Elma sudah bisa membawa pulang bayinya ke rumah dokter Weni setelah mendapatkan ijin dari dokter spesialis Jantung.
Rumah dokter Weni yang terlihat sangat megah lengkap dengan dua pelayan dua satpam, satu orang tukang kebun dan sopir pribadi.
Rumah seluas satu hektar itu memiliki kolam renang, tempat olah raga tenis dan gazebo.
Dokter Weni memperkenalkan Elma kepada pelayannya sebagai keponakannya agar mereka tidak meremehkan Elma dan putranya.
Kebahagiaan Elma begitu jelas terpancar melihat wajah tampan baby Darren saat tersenyum padanya.
Walaupun jantung sang baby belum dinyatakan pulih seratus persen, namun tidak menyurutkan semangat Elma untuk merawat sendiri sang bayi.
Hari itu, dokter Weni lagi off tugasnya di rumah sakit. Ia membantu Elma memandikan baby Darren dan memakaikan bajunya di kamar Elma.
Sementara Elma sedang menghabiskan sarapannya karena harus menyusui bayinya.
Keduanya terlibat obrolan santai hingga dokter Weni ingin mengetahui kedua orangtuanya Elma.
"Apakah kamu asli mojang Bandung Elma?"
"Iya dokter! Kedua orangtuaku asli Bandung. Aku lahir dan besar di Bandung."
Sahut Elma sekaligus menyebutkan alamat lengkap rumahnya di Bandung.
"Aku dulu kuliah di Bandung. Aku sempat jatuh cinta pada kakak tingkat ku, tapi dia beda fakultas dengan ku.
Dia ambil manejemen bisnis sementara aku fakultas kedokteran. Sayangnya hubungan kami tidak direstui orangtuanya karena orangtuanya sudah menjodohkan dia dengan wanita pilihan orangtuanya."
"Terus dokter mengalah dan tidak bisa move on dari mantan dokter itu?"
"Karena tidak ada lagi pria sebaik dia di mataku. Akhirnya aku lebih memilih fokus belajar untuk bisa meraih cita-citaku sebagai seorang dokter."
"Sayang sekali, padahal dokter Weni sangat cantik tapi tidak bisa pindah ke lain hati. Apakah dokter masih mengikuti kabar sang mantan, dokter?"
"Terakhir yang aku dengar istrinya meninggal dan dia hampir depresi."
"Terus kenapa dokter tidak langsung mengambil lagi kesempatan untuk mendapatkan lagi sang pangeran."
"Karena ada yang sudah lebih dulu mengusai hatinya dan aku kembali gagal."
"Sayang sekali!"
"Yah mungkin bukan jodohku. Dan sejak saat itu, aku tidak mau tahu lagi tentangnya."
Elma meneguk air hangat untuk membilas makanan yang tersisa di mulutnya. Ia mengambil Babynya dari gendongan dokter Weni.
"Bagaimana dengan kehidupan mu, Elma? Mengapa kamu bisa berakhir menjadi gadis yatim piatu?"
"Ibu saya meninggal saat usia saya masih delapan tahun. Ayah saya menikah lagi dengan sekertarisnya. Namun pernikahan mereka tidak berlangsung lama, karena ayah saya meninggal menyusul ibu saya."
"innalilahi wa innailaihi rojiuun. Saya turut berdukacita Elma."
"Saya menghabiskan hidup saya, tinggal dengan ibu tiri yang selalu main judi dan pemabuk yang menjual semua aset milik orangtuaku hingga tersisa rumah besar yang saat ini ia tempati.
Aku menjadi sapi perahnya untuk menghidupinya bekerja apa saja hingga aku tidak tahan dan pergi dari rumahku dengan membawa sertifikat rumahku."
"Kalau boleh tahu, siapa nama ayahmu Elma?"
"Wisnu Abdillah."
Deggggg...
"What..? Apakah nama ibumu Astrid Rahardian?"
Dokter Weni memastikan kecurigaannya dengan menyebutkan nama ibu kandungnya Elma.
Keduanya nampak gugup saat mengetahui mereka adalah orang penting dalam kehidupan tuan Wisnu Abdillah.
"Elma! Maafkan aku karena aku ..?"
Dokter Weni merasa canggung karena tidak tahu kalau pada akhirnya, dia mengungkit masa lalunya bersama ayahnya Elma.
"Tidak usah sungkan padaku dokter. Orang tidak bisa merubah masa lalu karena itu adalah fase kehidupan manusia. Tidak ada yang salah dengan itu."
"Tapi aku bersyukur karena ayahmu mengirimkan kamu untukku. Ini suatu keajaiban Elma, putriku."
