Bab 9 Pesona KK

"Tumben, senyum-senyum saja dari tadi?" tegur Najla pada sahabatnya. Ia sampai ikut bahagia melihat sang sahabat nampak sangat senang saat itu. Sebuah hal yang baru ia lihat dari gadis cantik baik hati itu.

Ralian menatap layar handphonenya dengan dada berdebar-debar. Senyum pun tak lepas dari bibirnya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Najla kemudian berucap, "Kak Amar mau datang ke sini. Mau ngajak jalan katanya setelah kita pulang kerja."

"Wah selamat ya, pantas aja dari tadi senang banget, boleh nitip gak?" Najla balas memandang sahabatnya itu dengan senyum menggoda.

"Nitip apa?" tanya Ralian polos.

"Jangan lupakan aku kalau lagi senang-senang sama pacar ya," jawab Najla dengan jari telunjuk ia goyang-goyangkan di depan wajahnya. Ralian langsung tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi sahabatnya itu.

"Ih kamu, kalo lagi berdua sama kang kurir langsung lupa segalanya. Aku pun terlupakan ish ish ish," Ralian ikut menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan wajahnya.

"Hihihi," mereka berdua jadi terkikik sendiri dengan aksi lucu mereka. Cindy yang kebetulan lewat di depan kubilkel mereka berdua langsung mencibir dengan perasaan kesal.

"Hey, kalian berdua kok ribut banget sih, gak tahu ya kalau ini bukan ruangan untuk bergosip tentang pacar-pacar kalian yang gak level itu," ujarnya dengan tatapan tajam.

"Eh, ngapain kamu yang kesal. Cemburu ya kalau kami udah punya pacar sedangkan kamu tidak?" Ralian balas menatap gadis itu dengan tatapan yang tak kalah tajam. Ia bahkan berdiri dari duduknya ingin melawan gadis itu.

"Ih cemburu, sorry ya? satu punya pacar kurir yang miskin. Trus yang satu lagi pengangguran gak jelas. Mau banggain apa?" tanya Cindy dengan ekspresi yang sangat menyebalkan.

"Eh, kami gak lihat status ya Cin, yang penting hatinya baik dan kami nyaman, why not?"

"Heleh, memangnya mereka itu bisa menghidupi kalian dengan hati yang baik saja? kalo cari pacar tuh cari yang sultan!" Tandas Cindy kemudian langsung pergi meninggalkan Najla dan Ralian yang sedang sangat kesal.

"Ih ganggu mood aja, bikin kesal tahu gak?" gerutu Ralian kemudian mendudukkan tubuhnya di atas kursi kerjanya.

"Kalau sama Cindy sih gak usah diladenin. Emang dia tuh suka bikin mood kita hancur," ujar Najla seraya menarik nafasnya panjang. Ia kemudian menghembuskannya pelan dengan tatapan kosong.

Sungguh, saat ini ia juga sedang galau tentang hubungannya dengan Irfin. Semalam orang tuanya memintanya pulang kampung karena rencana perjodohan yang pernah dikatakan putus waktu itu kini terjalin kembali.

Keluarga pria yang dulu membatalkan rencana ini kini ingin menyambung kesepakatan lagi dengan Kakeknya.

Huffft

Ia tak rela meninggalkan hubungan manis yang baru saja tumbuh diantara mereka berdua. Akan tetapi, ia tetap harus mengikuti perintah dari sang Kakek yang sudah sangat menyayangi dirinya.

"Najla, kamu kenapa?" tanya Ralian dengan wajah yang tiba-tiba sangat penasaran. Ia menatap wajah sahabatnya itu yang tiba-tiba berubah sedih.

"Jangan katakan kalau kamu terpengaruh akan kata-kata Cindy ya. Profesi kurir itu bukan profesi yang buruk lho. Mereka justru banyak membantu orang yang sedang membutuhkan." Ralian pun meraih tangan sahabatnya itu kemudian melanjutkan, " Irfin baik dan juga tampan. Dia juga tipe pria pekerja keras. Kurasa itu sudah cukup membuat kamu bahagian."

Najla tiba-tiba meraih sahabatnya itu ke dalam pelukannya. Ia akhirnya menangis karena tidak kuat lagi menyimpan masalah ini di dalam hatinya sendiri.

"Najla, ada apa?"

