15. Pertarungannya Belum Usai

Usai menenangkan lagi sang baby, Darren dan Elma melanjutkan lagi pertarungan mereka. Si junior masih tetap menunggu dengan setia untuk melakukan pendakian bersama sang bidadari yang masih memperlihatkan harta karun nya yang menggelantung indah di dada sekang itu.

Usaha Darren yang cukup besar menyusuri kembali jalan sempit itu dengan penuh kesabaran.

Kedua tangan Elma meremas selimut dengan mendongakkan wajahnya ke atas menahan sakit yang luar biasa hingga leher jenjang itu tidak terlepas menjadi sasaran sang suami.

Dorongan tubuh suami saat memasuki benda pusaka itu sangat menyakitkan dirinya.

Ternyata sakit itu memang sebentar setelah itu rasa geli menggelitik di setiap jaringan syaraf di bawah sana nampak merespon ritme hentakan yang terus menggelitik hingga menuntut ingin terus di pacu.

Teriakan sakit yang terlontar dari mulut Elma berganti menjadi ekspresi wajah menggoda merasakan kenikmatan yang luar biasa untuknya.

Ini adalah awal anugerah terindah dalam kehidupan pribadinya yang merasakan bagaimana kebahagiaan seorang wanita mendapatkan nafkah batinnya dari sang suami.

Senyum di bibir keduanya terlihat kompak saat ingin meledakkan bersama benih mereka untuk bersatu.

"Semoga baby Darren segera bertemu teman bermainnya."

Ucap Darren yang ingin Elma kembali hamil.

Elma mengangguk malu sambil menutup wajahnya.

"Apakah kamu puas sayang?"

Darren ingin meyakinkan dirinya agar Elma menerima bentuk percintaan panas mereka adalah bagian dari kewajiban bukan ketakutan trauma masa lalunya.

"Apakah seperti ini nikmatnya bercinta Darren? Apakah ini juga pertama untukmu?"

Deggggg...

"Tidak perlu mengulas apa yang pernah kita lewati, sayang. Nikmati saja apa yang ada tanpa harus menggali lubang yang akan menguburkan cintamu sendiri. Apakah kamu mengerti?"

Tekan Darren yang tidak ingin merusak momen indah malam itu.

"Maafkan aku sayang, jika aku menyinggung perasaanmu."

"Tidak apa. Kita bertemu di masa sekarang. Berarti yang kita bahas tentang hidup kita berdua adalah saat ini dan masa depan. Jangan bahas hal yang tidak penting karena akan merusak keromantisan yang sedang kita bangun, apakah kamu sepakat keputusan ini?"

"Baik."

Gemuruh suara di luar sana nampak terdengar dari kamar mereka. Darren dan Elma serentak bangkit melihat apa yang terjadi dari balik tirai kamar mereka.

"Astaga! Saat ini sedang badai salju sayang. Sebentar aku akan nyalakan perapiannya."

Ucap Darren begitu sigap menyiapkan semuanya.

"Kita harus makan sesuatu untuk menguatkan perut kita. Biasanya orang barat akan meminum alkohol untuk menghangatkan tubuh mereka. Jadi kita cukup makan yang hangat saja.

Darren menghangatkan makanan kaleng dalam microwave untuk mereka berdua dan minum susu hangat.

Keduanya menghabiskan kembali malam dengan melakukan pendakian di tengah badai salju yang terus jatuh menimpa kaca jendela kamar mereka yang berada di lantai tiga puluh.

Malam makin larut, baby Darren kembali bangun dan menangis. Beruntunglah ayahnya sudah menyiapkan susu botol yang tetap dalam keadaan hangat dan langsung memberinya ke tangan putranya agar bisa memegangnya sendiri.

Darren membiarkan putra mereka tidur diantara mereka supaya tubuh putranya tetap dalam keadaan hangat diapit kedua orangtuanya.

Keluarga kecil itu tidur dalam keadaan damai.

...----------------...

Darren lupa kalau saat ini sudah memasuki bulan Desember. Itu berarti negara yang mayoritas Nasrani itu akan memasuki perayaan natal.

Natal identik dengan salju dan itu membuat penghuni negeri itu sangat bahagia. Darren dan Elma juga sangat suka bisa merasakan serbuk putih dingin itu karena ini momen berharga yang belum tentu mereka rasakan lagi.

Keduanya berjalan sambil menggendong baby Darren dibawah rintikan salju.

