17. Kecurigaan Mereka Terbukti

Bukan hanya di rumahnya saja Elma mendapatkan sorotan dingin dan sinis dari para pelayannya yang tidak menyukai dirinya kini di nobatkan menjadi nyonya Darren Hayes, tapi di perusahaan juga turut terhenyak melihat Elma berhasil mendapatkan bos mereka.

Pagi itu, Darren ingin memperkenalkan Elma dan putranya sebagai istrinya yang sah dan juga putra kandungnya Baby Darren Gibran di hadapan karyawan perusahaannya.

Elma begitu percaya diri saat berada di ruang pertemuan di mana para karyawan berkumpul menyaksikan pasangan ini mengumumkan pernikahan mereka yang sudah berjalan selama empat bulan.

Banyak pertanyaan menyebalkan yang diajukan dari beberapa staffnya Darren yang hampir membuat Darren mengusir mereka namun Elma selalu menenangkan suaminya.

"Tuan Darren! Mengapa nona Elma tiba-tiba saja pergi dari kehidupan anda padahal saat itu dia sedang mengandung bayi anda, apakah anda meragukan kalau bayi yang dikandung nona Elma adalah bayi anda?"

Deggggg...

"Apakah saya harus menjawab keingintahuan kamu tentang hubungan saya dengan istri saya?" Balas Darren dengan wajah yang sudah memerah.

Elma mengambil alih untuk menjelaskan kepada staff perusahaan itu.

"Maaf, ini terlalu sifatnya sangat privasi saya harap kalian tidak terlalu memojokkan suami saya dengan pertanyaan kalian yang tidak beradab itu. Lagi pula apa yang kalian pikirkan tidak sesuai dengan fakta bahwa putra saya...?"

Darren begitu takut Elma mengucapkan hal yang diluar dari ekspektasi nya, ia buru-buru merebut mikrofon dari tangan Elma agar gadis ini tidak kebablasan untuk mengucapkan status putra mereka.

"Baik. Saya harap kalian cukup tahu kalau saya dan Elma sudah menikah dan ini putra kami baby Darren Gibran. Selamat pagi dan kembali beraktivitas. Terimakasih atas perhatiannya."

Ucap Tuan Darren di tutup dengan salam lalu mengajak istrinya meninggalkan ruang meeting itu menuju ruang kerjanya.

"Apa yang kamu lakukan Darren? Mereka harus tahu kalau baby Darren bukan anak kandungmu. Aku tidak mau kamu harus menanggung malu atas aib yang telah aku perbuat."

Protes Elma membuat dada Darren begitu sakit seakan ada bongkahan batu besar yang menyangga perasaannya yang tidak puas ia ungkapkan kenyataannya.

"Elma! Mengapa kamu sangat sibuk mengklarifikasi kebenaran yang sebenarnya tidak penting untuk kamu perjuangkan karena akulah ayah kandung putramu."

Gumam Darren membatin.

"Sayang, dengar! Aku hanya ingin mereka mengetahui kita adalah pasangan yang sudah menikah. Hanya itu! Selebihnya bukan urusan mereka. Kamu paham?"

"Tapi, bagaimana denganmu? Ini tidak adil untukmu." Bantah Elma sendu.

" Apakah dengan mengakui semuanya kepada mereka tentang hubungan kita ini, apakah kita akan mendapatkan penghargaan dari mereka?" Sahut Darren.

"Aku minta maaf Darren! Karena masalahku, kamu harus menanggung malu seumur hidupmu." Lirih Elma.

Darren memeluk istrinya. Ia tidak tahu sampai kapan ia akan menyimpan rahasia besar ini di dasar hatinya yang terdalam. Yang jelas ia ingin memberitahukan kebenaran itu, di saat ia sudah memberikan kebahagiaan yang pantas untuk istri tercinta dan kasih sayang yang banyak untuk baby Darren.

Sementara di luar sana, suara gosip para karyawan terdengar seperti suara lebah yang terus berdengung saat mengaitkan beberapa kejadian yang pernah terjadi selama Elma yang slalu berada di dalam ruang kerja tuan Darren dalam waktu yang lama.

Apa lagi rumor yang beredar saat itu kalau Elma kerap kali menginap di rumah Tuan Darren saat tuan Darren sedang sakit atau mengalami kehamilan simpatik.

"Benarkan apa yang aku bilang, kalau Elma saat itu sedang hamil anaknya Tuan Darren. Gadis munafik itu langsung kabur saat kita mengetahui aibnya." Ucap Yoan.

