Tiga bulan kemudian, Darren sudah bisa memboyong keluarga kecilnya kembali ke tanah air. Dengan menumpang pesawat jet pribadi, putranya Darren terlihat menikmati perjalanan tersebut.
Baby Darren berpindah dari satu tempat duduk ke tempat duduk lainnya sambil berceloteh seperti menyanyikan lagu yang ia karang sendiri.
"Pesawat ku terbang lah. Bawalah aku bersamamu dengan Daddy dan mommy ke Indonesia tercinta."
Baby Darren mengulangi kata-kata itu berkali-kali sambil berlari di koridor pesawat membuat Darren dan Elma hanya bisa terkekeh.
"Apakah putraku akan menjadi seorang penyanyi? atau seorang pencipta lagu."
Ucap Darren sambil memainkan jari lentik Elma.
"Biarkan dia menjadi dirinya sendiri. Waktu yang akan menentukan minat dan bakatnya. Kita cukup mengarahkannya ke mana ia memilih jalannya." Sahut Elma.
"Semoga dia menjadi sepertiku." Harap Darren.
"Apakah kamu tetap menganggap baby Darren sebagai anak kandungmu?"
"Elmaaa! Sampai kapan kamu terus memberi jarak antara aku dan Darren dengan ucapanmu seperti itu?"
"Karena aku begitu takut pemilik black card itu akan datang mengambil putraku dan memisah putraku dengan kita. Jadi aku harap kamu tidak terlalu mengharapkan yang bukan milikmu Darren." Ucap Elma cemas.
"Aku akan berurusan dengannya dan berhentilah mengandai-andai sesuatu yang membuatmu menjadi wanita paranoid." Ucap Darren geram.
"Aku tidak akan pernah merasa tenang sebelum aku bertemu dengan bedebah itu. Aku ingin dia muncul di hadapanku."
Ucap Elma yang masih penasaran dengan pria yang memperkosa dirinya.
"Apakah kamu masih memikirkan pria itu, walaupun aku di sisimu? Apakah kamu ingin membalas dendam kepadanya?"
"Maafkan aku Darren! Aku sudah membujuk diriku untuk tidak mengingat dirinya. Tapi hatiku masih merasakan sakit yang begitu dalam dan aku ingin menuntutnya secara hukum kalau bisa melenyapkan dia dari muka bumi ini."
Ucap Elma penuh dendam.
"Baiklah. Kalau itu kemauan kamu, aku akan segera menemukannya dan membawanya ke hadapanmu. Dengan begitu aku mau melihat seberapa besar nyali istriku ini untuk menghukum pria itu."
Ucap Darren terlihat gusar.
"Aku sangat bersyukur jika suamiku bisa mendukungku untuk membalaskan dendam ku."
Tegas Elma membuat jantung Darren seperti mau berhenti.
"Astaga! Apa yang harus aku perbuat untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku padanya. Aku benar-benar terlihat seperti seorang pecundang yang sangat bodoh di hadapan istriku sendiri."
Wajah Darren terlihat pucat dengan keringat dingin yang terlihat jelas di pelipisnya.
"Mommy! Darren mau bobo!"
Darren menaiki pangkuan ibunya. Elma memberi isyarat pada pramugari untuk mengambil susu putranya.
Dalam hitungan menit, baby Darren sudah terlelap dalam dekapan ibunya. Ayahnya memindahkan putranya di dalam kamar pribadi mereka dan mengajak istrinya untuk beristirahat karena perjalanan masih panjang.
...----------------...
Setibanya di mansion, para pelayan yang sudah mengetahui kedatangan majikannya yang akan membawa istri dan anaknya, tidak menyangka jika istri dari tuan mereka adalah Elma.
Wajah-wajah yang terlihat terkesiap itu, nampak terpaku seakan mereka sedang bermimpi.
Elma yang mudah di kenali oleh mereka, karena istri dari Darren ini kembali berhijab dan menggunakan masker. Hanya mata dan dahinya yang terlihat oleh mereka.
Bukan tanpa alasan Elma melakukan semua itu. Sebelum pulang ke tanah air Darren meminta istrinya sebelum turun dari pesawat untuk menggunakan hijabnya.
Pria berusia tiga puluh tahun ini tidak ingin kecantikan istrinya menjadi tontonan banyak orang. Alhasil, dengan penampilan itu, Elma justru mendapatkan hujatan mereka secara diam-diam.
