3. Tergoda

Hampir satu bulan Elma menjadi pelayan khusus untuk Tuan Darren. Gadis ini sebisa mungkin menghindar dari Tuan Darren agar tidak terlalu menimbulkan konflik antara dia dan teman-temannya yang sudah mulai iri dengan gadis ini.

Elma menjadi pelayan VVIP untuk Tuan Darren lebih dari asisten pribadinya.

Entah mengapa tuan Darren selalu saja punya cara untuk bisa bicara dengan Elma. Ia meminta asistennya KIA untuk menghubungi Elma, saat hatinya sedang gelisah, Tuan Darren menjadi lebih tenang seakan gadis itu memiliki kekuatan magic tersendiri untuknya. KIA menuruti permintaan tuannya.

"Apakah kamu bisa hubungi Elma untuk ke ruang kerjaku?"

"Emang ada urusan apa tuan?"

"Aku ingin dia merapikan arsip ku sesuai abjad agar mudah di dapatkan jika di butuhkan."

"Tapi arsip itu sudah dirapikan oleh OB sebelumnya."

"Sudah aku acak lagi."

"Baiklah."

Asisten KIA sepertinya mengerti kalau Tuan Darren hanya ingin mengerjai gadis itu atau punya motif lain, entah itu apa.

"Tapi untuk naksir gadis itu, sepertinya tidak mungkin karena Tuan Darren terlalu memikirkan kasta dari pada ketulusan cinta wanita dari kalangan biasa." Batin asisten KIA."

Tok... tok..

Cek.. lek..!

Elma masuk dengan wajah setianya yang tetap tertunduk. Tuan Darren begitu gemas melihat Elma yang terlihat sangat pendiam. Jika ditanya olehnya, jawaban gadis itu selalu saja singkat.

"Elma..! Tolong susun ulang arsip yang ada di atas meja itu dan susunnya tetap di ruangan ini agar tidak mudah tercecer.

Di sesuaikan urutan abjadnya dan jangan sampai terbalik kop suratnya karena itu yang paling penting."

"Siap tuan!"

Elma duduk di karpet sambil membaca dengan teliti setiap arsip itu dan merapikan sesuai dengan abjadnya.

Tuan Darren meminta Kia untuk meninggalkan mereka berdua.

"Kembali ke tugasmu!"

"Baik Tuan."

Tuan Darren duduk di sofa sambil memperhatikan Elma bekerja.

"Apakah kamu tidak bisa membuka masker mu?"

"Maaf Tuan! saya tidak ingin orang lain melihat wajah saya." Ucap Elma ketus.

"Hah ..? Gadis ini berani ketus kepadaku?"

Batin Tuan Darren menarik sudut bibirnya merasa kalau Elma terlalu berani padanya sebagai pemilik perusahaan ini.

"Bagaimana kalau aku memintamu untuk membuka masker mu?"

"Aku akan berhenti bekerja di sini."

Deggggg...

"Mengapa kamu sangat keras kepala melawan perintahku?"

"Karena ini adalah urusan pribadiku dan tidak menjadi syarat mutlak dalam perjanjian kontrak kerja." Imbuh Elma.

"Aku secara pribadi meminta mu untuk membukanya."

"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Tantang Elma.

"Hah..!" Gadis ini benar-benar menguji kesabaran ku." Lirih Tuan Darren.

"Kenapa kamu berani menentang perintah ku padahal aku hanya meminta kamu untuk membuka masker saja?"

"Hari ini anda meminta aku membuka masker, lain kali memintaku membuka hijab ku dan setelah itu meminta hal lainnya."

Ucap Elma sambil merapikan semua arsip yang sudah ia susun dengan rapi.

"Kenapa kamu berpikir sejauh itu?"

"Atasan sepertimu hanya menggunakan otoritas mu untuk mendapatkan setiap keinginanmu dari karyawan rendahan seperti ku."

Sinis Elma lalu bangkit berdiri.

"Aku belum menyuruhmu pergi."

"Tapi urusanku di sini sudah selesai."

"Kalau begitu, aku bisa minta buatkan kopi lagi."

"Baik. Tunggu sebentar."

Elma keluar menuju pantry dan membuat secangkir kopi untuk Tuan Darren.

"Dari dulu gadis-gadis berlomba-lomba untuk menggodaku. Mencari perhatianku. Tapi kenapa gadis ini beda sendiri.

Bicaranya ketus dan berpenampilan aneh. Bahkan aku tidak melihat kulit wajahnya memakai bedak. Dia terlihat sangat alami. Siapa gadis itu sebenarnya?"