"Ayah! Darren mau main salju." Ucap baby Darren membuat mereka berhenti.

Darren ingat ada taman di mana anak-anak selalu main salju dengan membuat manusia salju.

"Sedikit lagi kita akan sampai ke taman. Baby Darren bisa main di sana."

Ujar Darren mempercepat langkahnya.

Sementara Elma menghubungi dokter Melendez untuk menanyakan apakah putranya sudah boleh beraktivitas di tengah salju.

"Dokter Melendez! Ini dengan Elma."

"Ada apa Elma?"

"Putraku saat ini sedang main di tengah salju? Apakah aman untuk jantungnya?"

"Tidak masalah. Tapi jangan terlalu lama. Cukup satu jam, karena baby Darren jantungnya sedang beradaptasi dengan aktivitasnya."

"Terimakasih dokter Melendez."

Ucap Elma lalu ikut bergabung dengan putra dan suaminya membuat manusia salju.

Elma melirik jam tangannya untuk mematok waktu agar tidak lebih dari satu jam.

Ketiganya Selfi bersama dengan manusia salju. Baby Darren begitu girang hingga mengajak ayahnya untuk berseluncur diatas permukaan tumpukan salju.

"Sayang! Kata dokter Melendez, jangan terlalu lama mengajak baby Darren bermain di tengah salju."

"Tapi baby Darren sedang menikmati permainannya. Selama ini ia terkurung di kamar ICU rumah sakit dan berhadapan langsung dengan dokter dan peralatan medis." Protes Darren.

"Apakah karena dia bukan putra kandungmu jadi kamu tidak kuatir sedikitpun tentang kesehatannya?"

Elma mulai terpancing emosinya karena Darren tidak bisa diajak kompromi.

"Apa yang kamu katakan Elma? Aku ini ayah kandungnya, kenapa kamu merasa aku tidak peduli dengan putraku sendiri.

"Kamu hanya menganggapnya anak kandung. Bukan berarti anak kandung secara biologis." Sarkas Elma

Deggggg... ....

Darren lupa pada niat awalnya yang tidak ingin rahasianya diketahui oleh istrinya sebelum ia benar-benar siap untuk jujur bahwa ia adalah ayah biologisnya puteranya, Darren.

"Aku minta maaf! Aku terlalu senang melihat wajah bahagia putraku hingga aku tidak tega menghentikannya."

Ucap Darren sambil menarik nafas dalam.

"Aku membawanya jauh ke negara ini hanya untuk melihatnya sembuh. Untuk itu aku harus mematuhi semua aturan dokter agar putraku bisa segera pulih dan kita bisa pulang lagi ke negeri kita. Jadi ikuti aturan yang sudah ada dan jangan coba-coba untuk mendikte ku."

Ucap Elma lalu menggendong putranya.

"Ayo sayang! Kita pulang. Sudah cukup mainnya."

Ucap Elma sambil membersihkan salju yang menempel di mantel putranya.

"Tapi mommy, Darren masih mau main seluncuran bersama Daddy. Mommy pulang aja sendiri."

Bantah Darren membuat Daddy nya menahan tawanya.

"Dengar sayang! Daddy mu hanya menjumpai kamu saat kamu sudah besar. Selama ini mommy yang selalu temani Darren bukan Daddy."

Ucap Elma sengaja untuk menyindir suaminya.

"Aku sudah meminta maaf sayang. Tolong maafkan aku, Elma!"

"Jika terjadi sesuatu pada putraku, aku tidak akan memaafkanmu."

Sarkas Elma terlihat serius membuat Darren menyesal dengan ucapannya tadi.

"Biarkan aku menggendongnya, sayang!"

Pinta Darren sambil mengambil putranya dari dekapan istrinya.

Mereka menumpang bus untuk tiba di apartemen karena tidak jauh dari tempat mereka bermain salju.

Karena kelelahan, baby Darren akhirnya tertidur dalam pelukan ayahnya. Elma terlihat diam karena masih merasa sangat kesal dengan suaminya.

Darren sudah mengetahui kalau Elma sulit dibantah. Apa maunya, itu yang harus dijalankan. Keluar dari aturannya sedikit saja gadis ini akan meradang.

Setibanya di kamar apartemennya, Darren hati-hati membaringkan putranya. Ia sudah tidak sabar ingin merayu wanitanya yang sedari tadi terus saja manyun.

Terpopuler

Comments

Hasrie Bakrie

Hasrie Bakrie

Lanjut

2023-02-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!