Elma sengaja tidak mau membuka maskernya. Elma memang pernah bekerja menjadi pelayan khusus untuk suaminya, namun ia tetaplah seorang mantan putri konglomerat yang kembali menjadi dirinya sendiri.
Di didik dari kecil seperti putri raja, Elma memperlihatkan lagi sisi kepribadiannya yang sangat anggun dan elegan dengan berpenampilan layaknya artis Hollywood.
Seperti apapun penampilannya saat ini, para pelayan tidak mau menerima Elma begitu saja sebagai nyonya besar di istana suaminya.
Mereka tidak ingin menunduk hormat pada Elma membuat Darren meminta kepala pelayan untuk memecat siapa saja yang tidak mau menghormati istrinya.
"Pastikan wajah-wajah ini tidak ada lagi di hadapanku besok. Aku tidak ingin melihat wajah mereka menatap sinis istriku."
Ucap Darren terdengar jelas oleh para pelayan yang langsung tercengang dan mulai merubah sikap.
"Baik Tuan!"
Darren menyusul istrinya yang sedang membawa putra mereka di kamarnya.
Elma yang sudah mengusai seluk beluk rumah suaminya tidak begitu canggung ketika menginjak kembali rumah itu sebagai nyonya Darren.
Elma membuka hijab dan mantelnya. Ia juga ingin membersihkan tubuhnya dan baru turun makan siang bersama suaminya.
Darren masih sibuk dengan urusan pekerjaannya dengan laptop miliknya dan Elma tidak mau menganggu.
Dalam berapa menit Elma sudah keluar dengan handuk melilit di kepalanya dan baju bathtub merah yang menempel di tubuhnya.
Wajah cantik putih mulus itu terlihat makin bening dengan manik hitam legam dilengkapi bulu mata tebal dan lentik tanpa ada campur tangan maskara dan penjepit bulu mata. Semuanya nampak asli di lengkapi alis tebal namun sangat rapi.
Itulah poin kecantikan Elma yang benar-benar natural yang membuat suaminya makin cinta padanya.
Saat Elma masuk ke kamar ganti, Darren memeluk pinggang yang ramping itu dari belakang seakan mengatakan," siapa yang menyuruhmu memakai baju, sayang?"
"Darren! Aku sudah mandi, aku tidak mau bercinta lagi." Pinta Elma.
"Hanya sebentar saja sayang. Jangan menolakku!"
Pinta Darren yang sudah mengendus leher jenjang istrinya seperti kucing.
"Bercinta itu nikmat. Tapi yang membuat aku malas adalah mandi dan keramas lagi rambutku." Protes Elma.
"Biar aku yang memandikan kamu dan keramas rambutmu." Ucap Darren enteng.
"Tapi aku lapar. Aku kangen masakan Indonesia yang rumahan. Kita makan siang dulu ya sayang, baru aku bisa melayani suamiku."
Elma menatap wajah Darren sambil memelas.
"Baiklah. Kita makan siang sayang, tapi janji kita bercinta setelah itu."
"Hmm!"
"Tapi aku maunya di suap!"
"Hmm!"
Tidak lama keduanya sudah turun dan Elma tidak menggunakan hijabnya karena berada di dalam rumahnya sendiri.
Darren tidak memperbolehkan pelayan pria masuk ke dalam rumahnya jika ada ada istrinya di rumah.
Saat Elma menuruni tangga sambil menautkan tangannya pada sang suami, lagi-lagi para pelayan menatap wajah cantik Elma, begitu kagum.
"Astaga! Ternyata dia secantik ini. Pantas saja Tuan Darren menidurinya hingga hamil ternyata ia sudah menjual tubuhnya pada tuan Darren."
Ucap sang pelayan yang menjadi provokator di antara pelayan lainnnya.
Karena mendapatkan sorotan mata penuh kebencian para pelayan padanya, Elma sedikitpun tidak gubris pada pelayan itu dan memilih duduk di kursinya. Ia melayani makan untuk suaminya terlebih dahulu dan menyuapi Darren dengan penuh cinta.
Kemesraan yang ditunjukkan Elma kepada para pelayannya makin menguar aura kebencian kepada Elma.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
Hasrie Bakrie
Pelayanan tak tau diri
2023-02-05
1
Fitriani Fitriani
laaaaaajuuuuuuut
2023-01-10
2