12. Masih Belum Yakin!

Elma melepaskan pelukannya dari Darren. Ia tidak bisa menerima pinangan Darren karena merasa hidupnya sudah cacat.

"Maafkan aku Darren! Rasanya aku tidak bisa menjadi istri siapapun. Aku sudah cacat. Aku tidak berguna. Dan anak ini, aku hampir membunuhnya karena sangat membenci ayahnya.

Aku bahkan membenci kehadirannya saat pertama kali aku mengetahui aku hamil dengan bajingan itu. Pria sakit jiwa yang aku sendiri tidak mengenalnya tega merenggut kehormatan ku.

Aku.. aku.. sedang mengumpulkan keberanian ku untuk membunuhnya suatu hari nanti. Tapi ke mana aku harus mencarinya?"

Elma kembali meradang. Hatinya tidak cukup kuat untuk mengungkapkan kebenaran kepada Darren, walaupun saat ini ia sedang berbicara langsung pada pelaku pemerkosa itu sendiri.

"Kamu tidak perlu menjelaskan tentang lukamu padaku dan siapa yang telah mengundang putramu hadir ke dunia ini karena itu tidak penting untukku.

Aku hanya butuh kesanggupan mu untuk hidup bersama dengan pria arogan seperti aku ini. Tolonglah Elma. Aku bukan pria sempurna untukmu tapi aku akan belajar untuk menjadi suami yang sangat berarti untukmu dan ayah yang baik untuk baby Darren."

Ucap Darren berusaha meyakinkan Elma.

"Tidak semudah itu Darren. Aku masih sangat trauma. Kamu tidak tahu apa yang pernah aku lalui dalam hidupku. Aku sudah kotor bahkan sangat hina. Aku bahkan tidak berani lagi untuk bermimpi.

Berkenalan dengan lelaki manapun yang menyukaiku. perasaanku sudah mati untuk cinta. Aku hanya berniat untuk membesarkan putraku saja. Yang lainnya aku tidak peduli."

"Elma! Aku hanya tahu satu cara yaitu untuk mencintaimu. Aku tidak peduli dengan apapun alasanmu. Tolong jangan menolakku Elma. Aku sudah bertekad jika aku bisa menemukan mu, aku akan langsung menikahimu."

Ucap Darren dengan tatapannya terlihat sendu.

"Ini terlalu cepat untukku Darren. Ijinkan aku untuk berpikir. Beri aku ruang yang cukup untuk mengambil keputusan ini."

ucap Elma dengan berat hati.

"Aku akan menjadwalkan kamu untuk berkonsultasi dengan psikologi untuk menghilangkan trauma mu.

Dengan begitu mereka bisa mengobati jiwamu. Aku tidak ingin kamu terjebak dalam kegelapan yang membuat hidupmu tidak pernah nyaman."

"Tahu apa kamu tentang trauma ku Darren? Lagi pula ini rumah sakit mahal dan aku tidak mungkin bisa membayar dokter hebat di sini apa lagi dokter psikologi."

"Itu urusanku sayang. Kamu cukup berkonsultasi dengannya karena rahasia hidupmu hanya bisa kamu bagikan dengan seorang yang ahli di bidangnya. Aku cukup menerima hasil pengobatan itu."

Elma tercenung sesaat. Ia juga butuh dengan dokter yang berkaitan langsung dengan penderitaannya yang kini ia rasakan. Jika dia tidak di obati kemungkinan besar dia akan terus menghukum dirinya sendiri dan menolak orang lain untuk masuk ke dalam hidupnya.

"Apakah kamu tidak mau menolong dirimu sendiri Elma? Jika kamu tidak segera diobati, besar kemungkinan kamu akan membenci baby Darren seiringnya waktu saat ia mulai besar dan mulai membuatmu gusar dengan kenalannya. Saat ini dia hanya baby yang sangat menggemaskan untuk mu."

"Baiklah Darren. Jika baby Darren menjadi pertimbangan mu untuk kebaikan pertumbuhannya, aku harus sehat lahir batin untuk membesarkannya."

"Aku ingin kamu mengandalkan aku dalam segala hal Elma. Dan itu bisa terjadi jika kita sudah sah menjadi suami istri."

"Terimakasih Darren! kita jalani ini secara alami tanpa ada paksaan." Pinta Elma penuh harap.

"Apapun permintaanmu, aku akan penuhi asalkan bisa memiliki kalian berdua sayang."

Ucap Darren mantap.

Elma mengangguk paham atas kesungguhan lelaki ini dalam mencintainya.

"Aku harap kamu tidak akan menyesali dengan pilihanmu Darren. Kamu terlalu sempurna untukku." Ucap Elma dengan suara tercekat.

