20. Masih Penasaran?

Tiga hari berlalu. Waktu yang dijanjikan oleh dokter Audrey untuk mengambil hasil tes DNA putranya, membuat Elma begitu bersemangat berangkat ke rumah sakit.

Walaupun saat ini kehamilannya sudah mencapai empat bulan, Elma masih berani membawa mobil sendiri hanya untuk sebuah tes DNA.

Elma menunggu antrian di depan poli kandungan di mana ruang praktek Audrey memeriksakan kandungan para pasiennya.

Namun sayang, hari itu dokter Audrey tidak melakukan praktek. Posisinya digantikan oleh dokter lain membuat Elma sangat kesal.

"Maaf nona Elma..! Ini ada pesan untuk anda dari dokter Audrey. Beliau saat ini sedang berada di luar negeri karena mengikuti seminar kedokteran di Australia."

Ucap asistennya dokter Audrey membuat Elma hanya bisa terhenyak kecewa dengan sikap dokter Audrey yang tidak memiliki belas kasih padanya.

"Nama saya Sheila. Saya adalah dokter pengganti dokter Audrey selama beliau berada di luar negeri. Saya juga tidak tahu kapan dokter Audrey kembali ke Indonesia." Lanjut asisten dokter Audrey.

"Anda tidak perlu menjelaskan apapun siapa anda dokter Sheila. Terimakasih."

Elma meninggalkan rumah sakit itu sambil membawa kertas pesan yang belum sempat ia baca karena ia sudah tahu ini adalah bentuk penolakan dokter Audrey padanya.

Elma membaca pesan itu di mobil. Isi pesan dari dokter Audrey sama dengan dugaan Elma.

"Nyonya Elma! Saya minta maaf tidak bisa melanjutkan permintaan anda untuk melakukan tes DNA itu karena terlalu beresiko.

Mengingat siapa sebenarnya Tuan Darren di negara kita membuat saya tidak memiliki wewenang apapun untuk membantu anda. Kenali siapa suami anda kalau mau berurusan dengannya. Jangan terlalu jauh melangkah nyonya Elma kalau tidak ingin kehilangan semuanya."

Tulis dokter Audrey dalam pesan itu.

"Apakah dia lebih mengetahui tentang suamiku daripada aku sendiri istrinya? Kenapa sebegitu angkernya Darren di mata mereka? Saya rasa mereka terlalu berlebihan menganggap Darren orang yang bisa mematikan orang lain seperti nyamuk." Gumam Elma lirih.

Ia menyalakan mesin mobilnya laku hendak mengambil manuver untuk keluar dari tempat parkir di basemen rumah sakit.

Baru saja mobil itu mulai bergerak, Darren sudah berdiri di depan mobilnya membuat Elma terlonjak kaget dengan menekan tombol klakson panjang. Seketika kakinya spontan menginjak rem dengan wajah pucat terlihat syok.

"Darren!"

Elma membuka pintu mobilnya lalu keluar untuk memeluk suaminya dengan ekspresi wajah dibuatnya setenang mungkin seakan dia tidak melakukan kesalahan apapun.

"Sayang! Kenapa tiba-tiba sudah ada di sini?" Tanya Elma sambil menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan sang suami yang merengkuh tubuh itu dengan lembut karena perut Elma yang sudah mulai membesar.

"Tinggalkan mobil itu! Ayo ke mobilku!"

Titah Darren dengan wajah datar dan terkesan aura intimidasi.

Tubuh Elma meremang sendiri melihat perubahan raut wajah kelam suaminya yang belum pernah ia saksikan.

"Apa yang terjadi pada Darren? Aku seakan melihat pria yang berbeda karena ini tidak seperti Darren."

Batin Elma namun tetap dengan sikap luwesnya tidak memperlihatkan wajah takut sama sekali.

"Apakah sudah selesai dengan pemeriksaannya, sayang?" intonasi suara Darren terdengar dingin dengan senyum samar serta tatapan tajam itu langsung menusuk ke relung jantung Elma hingga gadis itu kehabisan liur untuk membasahi kerongkongannya yang begitu kering.

"Iya sayang, aku lupa kemarin minta vitamin tambahan dari dokter Audrey."

Ucap Elma mencoba tersenyum namun wajahnya terasa sangat kaku untuk membentuk lekukan senyum itu.

"Oh, jadi hanya untuk vitamin kamu berani bawa mobil sendiri dengan perut sebesar itu. Hebat sekali sayang!"