"Tapi bagaimana bisa keduanya bertemu dan menikah, apakah Elma datang sendiri pada Tuan Darren lalu meminta tanggung jawab Tuan Darren atas perbuatannya?" Sela intan.

"Aku rasa Tuan Darren yang mencari wanita itu saat tahu Elma hamil dan baru ditemukan saat bayi mereka sudah berumur dua tahun."

"Beruntung sekali wanita itu, dari Upik abu sekarang jadi Cinderella."

"Itu sudah takdirnya nona Elma menjadi istri dari Tuan Darren karena Tuan Darren sangat mencintainya.

Tolong berhenti bergosip atau nasib kalian yang masih tersisa di perusahaan ini akan berakhir seperti teman-teman kalian dulu yang hobi nyinyir urusan orang lain."

Ucap Nyonya Alfi untuk membubarkan beberapa staff lama yang masih berkumpul.

Tidak lama kemudian, Tuan Darren mengantar pulang lagi istri dan anaknya ke rumah. Mereka melewati para staff yang saling menatap satu sama lain sambil memasang wajah sinis setengah mencibir.

Elma tetap tersenyum kepada mereka seakan sedang menertawakan mereka yang hanya bisa menggigit jari karena tidak bisa mendapatkan suaminya.

Rupanya hari itu hujan turun sangat deras. Cuaca dingin membuat keduanya menjadi sangat lapar padahal mereka sudah sarapan pagi sebelum berangkat ke perusahaan.

"Ini masih pukul sepuluh pagi, kenapa aku jadi sangat lapar ya." Ucap Elma sambil pegang perutnya.

Mereka sudah duduk dengan tenang di dalam mobil. Baby Darren juga terlihat gelisah.

"Mommy!"

"Iya sayang."

"Darren mau mam." Rengek Darren manja.

"Iya sayang nanti kita cari makan dulu." Ucap Tuan Darren..

Dalam perjalanan pulang, Elma minta mampir ke kedai bakso.

"Sayang! Sepertinya enak kalau kita makan bakso lagi hujan-hujan seperti ini."

"Baby mau makan bakso?"

Darren mengangguk sambil menggigit ujung jilbab ibunya. Darren memarkirkan mobilnya setelah menurunkan istri dan putranya terlebih dahulu di depan kedai bakso.

Elma memesan bakso komplit untuk mereka berdua. Kalau untuk putranya hanya baksonya saja. Elma menyuapi putranya dan suaminya Darren menikmati baksonya.

Darren terpaksa mempercepat makannya supaya bisa menggendong putranya agar bisa gantian dengan Elma agar istrinya bisa makan.

Tiba-tiba mata Elma terasa kabur dan mual yang datang tiba-tiba menyerangnya. Walaupun begitu ia berusaha untuk tetap menyicipi baksonya secara perlahan.

"Apakah kamu baik-baik saja sayang?" Tanya Darren yang melihat wajah istrinya terlihat sangat pucat.

"Entahlah Darren. Rasanya aku sangat mual. Tapi aku juga lapar."

Ucap Elma seraya menambahkan sambal dan cuka yang banyak ke dalam mangkuknya.

Rasa pedas dan asam mampu menghalau rasa mual nya. Elma segera menghabiskan baksonya dan mengunyah kerupuk dan kacang untuk menghilangkan rasa mual nya. Dengan begitu ia tidak akan muntah.

Darren segera membayar bakso mereka dan mengambil mobil.

"Sayang! kita ke rumah sakit saja. mumpung masih di luar."

Pinta Darren yang sudah curiga pada istrinya yang saat ini pasti sedang hamil.

"Terserah Darren! Kepalaku sangat pusing dan aku mau muntah."

Ucap Elma yang turun lagi dari mobil untuk memuntahkan lagi apa yang ia makan.

Sementara hujan masih cukup deras namun Elma tidak peduli karena tidak bisa mencari tempat teduh.

Darren kewalahan sendiri karena putranya menangis melihat ibunya muntah-muntah. Ia ingin membantu istrinya tapi putranya tidak bisa diam.

Elma masuk lagi ke dalam mobil dan membuka mantel dan jilbabnya yang sudah basah.

Daren langsung tancap gas menuju rumah sakit saat melihat Elma makin melemah sementara putranya terus menangis melihat ibunya seperti orang sakarat.

Terpopuler

Comments

Hasrie Bakrie

Hasrie Bakrie

Adik Daren otw ya

2023-02-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!