"Aku sedang sedih Yan hiks," jawab gadis itu dengan tangis yang semakin pecah. Ralian semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Ia pun menepuk-nepuk punggung Najla dengan perasaan ikut bersedih.

"Ceritakan padaku Najla, apa sesuatu yang buruk terjadi pada keluargamu?" Najla menggeleng cepat.

"Apakah Irfin menyakiti perasaanmu?" sekali lagi gadis itu menggeleng dengan tangis yang semakin pecah.

"Lalu apa?" Ralian susah mulai nampak tidak sabar dengan apa yang dilakukan oleh Najla sang sahabat.

"Aku disuruh pulang kampung sama kakek. Rencana perjodohan yang sempat batal kini berlanjut kembali Yan." Ralian menghela nafasnya yang mulai terasa berat.

"Kenapa gak kamu tolak saja sih. Katakan saja kalau kamu tidak mau menerima lagi. Sudah gak ada kesempatan kedua gitu," ujar Ralian dengan wajah kesal.

"Ih, mana bisa Aku menolak keinginan Kakek Yan, nanti Aku dicoret dari kartu keluargaku lagi, kan bisa berabe," jawab Najla dengan bibir cemberut.

"Itu mah gampang. Kamu bisa buat kartu keluarga baru lagi bersama dengan Irfin, hehehe." Ralian terkekeh dengan wajah gembira. Ia ingin menghibur sahabatnya itu dengan candaan tetapi sepertinya Najla sedang tidak ingin bercanda.

"Humm, andai Aku bisa Yan. Aku akan melakukan seperti yang kamu maksud. Akan tetapi Aku tidak mungkin mengecewakan keluarga Aku, apalagi kakek yang sangat dekat denganku," ujar Najla seraya menyusur air matanya.

"Aku turut sedih lho. Udah ah, jangan dipikirkan lagi. Aku yakin pasti ada jalan keluar."

"Aamiin," jawab Najla dengan wajah menengadah ke atas. Ia sungguh berharap doa dan keinginannya ini dikabulkan oleh Tuhan.

"Nah, sekarang kamu harus heppy-heppy okey?. Aku mau selesaikan dulu pekerjaanku. Nanti Pak Boy Syam ngomel sepanjang rel kereta api lagi kalau tahu kita hanya sibuk mengobrol.

"eh, iya. Kamu betul sekali. Sekarang kita lanjutkan menyelesaikan pekerjaan ini. Kamu kan ada janji sama kak Amar, iyyakan?"

"Ah iya. Aku sampai lupa gara-gara si brengsek Cindy itu."

"Hush, jangan sampai ia mendengar kita dan benar-benar melapor pada pak Boy. Bisa-bisa kita kena hukuman setrap lagi hehehe," kekeh Najla seraya menyusut airmatanya. Keceriaannya kembali lagi karena candaan dari sahabat baiknya itu.

"Najla, gimana pendapat kamu kalau suatu waktu kamu disuruh memilih antara sahabat dan pacar?"

"Hah? ngomong apa kamu Yan, yang jelas Aku pilih sahabat dong,"

"Beneran?"

"Iya!"

"Kalau ternyata Aku minta kamu berikan Irfin padaku, kamu memilih persahabatan kita atau pacarmu itu?" Najla menatap Ralian yang sedang mengangkat alisnya itu.

Bugh

Bugh

Najla memukul tangan sahabatnya itu dengan kumpulan kertas file yang terdapat di tangannya.

"Jangan pernah berada pada situasi yang seperti itu Yan. Aku gak pernah mau itu terjadi. Karena Aku akan kesulitan untuk memilihnya."

"Ish, ini kan cuma nanya, kok sampai baper gitu, hihihi."

"Ih kamu gak asyik, kesel aku tuh," ujar Najla dengan wajah cemberut. Ia tahu kalau ia tidak ingin menyerahkan Irfin pada orang lain tetapi ia juga tidak mungkin menolak perjodohan itu.

Huffft

Kembali ia menarik nafasnya yang terasa sangat berat.

🌺🌺🌺

*Tobe Continued.

Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

Nikmati alurnya dan happy reading 😍

Terpopuler

Comments

Isss

Isss

aku udah mulai curiga

2023-01-17

0

Isss

Isss

jadi haruski cari seperti Raffi Ahmad?🤣🤭

2023-01-17

0

Susilawati Rela

Susilawati Rela

antara aku, kau dan sahabat baikku...😭😭😭

2023-01-06

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 63 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!