"Bukan aku yang akan menyesal Elma, tapi mungkin kamu yang akan menyesal jika tahu aku adalah sumber dari kemalangan dalam hidupmu." Batin Darren.

Setelah berdiam diri satu sama lain, Elma baru ingat kalau dia juga membawa kopi. Ia lalu menawarkan kopi buatannya untuk Darren.

"Apakah kamu tidak merindukan kopi buatan aku Darren?"

Tanya Elma malu-malu sambil merapikan anak rambutnya di sisi telinganya.

"Apakah kamu membawa kopi kesukaanku Elma?"

Elma mengangguk dengan senyum merekah membuat hati Darren meleleh.

"Sial! Senyum itu terlalu cantik untuk kamu umbar kepada siapapun Elma." Batin Darren.

Elma segera membuatkan kopi untuk Darren dengan air panas yang ada di dispenser yang terdapat di dalam kamar itu.

Wangi aroma kopi memenuhi ruang inap itu membuat Darren merasakan kembali masa indah yang sempat hilang dalam hidupnya bersama Elma.

"Silahkan Darren!"

"Terimakasih Elma. Aku memang butuh secangkir kopi saat ini karena sedikit frustrasi memaksakan dirimu untuk menikah denganku."

Ucap Darren sambil menuangkan kopi di piring kecil agar bisa ia menyeruput.

Elma hanya bisa tersenyum.

"Mommy...mommy.. mommy..!"

Panggil Baby Darren yang langsung bangun duduk dengan punggung tangan mengusap air matanya.

"Baby sudah bangun, sayang?"

Elma mengangkat baby Darren hati-hati karena tangannya masih tertancap jarum infus.

Darren langsung sigap menghampiri putranya yang sedang menatapnya dengan dahi mengkerut seakan bertanya kamu siapa.

"Sayang! Mau di gendong Daddy?"

Darren mengangkat kedua tangannya hendak menyambut sang putra yang mulai memberikan respon dengan tersenyum merekah memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Tangan baby Darren menyambut tangan ayahnya untuk menggendongnya.

Darren memeluk tubuh gempal putranya yang lebih mirip dengan wajah Elma.

"Sayang! Maafkan Daddy karena telat menemukan kalian. Daddy janji akan membawa pulang kalian ke istana Daddy." Gumam Darren lirih.

"Daddy!"

Ucap baby Darren sambil menatap wajah tampan Darren.

"Iya sayang. Ini Daddy kamu, Daddy-nya Darren."

Tanpa disadari Darren, putranya mengecup pipinya agak lama dengan meninggalkan sedikit liurnya.

Jantung Darren langsung menghangat, merasakan kasih sayang putranya.

"Masya Allah. Indahnya hidupku bertemu dengan kalian sayang?" Batin Darren terenyuh.

Darren bermain dengan putranya yang sudah mahir bermain game di ponselnya ibunya.

Ternyata kecepatan baby Darren menyelesaikan suatu permainan diakui ayahnya karena game yang saat ini mereka mainkan sangat sulit diselesaikan oleh orang dewasa sekalipun.

Di tengah keasyikan permainan ayah dan anak ini, asisten KIA kembali lagi ke kamar itu.

"Bos! Saya sudah booking hotel yang dekat dengan rumah sakit ini, apakah anda mau pulang ke hotel?"

"Tidak KIA, aku mau menginap di sini dengan keluarga kecilku. Aku tidak ingin terpisah lagi dengan putraku. "

Ucap Tuan Darren tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan putranya.

"Baik Tuan. Ini makanan untuk kalian berdua. Aku sengaja cari restoran Indonesia yang ada di kota ini."

Ucap KIA seraya menyerahkan nasi Padang dengan rendang komplit sayur dan sambalnya.

"Terimakasih KIA! Maaf sudah menyusahkan mu."

Ucap Elma lalu menyiapkan makanan untuk Darren.

Tanpa rasa segan, Elma menyuapkan nasi Padang itu untuk Darren membuat Darren tersenyum bahagia.

Ia dengan senang hati membuka mulutnya menyambut tiap suapan dari Elma sambil tetap bermain dengan putranya yang sedang duduk dalam pangkuannya.

Melihat kemesraan itu, KIA langsung pamit untuk kembali ke hotel.

Terpopuler

Comments

guntur 1609

guntur 1609

oh panatas bany daren mirip elma..pantas gak ketahuan sama elma. kalau daren ayahnya biologis abby daren

2024-05-09

0

guntur 1609

guntur 1609

lah apa bany daren gak mirip sm daren sendiri. dan apa elma tdk menyadari kemiripan mereka

2024-05-09

0

wiwik

wiwik

siapa aja yg tahu rahasia Darren iya

2023-01-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!