Kepergian Elma dari hidupnya, membuat Darren kehilangan semangat hidup. Apa lagi merasakan kopi yang tidak senikmat yang dibuat oleh Elma membuat ia melempar gelas itu ke sembarang tempat hingga mengotori ruang kerjanya.
"Bilang sama mereka untuk tidak menyiapkan kopi lagi untukku!" Bentak Darren sengit.
"Baik Tuan!"
KIA yang menyaksikan kegalauan Darren seperti sudah bisa menebak kalau Darren sudah jatuh cinta pada Elma.
"Apakah kamu sudah menemukan jejak gadis itu, KIA?"
"Belum Tuan! Saya sudah menyuruh orang kita untuk menyusuri semua tempat angkutan udara, darat dan laut, namun tidak ada nama Elma yang terdaftar di data mereka."
Ucap KIA hati-hati.
"Aku sudah terbiasa dengan gadis itu KIA. Dia sudah masuk begitu jauh dalam hidupku. Anehnya dia terlihat cuek dan jutek dan berani menentang perkataanku yang tidak sesuai dengan dirinya tapi aku suka sikap angkuhnya itu. Tidak ada gadis yang berani menantang ku selama ini, hanya dua yang membuat aku tidak berani menghadapinya."
Keluh Darren sendu.
"Apakah tuan sedang jatuh cinta pada Elma?"
"Entahlah KIA. Dia pergi dari perusahaan ini seperti dia juga membawa pergi sebagian jiwa ku bersamanya."
"Itu namanya jatuh cinta Tuan Darren. Mana mungkin tuan memikirkannya kalau hati Tuan Darren sendiri tidak terpaut pada hatinya."
"Apakah benar seperti itu? Dapatkan dia kembali untukku KIA. Aku akan menikahinya. Jika dia benar hamil anak orang lain, biar aku yang bertanggungjawab menutupi aibnya, yang jelas aku ingin bersamanya."
Ucap Darren terlihat frustrasi.
"Tuan! Aku rasa Elma sengaja tidak ingin meninggalkan jejak untuk kita karena dia tidak ingin kita menemukan dirinya." Ucap KIA.
"Apa alasanmu bicara seperti itu tentang Elma?"
"Karena gadis itu ahli IT. Apakah tuan lupa kalau gadis itu adalah mahasiswa terbaik di kampusnya. Ia hanya tidak mendapatkan kesempatan saja mengikuti sidang skripsi karena terbentur biaya saat itu."
"Ah iya! Apakah kamu sudah menyelidiki tempat tinggalnya di Bandung? Siapa tahu dia kembali ke Bandung?"
"Tempat itu pertama kali kami datangi tuan. Di sana hanya ada ibu tirinya yang kami temukan.
Ibu tirinya malah mengumpat gadis itu karena telah membawa sertifikat rumahnya. Padahal rumah besar itu milik mendiang ayah kandung Elma."
Darren menarik nafasnya lebih dalam. Ia sangat menyesal kenapa tidak mengangkat Elma menjadi sekretarisnya atau orang penting di perusahaannya dengan begitu Elma tidak perlu minggat darinya.
"Kenapa hatiku sangat sakit setiap kali memikirkannya?"
Batin Darren yang tidak lagi memikirkan gadis yang ia pernah perkosa tapi hatinya lebih condong pada Elma.
"Tuan! Apakah anda baik-baik saja?"
"Jangan pernah berhenti mencari gadis itu KIA, tanyakan pihak bank yang menjadi transaksi ATM milik Elma."
"Gadis itu sudah menarik semua uangnya tuan sebelum ia kabur. Ia sudah mengantisipasi semuanya sebelum ia kabur dengan begitu ia akan merasa pelariannya sudah nyaman saat ini tanpa gangguan dari kita terutama anda tuan."
"Kita sudah tahu tentangnya, tapi kita mengabaikan kepentingannya, KIA. Padahal kalau kita memanfaatkan potensi dalam dirinya, mungkin perusahaan ini makin maju. Aku terlalu egois karena tidak bisa melihat kompetensi dalam dirinya."
Ucap Darren penuh penyesalan.
"Tuan! Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Yang kita butuhkan saat ini berdoa agar kita bisa menemukan Elma."
"Itu tugasmu mencarinya, Kia walaupun kau harus mendatangi lubang semut sekalipun untuk bisa menemukannya."
Darren keluar dari ruang kerjanya karena begitu sesak melihat di sekelilingnya banyak kenangan indah dengan Elma.
Keangkuhan Darren yang tidak pernah mau menyukai gadis yang tidak sederajat dengannya kini takdir seakan berbalik menertawakan dirinya semenjak ia mengenal Elma.
