya meraih paket makanan yang sedang diantar oleh pria itu.
"Tentu saja Aku kenal. Dia kan CEO perusahaan PT. RSN," jawab sang bos dengan senyum diwajahnya. Irfin dan Najla saling berpandangan.
Entah kenapa gadis itu merasakan nyeri dan kecewa dihatinya. Ia merasa tertipu dengan kesederhanaan pria itu yang ternyata adalah seorang pria kaya yang sedang berpura-pura miskin.
🌺🌺🌺
*Tobe Continued.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Jhuwee Bunda Na Alfaa
bnyak bnget gratis nya
2023-02-01
0
🍁𝐀𝐑𝐀❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
kenapa pura pura gitu ya,, udah mampir aku kak fiq, done pj ya🤣
2023-01-28
1
💝🦂⃟Fᷤiᷤqᷫrie MSFR🥀⃞Cinta 🦂
bunglon......
2023-01-07
2