Raut wajah Darren makin mengeras seakan ingin menelan Elma hidup-hidup.

"Itu...ak..aku..sudah biasa melakukan apapun sendiri karena saat hamil baby Darren, aku selalu bawa motor sendiri, kalau aku ingin membeli kebutuhanku."

Ucap Elma membela diri.

"Saat ini, statusmu sebagai apa untukku, Elma?"

"Istri...!"

"Apakah di rumah kita kekurangan pelayan? Apakah kamu tidak menyukai mereka semua? Apakah Kia menolakmu mengantar kamu ke rumah sakit hingga kamu nekat bawa mobil sendiri, hah?"

Amarah Darren makin membuat istrinya ingin pingsan saat ini.

Elma merasa saat ini ia seperti maling yang ketangkap basah oleh pemilik hingga ia bingung mau menanggapi apa lagi perkataan Darren

"Maafkan aku Darren! Aku janji aku tidak akan berpergian sendirian lagi. Aku hanya butuh waktu untuk diriku sendiri. Aku hanya ingin sendiri.

Aku tidak biasa dengan banyak orang karena aku sudah lupa pernah menjadi putri manis untuk ayahku yang selalu di gandrungi oleh pelayan.

Maafkan aku! Berhentilah mengintimidasi ku! Nafasku rasanya sangat sesak saat ini."

protes Elma kala benar-benar terasa sesak dan wajahnya terlihat sangat pucat.

Darren segera menepikan mobilnya ke arah taman. Elma langsung membuka jendela mobil menghirup udara sebanyak-banyaknya. Darren memegang tangan Elma yang terasa sangat dingin.

Rupanya Elma tidak bisa berada dalam tekanan. Trauma massa kecilnya yang selalu mendapat kekerasan dari sang ibu tiri kembali terbayang saat ini.

Nafas Elma semakin memburu membuat Darren gantian panik. Ia segera putar arah mobilnya menunju rumah sakit terdekat. Elma akhirnya pingsan dengan wajah pucat seperti kapas.

"Apa yang sudah ku lakukan kepada istriku?"

Daren mengacak-acak rambutnya sendiri sambil menekan pedal gas menambah kecepatan laju mobilnya.

Elma segera di tangani oleh dokter yang langsung memberinya oksigen. Dokter Panji menemui Darren untuk melaporkan hasil diagnosa mereka.

"Sepertinya istri anda sering mengalami tekanan mental saat masih kecil yang meninggalkan trauma mendalam jika kembali lagi mendapat tekanan yang sama secara intimidasi."

Imbuh dokter Panji.

"Apakah istriku perlu di rawat dokter?"

"Saat ini dia sudah kami berikan obat penenang. Biarkan dia istirahat dulu sebentar di ruang IGD, setelah itu tuan bisa membawanya pulang."

Ucap dokter Panji lalu meninggalkan pasangan ini.

Darren mendekati istrinya dan menggenggam tangan Elma. Sebenarnya ia tidak ingin memberikan kekerasan secara mental pada Elma.

Darren hanya ingin menghentikan rasa penasaran Elma pada dirinya dengan menelusuri kebenaran dari kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh dirinya.

"Maafkan aku Elma. Jika kamu mengetahui kenyataan sebenarnya, kalau aku adalah orang yang memperkosamu, lantas apa yang bakalan terjadi kepadamu? Kamu bakal lebih setress dan bahkan gila dan itu membuat aku sangat takut Elma.

Apa lagi di tambah kondisimu saat ini sedang hamil dan itu tidak baik untuk perkembangan janin kita. Aku akan mengakui semuanya tapi di saat kondisi kamu yang benar-benar sudah siap sayang."

Ucap Darren lirih.

Darren bertindak cepat untuk pulang lebih awal ke Indonesia walaupun masih ada pertemuan penting di Hongkong, saat mendengar perkataan dokter Audrey kalau Elma akan menceraikan dirinya jika kecocokan DNA antara putra mereka baby Darren sama dengan dirinya maka Elma akan menceraikan dirinya.

Darren makin murka saat tahu Elma membawa sendiri mobilnya ke rumah sakit dalam keadaan hamil. Dari bandara Darren langsung menemui Elma yang masih berada di rumah sakit tersebut.

Terpopuler

Comments

Pice Korvina

Pice Korvina

betul kataku ternyata dokter audrey tidak dapat di percaya

2023-01-13

3

Anonymous

Anonymous

Lanjutannnnnnn

2023-01-13

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!