...----------------...
Memasuki usia kandungan tujuh bulan, Elma tidak bisa lagi mengabaikan kandungnya. Ia mulai menikmati perannya sebagai calon ibu muda.
Elma mulai tersenyum saat janinnya mulai menendang perutnya jika ia selalu mengajak ngobrol.
"Hei! Apakah kamu ingin mengajak bunda bermain denganmu, sayang? Kamu ingin bertemu dengan bunda.
Kita akan bertemu lagi setelah dua bulan. Sekarang kita ke rumah sakit. Ah tidak, sebaiknya kita ke klinik saja." Ucap Elma menenteng tasnya.
Ia menumpang bajai menuju klinik yang tidak jauh dari apartemennya. Ia pun antri mendaftarkan dirinya untuk menjadi pasien di klinik itu.
"Nyonya. Siapa nama suaminya?"
Deggggg....
Elma meremas gamisnya kuat. Ia bingung mau menyebutkan nama siapa untuk menjadi suaminya.
"Nyonya! Siapa nama suami anda?"
"Darren."
"Tuan Darren." Jawab Elma dengan tenggorokan seperti tercekat.
Elma kembali lagi ke ruang tunggu menuju poli kandungan.
Banyak sekali ibu-ibu muda yang didampingi suaminya atau ibu mereka di klinik itu. Sementara ia hanya seorang diri.
Matanya terasa sangat panas menahan kesedihannya karena harus hamil tanpa suami.
"Nyonya Elma!" Panggil suster.
Elma masuk dan mulai melakukan konsultasi dengan dokter Weni.
"Apakah Nyonya Elma sendiri ke sini?"
"Iya dokter! Suami saya lagi dinas luar kota." Ucap Elma bohong.
"Apakah baru daftar di klinik ini?"
"Iya dokter."
"Baik! Silahkan berbaring, nyonya Elma!"
Dokter mengoles jel pada permukaan perut Elma dan mulai memainkan stik USG untuk mengetahui perkembangan bayi Elma.
"Apakah anda ingin mengetahui jenis kelaminnya?"
"Iya dokter!"
"Lihatlah! Bayi anda berjenis kelamin laki-laki. Ia sangat tampan. Berat badan dan lingkar kepala sesuai dengan usianya. Tapi, ...?"
Dokter Weni menjedah perkataannya. Elma mengernyitkan dahinya dengan degup jantungnya yang sudah tidak bisa teratur lagi.
"Ada apa dokter?"
"Sepertinya jantung bayi anda bermasalah."
Duaaarrr...
"Lantas apa yang bisa saya lakukan dokter?"
"Menunggunya lahir dan ia bisa mendapatkan penanganan khusus oleh dokter terkait. Apakah selama awal kehamilan, dokter sebelumnya tidak memberi tahu anda tentang kondisi jantung bayi anda?"
Elma hanya bisa menggeleng. Lidahnya seakan Kelu untuk menjawab pertanyaan dokter Weni.
"Ini semua kesalahanku karena aku tidak pernah memeriksakan kehamilan ku saat aku mengetahui diriku hamil, dokter"
Ucap Elma terus terang kepada dokter Weni.
Dokter Weni hanya bisa prihatin atas ucapan Elma. Ia juga tidak ingin menanyakan alasan pribadi gadis ini karena ia bisa menebak Elma hamil di luar nikah dan tidak menginginkan kehadiran bayinya.
"Saya akan membantu anda saat bayi anda sudah lahir. Kita akan memikirkan bersama solusinya. Rumah sakit mana yang perlu di rujuk. Saya hanya bisa menuliskan resep untuk anda tebus." Ucap dokter Weni.
"Terimakasih dokter!"
"Usahakan seminggu sekali anda periksa ke sini, dengan begitu kita bisa pantau perkembangannya."
"Baik dokter!"
Elma keluar dari poli kandungan itu dengan air mata yang sudah tidak bisa lagi terbendung.
"Maafkan bunda sayang! Bunda terlalu membenci ayahmu hingga melampiaskan kekesalan bunda padamu. Apa yang harus bunda lakukan untuk menebus kesalahan bunda?"
Tangis Elma histeris dengan penyesalan yang teramat dalam.
"Jika kamu ingin hadir di dunia ini untuk bertemu dengan bunda, tolong jangan menghukum bunda dengan sakit mu!"
Ucap Elma sambil mengusap perutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
wiwik
aduh tambah penasaran aja deh
2023-01-05
2
Tarsiah Asih
anak pinter pasti ingin ketmu ayahnya mkanya di buat jantungnya brmasalah
2023-01-04
3