"KIA! cari tahu tentang Elma. Siapa gadis itu sebenarnya. Dalam dua jam semua data pribadinya harus sudah ada di hadapanku."

"Baik Tuan Darren."

Elma kembali lagi dengan membawa secangkir kopi untuk Tuan Darren. Ia meletakkan nya dengan hati-hati di atas meja kerja Tuan Darren.

Tuan Darren membuka tutupnya agar cepat dingin. Elma meninggalkan ruang kerja itu tanpa pamit.

"Astaga! Dia sangat tidak sopan. Tapi kenapa aku malah menyukainya. Gumam Tuan Darren lirih.

...----------------...

Dua jam kemudian, asisten Kia sudah mendapatkan data pribadi Elma.

"Ini Tuan Darren, data pribadi Elma."

"Tolong bacakan untukku.

"Nama lengkap Queen Elma Pradita. Usia dua puluh tahun. Anak dari pasangan mendiang Astrid Rahardian dan tuan Wisnu Abdilah. Asli Bandung.

Pendidikan terakhir SMA. Pernah kuliah di universitas Padjajaran Bandung. Tercatat sebagai mahasiswa berprestasi. Berhenti kuliah tingkat akhir karena alasan ekonomi.

Tinggal dengan seorang ibu tiri yang hobi judi dan pemabuk berat. Elma bekerja serabutan. Terakhir bekerja di sebuah Bank swasta sebagai OB."

"Apakah hanya itu?" Tanya Tuan Darren yang belum puas tentang Elma.

"Tuan Darren pasti tidak akan percaya jika saya bacakan tentang gadis itu lebih lanjut."

"Ada apa? Bacakan saja!"

"Sepuluh tahun lalu gadis itu adalah seorang putri pengusaha sukses. Perusahaan orangtuanya bangkrut karena campur tangan sang ibu tiri yang berselingkuh dengan saingan bisnis ayah kandung nona Elma.

Deggggg...

"Baik. Kamu boleh pergi!"

Tuan Darren baru mengerti karakter kerasnya Elma.

"Seorang putri bangsawan tidak akan pernah tunduk pada perintah siapapun yang bertentangan dengan prinsip hidupnya.

Itu adalah kamu Elma. Sekarang aku sudah tahu seperti apa bangsawan mojang Bandung itu. Pantas kamu berbeda dari gadis-gadis cantik yang mengemis cinta kepadaku.

Aku lebih suka padamu tapi... tidak, aku harus tahu keberadaan gadis yang pernah aku perkosa itu. Aku tidak boleh gegabah untuk bisa menaklukkan hati Elma."

Gumam Tuan Darren dengan senyum menyeringai licik.

Hari-hari berikutnya, hampir memasuki dua bulan, Elma mulai kuatir dengan siklus bulanannya yang tidak datang lagi.

Ia pun mampir ke sebuah apotik untuk membeli alat testpack. Keesokan paginya saat bangun sholat subuh, Elma buru-buru melakukan tes kehamilan dengan urine yang sudah ia siapkan di wadah itu.

"Semoga dugaanku ini salah. Semoga aku tidak hamil anak dari bajingan itu."

Gumam Elma menunggu hasil dari testpack itu.

Ia memejamkan matanya sebelum melihat tes pect itu.

"Semoga garis satu."

Elma membuka perlahan matanya. Sekujur tubuhnya tiba-tiba lemas saat melihat garis dua di testpack itu.

"Tidak... tidak.... tidakkkkkk...!"

Air matanya langsung luruh membayangkan penderitaan selanjutnya.

Ia berjalan menuju tempat tidurnya yang hanya muat untuk tubuhnya itu.

"Aku tidak menginginkanmu, tapi kenapa kamu nekat hadir di tubuhku. Apa yang harus aku lakukan kepadamu? Apakah aku harus membuang mu? atau membiarkan kamu tumbuh? Kenapa kamu harus hadir dengan cara yang salah.

Kau hadir tanpa cinta. Kau hadir hasil dari hawa na*su. Bagaimana caraku untuk mencintaimu?"

Elma meratapi kemalangan hidupnya yang tiada pernah berakhir.

"Aku harus bekerja dan aku tidak akan merawatmu. Jika kamu mau hidup silahkan dan jika kamu ingin mati, itu lebih baik." Sinis Elma pada janinnya.

Elma bersiap-siap untuk berangkat kerja.

Terpopuler

Comments

wiwik

wiwik

semoga Elma cinta sama calon babynya

2023-01-03

5

MPit Mpit MPit

MPit Mpit MPit

lanjuuuuuut ih..🤭

2023-01-02

2

Fitriani Fitriani

Fitriani Fitriani

laaaaajuuuuuu7t

2023-01-02

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!