Dokter Weni memeluk dan mencium putri dari mantan kekasihnya ini. Keduanya menangis haru karena nasib mempertemukan mereka dengan cara yang tidak di sangka-sangka.
Dokter Weni mengecup ubun baby Darren yang sedang menyusu pada ibunya.
...----------------...
Hari berganti bulan, tahun meninggalkan angka. Tidak terasa baby Darren sudah berusia satu tahun. Bayi tampan ini masih dibawah pengawasan dokter jantung yang sudah memantau perkembangan kesehatannya secara bertahap.
Dokter Calvin pengganti dokter Hasbi, yang akan melanjutkan pengobatan baby Darren.
"Perkenalkan saya dokter baru di sini. Saya yang akan mengawasi perkembangan kesehatan jantung putra anda nona. Data rekam medis jantung baby Darren sudah saya pelajari.
Mungkin baby Darren akan menjalani operasi jantung saat usianya menginjak dua tahun karena klep jantungnya yang bocor makin melebar."
Degggg
"Astaga! baby...!"
Elma tidak sanggup mendengar lagi penyakit putranya.
"Bagaimana tingkat resikonya dokter?"
"Resikonya sedikit jika menjalani prosedurnya dengan baik dan tepat."
"Maksud saya, apakah pasca operasi puteraku akan tumbuh menjadi anak yang sehat tanpa harus menderita lagi yang sama atau hidupnya tergantung pada obat seumur hidupnya?"
"Aku tidak mau memberikan presentase perkembangan baby Darren sejalannya waktu karena baby tidak bisa menjalankan operasinya di sini, tapi di luar negeri karena peralatan mereka di sana lebih canggih."
Tukas dokter Calvin.
Deggggg..
Wajah cantik Elma terlihat menegang. Bukan karena tempat operasinya yang ia permasalahkan tapi biaya yang harus ia keluarkan untuk putranya yang membuatnya tidak bisa berkutik.
Ia tidak mungkin memanfaatkan Dokter Weni untuk kesembuhan putranya.
"Ya Allah! Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menjual rumah ayah yang ada di Bandung?"
Batin Elma sambil merapikan baju putranya. Ia menggendong putranya yang sedang menyedot susu botolnya.
"Terimakasih dokter Calvin."
"Dengan senang hati nona Elma. Saya sengaja memberikan solusi lebih awal agar anda mempersiapkan biaya pengobatan baby Darren sejak dini, dengan begitu saya bisa buat rujukan untuk rumah sakit terbaik di Amerika."
"What..? Amerika..? Kenapa jauh sekali dokter? Kenapa tidak di Singapura atau Australia yang lebih dekat dengan Indonesia.
"Karena hanya rumah sakit itu yang menjadi jaminan saya kalau baby Darren akan ditangani dengan baik."
"Baik dokter. Terimakasih banyak Kalau begitu saya permisi."
Elma menggendong bayinya berjalan menyusuri koridor rumah sakit sambil melamun. Dokter Weni yang melihatnya langsung menanyakan keadaan baby Darren usai melakukan membantu proses persalinan pasien.
"Hai sayang!"
Dokter mengendong baby Darren.
"Bagaimana perkembangan baby."
"Alhamdulillah tidak terlalu mengkuatirkan dokter. Hanya perlu rawat jalan secara rutin."
"Benarkah? Syukurlah! Mau langsung pulang ke rumah? atau mau makan dulu di kantin?" Tawar dokter Weni.
"Saya langsung pulang saja dokter. Saya agak lelah."
"Baiklah. Ada pak Andre yang akan mengantarkan kalian pulang. Sampai ketemu besok pagi, sayang!"
Ucap dokter Weni sambil mengecup kening sang baby.
Setibanya di rumah, Elma meniduri putranya dan iapun mengambil kopernya yang berisi uang dan mulai menghitungnya.
Uang yang tertinggal sekitar seratus lima puluh juta.
"Rasanya ini tidak cukup untuk berobat. Kalau sudah sampai di Amerika, aku harus memikirkan biaya tempat sewa kamar apartemen yang murah.
Obat baby, transportasi, biaya hidup sehari-hari. Di mana uang sebanyak itu yang harus aku dapatkan, ya Allah."
Ucap Elma lalu melempar bekas dompetnya yang sudah tak terpakai ke dinding. Semua kartu bekas ATM yang hanya berisi saldo kosong dengan kartu lainnya berserakan di lantai.
Ia lalu bangkit untuk membereskan lagi isi dompetnya itu. Saat memungut satu persatu kartu ada yang menarik perhatiannya yaitu satu kartu yang terbungkus dengan kertas.
"Ini apa...?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments